
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
Jonathan mempersilakan para tamunya masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Namun, Jonathan terlihat sedih saat menemani para tamunya duduk di sofa.
"Ada apa, Nathan? Mana Sierra?" tanya Zaid.
"Mm, Sierra sakit. Kasihan tau, Kak Zaid. Kondisinya memprihatinkan kaya mama Lily," jawab Jonathan sedih.
Kening Kai dan lainnya berkerut.
"Boleh kami melihatnya?" tanya Kai menatap Jonathan seksama dan anak ketiga Vesper tersebut mengangguk.
Kai, Zaid dan Yena mengikuti Jonathan yang menuntun mereka ke kamar Sierra. Sedang lainnya, menunggu di ruang tamu, menantikan kedatangan James dan sisanya, berharap membawa kabar baik mengenai Sandara.
Di kamar Sierra.
Kai dan lainnya terkejut melihat gadis cantik kekasih Jonathan tergolek lemas dengan selang infus menancap di salah satu punggung tangannya.
"Dia kenapa?" tanya Yena iba.
Jonathan akhirnya menceritakan kronologis kesehatan Sierra hingga ia berakhir di ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri. Kai dan lainnya mendengarkan dengan serius.
"Aku akan menghubungi Jeremy untuk datang kemari memeriksa kesehatan Sierra. Jika ibumu saja bisa diobati olehnya, pasti Sierra juga bisa," ucap Kai serius.
"Sungguh? Papa Kai akan meminta paman Jeremy untuk menyembuhkan Sierra?" tanya Jonathan antusias dengan mata berbinar.
"Ya, tentu saja. Bagaimanapun, Sierra sudah menjadi bagian dari kelompok kita," jawab Kai dengan senyum terkembang.
Jonathan memeluk Kai erat dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Zaid dan Yena ikut bahagia.
"Nathan, selain itu ada kabar baik yang ingin kami sampaikan padamu," ucap Zaid sembari merangkul pundak kekasihnya.
"Apa itu?" tanya Jonathan seraya melepaskan pelukan.
"Semua orang dalam jajaran setuju jika kau menikah dengan Sierra. Malah, nyonya Vesper akan menikahkan kalian berdua saat ulang tahunmu musim panas nanti," jawab Zaid santai.
BRUKK!!
"JONATHAN!" pekik orang-orang terkejut karena Jonathan ambruk di atas ranjang meski matanya terbuka lebar.
"Hei, kau tak apa? Kau kenapa?" tanya Zaid panik.
"Na-Nathan nikah? Beneran? Boleh?" tanya Jonathan gagap dengan pandangan lurus menatap langit-langit kamar dan tubuh kaku.
"Ya, begitulah hasil kesepakatan saat itu. Kenapa? Kau ... senang atau malah ...."
"Hahaha! Nathan seneng dong! Akhirnya, Nathan bisa sama Sierra terus untuk selama-lama-lama-lama lamanya!" jawabnya riang langsung bangun dan malah berputar-putar di kamar.
Kai dan lainnya geleng-geleng kepala karena sikap Jonathan sungguh kekanakan. Kai menatap Sierra iba yang mengingatkannya akan isterinya, Vesper saat sang Ratu pernah mengalami hal serupa.
Kai segera menghubungi Jeremy dan profesor itu berjanji akan segera terbang ke Perancis untuk membantu mengobati Sierra.
Jonathan terlihat begitu gembira. Ia menggenggam tangan Sierra erat dan duduk di sebelahnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
"Kamu dengar itu, Sayang? Sierra akan sembuh dan kita akan selalu bersama. Jadi, cepat sadar ya, oke?" ucap Jonathan mencium kening kekasihnya cukup lama terlihat ia begitu merindukan senyumannya.
"Ya, aku mendengarnya, Nathan," jawabnya lirih.
Jonathan terkejut karena Sierra bicara meski suaranya hampir tak terdengar. Sierra membuka matanya perlahan dan pada akhirnya menunjukkan senyumannya.
"Hallo, Sierra," sapa Kai ramah diikuti Zaid dan Yena yang tersenyum padanya.
