
Sabar ya LAP. Bentar lagi tamat. Emang alur ceritanya begini, kan udah dibilang diawal. Siapin mental, masih kaget aja loh. Karena ini novel penghabisan kisah mbak Vesper dan sengaja lele buat beda ceritanya gak kaya yg udah-udah jadi ... intinya tanggapi dengan bijak ajalah. Kwkwkw bingung juga mau ngomong apa.
Berhubung lele masih pilek dan sepertinya idung lele makin mancung, doain cepet sembuh ya. Monster Hunter lele pending dulu biar fokus ke satu novel 4YM aja. Paling Red Lips lele up tapi pas luang aja itupun gak tentu ya. Yg puasa semoga sukses sampai lebaran nanti. Tengkiyuw tipsnya, lele padamu❤️
---- back to Story :
Keempat mafia muda bergerak menuju Jepang. Sayangnya, mereka tak ingat di mana kediaman paman Takeshi.
Empat anak Vesper tak hilang akal dan terpaksa mendatangi markas Vesper lainnya untuk mencari tahu meski harus dengan kekerasan.
Markas Hashirama, Jepang.
BLUARR!!
"Arghhh!"
Suara erangan dari para Black Armys penjaga saat mereka diserang oleh keempat anak Vesper yang menggunakan para Black Armys kaki robot untuk melakukan teror.
Sayangnya, kedatangan mereka tercium oleh agent M yang diamanatkan oleh sang Ratu untuk menjaga tempat tersebut. Tentu saja hal itu membuat murka mantan agent Colombia tersebut.
"Kaugila, Arjuna!" pekik Agent M saat melihat Arjuna datang ke markas Hashirama usai Sun ia paksa pulang dan tak lagi bekerja untuk putera Han karena selalu terluka.
"Di mana rumah paman Takeshi?! Katakan!" tanyanya marah.
"Apa yang kalian inginkan di tempat itu?!" tegas Black Armys Ninja yang melindungi agent M dengan katana siap dihunuskan.
"Hem. Tak mau memberitahu ya. Oke," jawabnya tersenyum miring.
"Tangkap dan kurung dia!" seru Agent M lantang menunjuk putera Han tersebut.
Sun yang masih masa penyembuhan tak bisa berkutik. M mengurungnya di kamar dengan penjagaan ketat.
Sun hanya bisa melihat dari jendela saat tuan mudanya dikeroyok oleh sekumpulan Black Armys Ninja karena Arjuna membuat gara-gara di markas sang Ratu.
Lysa, Jonathan, dan Sandara fokus untuk merampas seluruh persenjataan yang berada di gudang termasuk melumpuhkan para Black Armys yang berjaga.
Nantinya, senjata-senjata itu akan mereka pergunakan untuk melawan balik orang-orang Vesper yang memihak padanya.
Sandara yakin, jika sang ibu dijaga oleh orang-orang pilihannya dan akan sangat sulit untuk menyeretnya pergi.
Para mafia muda itu beranggapan, semua petaka yang menimpa pada orang-orang yang mereka sayangi karena Vesper terlalu egois untuk menyerahkan diri kepada Miles.
Peperangan tak terhindarkan. Sun panik dan berusaha untuk keluar dari kurungan sang ayah, tapi tempat itu dialiri listrik sehingga Sun tak bisa gegabah atau ia akan mati tersengat.
"Agh, siall! Aku harus bagaimana?" tanyanya panik melihat sekitar mencoba mencari jalan lain.
Sayangnya, sang ayah bukan orang bodoh dan bisa diakali. Tempat itu benar-benar mengurungnya.
Sun hanya bisa pasrah dan menunggu hasil dari pertempuran yang membuat hatinya gelisah.
Arjuna mulai kewalahan karena ia dikeroyok oleh para Black Armys dan M yang ingin menangkapnya. Namun, putera Han tersebut tak menyerah begitu saja.
"Harghhh!"
SRING!!
Praktis, sekumpulan orang itu mulai menjaga jarak usai melihat laser dari pedang Silent Blue dinyalakan.
__ADS_1
"Putus asa, hem? Tanpa persenjataan dari ibumu, kau bukan apa-apa, Kim Arjuna," ucap M bengis dengan dua katana dalam genggamannya.
"Vesper Industries akan menjadi milikku," jawabnya menatap agent itu tajam.
"Dasar anak tidak tahu diri!" teriak M marah dan tak terlihat takut menghadapi Arjuna sendirian meski ia tak menggunakan senjata yang sama.
Para Black Armys Ninja mengelilingi dua pria yang sedang bertarung hebat itu. M tahu jika pedangnya bisa terbelah karena kalah.
Oleh karena itu, ia mengincar bagian tubuh Arjuna dan berusaha untuk membuat pedang itu jatuh dari genggamannya.
Sun yang melihat dari jendela kamarnya panik karena takut dua orang itu terluka. Sun merasa tidak berguna karena tak bisa menolong.
