4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kesaksian Tessa


__ADS_3

Bonus eps habis ya. Lele dr kemarin tunggu tips koin tapi jebule gak ada. Syedih syekali😩 Lele juga lagi gk bisa rekaman AB karena gusi bengkak udh hampir seminggu, ditambah nyeri lutut sejak setahun yg lalu, plus keteknya sekarang bengkak udah 4 hari ini.


Doain aja lele selalu sehat ditengah kesemrawutan hidup. amin. Misal nanti gak ada tips, besok up 1 eps ya. Itu aja infonya dan tengkiyuwā¤



------- back to Story :


Sebulan sebelum pernikahan Jonathan-Sierra. Black Castle, Inggris.


Tessa dibawa ke Pengadilan Tertinggi 13 Demon Heads untuk memberikan kesaksian.


Keputusan Arjuna untuk menikahinya atau tidak, akan ditentukan dari hasil vote usai pengakuan salah satu pemimpin No Face tersebut.


Para anggota Dewan yang tidak bisa hadir karena menjalankan misi di lapangan, tetap terhubung dengan video live berikut anggota mafia elit yang masuk dalam jajaran Dewan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Gas halusinasi akan menunjukkan kebenaran dari setiap kesaksianmu. Tak usah bersikeras untuk menolak efeknya, atau kau akan mengalami kerusakan syaraf di otak. Apa kau paham, Tessa?" tegas Roza Red Skull di hadapan wanita berambut pirang tersebut.


Nafas Tessa tersengal. Kedua pergelangan tangan dan kaki dibelenggu dengan besi yang terpasang pada kursi besi, berikut lehernya yang dipasangi kalung pemenggal.


Terlihat jelas, jika wanita cantik itu tertekan, tapi ia tak bisa kabur ke manapun selain pasrah pada takdirnya.


"Oke," jawabnya parau.


Semua mafia elite yang hadir dan duduk di bangku, terlihat tak sabar untuk mendengar kesaksian wanita bermata biru tersebut.


Jordan ikut hadir dan duduk di kursi kebesarannya bersama anggota Silhouette yang duduk berjejer di belakangnya.


Sayangnya, Naomi tak ikut serta karena Jordan melarangnya. Jordan masih menganggap jika Arjuna adalah rival terbesarnya, meski Naomi sudah meyakinkannya jika akan menikahinya.


Sebuah masker gas dengan selang menjuntai, kini terpasang di hidung dan mulut Tessa. Mau tidak mau, wanita itu menghirupnya.


Roza dan para petugas dari Red Skull pilihan Amanda, menjaga tahanan itu dengan alat penyetrum berupa tongkat sepanjang 30 cm dalam genggaman, meski tempat tersebut sudah dilengkapi dengan sistem persenjataan canggih yang terhubung dengan GIGA SIA.


Tessa mulai menunjukkan gejala dari dampak gas halusinasi tersebut. Roza melepaskan masker berbentuk corong itu dari wajahnya.


Roza duduk di sebuah kursi kayu dan menunjukkan kepalan tangan kanan ke atas, pertanda ia siap untuk menginterogasi. Semua mafia mengangguk dari tempat mereka duduk.


"Hai, apa kau dengar suaraku, Tessa?" tanya Roza menatapnya tajam.


Wajah Tessa yang tertunduk naik perlahan, meski kepalanya bergeleng-geleng seperti tak fokus pada sosok di depannya, tapi Tessa mengangguk.

__ADS_1


"Siapa aku?" Tessa menggeleng tak tahu. "Kenal Arjuna?" Tessa mengangguk.


Mata para peserta melirik ke arah Arjuna yang berdiri pada sebuah kotak yang di kelilingi pagar besi setinggi pinggul.


Bagaimanapun, Arjuna tetap dianggap bersalah, dan nasibnya kini ditentukan oleh pengakuan Tessa. Jantung semua orang berdebar.


"Arjuna. Dia siapamu?"


"Calon suamiku," jawabnya lirih. Arjuna terdiam, tapi Jordan tersenyum.


Sebuah kepuasan tersendiri baginya karena pengakuan Tessa tersebut. Diam-diam, Amanda juga tersenyum, meski memalingkan wajah. Vesper melirik sahabatnya dalam diam.


