4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Nasehat Samuel*


__ADS_3

Lele asik berkebun sampai lupa belom stok naskah. Haha, maaf ya. Baiklah. Jangan lupa dukung novel di apk GN biar lele bisa segera lanjutin ke novel lainnya yg ceritanya mau diikutkan lomba di MT. Jangan lupa juga like audio book lele buat dapetin bonus eps di bulan depan. Lele padamu


--------- back to Story :


Di Honduras, pinggir Hutan Wilayah San Pedro Sula.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Terlihat sebuah gubuk yang memiliki banyak alat pertukangan untuk memotong kayu di samping rumah tersebut. Beberapa kayu ditumpuk yang ternyata hanya sebuah kamuflase dari tempat transaksi ilegal milik Samuel.


"Hallo, Sea," sapa Greco saat menyambut Arjuna dan kelompok barunya yang mendatangi tempat 'Dagang' sesuai pesan terakhir darinya.


"Andreas. Kini namaku Andreas Balconi, Greco," jawab Arjuna menunjuknya dengan sorot mata tajam saat memasuki pintu kayu gubuk tersebut. Greco mengangguk paham.


Arjuna dan orang-orangnya berkumpul di dalam sebuah gubuk yang berada di tengah hutan, tak jauh dari bibir pantai, tempat kapal nelayan Samuel berlabuh.


"Jadi, apa yang kalian lakukan di tempat ini?" tanya Arjuna menatap Greco tajam.


"Oke. Barang yang kami jual selama ini kepada Andreas adalah narkoba dan ganja. Semua produk itu kami dapatkan dari Meksiko. Kami memiliki distributor besar yang menyelundupkan barang itu kemari," jawab Greco sedikit gugup.


"Meksiko, siapa?" tanya Arjuna bingung.


"Aku cukup yakin jika kau mengetahui produk tersebut milik siapa. Hanya saja, entah kau tahu atau tidak, tempat itu kini diakuisisi oleh mafia lain yang mengklaim tempat itu," sahut Simon-mantan anak buah Andreas.


Arjuna diam sejenak. "Oh, apakah ... itu salah satu pabrik milik Ibuku, Vesper? Namun setahuku, tempat itu sudah hangus terbakar karena ulah The Circle. Di sanalah pertama kali aku bertemu Tessa No Face," jawabnya mantab.


"Karena itulah, aku cukup kaget saat kau bilang salah satu anak Vesper. Apa ibumu tak tahu, jika tempat itu diambil oleh mafia lain bukan dari jajarannya?" tanya Jose heran.


"Siapa yang mengklaim tempat itu?" tanya Arjuna dengan kening berkerut.


"Dia menggunakan nama samaran. Dia menyebut dirinya 'Ganja'. Namun, tempat itu dikuasai oleh dua orang. Satu lagi adalah bos besarnya. Ganja selalu memakai topeng. Sedang si 'Sabu' kami tak tahu seperti apa dirinya," jawab Samuel.


"Apakah ... dia orang Indonesia? Ganja dan Sabu adalah kata dari Indonesia," jawab Arjuna menjelaskan.


"Ah, mungkin. Kau pernah berbicara dengan bahasa Indonesia 'kan saat marah-marah kepada dua wanita Andreas jika mereka tak becus bekerja, meski kami tak tahu apa artinya?" tanya Miguel dan Arjuna mengangguk. "Ada beberapa dari kata-katamu yang pernah kudengar dari mereka. Aku cukup yakin jika itu kata-kata umpatan. Wah, mulutmu benar-benar keji, tak hanya perilakumu ketika membantai musuh," sambung Miguel jujur.


Arjuna langsung memasang wajah masam. Para anak buah Andreas terdahulu hanya bisa diam sedang Samuel, Greco, Jose dan Miguel terlihat santai tak takut dengan raut wajah Arjuna yang menunjukkan amarahnya.


"Kau beruntung bertemu kami. Hanya kami yang berani bicara jujur padamu, Sea. Jika kau membunuh kami, kau yang akan rugi. Percayalah, mulut menyebalkan kami berguna untukmu di saat kau membutuhkannya," ucap Samuel santai.


Arjuna memejamkan mata sembari menghembuskan nafas panjang. Ia terlihat malas dan tak mau berdebat. Samuel dan timnya tersenyum tipis.


