
Web MT kumat gaes. Lele gak bisa ngetik di web jdi pake hp. Jadi kalau nanti agak pendek naskahnya maklumin aja ya. Lele lagi tanyain ke mimin wlpn skg admin cuek kl di wa gak bales. Smg bukan Tuhan yg bales😆
Kolom bagian konten biasa lele ngetik raib. Embuh kmn😆 SIMULATION juga lele ketik dr hp semalem. Jdi kalo nanti typo lele semakin parah maklum aja deh ya😁
Lalu ... kalau senin sd jumat jadwal update agak berantakan maklumin lagi ya krn lele zoom dl. Itu aja infonya dan tengkiyuw udh sabar menanti~
----- back to Story :
Sandara memusatkan pandangannya untuk memastikan keberadaanya selama ini. Gadis cantik itu melihat pulau yang tempatnya berada dekat dengan pulau lainnya ketika helikopter terbang semakin tinggi dari permukaan air laut.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Apa kau tahu di mana kita berada?" tanya Mr. White merangkul pundak Sandara dengan lirikan tajam.
"Di atas lautan," jawabnya datar.
Mr. White menghela nafas pelan. Ia terlihat sedikit kesal. Bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan. "Maksudku ... pulau yang kau tempati selama ini," tegasnya.
"Tidak tahu. Pulau itu tak memiliki papan nama seperti Hollywood atau Bau-Bau di Indonesia."
Mr. White melepaskan dekapannya dan menatap Sandara tajam. Gadis Asia itu diam saja dengan wajah datar memandangi keluar helikopter.
Selama penerbangan, dua orang itu terlihat seperti bermusuhan. Tak ada keakraban lagi seperti ketika mereka bersama dulu.
Hingga akhirnya, helikopter mendarat di sebuah yacht mewah bertingkat. Sandara mengenali kapal itu. Kendaraan dengan dominasi warna putih adalah kapal yang membawanya mengarungi lautan selama ini. Tempat ia bertemu Venelope.
Sandara melangkahkan kakinya dengan tenang dan wajah datar saat menuju ke kamar.
"Oh, kau hafal di mana tempatmu berada. Tetaplah di sana sampai aku datang lagi menjemputmu," ucap Mr. White yang mengikuti Sandara di belakangnya.
Gadis cantik itu tak menjawab dan menutup pintu kamar saat Mr. White tersenyum manis padanya. Senyum pria berambut putih itu berubah masam seketika.
"Hem. Ada yang diabaikan," ucap Venelope seraya mendatangi sepupunya dengan sebuah lollipop dalam genggaman.
"Apakah pertunjukan sudah disiapkan?" tanya Mr. White melirik wanita yang memakai topeng setengah wajah dari hidung ke mata untuk menyembunyikan parasnya.
"Ya. Hanya saja, karena kita kekurangan anggota. Jadi ... sedikit membutuhkan waktu lebih lama. Bersabarlah," jawab Venelope kembali menikmati lollipop di mulutnya.
"Kapan kapal merapat?"
"Saat fajar menyingsing. Pastikan, Sandara siap ketika waktu itu tiba," tegas si wanita pirang dan Mr. White mengangguk pelan.
Di dalam kamar. Sandara menguping pembicaraan keduanya di balik pintu. Ia berpura-pura dengan melepaskan pakaian dan menggantungnya di besi berbentuk seperti dahan pohon di samping pintu.
'Pertunjukkan? Aku dipersiapkan untuk apa? Pasti mereka merencanakan suatu hal besar dan aku tak bisa memperingatkan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads,' geram Sandara dalam hati.
Tiba-tiba, CEKLEK!
__ADS_1
Sandara terkejut ketika Mr. White membuka pintu kamar dan mendapati dirinya hanya memakai pakaian dalam.
Sandara langsung melangkah mundur karena mata biru lelaki itu menatapnya tajam dan terus melangkah mendekatinya.
"Kau mau apa? Pergi! Ini ruang pribadiku! Ingat kesepakatan kita!" tegas Sandara menunjuknya dan terlihat jelas ketakutan di wajahnya.
"Kesepakatan itu hanya berlaku saat di Puerto Rico. Kita harus membuat kesepakatan baru di kapal ini," jawabnya tegas dan terus melangkah maju hingga punggung Sandara terpepet tembok.
"Puerto Rico?"
Mr. White tersentak. Ia terlihat kaget karena tak sengaja membocorkan keberadaan sanderanya selama ini. Sandara menyeringai.
"Ups, keceplosan ya," sindirnya.
GRAB!
"Emph!" erang Sandara saat kedua tangannya dipegangi kuat oleh Mr. White dan bibirnya langsung dicium ganas olehnya. Sandara memberontak dan melepaskan ciuman itu dengan mata terpejam dengan susah payah. "Venelope!" teriaknya lantang pada akhirnya.
Mr. White terkejut karena gadis cantik itu malah memanggil sepupunya.
"Agh!" rintih Mr. White saat rambut panjangnya dijambak kuat dari belakang hingga matanya terpejam dan ia mundur ke belakang dengan cepat.
Nafas Sandara terengah. Ia langsung lari ke samping dan menjauh dari keduanya.
DUK!
"Agh!" rintih Venelope saat topeng yang menutupi wajahnya terlepas.
