
Vesper kembali bersedih. Ia meninggalkan area pesta dengan beristirahat di kamar. Orang-orang mulai iba dengan kondisi sang Ratu yang terpuruk hatinya karena sikap dari ketiga anaknya.
Eko dan para tamu yang sedang menikmati makan siang di halaman belakang, mencemaskan keadaan Vesper. Mereka saling berbisik dan terlihat serius memikirkan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.
Akhirnya, Eko memanggil anak lelakinya dan membisikkan sesuatu. Obama mengangguk dan segera menjalankan misi dari sang ayah.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Hei, hei. Sini, kumpul-kumpul," pinta Obama kepada anak-anak dari orang-orang terdekat Vesper.
Obama memberikan earphone translator kepada anak-anak itu dengan Eko dan Dewi mengawasinya. Terlihat, anak-anak itu menatap Otong saksama.
"Kan oma lagi sakit. Jadi, gimana kalo kita temenin oma? Katanya, oma akan mendatangi satu persatu rumah dari saudara-saudaranya. Jadi, saat oma Vesper berkunjung ke rumah kalian, janji ya, temenin oma dan bikin oma senang biar gak sedih lagi," ucap Otong serius.
"Oma sakit?" tanya King D terlihat sedih, dan Otong mengangguk membenarkan.
"Kalau oma Vesper kembali ceria, diberi hadiah tidak?" tanya Irina dengan wajah imutnya.
"Tentu dong. Oma 'kan baik. Dia pasti bakal kasih hadiah banyak untuk kita semua saat oma berkunjung ke rumah. Jadi, jangan lupa ya. Bikin oma Vesper senang, jangan sampai nangis. Oke?" ucap Otong menunjukkan jempolnya.
"Oke!" jawab anak-anak melakukan hal yang sama.
"Aduh, gemesin deh. Nih, karena kalian udah jadi anak baik, Tante Dewi kasih permen. Jangan lupa gosok gigi ya," ucap Dewi seraya memberikan permen lollipop kepada anak-anak itu.
Terlihat, anak-anak gembira. Mereka asyik bermain di sekitar halaman. Sedang Otong, mengajak Irina dan King D ke kamar tempat Vesper beristirahat. Vesper terbaring lemah tampak sedih.
"Oma!" panggil Irina seraya berlari kecil mendatangi Vesper.
"Oh! Hai. Kau ...," jawabnya dengan kening berkerut.
"Cucuku, Vesper. Jangan bilang kaulupa," sahut Amanda menatap sahabatnya lekat.
"Ah ya. Irina Tolya. Hai, kau ... cantik sekali. Seperti ibumu, Sia. Oma senang kauterlihat bahagia. Teruslah tunjukkan senyum manismu itu," ucap Vesper seraya mengelus pipi gadis kecil itu lembut.
"Lollipop?" tawarnya seraya memberikan lollipop pemberian Dewi.
"Oh, untukku? Oh, kau baik sekali. Tentu saja. Sudah lama sekali aku tak makan permen. Hem, ini bagus untuk gula darahku," ucap Vesper seraya membuka bungkusan permen lalu memasukkan bulatan dengan rasa manis ke mulutnya.
Amanda terkekeh karena sahabatnya kembali bersikap konyol. Ia senang karena cucunya bisa membuat Vesper kembali bahagia. Vesper memeluk Irina dan King D bersamaan di sisi kiri kanannya.
"Berkunjunglah ke rumahku, atau ke rumah Sia. Aku sempat salah menduga dengan keputusan Sia kala itu. Namun, setelah tahun berjalan, pilihannya tepat untuk meninggalkan dunia mafia, Vesper. Aku harap, anak-anakmu bisa mengikuti jalannya yang mungkin bagi kita tak masuk akal dan konyol," ucap Amanda dan Vesper mengangguk.
"Aku juga sempat berpikir demikian, Manda. Apakah mungkin, orang seperti kita menjadi warga sipil layaknya William dan Sia? Namun, melihat pasangan itu berhasil, aku optimis jika kita juga bisa melakukannya," jawab Vesper dengan lollipop dalam genggaman.
Tak lama, Dewi masuk dengan Jubaedah dalam gendongannya. Irina melepaskan pelukan Vesper dan mendatangi Dewi.
__ADS_1
"Aunty. Lollipop, please. Oma Vesper memakan permenku," pintanya, tapi membuat Vesper terkejut. Sedang Amanda, terkekeh mendengarnya.
"Yah, abis. Maaf ya," jawab Dewi cemberut.
Irina terlihat sedih, tapi King D mendekati Irina dan memberikan lollipopnya. Irina pun menerimanya dengan senyum merekah.
"Jangan lupa gosok gigi ya. Ayo, main di luar," ajaknya seraya menggandeng tangan Irina.
Gadis manis itu menyambutnya. Dua anak itu berlari keluar dengan gembira, ikut berkumpul bersama yang lain.
"Oh, lihatlah mereka. Seandainya keduanya bisa terus bersama," ucap Vesper, tapi mendapat lirikan dari Amanda.
"Jangan bilang kauingin menjodohkan keduanya," tanyanya penuh selidik.
"Oh! Itu akan sangat menyenangkan," jawab Vesper kembali memasukkan lollipop di mulutnya.