"Apa kau berkomplot dengan Arjuna untuk menjatuhkan 13 Demon Heads?" Arjuna tertegun akan pertanyaan tersebut. Tessa menggeleng, Arjuna menghembuskan nafas panjang merasa lega. Pemuda itu sungguh tak nyaman berada di kurungan tersebut.


"Kenapa kau kembali?"


"Aku benci Venelope. Aku benci Mr. White. Aku benci mereka semua."


"Mereka semua? Siapa yang maksud? Sebutkan," pinta Roza tegas. Semua orang fokus menyimak.


"Ungu atau yang disebut sebagai Opium, Bima yang dipanggil Ganja, Den Bagus sebagai Sabu, Si Bontot sebagai Mariyuana, dan si Bungsu dipanggil Heroin. Selain itu ... Smiley lalu pemimpin The Mask yang aku tak tahu siapa dirinya," jawabnya dengan pandangan tak menentu.


Kening semua orang berkerut. Eko dengan sigap menekan tombol di mejanya yang terhubung dengan Roza. Semua orang melirik Eko tajam.


Roza mengangguk. Ia meneruskan pertanyaan dari Eko tersebut. Dan ternyata, Tessa membenarkan.


Eko gemas bukan main. Para anggota Red Ribbon, The Kamvret, empat BIAWAK yang ada di sana ikut komat-kamit. Mereka sepertinya mengenali siapa pria yang disebut Den Bagus ini.


"Siapa Si Bungsu dan Si Bontot?"


Tessa menggeleng. "Mereka tak pernah membuka topeng. Aku tak mengenal mereka dengan baik karena Venelope tak mengizinkanku berbincang dengan orang-orang itu. Hanya saja, si Bungsu, maksudku ... Heroin, ia menyebut dirinya Neon. Sebelumnya bukan dia, tapi karena pendahulunya meninggal akibat sakit, Neon menggantikannya," jawab Tessa seraya membuka dan menutup mata dengan mulut mulai berliur.


Roza dan semua orang tahu, Tessa sudah tidak bisa melanjutkan interogasi ini. Batas kesadaran yang masih bisa dicapai dari gas halusinasi sudah di titik akhir.


Marry dengan sigap segera menyuntikkan serum penawar sebelum Tessa kehilangan ingatannya.


Roza menaikkan tangan kanan dengan kepalan. Semua orang mengangguk paham. Interogasi akan dilanjutkan esok pagi setelah Tessa pulih dari pengaruh gas halusinasi.


Wanita cantik itu dibawa ke ruangan khusus dan masih dianggap sebagai tahanan. Tessa dijaga dengan keamanan ketat oleh para Black Armys kaki robot.


Arjuna diam saja tak berkomentar apapun dan terlihat biasa saja menanggapi hal ini. Pengadilan dilanjutkan dengan pembahasan dari kesaksian Tessa sesi pertama.


DOK! DOK! DOK!

__ADS_1


"Quiet please," pinta Amanda menenangkan para mafia yang sibuk berdiskusi dari tempatnya duduk dari ketukan palu kayu.


Suasana tenang seketika. Kini, hanya Vesper dan Amanda yang duduk di kursi Dewan Tertinggi dikarenakan Robert dan Wilson telah tiada, dan belum ada pengganti mereka.


"Mendengar kesaksian dari Tessa, dan setelah kami selidiki, kasus ini masih ada sangkut pautnya dengan mendiang anggota Dewan terdahulu, Tuan Sutejo Perkasa. Oleh karena itu, ini menjadi masalah kita. Munculnya The Circle, lalu No Face, semua di luar pengetahuan sejarah 13 Demon Heads. Semua hal ini baru kita ketahui setelah banyak insiden terjadi dalam jajaran kita," ucap Amanda membacakan kesimpulan dari catatan tragedi.


Para mafia menekan tombol biru di meja mereka. Sebuah layar besar terpasang di hadapan dua Dewan Tertinggi menyala.


Layar besar tersebut terbagi menjadi dua tampilan. Lingkaran besar berwarna biru tampak di layar sebelah kiri, dan sebelah kanan menunjukkan prosentase kehadiran sebanyak 80%, pertanda para mafia itu setuju.


