
Semua orang panik seketika saat muncul sosok menyeramkan yang berhasil keluar dari pintu besi.
Sosok itu berambut putih panjang dengan kulit tubuh memiliki warna yang sama dengan rambutnya.
Kulitnya keriput seperti orang tua yang sudah berumur hampir 100 tahun. Bertubuh kurus, kuku tajam mengilat seperti terbuat dari emas, dan memakai pakaian serba putih.
"SETAN! HUWAA!" teriak Bejo yang ikut memanggil sosok itu setan padahal kedua tangan dan kakinya menyentuh tanah.
Makhluk yang seperti manusia itu berlari dengan cepat, tapi seperti binatang karena menggunakan dua tangan yang difungsikan seperti kaki.
"Sial! Venelope berhasil menciptakan makhluk menyeramkan itu! RUN!" teriak Click yang bahkan tak bisa menembak karena makhluk menyeramkan itu berlari kencang seperti hewan pemangsa.
Saat Jonathan akan melemparkan sebuah Rainbow Gas, Clack yang berlari di sebelahnya menghentikan aksinya.
"Kau gila? Kau ingin mengubur kita hidup-hidup di terowongan ini?!" pekiknya dengan nafas tersengal dan terus berlari.
"Agh! Terus lempar apa dong?!" jawabnya tak berani menoleh ke belakang sembari membuka isi tas milik Bejo yang ia bawa sambil berlari.
GLUNDUNG ... BUZZ!!
Jonathan tak menghiraukan gas dari tabung berwarna hitam yang berhasil ia lemparkan ke belakang sambil berlari.
Namun, ia bisa merasakan jika makhluk itu terus mengejarnya seperti tak terkena dampak.
"Buset! Itu orang atau bukan?!" pekiknya dengan mata melotot dan malah menghentikan langkah saat manusia seram itu seperti merangkak di dinding lalu kembali memijak tanah dengan cepat.
"Mungkin dia punya ilmu kanuragan, Jo! Di Indonesia banyak yang punya ajian aneh! Mungkin dia salah satu muridnya kuyang atau mbak kunti!" jawab Hadi yang tak peduli lorong itu membawanya ke mana, tapi ia terus berlari agar tak ditangkap mahkluk seram itu.
Semua orang panik dan terus berlari. Manusia berwujud mengerikan itu terus mengejar dan menyuarakan lengkingan aneh yang membuat bulu kuduk meremang.
Hingga tiba-tiba, "Loh? Loh?" pekik Bejo saat ia menghentikan laju larinya karena ia mengenali tempat tersebut.
"Ini kan ...?" sahut Hadi dengan nafas tersengal dan ikut berhenti berlari.
"Kita cuma muter-muter! Ini tempat yang tadi!" jawab Bejo frustasi.
"What?!" pekik Jonathan yang baru menyadari jika mereka kembali ke terowongan dekat dengan pintu besi saat bertemu cabang dan memilih jalan ke kiri.
"Harrghhh!"
"Waaa!" teriak Jonathan histeris.
Semua orang malah mematung karena panik dan tak siap dengan serangan mahkluk buas itu. Namun tiba-tiba, DOR! DOR! BRUKK!!
"Waaaa!" teriak Jonathan untuk kesekian kalinya saat makhluk itu roboh, tapi memeluknya.
Jonathan memejamkan matanya rapat ketika manusia itu masih bergerak-gerak, tapi pada akhirnya tewas.
"Jo! Jo!" panggil Hadi yang sudah jauh di depan bersama Bejo.
__ADS_1
Click and Clack menghampiri Jonathan yang terlentang di atas lantai terowongan. Tubuhnya tertindih manusia putih yang sudah tak bergerak.
"Nathan!" panggil Clack seraya menyingkirkan makhluk itu dari tubuhnya.
"Hiks, mama ... hiks ... hiks," tangis Jonathan dengan kedua tangan terangkat ke atas seperti orang bersorak. Tubuhnya gemetaran, ia terlihat sungguh ketakutan.
Click segera membangunkannya, tapi Jonathan seperti manusia tak bertulang. Tubuhnya lemas dan tak bisa berdiri. Pemuda itu malah roboh lagi.
