4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
After Life-Alasan Jordan


__ADS_3

Benar saja, "Argh! Kaubiang petaka!"


PLAK! DUAKK! BRUKK!!


"JUNA!" teriak Han sampai melotot saat Naomi menampar lalu menendang perut putera tunggalnya hingga pemuda itu menghantam tembok.


Sun melihat Naomi meluapkan seluruh amarah dan kesedihannya pada Arjuna. Wanita cantik itu tak segan menginjak, memukul, menendang bahkan menampar Arjuna hingga babak belur.


Bayi Sig dan Loria menangis sedih. Eko memilih untuk menggendong keduanya lalu membawa mereka keluar dari ruangan yang menjadi horor karena pertikaian dua insan yang saling salah paham itu.


Namun anehnya, Arjuna menerima semua amukan Naomi seperti memang ia pantas mendapatkannya.


S, Han dan Sun bahkan dibuat tak berkutik untuk menahan Naomi agar berhenti menyakiti Arjuna. Hingga akhirnya, wanita itu lelah dan ambruk dengan tubuh berkeringat.


"Naomi ...," panggil S sedih yang melihat Naomi seperti terpuruk di atas lantai.


Wanita Jepang itu berdiri perlahan lalu berjalan dengan gontai dan tatapan kosong keluar ruangan.


"Tuan Muda, kau tak apa?" tanya Sun mendekati Arjuna dengan panik karena wajahnya penuh luka hingga mulutnya mengeluarkan darah.


"Kenapa kau masih menolongnya, Sun? Kau ingat, jika dialah pembunuh ayahmu! Dia bisa saja melakukan hal sama padaku!" teriak S marah.


"Hentikan!" teriak Sun masih memunggungi pamannya.


Han dan Arjuna terkejut. Napas Sun memburu.


"Ingat kata nyonya Vesper! Semua sudah berakhir. Aku memang tak sepertinya, tapi aku berusaha memaafkan orang-orang yang pernah menyakitiku atau keluargaku. Aku tahu kisahnya karena ayahku yang menceritakan. Aku ingin sepertinya jadi jangan ubah aku menjadi orang seperti kau yang terjerumus dalam dendam!" seru Sun meluapkan isi hatinya.


Semua orang tertegun. Mereka tak menyangka jika Sun benar-benar mengagumi sosok Vesper.


Arjuna merangkak mendekati kertas yang Naomi baca. Ia membacanya dengan tubuh gemetaran menahan sakit.


"Jordan?" panggil Arjuna yang sepertinya ikut kaget dengan hal ini.


"Kau tak tahu?" tanya Han menatap anaknya lekat sampai keningnya berkerut.


Arjuna menoleh dan menggeleng karena memang itu benar adanya. Arjuna berusaha bangun dengan susah payah dan batuk-batuk karena tersedak darah di mulutnya.


Sun, Han dan S diam melihat Arjuna menyender pada dinding dalam posisi duduk seraya mengeluarkan ponsel dalam saku celana.


Sayangnya layar yang remuk dan tangan yang gemetaran, membuatnya sulit untuk memilih menu dalam layar sentuh itu.


"Aku bantu. Kau ... ingin menghubungi Jordan?" tanya Sun pelan dengan wajah sendu seraya duduk di samping Arjuna.


"Terima kasih, Sun," jawab Arjuna terlihat begitu beruntung karena memiliki Sun.


"Silakan, Tuan," ucap Sun seraya memberikan ponsel yang sudah terhubung.


"Perdengarkan, Sun. Aku tak mau ada salah paham lagi," pinta Arjuna, dan Sun melakukannya.


Wajah semua orang tampak tegang menunggu panggilan itu diterima.

__ADS_1


"Kau sudah memberikannya?" tanya Jordan yang mengejutkan Arjuna.


"Apa-apaan kau, Jordan? Aku tak pernah mengemis padamu seperti itu!" bentak Arjuna yang membuat S, Sun dan Han terdiam.


"Anggap saja, itu hutang yang harus kaubayar."


"Hutang apa?" tanya Arjuna terlihat bingung.