Venelope langsung mengambil topeng dan memakainya dengan tergesa. Nafasnya menderu, ia terlihat marah karena Mr. White malah balik menyerangnya hingga topeng itu terlepas.
"Kau ...," geram Venelope menunjuknya.
"Kau yang memancingku. Kau tahu 'kan, aku paling tak suka jika rambutku di perlakukan kasar. Kau bahkan membuat beberapa helainya tercabut!" balas Mr. White menunjuk.
Mr. White dan Venelope saling bertatapan tajam seperti saling membenci. Sandara berjongkok dan menenggelamkan wajah ayunya di atas lutut tertutupi kedua tangan.
Dua orang dari kelompok No Face melirik Sandara tajam dari tempat mereka berdiri. Venelope melotot dan memberikan kode dengan matanya agar Mr. White pergi dari kamar tersebut.
Pria berambut putih panjang itu terlihat marah, tapi melakukan perintahnya. Venelope diam saja menatap Sandara di kejauhan lalu ikut pergi dan menutup pintu.
Sandara masih terisak sedih. Namun perlahan, ia mengangkat wajahnya dengan raut datar, meski masih dengan suara tangisan yang ternyata palsu, termasuk air matanya.
'Hem, jadi ... itu ya kelemahan Mr. White dan Venelope. Mudah,' ucapnya dalam hati sembari menghapus air mata.
Sandara lalu membuka almari yang tersedia di kamar tersebut. Kali ini, banyak pakaian casual seperti saat ia diculik pertama kali.
Sandara merindukan penampilan layaknya gadis lugu dengan dress selutut dan menggerai rambut panjangnya.
Sayangnya, rambut hitamnya sudah berubah. Namun, ia merasa senang karena tak lagi memakai makeup.
__ADS_1
Perlahan, Sandara menyadari perkataan Afro dan ayahnya-Kai-ketika terakhir kali mereka berbicara di Black Castle sebelum diculik.
"Aku sangat naif. Aku yang membuat petakaku sendiri. Maaf, Papa, kak Afro. Semoga ... kita bisa bertemu lagi," gumannya lirih sembari memandangi lautan biru di hari yang mulai senja.
Di sisi lain. Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
"Kau tidak boleh pergi. Kau sudah berjanji akan menemaniku," tegas Han memegangi pergelangan tangan isterinya erat dan menatapnya tajam.
"Kau sudah mengambil jatahku, Pak Tua. Jangan manja," tegas Kai dari video call.
Vesper menghela nafas pelan dan memejamkan matanya sejenak.
"Kai. Aku ingin kau yang menyelesaikan masalah Meksiko ini. Jika benar dugaan dari Arjuna dan tim, aku harap, kau bisa memberikan jalan tengah terbaik," pinta Vesper kembali duduk di pinggir ranjang samping Han duduk.
"Dia ayahmu. Kau sendiri yang menyelidiki dari GIGA DARA jika helikopter tersebut menuju bandara lalu mereka tak terlacak karena menggunakan Pemancar Fatamorgana portabel," tegas Han dan Kai diam menatap rivalnya tajam. "Hanya orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads yang memiliki pemancar portabel tersebut, dan semua markas dalam jajaran sudah mengkonfirmasi jika benda itu masih tersedia di gudang."
"Kau ingin aku yang menyelidikinya? Menginterogasi ayahku?"
"Yes," jawab Han dan Vesper serempak.
"Kalian sekongkol."
"No!" jawab keduanya bersamaan.
"Cemburumu berlebihan. Ini masih dalam kasus. Jika aku yang datang ke sana, jangan salahkan kalau tanganku tak bisa menahan diri untuk tak menghajarnya. Jangan remehkan kemampuanku, meski aku terluka cukup parah, Kai," tegas Han dan suami termuda Vesper makin menyipitkan mata.
Vesper memegangi pipinya dengan tangan kiri dan hembusan nafas pelan untuk kesekian kalinya.
"Hati-hati, Sayang. Ajaklah beberapa orang untuk menjagamu. Ini ... masalah keluarga. Selesaikan dengan baik-baik," pinta Vesper memelas.
Kai akhirnya pasrah. Ia mengangguk dengan lesu. Vesper berterima kasih dengan senyum terkembang dan kiss bye.
TUT!
"Eh? Kak Han? Kenapa kau matikan?!" pekik Vesper langsung melotot.
"Kepalaku pusing," jawabnya dengan kening berkerut sembari memegangi kepalanya yang masih memiliki rambut.
Vesper tersenyum dan merebahkan Han perlahan di ranjang pasien. Han memejamkan mata saat Vesper mengelus kepalanya lembut.
"Aku cukur ya, rambutmu," ucap Vesper lirih.
"Hem. Aku rasa ini sudah mulai gondrong. Agak sedikit geli dan sering terjambak jika salah posisi," jawabnya sembari menyingkirkan selimut.
Seketika, mata Vesper terbelalak lebar karena Han salah paham dengan maksud ucapannya. Han malah mempertontonkan keperkasaannya yang tak terbungkus semvak selama ia di rawat di Rumah Sakit.
"Kenapa diam saja? Cukur habis saja, atau ... kau ingin membuat model mohawk? Dikepang juga boleh," sahut Han melirik isterinya yang malah terpaku dengan mata melotot.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya. banyak😍 lele padamu💋💋💋