"Hallo, semua. Maaf membuat kalian repot karena penyakitku," jawabnya lesu.
"Apa yang kau bicarakan? Sebaiknya kau istirahat dan fokus dengan penyembuhanmu. Jeremy akan segera datang dan semoga ia bisa mengobatimu. Oia, selain itu, aku sedang mengembangkan sepasang kaki robot penopang untuk membantumu berjalan lagi. Maaf, saat itu Lysa mengambilnya tanpa sepengetahuanmu. Jangan tersinggung ya," ucap Kai menambahkan.
"What? Nona Lysa ... menemukan kaki robot penopangku? Ah, pantas saja. Para bodyguard-ku tak menemukannya, tapi ... aku lega karena nona Lysa yang menemukannya bukan orang lain. Dia ... baik meski tak bisa menerima keberadaan daddy-ku," jawabnya dengan wajah sendu.
Kening orang-orang kembali berkerut.
"Apa maksudmu dengan Lysa menerima keberadaan Tobias?" tanya Zaid bingung.
Sierra hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
"Oia, ngomong-ngomong soal itu. Di mana ayahmu, Tobias? Dia tak tinggal di sini?" tanya Yena penasaran.
Sierra menggeleng.
"Sepertinya ... ia berada di kediaman kakek Darwin. Nona Lysa dan Jonathan pernah ke sana sebelumnya. Terkadang, daddy tak pernah mengatakan rencananya padaku. Ia tiba-tiba datang dan pergi tanpa pamit. Aku kini paham jika nona Lysa sulit mencintainya karena ... daddy memang menyimpang," jawabnya terlihat sedih.
Kai, Yena dan Zaid makin penasaran dengan ucapan Sierra tentang hubungan Lysa-Tobias. Namun, Kai mengalihkan pembicaraan meski ia mulai curiga dengan perkataan Sierra.
"Sudahlah. Watak Tobias memang seperti itu. Jadi sebaiknya kita berdoa saja, semoga usaha Javier untuk meminta restu pernikahan kalian berhasil. Javier sedang berusaha meyakinkannya," ucap Kai dengan senyuman.
Malam hari, kediaman Darwin, Melun, Perancis.
"Hehe, hehehehe ... kau bilang apa barusan, Sultan? Merestui hubungan Jonathan dan Sierra? Hehe," kekeh Tobias sembari mengelus kepala pony milik King D yang kini makin gemuk semenjak ditinggal majikan ciliknya.
"Ya, ini sudah kesepakatan bersama seluruh jajaran 13 Demon Heads," jawab Javier sopan dengan Habib dan Sauqi mendampinginya.
Namun, Tobias malah tertawa terbahak dengan para pion D di sekitarnya.
"Hei, kau lupa? Aku orang The Circle dan aku tak mengakui kepemimpinan Jonathan. Hah, lupakan saja. Aku tak akan pernah merestuinya. Jonathan dan Sierra memiliki kesepakatan denganku. Aku tak menerima kehadiranmu, pergilah," ucap Tobias malas.
"Apa kesepakatanmu dengan Jonathan dan Sierra, Tobias? Kau harus mengatakannya padaku. Aku harus tahu dan akan kusampaikan hal itu pada orang-orang dalam jajaran. Jangan mencoba melakukan hal licik lagi pada kami," tanya Javier lantang saat Tobias berpaling dari hadapannya.
Tobias menyeringai saat memunggungi Javier. Namun, saat berbalik, wajahnya berubah malas seketika.
"Akan kukatakan, tapi Lysa harus berada di sini. Aku tak percaya yang kau sampaikan nanti kepada para dewan. Sepertinya kau akan membumbui ucapanku nanti. Aku lebih percaya Lysa ketimbang kau, Sultan. Kau ... lelaki penuh kebohongan," jawabnya sembari mengerucutkan bibir.
"Kau," geram Javier menunjuknya siap memberikan perhitungan, tapi kedua tangannya dengan sigap dipegangi kuat oleh Habib dan Sauqi.
"Sultan ingat, kita datang kemari untuk meminta restu darinya dengan cara baik-baik. Tahan emosimu, Tobias sengaja melakukannya. Dia ingin membuatmu marah sehingga pertikaian antara The Circle dan 13 Demon Heads akan kembali terulang," ucap Habib menasehati.
