
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
----- back to Story :
Drone yang diterbangkan oleh Click terus mengejar bersamaan dengan mobil yang mereka kendarai.
Di sisi lain, Eko dan tim menyusuri seluruh Villa. Mereka mendapati jalan rahasia dan lorong itu berakhir di sebuah hutan.
"Kai! Kai! Mereka kabur, ada jejak mobil masih baru," lapor Eko dari sambungan radio.
"Dimengerti, kami akan ikut mengejar. Temukan semua bukti yang bisa memberikan kita informasi lebih lanjut akan aksi mereka," tegas Kai dan Eko kembali menyusuri Villa bersama anggota timnya.
Sedang di dalam mobil, Jonathan kesal setengah mati karena sepupunya malah mengompol karena ketakutan. Jonathan terlihat jijik dan memaksa turun agar ia bisa membersihkan diri.
"Kalian berdua kutinggal di sini. Nanti ikut mobil Eko," tegas Kai dan Jonathan mengangguk paham.
BROOM!!
"Maaf, Kak," ucap Raden merasa bersalah, tapi Jonathan tak menjawab. Ia masuk ke Villa dan mencari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah.
"Udah gede masih ngompol. Raden malu-maluin deh. Jangan deket-deket Nathan lagi," gerutunya marah dan terlihat jijik dengan tubuhnya yang basah serta bau kencing itu.
Eko dan lainnya memberikan waktu bagi Jonathan serta Raden untuk membersihkan diri. Eko menyusuri semua ruangan yang ditemukan untuk mencari petunjuk.
"Bos!" panggil salah satu Black Armys saat mendapati sebuah ruangan seperti ruang kerja.
"Wah, apa nih?" ucap Eko dengan mata melebar saat melihat sebuah struktur dalam bentuk diagram pohon dan beberapa nama tertulis di sana. "Kai! Kai! Kamu lihat ini gak?" tanya Eko yang mengarahkan kacamata kameranya ke sebuah papan white board.
"Ya, Eko. Lakukan perekaman dan bawa semua barang bukti untuk kita selidiki lebih lanjut."
"Siap!" jawabnya mantab. "Angkut-angkut! Oia, foto dulu itu, takutnya nanti tulisan di white board ilang," perintah Eko dan salah satu Black Armys melakukan perekaman video serta pemotretan pada papan putih temuan mereka.
Tak lama, Jonathan muncul bersama dengan Raden yang sudah berganti pakaian. Raden memakai seragam tempur Black Armys serupa dengan Jonathan.
"Hehe, Raden ngompol ya?" sindir Eko sembari menaik-turunkan alisnya. Raden hanya bisa tertunduk dalam diam. Jonathan masih memasang wajah kesal.
"Eh, apa itu, Om?" tanya Jonathan saat melihat sebuah jas warna ungu berada di sebuah kursi dengan ukuran jumbo.
Mata Eko terbelalak. Ia segera berlari mendekati jas itu dan mengambilnya. Jonathan diam mengamati Eko yang mencium aroma dari jas itu, kening Jonathan berkerut.
"Bau ketek ya, Om?"
"Woo! Si kamvret masih idup! Kok bisa? Bukannya doi udah mati ya?" pekik Eko terlihat bingung.
"Si kamvret siapa?" tanya Jonathan bingung.
"Si ungu. Biawak Ungu. Eko kenal banget aroma parfum ini. Bau khas si gendut itu," jawabnya mantab.
"What? Biawak Ungu masih idup?" sahutnya ikut melotot. Eko mengangguk cepat.
__ADS_1
Jonathan segera melakukan panggilan dengan ponselnya. Terlihat ia seperti tergesa karena dagunya bergoyang seperti tak sabar telepon itu tersambung.
"Ya?"
"Om! Berkas BIAWAK! Buka, cepat!" pinta Jonathan tergesa.
"Oh, oke," jawab pria itu yang suaranya kini terdengar karena Jonathan speaker. "Hem, sudah. Ada apa?"
"Dari kesepuluh BIAWAK, tersisa 4 yang ikut dalam kelompok kita 'kan? Kuning, Putih, Hijau, dan Cokelat. Lalu Ungu?" tanya Jonathan terlihat tegang.
"Di sini tertulis, Biawak Ungu tewas di tembak oleh Lysa di kepala. Biawak Cokelat dan Kuning sebagai saksi atas pernyataan mereka kepada Yudhi ketika misi di Kenya."
"Mati beneran? Ada mayatnya?"
"Eh, iya. Gak ada foto atau catatan kematian dari Biawak Ungu. Tapi kok Lysa dan dua BIAWAK bisa mengatakan demikian pada laporan ya?" sahut Eiji ikut bingung.
"Nathan telepon kak Lysa sekarang," sahutnya dan segera menambahkan Lysa dalam panggilan itu.
TUTTT ....
"Ya, Nathan? Ada apa ?" tanya Lysa ramah.
"Kak! Kamu kok kasih laporan Biawak Ungu tewas dan dipertegas dari kesaksian Biawak Kuning serta Cokelat. Kakak bohong ya?"
"He? Maksud kamu apa?" tanya Lysa bingung.
"Lysa, ini aku, Eiji. Begini. Biawak Ungu dalam berkas dinyatakan tewas. Namun, tak ada bukti jasad dan lokasi tewasnya orang itu, tapi kau memberikan laporan jika Ungu tewas ditembak olehmu di kepala. Di sini juga disebutkan jika Biawak Kuning dan Cokelat mengakui hal tersebut. Apa kau melakukan manipulasi?"