Hingga tiba-tiba, ia mendengar suara dari balik pintu kamarnya. Sun mencoba menempelkan telinganya pada pintu pelapis untuk memastikan pendengarannya.
Ternyata, suara rintihan kematian, sabetan pedang dan tembakan memenuhi koridor di luar kamarnya itu. Sun yakin jika perbuatan keji tersebut dilakukan oleh tiga anak Vesper lainnya.
Sun melangkah mundur dan menjauh dari pintu, tapi ia menghadapkan tubuhnya ke benda yang terbuat dari kayu itu bertelanjang dada.
Benar saja, BLUARR!!
Sun langsung merunduk melindungi tubuhnya dari serpihan. Ia kembali berdiri tegap saat mendapati tiga anak Vesper muncul di hadapannya.
"Sun, berpihaklah," ucap Lysa seraya mendekat dengan busur dan anak panah dalam genggaman siap dilesatkan.
Sun tersenyum tipis. "Pernah mendengar cinta sehidup semati?" tanyanya tenang.
"Itu hanya mitos," tegas Jonathan dengan pistol dalam genggaman.
Sun kembali tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Silakan buktikan. Jika Vesper mati, Han dan Kai juga," ucapnya yang membuat kening Sandara langsung berkerut.
"Papaku tak senaif itu," tegasnya.
Sandara, Jonathan dan Lysa makin menatap Sun tajam meski tetap waspada.
"Ibu kalian tak takut mati, malah ia sudah sangat siap. Hanya saja, orang-orang yang menyayanginya tak demikian. Mereka tak rela jika Vesper meninggal apalagi dengan cara yang tragis. Di tangan anak-anaknya mungkin," imbuh Sun seraya menunjuk tiga anak Vesper bergantian.
Lysa, Sandara dan Jonathan terdiam. Tiba-tiba saja, Sun mengambil sebuah kertas di atas meja samping kasurnya.
Ia seperti menggambar sesuatu dengan pensil lalu menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Sandara.
Gadis itu melangkah dengan ragu saat mengambil kertas itu. Lysa dan Jonathan melihat isi kertas seperti sebuah peta.
"Temui ibu kalian, dan pastikan kalian tahu apa yang kalian lakukan. Aku hanya ingin berpesan, jika kalian memang harus membunuhnya, tolong ... jangan sampai Vesper menangis. Jangan sampai ia merasakan sakit. Penyakit yang dideritanya sudah sangat menyakitkan, ditambah sikap kalian yang sudah membuatnya tak menginginkan kehidupan lagi," ucap Sun terlihat sedih dengan wajah tertunduk.
Sandara dan lainnya diam menatap Sun lekat.
"Dari dulu aku sangat berharap ... aku bisa menjadi anaknya. Aku sangat ingin Vesper menjadi ibuku, tapi ... hal itu tidak mungkin," imbuhnya dengan mata berlinang lalu menaikkan pandangan. "Jadi, berjanjilah padaku. Jangan berikan kematian yang menyakitkan padanya. Kumohon ... dan katakan padanya, jika aku akan selalu menyayanginya seperti ibuku sendiri," pinta Sun dengan sangat dan sebuah tetesan air mata jatuh ke pipinya, meski tanpa isak tangis.
Lysa, Sandara, dan Jonathan terlihat shock akan sesuatu usai Sun mengutarakan perasaannya. Pria itu menangis, tapi cepat-cepat ia hapus.
Jonathan berjalan keluar dari kamar Sun yang sudah rusak karena ia ledakkan dengan granat mini.
Sistem setrum yang dialiri listrik pada kamarnya padam, tapi Sun tetap berada di kamarnya. Ia tak mau keluar padahal dirinya sudah bebas.
Sun menutup wajahnya di mana Sandara dan Lysa bisa melihat jika pemuda tampan itu begitu sedih karena menangis.
Sandara dan Lysa kemudian berpaling pergi. Jonathan, Lysa dan Sandara diam saja saat mereka berjalan di koridor entah apa yang dipikirkan.
Namun, ucapan Sun seperti memberikan dampak psikologis pada tiga anak Vesper. Saat mereka bertemu dengan para Black Armys Ninja yang menjaga koridor, mereka memilih melemparkan gas bius agar orang-orang itu tak sadarkan diri. Wajah mereka datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Sedang di luar, Arjuna masih berambisi untuk mengalahkan M. Ayah dari Sun tak menyerah meski dua pedangnya telah terbelah.
Namun, para Black Armys Ninja yang mendukungnya memberikan pedang mereka secara bergantian hingga kini tersisa satu buah saja.
"Hah, kautahu, siapa pembuat pedang ini?" tanya M seraya mengarahkan ujung pedang itu ke hadapan Arjuna meski keringat sudah membasahi tubuhnya.
"Aku tak peduli," ucap Arjuna bengis yang tak kalah letihnya karena M sangat sulit untuk dijatuhkan meski tubuhnya sudah tersayat dengan luka bakar akibat sabetan pedang laser Silent Blue.