"Ya, benar, Sultan. Jaga emosi dan wibawa Anda. Jangan terhasut ucapan licik Tobias," sahut Sauqi.
Javier meredam amarahnya dan mencoba untuk tetap tenang.
"Baiklah, aku akan meminta Lysa datang kemari, tapi ... aku tak sungkan memberikan perhitungan padamu jika berani menyentuh isteriku," tegas Javier.
__ADS_1
"Mantan. Mantan isteri. Masa-masa indahmu dengan Lysa sudah berakhir, Sultan. Jadilah orang yang tahu diri. Kau sungguh memalukan, Lysa tak lagi mencintaimu. Heh, menyedihkan," kekeh Tobias menyindir dan semua D terkekeh mendengarnya.
Javier sudah tak tahan. Ia pergi meninggalkan mansion dan akan kembali bersama Lysa nantinya.
Sepeninggalan Javier dan kelompoknya.
"Apa yang ingin kau lakukan, Toby?" tanya Pion Dakota mendekatinya.
"Siapkan ruang interogasi, tapi ... di kamar Darwin saja. Aku ingin membuka mata Sultan bodoh itu jika Lysa, sudah bukan miliknya lagi," jawabnya menyeringai.
Para pion D saling melirik terlihat tegang.
"Kau ... akan menyiksa mereka berdua?" tanya Pion Darwin terlihat cemas.
"Hem, tidak. Cukup Sultan saja. Aku akan memberikan penyiksaan yang sangat keji dan tak pernah kulakukan sebelumnya. Cepat kerjakan!" perintah Tobias melirik para pion sekilas dan mereka mengangguk paham.
Tobias terlihat begitu bersemangat. Ia mencium bibir keledai King D karena bahagia. Ia bahkan menggendongnya dan menimang keledai itu seperti anak kecil dengan senyum terkembang.
Di tempat lain, malam hari. Tempat Sandara berada.
TOTOTOTOK! TOK! TOK!
CEKLEK!
"Dara?" ucap seorang pria membuka pintu terlihat bingung.
"Kak Afro," panggilnya lirih terlihat berantakan.
"Masuklah," ajak Afro menarik tangan Sandara dan melihat sekitar untuk memastikan jika gadis cantik itu tak diikuti.
Sandara berdiri diam memeluk kedua lengannya karena hawa dingin musim gugur mengusik tubuhnya.
Afro segera merangkul Sandara dan mengajak masuk ke ruang perapian di mana rumah itu terlihat usang seperti tak terurus.
"Hei, ada apa? Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Afro curiga, menatap wajah Sandara lekat.
Sandara tak menjawab. Ia memeluk Afro erat dan menangis. Afro terlihat bingung dan membalas pelukannya.
"Kau pasti lelah dan lapar. Bersihkan dirimu, aku akan memasak untukmu. Oke?" ucapnya sembari melepaskan pelukan dan Sandara mengangguk.
"Kau tahu di mana kamarmu 'kan?" tanya Afro dan Sandara kembali mengangguk dalam diam.
Sandara beranjak dan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Afro menatap Sandara seksama yang kini sosoknya tak terlihat lagi olehnya.
Afro bergegas menuju ke sebuah ruangan dan mengamati sekitar dari layar monitor CCTV untuk memastikan Sandara tak diikuti. Afro bernafas lega karena Sandara datang seorang diri.
"Dia mengingat tempat ini. Ingatannya sungguh bagus. Dia memang jenius," batinnya memuji dan tanpa sadar senyumnya terpancar.
Afro lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Sandara seperti janjinya. Ia terlihat begitu terampil memainkan pisau untuk memotong sayuran, daging dan buah untuk menu makan malamnya.
Sebuah rumah tua dan terlihat sedikit tidak terawat, kini menjadi tempat persembunyian Afro di mana ia tinggal seorang diri.
***
lele tepar mau rehat dulu. pegel uyy😵 jangan lupa like, vote poin koin juga ya.
__ADS_1
lele padamu💋💋💋