"Saat aku dan 2M datang menyelamatkanmu. Aku mengetakan padamu jika kau berhutang padaku atas bantuanku kala itu. Inilah, harga yang pantas untuk membayarnya."


"Ini sangat konyol, Jordan! Aku kenal kau. Kau sangat mencintai Naomi dan menyayangi Sig. Aku memang menyedihkan, tapi aku tak sudi dikasihani dengan cara seperti ini!" teriak Arjuna marah hingga napasnya memburu.


"Aku ... tak bisa melupakannya, Arjuna. Itulah kebenarannya."


"What?" tanya Arjuna bingung.


"Sepertinya ... aku masih mencintai Sandara."


Praktis, mata semua orang melebar.


"Aku memang sangat mencintai Naomi. Namun, usai kejadian saat itu, membuatku selalu mengingat Sandara. Aku seperti mengharapkan Sandara kembali padaku. Dia cinta pertamaku dan hanya dia yang bisa memahamiku dalam diam, begitupula aku. Terlebih, Sandara kini terpuruk. Aku tahu hal ini bisa dianggap perselingkuhan batin. Oleh karena itu, aku tak bisa lagi di sisi Naomi meski aku akan tetap bertanggung jawab atas hidupnya dan Sig sampai aku mati, sebagai penebusan dosaku. Serum monster dalam diriku juga akan membahayakan keduanya dan hanya Sandara yang bisa mengendalikanku. Jadi ... tolong jaga dia untukku. Aku tahu dia juga cinta pertamamu. Apapun yang pertama, akan sangat sulit dilupakan. Ucapanku benarkan, Kim Arjuna?"


Mata Arjuna melebar. Ia memejamkan matanya rapat terlihat tertekan. Semua orang terdiam.


"Naomi sangat mencintaimu, Jordan. Dan kejadian saat itu tak disengaja. Naomi bisa memaafkanmu," ucap Arjuna sampai rahangnya mengeras menahan marah.


"Aku tahu. Dia wanita yang sangat baik. Aku tak pantas mendampinginya, terlebih kau. Namun, aku bisa melihat kau akan berubah saat bersamanya. Mungkin ini akan menjadi titik balik dari awal kehidupan barumu, Kim Arjuna. Berjuanglah. Jangan kau relakan seperti saat kau menyerah padanya dan memberikannya padaku. Terima kasih."


Arjuna terkejut karena Jordan menutup panggilannya begitu saja. Arjuna tampak lesu, begitu pula semua orang.


S beranjak dan ia terkejut ketika Naomi berada di luar ruangan ditemani Eko. S menatap Naomi lekat yang tertunduk diam dan berpaling pergi dengan langkah gontai.


"Tuan Muda ...," panggil Sun menatap Arjuna lekat.


"Ini salahku, Sun. Sejak awal salahku. Aku yang membuat Naomi membenciku saat kumemutuskan agar bisa berkuasa seperti Vesper. Ini ... balasan yang sepadan untukku, tapi tolong aku. Jangan biarkan Loria dan Sig tak terkena imbas dari perbuatan bodohku dulu. Bisakah ... kau memastikannya? Aku minta tolong sekali lagi dan mungkin untuk terakhir kalinya, sebagai saudara," pinta Arjuna menatap Sun lekat.


"Saudara?" tanya Sun mengulang.


"Bukankah kau mengatakan jika Vesper juga ibumu? Itu berarti, kau juga anaknya. Kau juga saudaraku," jawab Arjuna dengan senyuman.


Sun balas tersenyum dan mengangguk pelan.


"Jadi, berhenti memanggilku Tuan muda. Aku bahkan lebih tua darimu dan aku kini seorang ayah. Aku seniormu dalam hal apapun," tegas Arjuna, tapi membuat Sun terkekeh.