"Oke. Aku merasa jika Ganja dan Sabu harus diselidiki lebih lanjut. Itu pabrik ibuku. Meski sudah ditinggalkan, tapi surat-surat tanahnya masih miliknya dan tak seorangpun boleh menguasainya tanpa seizin dari ibuku. Kita harus merebut dan mengamankannya," tegas Arjuna, tapi mengejutkan tim Samuel.

__ADS_1


"Wah, apa kau sadar yang kau ucapkan, Sea? Dari ucapanmu sebelumnya, kau begitu membenci ibumu, tapi lihat kenyataannya. Kau peduli padanya," sahut Miguel.


"Aku memang membencinya, tapi aku tak suka jika orang lain merebut yang bukan miliknya. Aku ingin tahu, jika aku berhasil merebutnya, apakah ibuku akan membiarkanku memilikinya atau ia akan mengirim pasukannya untuk membinasakan kita."


Semua orang menelan ludah terlihat pucat seketika.


"Maksudmu ... Vesper akan mengirimkan pasukan Black Armys miliknya yang berjumlah ribuan orang itu ... untuk membantai kita?" tanya Ringgo-nahkoda kapal dengan mata melotot.


"Kenapa? Kalian takut? Jika sampai Black Armys datang, biar aku yang menghadapi mereka. Kalian cukup menonton dan berdoa saja," jawab Arjuna tersenyum miring.


Semua orang di dalam gubuk kayu itu garuk-garuk kepala terlihat frustasi. Arjuna terlihat santai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan pandangannya kini tertuju pada mantan anak buah Andreas.


"Oia. Bagaimana hasil penyelidikan ke reruntuhan Dominic?" tanya Arjuna ke mantan bodyguard Dominic bernama Tulio.


"Aku dan Max berhasil menyusup ke dalam reruntuhan bangunan melewati terowongan rahasia. Namun, banyak benda-benda yang sudah dijarah oleh penduduk setempat. Pemerintah tak menyegel tempat itu, malah sepertinya tanah di sana dibiarkan saja terbengkalai. Dan kulihat, banyak turis yang berfoto di sana," jawab Tulio.


"Hem. Itu bagus. Jadi, tak ada satupun mafia yang mengklaim tempat itu?" tanya Arjuna memperjelas dan Tulio mengangguk.


"Kau ... ingin mengambil alih wilayah Dominic?" tanya Tulio penasaran, tapi Arjuna menggeleng.


"Aku merasa jika Meksiko harus kita urus terlebih dahulu. Aku punya firasat jika orang-orang ibuku sedang mencariku di Honduras. Aku harus menghindari negara ini sementara waktu sembari membereskan pabrik ganja dan narkoba itu," jawab Arjuna tenang.


"Kenapa kau malah memilih pekerjaan yang beresiko, Tuan Andreas? Kenapa kau malah membuat masalah dengan para mafia di Meksiko itu?" tanya Max-mantan anak buah Andreas heran.


Samuel dan semua orang langsung terdiam. Jawaban Arjuna di luar nalar mereka, tapi orang-orang itu paham. Mereka semakin yakin jika Arjuna sangat idealis dalam membuat keputusan dan agak sulit untuk ditentang.


"Oke. Kau bosnya. Jadi ... Meksiko?" tanya Tulio dan Arjuna mengangguk mantab.


"Baiklah, kita ke Meksiko. Namun, kita akan membutuhkan banyak senjata. Sayangnya, Tuan Andreas tak memilikinya," jawab Max mengingatkan dan Arjuna tersenyum tipis.


Di hutan, luar gubuk.


"Kau meminta kami membunuh orang-orang itu dengan kayu runcing ini? Ini lebih menyedihkan ketimbang Perang Dunia Pertama," gerutu Miguel merasa dipermainkan.



Arjuna diam saja dan terus menyerut ujung kayu hingga membentuk seperti kerucut tajam pada ujungnya.


Anak buah Andreas yang lain hanya bisa menuruti perintah Arjuna untuk membuat semua batang pohon yang tersedia di sana dibuat seperti permintaannya.


Ternyata pekerjaan itu menghabiskan waktu hingga malam menjelang. Semua orang terlihat lelah. Arjuna berkeringat hebat saat melakukan pekerjaan pertukangannya.


Semua orang memandangi tubuh Arjuna seksama yang dipenuhi banyak tato dan terlihat semakin garang.

__ADS_1


Kulitnya yang putih, ciri khas orang Asia timur, membuat sosok Arjuna seperti manusia albino diantara pria berkulit cokelat.