"Oh! Ya Allah, aku lupa! Kami sengaja berbohong karena saat itu Yudhi ketakutan dan tak mempercayai kami. Kami melakukan sandiwara karena Yudhi mengatakan jika Biawak Ungu melakukan pembantaian terhadap keluarganya," jawab Lysa menegaskan.
"Jadi bener, orang itu masih idup?" tanya Jonathan meyakinkan.
"Mungkin. Emang kenapa? Jangan bilang dia bikin masalah," tanya Lysa terdengar cemas.
"Hem. Eko temuin jas warna ungu di Villa Adipura. Eko yakin ini punya doi, Neng Lysa," sahut Eko yang malah memakai jas itu, tapi kedodoran.
"Aduh. Ya ampun, maaf banget. Lysa lupa kasih tahu kalau itu hanya sandiwara agar Yudhi percaya sama maksud baik kita. Terus gimana dong?" tanya Lysa merasa bersalah.
"Ya udah. Tar Nathan telepon lagi," sahut Jonathan malas dan menutup panggilan telepon berwajah masam.
"Setidaknya kita tahu kalau si Ungu biang keroknya. Dia pasti salah satu dari 5 nama yang disebutin itu," sahut Eko bertolak pinggang ikut kesal.
Jonathan dan tim kembali menyisir sekitar. Raden yang tak tahu harus berbuat apa memilih diam karena takut membuat kesalahan.
"Maaf, Raden gak bisa bantu," ucapnya sungkan.
"Gak papa. Dah, kamu diem aja di sana jangan bergerak," pinta Eko menunjuk dan Raden mengangguk paham sembari memainkan lengan jas.
Tiba-tiba, suara sirine mobil Polisi terdengar nyaring. Eko dan lainnya melotot seketika, tapi senyum Raden merekah.
"Wah, bantuan datang. Kita tertolong. Raden akan keluar temuin mereka," ucapnya riang, tapi membuat mata Jonathan dan lainnya melebar seketika.
"Eh, jangan! Kita harus segera kabur! Om! Lewat jalan rahasia itu, Om!" pinta Jonathan sembari memegangi jas sepupunya agar tak melangkah lebih jauh lagi.
__ADS_1
Eko segera membawa orang-orang yang masih berada dalam Villa untuk segera berlari menuju lorong rahasia. Raden bingung, tapi menurut.
Mobil tim Eko menjemput di titik yang telah ditandai. Jonathan dan timnya berhasil kabur sebelum polisi menemukan mereka.
Raden melihat orang-orang itu seperti panik dan terus mengawasi sekitar seperti takut jika ketahuan.
"Kok malah kabur sih? Raden sengaja telepon polisi saat di kamar mandi tadi. Kasih tahu kalau kalian butuh bantuan."
"What?!" pekik Eko dan Jonathan bersamaan dengan mata melotot.
Dua pria itu terlihat gemas bukan main dengan sikap polos Raden. Remaja itu kembali merasa bersalah karena wajah orang-orang di dalam mobil garang seketika.
"Salah ya?" ucapnya dengan wajah perlahan tertunduk.
"Salah banget. Kita ini mafia, penjahat, kita gak temenan sama polisi! Jangan-jangan, kamu mau jebak kami ya?!" pekik Jonathan melotot tajam.
"Ha? Mafia?" sahut Raden melotot dan semua orang di dalam mobil mengangguk.
BRUKK!!
"Eh?" celetuk Jonathan saat Raden malah pingsan di dudukkan tengah mobil.
"Hah, ya wes, biarin ajalah. Repot emang kalau ngajak mafia prematur," keluh Eko terlihat malas.
"Nanti kalau dia bocorin ke orang-orang gimana, Om?" tanya Jonathan cemas menatap bodyguard ibunya itu seksama.
"Pikirin nanti. Pusing Eko," jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang gundul.
Saat suasana sedang dirundung kepanikan, telepon yang terhubung dengan ponsel di mobil itu berdering. Black Armys yang duduk di bangku samping sopir menerima panggilan dengan men-speaker suaranya.
"Ya?"
"Adipura tewas. Black Armys yang mengintai di rumah tersebut tak bisa mengidentifikasi pelaku. Hanya saja, Black Armys curiga kepada asisten Adipura si Bima yang meninggalkan rumah bersama beberapa anak buah Adipura," ucap petugas tersebut melaporkan.
"Si Bima? Yakin?" sahut Eko.
"Begitu dugaan kami. Karena 15 menit setelah ia pergi, para pelayan di dalam rumah berteriak histeris. Kami terpaksa masuk untuk mengetahui penyebab dari kepanikan itu. P-837 menginformasikan jika Adipura tewas karena kehabisan oksigen. Sebuah plastik mengurung kepala dan menjerat lehernya," sambung seorang Black Armys tersebut melaporkan.
Eko dan semua orang dalam mobil terlihat shock akan berita mengejutkan tersebut.
***
hehehe. siapa yang kemarin nebak Biawak Ungu ya? Ada yang nebak Adipura juga? lele jawab satu aja.
Yup, biawak ungyu masih idup gaes. selamat bagi kalian para fans abang igun yg lele jadikan visual di sini karena jagoan kalian masih awet.
Yg kmrin lele jawab komennya ungu udh koid sengaja lele pancing biar kalian inget matinya kenapa eh jebule gak ada yg jawab. yowes๐
mt kumat gaes. harusnya ini up kemarin tapi jadi up hari berikutnya. jadi baca marcopolo dan casanova dulu aja ya sembari menunggu.
lele padamu๐ tengkiyuw tipsnya ๐๐๐ btw brankas kosong lagi gaes๐
__ADS_1