"Keluarga Tendo. Mereka ... masih bersaudara dengan ibumu, Vesper. Kauingat kisah Vesper yang memaafkan keluarga Tendo? Entah kenapa kau tak mewarisi sikap baik ibumu, Kim Arjuna? Katakan padaku, setelah kau menemukan Vesper, lalu membunuhnya, apa yang kaudapatkan?" tanya M dengan napas tersengal.
"Kedamaian. Kebahagiaan. Dan hidup tanpa perintah yang mengekang darinya lagi," tegas Arjuna yang kini berjalan memutari M dengan sorot mata tajam.
"Sendirian? Tanpa orang-orang yang menyayangimu? Tak ada yang memihakmu, Arjuna. Kau diterima di Camp Militer, karena ibumu. Kau mendapatkan senjata itu, karena permintaan ibumu pada BinBin. Kau mengelola perusahaan, karena Vesper yang memintanya pada ayahmu, Han. Kau akhirnya diakui sebagai anggota dewan, karena Vesper mengizinkannya. Vesper selalu memaafkan sikap burukmu yang terus-terusan memakinya dengan ucapan kejimu! Atas semua yang ibumu lakukan, kau akan membalas dengan membunuhnya? Kausungguh anak berbakti, Kim Arjuna. Semoga saat kaumati, neraka menelanmu mentah-mentah. Tak seperti ibumu, neraka malah memuntahkannya kembali enggan menerimanya," tegas M yang mulai terlihat tenang usai bicara panjang lebar.
"Katakan apapun yang kaumau. Aku tak peduli. Kau, bukan siapa-siapa dalam hidupku. Jangan mengaturku," tegas Arjuna.
M tersenyum miris, tapi ia mengangguk membenarkan.
"Maafkan pria tua ini. Namun, tak akan kubiarkan kau membunuh Vesper. Lebih baik aku yang mati ketimbang dia! Harghhh!" teriak M lantang dan kembali menyerang.
Agent M mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjatuhkan Arjuna setelah usaha untuk menyadarkan anak keras kepala tersebut gagal.
Para Black Armys kaki robot yang berhasil selamat ikut mengepung para Black Armys Ninja, termasuk Sandara, Lysa dan Jonathan yang ikut menyaksikan pertarungan itu.
Praktis, lingkaran dengan dua lapis itu membuat dua kubu bersitegang.
"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan dia!" teriak Agent M marah dengan seragam hitam sudah robek karena terkena lelehan dari sabetan pedang laser.
"Kali ini, kau akan mati di tanganku, M," tegas Arjuna dengan wajah bengis dan pedang laser menyala biru terang ia genggam kuat dengan satu tangan kanannya.
"Jangan harap! Hargh!" erang M tak gentar dan terus melaju melawan Arjuna.
Mata para penonton melebar. M menjatuhkan dirinya saat Arjuna bersiap untuk menebasnya. Arjuna terkejut ketika M berada di bagian bawah tubuhnya.
SREETT!!
"ARGHHH!"
"Yeah!" teriak para Black Armys Ninja saat M berhasil menyayat paha Arjuna ketika pemuda itu melebarkan kakinya karena memasang kuda-kuda.
M dengan sigap menerobos diantara kedua kaki putera Han tersebut dan segera berdiri. Arjuna mengerang menahan sakit karena luka robek di paha kanannya.
Saat M membalik badannya siap untuk menusuk punggung Arjuna, tiba-tiba saja, "Ayah hentikan!" teriak Sun berlari kencang ke arah sang ayah yang membuat Lysa, Jonathan, dan Sandara langsung menoleh padanya.
M terkejut dan menoleh saat pedang itu sudah ia genggam dengan dua tangannya. Namun, JLEB!!
"NO!" teriak Sun lantang dan langsung berhenti berlari saat Arjuna membalik tubuhnya dan menusuk perut M dengan pedang Silent Blue. Darah langsung tersembur dari mulut Agent M dan mengenai wajah pemuda itu. "Ayah!" teriak Sun kembali berlari dengan air mata sudah membanjiri wajahnya.
M tersenyum pada Arjuna dan menjatuhkan pedangnya. Arjuna terkejut dan melepaskan pedang itu saat ia menyadari perbuatannya.
Laser biru tersebut padam seketika. Namun, M menangkap wajah pemuda itu dengan kedua tangannya yang sudah berkeringat.
"Kugantikan nyawa ibumu dengan nyawaku. Jangan membunuhnya. Jangan bunuh nona Lilyku. Jangan ...."
BRUKK!
"AYAH!" teriak Sun lantang memanggil ayahnya yang sudah roboh dengan mata terbuka dan pedang menembus perutnya.
Sun dengan sigap meraih tubuh ayahnya dan memangkunya. Namun, M diam saja tak bergerak saat Sun terus memanggil ayahnya.
__ADS_1
"Arghhh! Ayah!" teriaknya lantang meluapkan seluruh kesedihan karena ditinggalkan oleh sang ayah untuk selamanya.