"Apa tato-tato itu memiliki arti?" tanya Jose memberanikan diri bertanya saat Arjuna berdiri di hadapan mereka sembari mengelap tubuhnya yang berkeringat dengan kaos yang dikenakannya tadi.


"Jikapun ada, aku tak peduli. Wanita bernama Tessa, salah satu pemimpin No Face memaksaku mentato tubuhku dengan gambar-gambar dan tulisan sesuai keinginannya, sebagai bukti jika aku mencintainya," jawab Arjuna malas. "Namun, tato bunga ini, sangat berarti untukku," sambungnya sembari menunjuk tato besar di lehernya.


"Tessa? Katamu, calon isterimu Naomi. Mana yang benar?" tanya Miguel bingung.


Arjuna diam sejenak. Ia memalingkan wajah dan kini memunggungi semua orang.


"Apa kau menyelingkuhi Naomi? Apakah itu alasanmu tak bisa kembali? Kau beralasan dengan dalih membenci ibumu, tapi sebenarnya, kau membenci dirimu sendiri. Benar begitukan, Kim Arjuna?" tegas Samuel.


Nafas Arjuna menderu. Ia membalik tubuhnya dan mendatangi Samuel dengan langkah cepat. Semua orang tertegun ketika baju di dada pria gemuk itu dicengkeram kuat oleh putera Han seperti tersinggung akan ucapannya.


"Kau marah, berarti ucapanku benar. Kau pasti membuat kesalahan. Kau takut pulang. Kau bilang sendiri jika orang-orang ibumu mencarimu. Kau tahu pasti ibumu mencemaskanmu. Apa kau takut bertemu Naomi?" tanya Samuel menatap mata Arjuna tajam.


"Harrghhhh!" teriak Arjuna lantang tak bisa menjawab rencengan pertanyaan yang menyudutkannya.


Ia menarik baju Samuel kuat dan melemparkan tubuh pria malang itu hingga ia jatuh bergulung-gulung di atas tanah. Mata semua orang terbelalak dan berdiri dari dudukkannya.


"Kau pengecut, Sea. Berapa kalipun kau melemparkanku, hal itu tak membuatmu menjadi pria bijaksana. Itu malah membuatmu terlihat lemah, meski kau begitu tangguh dan tak kenal takut ketika bertarung. Hanya seorang pengecut yang tak berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Kau pasti mengecewakan Naomi dan ibumu hingga kau melarikan diri," jawab Samuel seraya berdiri dari tempatnya jatuh.


Arjuna kembali berteriak. Ia meluapkan amarahnya dengan menendangi semua benda yang masuk dalam jangkauan serangannya.


Orang-orang menghindar agar tak terkena imbas dari amarah pria Asia itu. Hingga akhirnya, Arjuna lelah sendiri setelah ia kehabisan tenaga karena melampiaskan emosinya.


"Aku pernah muda, Sea. Aku pernah menjadi baj*ngan sepertimu. Namun, aku tahu bagaimana meluruskan masalah. Jangan sampai ego membuatmu lupa dengan tanah yang selalu kau pijak karena kau sibuk mendongak untuk menggapai bintang. Tanahlah yang membuatmu bisa tetap berjalan dan berlari. Langit, membantumu untuk berusaha lebih keras lagi agar bisa menggapainya," ucap Samuel mendekati Arjuna dengan pakaian yang sudah kotor terkena tanah.


Arjuna diam tertunduk dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Samuel merangkul pundak Arjuna dan mengajaknya masuk ke dalam karena angin mulai berhembus kencang, pertanda hujan lebat akan segera datang.


Arjuna diam saja. Ia menurut ketika Samuel membawanya masuk ke dalam gubuk dan mendudukkannya.


Arjuna menatap Samuel yang mengeluarkan beer dingin dari lemari es yang tersedia di sana. Arjuna menerima pemberian kaleng beer itu dengan sebuah senyuman yang ditorehkan Samuel.


"Mandi, makan lalu istirahatlah. Aku tak tahu apa rencanamu dengan kayu-kayu itu. Namun, hari ini sudah cukup. Kita semua lelah. Kami tak terbiasa hidup sepertimu yang penuh dengan konflik seperti katamu. Jangan samakan kami sepertimu, Sea. Namun, kami akan berusaha mewujudkan mimpimu untuk menjadi penguasa. Hanya saja, semua butuh waktu. Tak ada cara instan, kecuali ... cara seorang pecundang," ucap Samuel menatapnya lekat dan Arjuna mengangguk paham.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


nitip koin buat beli kuota😆

__ADS_1



__ADS_2