
Tentu saja, ucapan Sandara membuat shock ayah, ibu dan tunangannya. Vesper memejamkan mata sejenak lalu menatap dua pria yang terlihat seperti kehilangan nyawanya.
"Kalian keluarlah. Bicarakan hal ini dengan baik dan pikiran yang terbuka. Aku akan bicara pada Sandara. Dan jujur kukatakan, ketimbang Yudhi, yes, aku lebih setuju jika Afro yang menjadi suami dari puteriku," ucap Vesper tenang dari tempatnya berdiri.
"Terima kasih, Nyonya Vesper," jawab Afro dengan senyuman.
Kai menghembuskan napas panjang. Ia mengajak Afro keluar untuk membicarakan hal ini sesama pria.
Afro berlari ke ruang ganti seraya menutupi kejantanannya dengan bantal. Tak lama, ia keluar dan sudah berpakaian rapi untuk bicara serius dengan calon ayah mertuanya.
Vesper terlihat santai menunggu puterinya seraya menikmati kue brownies cokelat dan secangkir kopi yang mulai hangat. Lima belas menit kemudian, Sandara keluar dan hanya memakai piyama handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Pasti ada yang ingin kaubicarakan. Benar 'kan, Ma?" tanya Sandara pelan dan Vesper mengangguk.
Sandara berjalan perlahan mendekati sang Ibu dan duduk di sebelahnya dengan pandangan tertunduk. Vesper mengelus kepala anak gadisnya lembut dengan senyum terkembang.
"Mama sangat merindukanmu, Sayang. Maaf, jika kau harus menderita," ucap Vesper sendu, tapi Sandara diam saja. "Kau marah pada Mama?"
"Kenapa lama sekali? Aku sampai melakukan banyak hal agar bisa bertahan," tanya Sandara masih enggan menatap sang Ibu.
Vesper menghela napas panjang. Ia tahu jika anak gadisnya pasti kecewa padanya.
"Selama kau disekap, apa kau mempelajari banyak hal? Apa kau menderita? Kau merasakan sedih, sakit, kecewa, dan marah?" Sandara mengangguk dengan pandangan tertunduk. "Itulah kehidupan, Nak. Kehidupan dari orang seperti kita, para mafia. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup kita. Bahkan kau lihat sendiri, aku semakin menua, tapi masalah tetap selalu datang. Kedamaian hanya berlangsung sementara, lalu setelah itu, masalah datang lagi. Hal itu akan terus berlangsung jika kau tetap memilih jalan ini," jawab Vesper menatap wajah sang anak lekat.
"Kau ingin aku keluar dari dunia mafia?"
"Ya. Kau dan Afro memiliki perusahaan yang bisa kalian kelola untuk penyambung hidup selama kalian bersama. Afro sudah banyak berubah. Ia sudah semakin dewasa dan kini hidupnya telah mapan. Mama yakin, kau akan bahagia jika menikah dengannya," jawab Vesper penuh dengan maksud dalam tiap perkataannya.
"Lalu bagaimana dengan Yudhi?"
"Kau menjanjikan sesuatu padanya hingga kau menyebut namanya?" tanya Vesper langsung menunjukkan wajah serius tak ada senyuman lagi. Sandara terdiam. "Apa yang kaujanjikan? Menikah dengannya? Hidup bersama selamanya? Kau tahu, Yudhi pasti akan datang dan menagihnya jika hal itu sungguh kau ucapkan," tegas Vesper.
"Aku mengatakannya," jawab Sandara jujur pada akhirnya.
Vesper makin menatap Sandara tajam.
"Apa kau sadar dengan yang kauucapkan tadi? Hamil, melahirkan anak, mengasuhnya, tanpa sosok ayah di samping anakmu? Apa yang akan kaukatakan pada anakmu nanti saat dia menanyakan tentang ayahnya? Status perkawainan kedua orangtuanya? Apa yang harus dia sampaikan saat orang-orang menanyakannya?"
Sandara memejamkan mata sejenak. Ia terlihat bingung.
"Kenapa bisa ada dua pria yang mencintaiku, Ma? Kenapa Yudhi harus datang bukan kak Afro? Kau tahu, aku selalu mengharapkannya," tanya Sandara yang kini berani memandang wajah sang Ibu.
"Kau pikir ... dulu aku ada niatan untuk menikahi ayahmu? Dulu, aku selalu menganggap ayahmu seperti adikku. Namun ayahmu bersikeras, padahal sudah berulang kali kutunjukkan sikapku jika hal itu tidak mungkin. Ayahmu tahu konsekuensinya, tapi dia nekat. Sekarang, kau lihat penderitaan batin yang harus ayahmu terima setelah menikah denganku karena memperjuangkan cintanya 'kan? Kai, masih direndahkan oleh orang-orang, Dara," ucap Vesper terlihat sedih.
"Kau bisa lihat sendiri perjuangan ayahmu untuk menunjukkan dirinya layak dan setara denganku. Kai berusaha setiap hari untuk meyakinkan orang-orang yang meremehkan dan merendahkannya. Namun, satu hal yang harus kau tahu tentang sifat dan watak manusia, Dara. Tak semua orang dilahirkan dan memiliki pemikiran sama untuk menyikapi suatu hal. Tak semua orang bisa berpikir posifif. Tak semua orang bisa melupakan dendam dan memaafkannya. Yang kulihat dari Yudhi, dia dendam atas kematian Ahmed. Jujur padaku, dia pasti yang merencanakan ini semua 'kan?"
__ADS_1
Sandara terdiam dan langsung memalingkan wajah. Vesper mengangkat dagunya dan terlihat keangkuhan dalam dirinya.
