4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dia Tahu


__ADS_3

Lele masih geli aja baca komen kalian yg blg Mr. White matinya gampang. Lha dia udh kebangetan tangguhnya.


Dor-doran sampai berkelahi udah. Kesetrum kan belom. Lele sengaja kasih matinya gampang karena bosen, tiap mau bunuh satu orang aja ribet amat sampe segala jenis produk vesper dikeluarin. Jadi, gitu aja infonya. Hari ini 1 eps karena gak ada tips koin masuk😆 Tengkiyuw😘


------ back to Story :


Sandara melihat dirinya di cermin setinggi tubuh usai mandi dan bersiap. Ia mengenakan dress bermotif bunga setinggi lutut, dan terlihat anggun dengan rambut ia gulung ke atas.


Sandara mendapatkan pakaian-pakaian cantik dalam lemari yang ia temukan di kamarnya. Senyumnya merekah.


CEKLEK!


Sandara terkejut saat mendapati pria bertopeng yang mengenakan hoodie sungguh menunggunya di luar kamar, dan malah duduk di atas sebuah sepeda model lawas seperti yang digunakan oleh orang-orang zaman penjajahan.


KRING! KRING!


"Ayo naik," ajaknya.


Sandara mengedipkan mata. Ia terlihat bingung, tapi menurut. Sandara ragu saat membonceng di belakang pria itu dalam posisi miring.


Pria bertopeng biru itu mengayuh sepedanya di dalam lorong rumah sembari membunyikan bel sepedanya yang bersuara nyaring. Sandara merasa jika orang ini sungguh aneh.


"Oke, sudah sampai. Turunlah," pintanya ramah.


Sandara melepaskan pegangannya di jaket pria itu dan berdiri di samping sepeda. Pria itu meminta Sandara berjalan di depannya.


Sandara menurut dan berjalan perlahan melewati sebuah ruangan dengan banyak foto hingga menemukan meja makan di sana.


Ternyata, banyak pria bertopeng di sana, tapi dengan bentuk serupa. Sayangnya topeng-topeng itu malah membuatnya takut.


Sandara melihat sebuah meja makan yang memiliki dua kursi, seperti sengaja diatur demikian.


"Duduklah," pinta pria itu yang sudah menarik kursi untuknya dan menunggu Sandara duduk di depannya. "Habiskan makanan yang disediakan. Tak habis, kau tak akan mendapatkan jatah makan malam. Kau paham?" tegasnya dengan kedua tangan saling menggenggam di atas meja. Sandara mengangguk.


Tak lama, makanan datang. Namun, Sandara terkejut. Makanan-makanan itu bukan jenis yang ia suka. Berlemak, dan memiliki rasa yang kuat.


'Bagaimana cara dia makan? Tunjukkan wajahmu, aku penasaran.'


Namun, Sandara kembali terkejut. Pria itu memiliki lapisan topeng saat ia membuka topeng utamanya. Topeng itu hanya setengah wajah, menutup dahi dan hidung.


Sandara mengerutkan kening. Ia menatap pria yang makan dengan menu serupa begitu lahap. Sedang Sandara terlihat seperti enggan memakannya.


"Kau tak menghargai budaya keragaman masakan dari negara ibumu lahir, Sandara. Makanan ini ciri khas dari kotaku," ucapnya seraya memasukkan potongan daging rendang ke mulutnya.


"Maaf," ucapnya dengan wajah tertunduk memegang pisau dan garpu di kedua genggaman tangannya.

__ADS_1


"Tak kau makan, tak kau habiskan, kau baru mendapatkan makanan saat sarapan. Kau itu, seorang tahanan yang dimanja oleh para penculiknya, dan kau tak sadar betapa beruntungnya kau."


Sandara menaikkan pandangan. Ia bisa menduga jika pria itu menatapnya tajam dari balik topengnya.