"Hiks, Nathan dipeluk sama manusia aneh itu. Nanti Nathan jadi kaya dia gimana? Hiks," tangisnya lagi masih memejamkan mata.
Jantung semua orang masih berdebar. Namun, orang-orang itu mulai menyadari saat ada seseorang yang menembak makhluk itu dari belakang di titik buta.
Click and Clack saling berpandangan terlihat serius. Hadi dan Bejo diminta untuk menemani Jonathan yang masih berusaha untuk menenangkan diri karena ia hampir tewas.
Dua pria gundul bertubuh besar itu menyiagakan pistol dalam genggaman. Mereka berjalan perlahan menelusuri lorong di mana mereka yakin jika melihat sosok lain yang muncul ketika makhluk itu sedang melompat untuk menerkam Jonathan.
"Stt, Clack," panggil Click dengan kode mata ke lorong yang menuju ke pintu besi.
Clack mengangguk. Keduanya berjalan dengan langkah hampir tak terdengar dan tubuh terpepet dinding terowongan di sisi kiri dan kanan.
Dua orang itu melongok ke dalam pintu yang jebol oleh keganasan manusia seram itu. Clack melongok dan memutuskan mengambil sisi kiri, sedang Click sisi kanan. Dua pria itu masuk ke dalam perlahan terlihat begitu waspada.
Tiba-tiba, BUZZZ!!
"Ugh!" keluh Clack saat kepulan gas berwarna putih menyeruak di sekitarnya. Dengan sigap, Clack segera mengenakan masker gas khusus, begitupula Click.
Namun, saat Click baru akan memakainya, ia melihat sosok yang sama saat di Greenland. Orang itu berlari dengan cepat sembari menenteng sebuah koper hitam besar dan keluar dengan tergesa seperti takut ketahuan.
Clack menyadari jika Click sedang bertarung dengan orang yang dikenalinya dari cara bertarungnya.
"Tidak mungkin," gumannya seraya melepaskan masker gas dan keluar dari kepulan asap yang mengaburkan pandangannya.
CRETTTT!!!
"AGGGHHH!" rintih Click saat ia disetrum dengan sebuah ujung tongkat yang ditekan pada dadanya oleh sosok itu.
Click roboh dan memegangi dadanya yang sakit dengan tubuh mengejang. Orang itu menatap Clack tajam yang berdiri tegap melihatnya. Dua mata orang itu saling beradu.
Orang itu menggeleng seperti memberikan kode dan langsung berlari kencang membawa koper tersebut. Clack terdiam seperti terkejut akan kehadiran orang yang seperti ia kenali.
Di luar pintu, terdengar suara Hadi dan Bejo berteriak seperti bertemu dengan orang berpakaian putih yang menutup wajahnya dengan topeng dan hanya terlihat matanya saja.
"Click!" panggil Jonathan dengan nafas tersengal seraya mendatangi salah satu bodyguard-nya yang terkapar di lantai terlihat kesakitan.
"Biarkan saja! Dia bukan ancaman. Kita berkumpul," panggil Click kepada Hadi dan Bejo saat akan mengejar orang itu.
Dua anggota The Kamvret tersebut akhirnya kembali ke pintu tempat munculnya makhluk aneh.
Click masih terlihat kesakitan, tapi ia baik-baik saja. Jonathan, Bejo dan Hadi menyusuri tiap sudut ruangan yang mereka temukan dengan pistol dalam genggaman terlihat tegang.
__ADS_1
"Huwah!" pekik Jonathan saat menemukan bangkai hewan di sudut ruangan sudah tercerai-berai. Bau busuk karena sudah dikerumuni belatung dan lalat membuat pemuda tampan itu langsung muntah di tempat.
"Huekkk! Minggir, Jo! Penyakit itu!" panggil Bejo langsung menariknya.
Jonathan yang baru saja pulih dari ketakutannya, kini kembali lemas. Ia pucat dan ikut tergeletak bersama Click yang mulai tenang, meski nafasnya masih tersengal.
"Tempat apa ini?" tanya Hadi bergidik ngeri.