"Oke. Arjuna kini menyandang gelarku. Pak tua. Setidaknya, aku memiliki teman," sahut Han, tapi membuat Sun dan Arjuna terkekeh pelan. "Bangunlah. Kita obati lukamu. Hanya luka seperti itu tak akan membunuhmu, tapi bisa memberikan efek jera. Ayah berharap yang dikatakan Jordan benar. Ini akan menjadi titik balik dari awal hidupmu. Sepertiku dulu," imbuh Han, dan Sun mengangguk pelan karena sependapat.


Arjuna diam tak berkomentar. Ia bangun dan duduk di pinggir ranjang dibantu oleh Sun.


"Eh, mana Loria dan Sig?" tanya Arjuna saat mendapati dua bayi malang itu menghilang.


"Lagi jalan-jalan sama Black Armys pakai stroller biar gak stress liat emak bapaknya berantem," sahut Eko yang muncul dari balik pintu.

__ADS_1


Arjuna mengangguk pelan. Ia hanya bisa menahan sakit ketika diobati oleh Sun. Sedang Naomi, tampak murung saat dirinya menyendiri di pinggir pantai melihat deru ombak dari lautan yang menerjang tepian.


S mendekati anak perempuannya yang bersedih usai tahu alasan sebenarnya dari surat yang ditujukan Jordan untuknya.


"Apakah ... aku salah jika masih menghadapkan Jordan, Ayah? Aku tak mencintai Arjuna. Aku bahkan tak berpikir untuk menikah lagi," ucap Naomi sedih.


"Hidup memang terkadang menyebalkan. Namun, semua itu pilihan. Sepertiku. Saat aku tahu wanita yang menemaniku malam itu mengatakan ia hamil anakku, tentu saja kutak percaya begitu saja. Aku bahkan hampir tak mau mengakuimu," ucap S yang membuat Naomi melebarkan mata dan langsung menatap sang ayah lekat.


"Namun, ibumu tak menyerah dan berkata, 'Jangan sampai kau menyesal jika bayi ini lahir lalu kau tak menganggapnya anak, sedang ia memanggilmu ayah. Selama ini, aku selalu menginginkan anak yang lahir dari rahimku, tapi aku memilih pasanganku. Saat kubertemu denganmu, aku yakin kau pria yang baik meski kau penjahat. Namun aku yakin, kau pasti sangat mampu mendidik anakmu kelak menjadi orang yang tangguh sepertimu.' Kira-kira begitulah kata ibumu sebelum akhirnya ia menghilang," imbuhnya yang membuat mata Naomi berlinang.


S terlihat sendu seperti mengingat masa-masa itu.


"Siapa sangka, ucapannya membuatku hidup tak tenang. Aku lalu mencarinya dan bertemu ibu Sun. Ternyata, kakak adik itu sama-sama mengandung. Hanya saja, kau lebih dulu lahir darinya," sambung S berkisah di mana Naomi tak pernah tahu hal itu.


"Berbeda denganku. Saat M tahu wanitanya hamil, ia sangat antusias menunggu kelahirannya. Bahkan M sudah menunjang hidupnya sejak Sun dalam kandungan. M sering menjenguk dan menemani memeriksa kandungan ke dokter. Dari sanalah aku mulai berubah. Sayangnya, aku terlambat. Ketika aku mendapat kabar jika ibumu sedang bersusah payah melahirkan, dia mengalami pendarahan hebat. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawanya. Oleh karena itu, saat kau lahir, kau tak memiliki nama. Aku bingung dan ketakutan. Beruntung, ibu dari Sun mau merawatmu meski ia sedang hamil," ucap S tertunduk seraya memeluk kedua kaki yang ia lipat di atas pasir pantai.


Naomi meneteskan air mata dalam diam. Ia akhirnya mendengar pengakuan sang ayah yang disimpan rapat sepanjang hidupnya.


"Penyesalan terbesarku adalah, setelah aku tahu jika ibumu sangat mencintaiku. Dia tak membenciku meski aku mencampakkannya. Ia tak sabar menanti kelahiranmu meski nanti aku tak mengakuinya. Ia hanya ingin menjadi seorang ibu dan membesarkan seorang anak dari pria yang dicintainya. Aku ... aku sangat egois," ungkap S dengan suara bergetar dan pada akhirnya memejamkan mata.