"Fasilitas yang kau dapatkan saat bersama kami di atas rata-rata. Sebuah rumah! Kau bahkan diangkut dengan helikopter, yacht, dan mobil mewah. Kau mendapatkan makanan enak, tempat tidur dan kamar mandi privasi, serta tuntutan pekerjaan seperti para profesional di bidangnya. Dan kau, ingin mengeluh di hadapanku?! Kau cari mati!"


BRAKK!


"Ah!" kejut Sandara saat pria bertopeng biru itu menggebrak meja dengan kuat hingga piring di hadapannya melompat hampir jatuh.


Sandara langsung memegangi piring tersebut dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar kencang.


"Makan, dan habiskan! Jangan menguji kesabaranku, Sandara. Aku tak selalu baik, dan aku tak selalu jahat. Itu semua tergantung pada sikapmu yang mau menurut atau tidak. Kau paham?" tegasnya lagi menunjuk.


Sandara mengangguk dengan tangan gemetar. Ia menarik nafas dalam seperti mencoba menenangkan hatinya yang dirundung ketakutan.


Sandara mulai menyuapi mulutnya dengan nasi yang sudah dilumuri kuah dari bumbu gulai khas masakan padang.


Perlahan, Sandara mulai bisa menerima rasa dari makanan itu meski ia berulang kali meneguk air putih untuk mengurangi rasa yang begitu kuat dari masakan tersebut.


Sandara menghindari makanan berlemak, rasa yang terlalu kuat, minuman es, karena profesinya sebagai seorang artis yang harus menjaga penampilan.


Pria itu memakai topengnya kembali dan sibuk menatap gerak-gerik Sandara dari tempatnya duduk dengan dua kepalan tangan menopang dagunya.


"Good. Nikmat bukan? Kau pemilih. Kau bukan lagi seorang artis. Kau tahanan, seorang sandra, jadi jangan banyak bertingkah," ucapnya yang seraya berdiri.


"Otakmu hanya kaget menerima makanan enak. Cepat naik," ajak pria itu yang sudah duduk di bangku sepeda 'onthel'.


Sandara berjalan perlahan. Ia kembali duduk dan berpegangan pada jaket pria itu. Lelaki itu mengayuh sepedanya perlahan menyusuri lorong rumah, melewati beberapa ruangan di dalamnya sembari membunyikan bel pada sepedanya.


'Tak ada penjaga di sepanjang lorong yang aku lewati.'


KRING! KRING!


'Sudah ada 4 pintu di lorong ini berwarna abu-abu. Lalu ada 3 pintu di lorong setelah belokan dengan jendela tertutup dari kayu berwarna cokelat. Lalu ...."


KRING! KRING!


Sandara menghentikan analisisnya. Ia melihat sebuah kolam renang dengan banyak penjaga bertopeng berkumpul di sana sedang berlatih, membentuk formasi seperti yang Sandara kenali.


"Kau pasti bisa menebaknya. Hem, terima kasih. Berkatmu, kami bisa menerapkan teknik Scorpion dan Frog. Oke, kita lanjutkan tour," ucapnya saat menghentikan laju sepeda dan berhenti di teras belakang samping kolam renang.


Sandara tertegun. Ia tak menyangka jika strategi tempur itu akan diterapkan oleh para pria bertopeng.


Sandara kembali fokus untuk memetakan denah rumah tersebut dari bangku ia membonceng.

__ADS_1


KRING! KRING!


Sepeda itu berhenti di depan pintu kamarnya. Sandara turun dan berdiri di samping pria itu dengan kedua tangan saling menggenggam di depan perut.


"Sudah hafal rute sepeda kita?" tanyanya yang praktis mengejutkan Sandara. "Gambar. Ada gulungan kertas manila warna putih, alat tulis, dan pensil warna di atas meja kerjamu. Buat yang rapi dan warnai. Berikan padaku saat makan malam. Jika tak sesuai seleraku, makan malammu jeroan sapi yang penuh dengan lemak dan kolesterol. Hem, selamat bekerja," ucapnya sinis.