Vesper kembali ceria usai menikmati lollipop pemberian Irina. Bahkan, Vesper mengganti pakaiannya menjadi casual agar bisa bermain bersama anak-anak di halaman belakang.
Tentu saja, melihat sang Ratu kembali tertawa, membuat hati semua orang bahagia.
Malam harinya, pesta kembali di langsungkan. Semua orang berkumpul untuk menikmati makan malam dan permainan seru yang diselenggarakan.
Banyak hadiah yang diberikan karena Zaid dan Afro bingung menghabiskan uang yang dari jatah Vesper.
Akhirnya, Sandara berinisiatif untuk membuat games seru dengan banyak hadiah dan bisa diikuti semua jenis umur.
Kegelapan malam tak membuat suasana kebahagiaan penuh keceriaan itu memudar. Semua orang bersuka cita.
Sandara tampak cantik dengan gaun buatan Beny yang sengaja dikenakannya untuk acara malam.
Kai mengajak anak gadisnya berdansa. Sandara tersipu malu, karena ayahnya terlihat seperti tak menua dan tetap tampan meski memiliki cidera di kepalanya.
Afro malah disibukkan dengan aksi Vesper yang kembali menggila karena ia bersikeras menjadi bartender di rumahnya untuk melayani para tamu.
"Sudahlah, Nyonya, eh maaf ... maksudku, Mom. Sudah ada petugas yang melakukan pekerjaan itu. Anda nikmati saja pestanya," ucap Afro yang berdiri di depan Ibu mertuanya terlihat pusing.
"Ini caraku bersenang-senang, Afro. Biasakanlah," jawab Vesper dengan dandanan nyentrik berwarna merah menyala.
Bahkan, ia menggunakan wig agar terlihat muda. Semua orang menyukai aksinya malam itu.
"Kau jangan merusak kesenangan, Afro. Sudah, pergi sana," ucap Yusuke mengusir di mana para anggota dewan lebih tertarik untuk mengerjai Vesper karena matanya ditutup kain oleh Han.
"Vesper. Aku minta John Daly!" seru Bojan yang berdiri di depan sang Ratu.
__ADS_1
"Hem. Sebentar. Oh, Han sayang. Bisa kautunjukkan padaku di mana letak botol vodka dan racikan itu?" tanya Vesper dengan mata tertutup kain.
Han terkekeh, tapi aksinya malah membuat para anggota dewan iri. Han berdiri di belakang Vesper menjadi seperti pengendali boneka.
Vesper tertawa ketika Han menggerakkan kedua tangannya untuk mengambil botol itu seraya mengajaknya berdansa.
"Dasar mesum! Kalian sengaja memanasi kami ya?!" pekik Ivan kesal, tapi Han malah menyeringai seraya mencium leher sang isteri dari belakang. Para anggota dewan tersulut emosi menunjuk keduanya.
Han menggunakan kedua tangan Vesper untuk meracik pesanan minuman dari para anggota dewan. Siapa sangka, hasilnya cukup nikmat untuk diteguk.
"Hem, lumayan," ucap Bojan setelah mendapatkan minumannya.
"Tips, Mr. Bojan," pinta Vesper mengintip dari penutup mata yang ia buka sedikit ke atas.
Bojan berdecak kesal, tapi ia memberikan selembar uang dari negaranya ke meja Vesper. Sang Ratu mengambilnya dan menyelipkannya ke dalam celah sepatu boots.
Han terkekeh karena isterinya seperti lupa jika ia sudah berumur 50 tahun lebih.
"Kau sangat menggairahkan, Sayang. Bagaimana jika kita menyelinap pergi sebelum Kai menyadarinya?" bisik Han dan Vesper mengangguk pelan.
"Oke," jawabnya langsung membuka penutup mata dan meninggalkan di atas meja.
Tiba-tiba saja, Han dan Vesper menghilang saat para anggota dewan saling mengincipi minuman racikan dari pasangan mafia itu.
"Vesper, aku mau ... hei, di mana mereka? Vesper? Han?" panggil Martin ketika baru menyadari jika dua sejoli itu menghilang entah ke mana.
Meskipun suasana pernikahan begitu meriah dan damai tak ada penyerangan seperti yang ditakutkan, penjagaan ketat diberlakukan di tiap sudut kediaman Afro tanpa terkecuali hingga radius 1 km dari para Black Armys Vesper.
Ternyata, Miles mengamati pergerakan di luar kediaman Elios dari dalam mobilnya yang berada di wilayah terluar.
Anak buah Miles yang menyamar sebagai warga sipil saat melintas, tak dicurigai oleh Black Armys penjaga yang ikut berkamuflase.
Tiap kendaraan dan manusia yang melintas, dipindai dengan teropong khusus untuk melihat apakah objek tersebut memiliki senjata atau tidak.
Miles, sudah menduga dengan penjagaan ketat tersebut. Namun kali ini, ia hanya mengawasi saja tak melakukan teror apa pun.
"Oke cukup. Kembali ke markas. Kita bersiap," titah Miles saat anak buahnya yang menaiki sepeda pergi meninggalkan kawasan terluar kediaman Elios.
"Yes, Sir," jawab pria tersebut seraya mengayuh.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya nak New💋lele padamu❤️