"Melihat hal ini, kami meminta penjelasan lebih lanjut kepada Eko, Empat Biawak, The Kamvret, dan anggota Red Ribbon. Silakan," sambung Manda menunjuk deretan para pria mantan anak buah Sutejo dengan sopan.


Kini, kepala para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads menoleh ke arah sekumpulan pria berwajah khas Indonesia itu.


Namun, mereka malah saling senggol seperti takut untuk bicara. Arjuna memijat dahinya dengan jari tengah terlihat jenuh.


"Eko," panggil Vesper, dan pria gundul itu langsung berdiri tegap. Tora bertepuk tangan, tapi Eko malah gugup.


"Ehem. Oke, jadi ya to ...," ucapnya terputus. "Eko suruh bilang apa, Mbak Vesper?" tanyanya menoleh ke arah Bos besarnya.


Praktis, Vesper langsung menghembuskan nafas panjang. Amanda hanya tersenyum paksa. Para mafia ikut menghembuskan nafas seraya merapikan setelan mereka.


"Aku bertanya, kau jawab. Oke?" Eko langsung hormat dengan mantap. "Kau bilang Den Bagus adalah anak dari Ajeng Maharani. Apakah Ajeng masih hidup? Lalu, Den Bagus anak ke berapa? Apakah dia memiliki pengaruh kuat dalam keluarga Sutejo?" tanya Vesper serius.


"Dia anak kedua. Mungkin ... umurnya sekarang ... se-Lysa," jawabnya sedikit ragu. Semua orang langsung melihat layar di mana wajah Lysa muncul di sana. Lysa tersenyum tipis. "Lalu ... soal Ajeng. Setau Eko sudah wasalam, tapi coba Eko pastiin dulu sama Biawak. Mereka dulu yang bertugas buat pantau isteri-isteri pak Sutejo," sambungnya seraya menoleh ke empat Biawak.


"Ajeng udah meninggal, Eko," jawab Biawak Putih dengan kedua tangan melipat di depan dada. Eko hanya ber-Oh dan kembali menghadap ke Vesper.


"Pengaruh?" tanya Vesper mengingatkan.


"Ah, soal pengaruh. Mbak Vesper inget gak, waktu Eko bilang, dulu anak-anak pak Sutejo pada ribut soal warisan aset karena dilimpahkan semua ke sampeyan, dan Ahmed doang yang ikhlas dengan apa yang dia punya?" Vesper mengangguk. "Nah, si Den Bagus itu yang provokatori anak-anak pak Sutejo lainnya buat demo ke Eko," jawabnya mantap.


"Jadi, kalau ada yang bilang banyak anak banyak rejeki, itu belom tentu bener, Nyonya Vesper. Buktinya noh, banyak anak bikin semrawut!" sahut Biawak Hijau, dan malah diangguki oleh teman satu perkumpulannya.


Kening Vesper berkerut. Ia merasa tersindir akan hal ini.


"Tapi setidaknya, dengan pengakuan Tessa soal si pria bertopeng dengan nama narkotika itu, Eko yakin, kalau mereka itu anak-anak pak Sutejo," jawabnya bertolak pinggang. Para Biawak dan Red Ribbon mengangguk setuju. Para mafia masih diam menyimak. "Soal siapa si Bungsu dan si Bontot, itu bisa siapa saja. Anak dari isteri pak Sutejo ada banyak. Namun, jangan khawatir. Jika diperkenankan, biar Eko dan temen-temen yang kasih perhitungan ke mereka nantinya. Ini bisa dibilang, masalah keluarga dengan keluarga pak Sutejo yang belum dituntaskan. Gimana, Mbak? Boleh?" tanya Eko dengan mata berbinar. Vesper menghela nafas pelan, tapi mengizinkan. Eko dan teman segengnya terlihat gembira.


Dengan sigap, Yena yang ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Sekretariat segera melakukan pencatatan. Nantinya, hasil dari Persidangan akan ia informasikan kepada seluruh mafia dalam jajaran via email.


"Bisa kita alihkan ke pencarian Sandara kepada Red Ribbon?" tanya Kai dari tempatnya duduk.


"Ya, silakan, Tuan Kai," jawab Amanda mengizinkan.

__ADS_1


Semua orang kini menatap para anggota Red Ribbon seksama. Kali ini, giliran Toras yang berdiri untuk memberikan laporan.


__ADS_2