Sandara segera masuk ke kamar. Ia menoleh dan mendapati benda-benda yang disebutkan pria bertopeng tadi di atas meja kerjanya. Ia duduk dengan wajah sayu terlihat sedih.


'Ia sengaja melakukannya. Ia tahu jika aku memetakan tempat ini. Dia bisa tahu isi pikiranku. Pria ini ... lebih berbahaya dari Mr. White,' batinnya merintih seraya membuka gulungan kertas berukuran 1x120 cm tersebut.


Sandara menarik nafas dalam. Ia memilih mengerjakannya di atas lantai yang lebih luas. Gadis cantik itu terlihat begitu serius dan fokus dalam bekerja.


Ia yang senang melukis, tak menganggap pekerjaan ini beban, meski ia harus menahan rasa sakit pada lukanya.


Namun, Sandara kembali terkejut saat mendapati sebuah piring dengan beberapa obat dalam kemasan tersedia di sana, dan ada catatan dokter tentang petunjuk mengkonsumsi obat-obatan itu.


"Dia benar. Aku tahanan yang dimanjakan. Aku ... baru menyadarinya," ucapnya lirih sembari memegang obat-obat itu untuk kesembuhan lukanya.


Sandara segera meminum obat-obatan itu sesuai catatan. Sandara kembali serius menyelesaikan pekerjaannya karena waktu yang diberikan cukup singkat baginya. Ia harus menyelesaikan tugas itu sebelum makan malam.


TOK! TOK! CEKLEK!


Sandara menoleh. Ia melihat seorang pria bertopeng putih masuk ke dalam membawa nampan berisi makanan. Ada sebuah kertas dalam lipatan membentuk seperti atap rumah bertuliskan 'Makan siang'.


Sandara berterima kasih, tapi pria pengantar itu mengabaikannya dan kembali menutup pintu. Kamarnya yang tak memiliki jam, membuat Sandara hanya bisa memprediksi dari cahaya yang menembus jendela kacanya.


"Eh?" ucapnya lirih saat ia menyadari sesuatu.


Ia meletakkan sebuah pensil dalam posisi berdiri di samping meja tempat tidur, di mana sorot cahaya matahari begitu menyilaukan pandangannya. Sandara melihat bayangan pada pensil itu.


'Pukul 1 siang. Setidaknya, itu yang kuketahui.'


Sandara kembali beranjak seraya membawa kembali pensil itu. Ia menikmati makan siangnya dengan lahap di mana menunya masih sama, nasi padang. Hanya saja kali ini, lauknya ayam goreng.


Dalam benaknya, Sandara setuju dengan ucapan pria itu jika dia bukan artis lagi. Tak ada yang peduli pada suara emasnya atau bahkan mungkin tubuhnya yang akan membuncit karena makanan berlemak itu.


Sandara hanya berpikir jika ia harus tetap hidup untuk mengungkap semua selama ia disandera dalam fasilitas penculiknya.


Sandara melihat matahari mulai berwarna jingga, dan kegelapan malam akan segera menyelimuti wilayah itu.


Sandara yang letih, ditambah efek obat yang membuatnya mengantuk, Sandara tidur usai merampungkan tugasnya, meski ia belum merapikan peralatan itu.


CEKLEK!


Dalam lelapnya tidur, tanpa Sandara sadari, pria bertopeng biru masuk dan melihat hasil kerjanya pada kertas manila tersebut.

__ADS_1


"Dia memang hebat. Detail, teliti, dan rapi. Gambarannya bagus, warnanya sesuai dengan tempat ini," ucap pria itu memuji sembari memasukkan kedua tangannya dalam saku depan hoodie. "Hem, baiklah. Kau mendapatkan makan malam dietmu," imbuhnya seraya menoleh ke ranjang Sandara yang terlihat jelas karena berupa dinding kaca.


Pria itu pergi sembari membawa piring kotor di mana makanan nasi padang itu sudah habis, dan hanya menyisakan tulang ayam, piring, sendok, dan garpu kotor.


__ADS_2