"Gudang penyimpanan," jawab Clack yang berjongkok di samping dua pria yang tergeletak di sampingnya.
"Gudang?" sahut Hadi mengulang. Clack mengangguk.
"Dugaanku. Karena kediaman Madam di Arizona sudah tak bisa digunakan sebab militer pemerintah telah mengambil alih, mereka memindahkan kostum gagak di sini. Hanya saja, makhluk seram itu, jujur, aku baru melihat yang seperti itu," jawabnya serius.
"Emang dulu ada makhluk sejenis yang kaya gitu? Serem banget sih. Mau buat apa?" tanya Bejo heran.
"Sebagai penjaga. Kalian tahu sendiri, jika anak buah kami tak sebanyak orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Venelope sejak kecil tertarik dalam dunia ... mm, bagaimana ya mengatakannya," ucap Clack terlihat bingung.
"Dongeng. Uhuk. Yah, seperti dunia fantasi. Penyihir, makhluk-makhluk mistis, pangeran, puteri, dan semacamnya. Dia saja menganggap Mr. White sebagai peri karena wujudnya yang rupawan dan tangguh," sahut Click seraya bangun perlahan memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Dongeng?" timpal Jonathan masih berbaring.
"Hem. Oleh karena itu, saat kami mendengar Axton mengatakan jika kami ini orang-orang penyakitan, itu ada benarnya. Beberapa dari kami seperti mengalami gangguan mental. Hanya beberapa saja yang dikatakan sehat secara jasmani dan rohani, sisanya ... 'sakit'," ucap Clack dengan kedua jari membentuk tanda kutip.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Jonathan yang mulai terlihat tenang.
"Madam. Dia memberikan ilusi kepada para ahli waris. Dia sengaja membuat mereka seperti dalam dunia khayalan untuk melihat diantara mereka, siapa yang pikirannya paling kuat dan fisiknya paling tangguh. Dari semuanya, Sierra, ya calon isterimu. Dia yang paling bisa menguasai pikirannya," sahut Clack.
"Sierra cantik, cerdas, dan kuat. Namun entah apa yang terjadi, Sierra mendadak lumpuh. Saat itu, Madam dan para Mens berpikir jika itu pengaruh dari obat ilusi yang diberikan Madam. Namun, setelah mendengar penjelasan logis dari Jeremy, kami yakin jika itu semua adalah perbuatan busuk Venelope," jawab Click terlihat geram.
"Agh! Venelope sialan! Padahal mereka bersaudari, kenapa iri-irian gitu sih? Liat aja, kalau ketemu, bakal Nathan geprek itu cewek. Ngeselin sumpah," sahutnya emosi dan langsung berdiri.
"Terus sekarang gimana? Hadi gak bisa mikir. Dedemit itu bikin roh Hadi melayang jauh belom balik lagi," ucapnya terlihat begitu letih sembari memegangi kepalanya yang pusing.
"Hubungi markas. Beritahukan yang kita temukan di sini. Minta tim penyidik untuk menelusuri tempat ini lebih dalam lagi. Aku rasa, kita sudah cukup menjelajah. Sisanya biar mereka yang kerjakan," ucap Clack menyarankan dan Hadi mengangguk siap.
Namun, sinyal mereka tak bisa tembus keluar. Hadi berinisiatif untuk keluar dari palka besi tempat mereka masuk tadi. Akan tetapi, palka tersebut tak bisa di buka. Semua orang panik seketika.
"Kita terkurung di sini. Pasti kerjaan si topeng putih itu! Eladalah ...," keluh Hadi dengan kedua tangan mengepal terlihat kesal saat memanjat tangga besi untuk membuka palka.
Semua orang menghembuskan nafas panjang kembali lesu.
***
uhuy tengkiyuw yang udah bantu boom like audio book lele. nah lumayan kan kalian dapet bonus 2 eps yg akan lele up secara terpisah ya di bulan ini.
eps ini masuk bonus, jadi gak lele sertain yg udah kasih tips koin. yang belom boom like audio book segera ya buat dapetin bonus eps di bulan berikutnya.
dilihat dari data ini belom ada yg like audio book fake family. kuy segera boom like!
__ADS_1