Kening Naomi berkerut. Ia melihat sang ayah kecewa pada dirinya sendiri.


"Aku ... minta maaf, Naomi. Karenaku, kau tak mengenal ibumu. Itu karena ... aku tak tahu apapun tentangnya selain profesinya sebagai wanita malam. Selama ini, kau diasuh oleh ibu Sun hingga berumur 6 tahun hingga ibu Sun berpulang karena sakit. Setelahnya, kau dan Sun dibawa kemari oleh kami berdua untuk dididik layaknya agent. Aku merasa sangat bersalah dan hidup dalam penyesalan karena kuanggap, akulah penyebab kematian ibumu," ucap S yang membuat Naomi mematung karena tak tahu lagi bagaimana menyikapi hal ini.


Lama keduanya diam hingga Naomi tersenyum.


"Aku tahu tentang ibu dari agent M. Meskipun tak banyak, tapi aku cukup mengenalnya bahkan aku memiliki fotonya. Ibu seperti nyonya Vesper. Ia meninggalkan banyak surat untukku agar aku tahu betapa dia menyayangiku. Kematian ibu bukan salahmu sepenuhnya, Ayah," ucap Naomi yang membuat S berkerut kening seperti baru mengetahui hal tersebut.


"Aiko meninggalkan surat untukmu? Apakah ibu Sun yang memberikannya?" Naomi menjawab dengan senyum tipis. "Boleh kumelihatnya?" Naomi mengangguk pelan.


S tersenyum, tapi ia masih bersedih.


"Ayah. Apa kau melihat dirimu pada sosok Arjuna?" tanya Naomi yang membuat S terkejut.


"Kau benar. Saat aku melihat Arjuna, aku teringat akan diriku dulu. Pria brengsekk yang tak mengakui cintanya dan pada akhirnya menyesal setelah kehilangan. Aku tak ingin kau hidup dalam kesedihan, tapi aku juga tak mau memaksa jika kau sungguh tak bisa menerima Arjuna. Namun, Loria membutuhkanmu. Loria dan Sig seperti kau dan Sun. Aku harap, kebencianmu pada Arjuna dan Jordan, tak kaulampiaskan pada dua bayi malang itu. Jangan tambah dendam yang sudah diakhiri dengan banyak pengorbanan dari orang-orang yang kita kasihi," imbuh S yang membuat Naomi diam dengan pandangan tertunduk seperti memikirkan dengan serius ucapan sang ayah.


S lalu mengajak Naomi untuk menunjukkan surat dari Aiko sebelum kematiannya. Tangan S bergetar saat menerima surat-surat itu di kamar anak perempuannya.


Naomi beranjak dan membiarkan S untuk melepas rindu kepada sang ibu meski hanya melalui surat.


Naomi berjalan keluar rumah menuju pantai dengan wajah sendu. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Arjuna yang babak belur olehnya, masih menyempatkan diri untuk menemani Sig dan Loria berjalan-jalan menggunakan stroller ditemani Eko serta Sun.


Arjuna tampak begitu menyayangi keduanya bahkan hanya tertawa saat Sig dengan sengaja menyentuh luka di wajahnya.


Tanpa Naomi sadari, senyumnya terbit. Ia merasakan embusan angin semilir menerpa wajahnya seolah menghapus duka karena sang suami sudah membulatkan tekad untuk tak kembali padanya.


"Aku tak menyalahkanmu, Jordan, meski aku kecewa. Tak ada gunanya kau kembali jika masih ada Sandara di hatimu. Semoga ... kau bahagia dengan cinta pertamamu, seperti diriku," ucap Naomi dengan senyuman saat melihat Arjuna kini duduk di atas pasir dengan bayi Sig dan Loria dalam pangkuannya.


***


__ADS_1


hari ini penilaian terakhir komen di LIH ya. kuy ditunggu sd jam1 malam WIB. makasih tipsnya lele padamu💋 btw sekarat ini uyy brankasnya. gak ada yang sedekah koin gitu otw tamat😆


__ADS_2