"Aku sudah tahu. Yudhi menggunakan mobil perusahaan Elios usai dari Italia. Ia melewati beberapa negara. Aku tahu ia singgah di mana saja karena aku mengikutinya dari GIGA. Namun, ada beberapa tempat yang tak kutemukan dan ia hilang selama beberapa saat lalu muncul kembali di sebuah wilayah. Dia pasti singgah. Dia pasti melakukan sesuatu. Dan hal itu, berkaitan dengan aksi teror di pos darurat anggota dewan yang membuat nama Jonathan tercoreng dan semua konflik salah paham ini terjadi. Apa yang kukatakan benar, Dara?" tanya Vesper menatap anak gadisnya tajam.
Sandara menggeleng. "Aku tak tahu detailnya, Mah."
"Jika kau tak tahu, bagaimana bisa kau mau mengandung anak dari seorang pria yang bahkan tak kau ketahui perilakunya. Yudhi menjadi kuat dan bisa bertahan karena dendam. Aku ingin lihat sejauh mana dia akan bertindak. Kau, bisa menilai saat semua teror yang dia lakukan terjadi. Bandingkan dengan Afro. Meskipun ayahnya tewas, apakah ia dendam pada Jordan? Tidak," tegas Vesper yang membuat Sandara makin menundukkan wajah.
"Afro bahkan percaya padamu. Ia memberikan perusahaan ayahnya untukmu karena ia mencintaimu, Dara. Kalian pernah bertarung bersama, bahkan kau dulu sangat memujanya hingga Afro yang tadinya takut padamu menjadi mencintaimu. Afro tak bisa datang menolongmu karena ia memang diawasi setiap pergerakannya. Ayahmu tak ingin kejadian masa lalu terulang. Dalam hati kecil ayahmu, dia tahu jika Afro anak yang baik. Kau bisa mengetahuinya saat ia bersedia datang dan membantu ketika melawan Madam. Ia menghilang dan memilih hidup dalam keterbatasan serta tekanan karena ia dianggap buronan. Pengorbanan yang Afro lakukan, setara dengan penderitaanmu ketika menjadi tawanan No Face. Kau beruntung karena ada Yudhi yang melindungimu. Sedang Afro, siapa yang melindunginya? Ia dijadikan budak dan ia berjuang sendiri untuk kebebasannya," tegas Vesper panjang lebar.
Wajah Sandara berkerut. Ia lalu memeluk Ibunya erat terlihat sedih. Vesper mengelus punggung anaknya seraya mengecup kepalanya lembut.
"Percaya padaku, Dara. Hidup bersama Afro lebih baik untukmu ketimbang Yudhi. Dia memang anak yang baik, tapi ... dia bukan pria yang tepat untuk menjadi suamimu."
"Jika dia kembali, apa yang harus kulakukan, Ma?" tanya Sandara terlihat bingung.
"Ucapanmu pasti akan menyakiti hatinya nanti. Doakan saja Mama berumur panjang agar bisa bicara dengannya. Karena aku yakin, kau pasti juga tak tahu di mana Yudhi kini berada."
Sandara mengangguk membenarkan. Vesper sudah menduga jika Sandara tak tahu apapun tentang pergerakan Yudhi. Sandara hanya dilibatkan, tapi tak mengetahui pola dari strategi yang direncanakan putera dari mendiang Siti Fatonah tersebut.
"Lalu ... aku harus bagaimana?"
"Menikahlah segera dengan Afro April nanti. Jangan ditunda. Tak perlu mewah, tapi legal dan dihadiri oleh orang-orang penting dalam jajaran. Setidaknya, itu untuk memperkuat bukti dan saksi dari datangnya para tamu undangan. Kau setuju dengan saran Mama?"
Sandara mengangguk. Vesper bernapas lega. Ia semakin memeluk anaknya erat begitupula Sandara.
Vesper menyisir rambut anak gadisnya dan membiarkannya tergerai indah. Ia bahkan mendandaninya dengan make up tipis serta beberapa perhiasan untuk mempercantik penampilan anaknya.
"Dengan sentuhan ajaib Mama, kau akan terlihat seperti gadis dewasa. Bukankah ... itu yang kauinginkan? Kau pasti lelah karena selalu dianggap anak kecil," ucap Vesper saat memberikan sepasang sepatu berhak untuk dipakai anak perempuannya.
"Hem. Atid juga mengatakan hal demikian. Katanya, dia suka cara berpikirku yang sudah seperti orang dewasa. Sayangnya, fisikku masih seperti gadis remaja. Oleh karena itu, Atid merubahku seperti ini. Awalnya aku khawatir, tapi sepertinya ... aku menjadi lebih cantik," jawab Sandara tersenyum tipis.
"Senyummu sangat menawan, Sayang. Sering-seringlah tersenyum. Semua orang menyukai senyum indah. Biarkan orang-orang memujimu, karena kau memang sempurna," jawab Vesper dengan senyum terkembang seraya mengelus lembut kedua pipi anak perempuannya.
Sandara tersenyum manis. Vesper memberikan polesan terakhir sebuah lipstick merah muda agar wajah anak perempuannya terlihat berseri.
"Pergilah berjalan-jalan dengan Afro. Mama yakin kau akan baik-baik saja. Afro tak masuk dalam daftar pencarian militer, terlebih kau kini memiliki wajah baru. Militer tak akan mengenalimu," ucap Vesper seraya berdiri dan terlihat puas dengan hasil karyanya.
"Terima kasih, Ma," jawab Sandara dengan senyum manisnya.
CEKLEK!
Afro dan Kai yang gugup karena sedari tadi Vesper tak keluar kamar, langsung berdiri bersamaan, berjejer, dengan wajah tegang.
Vesper menahan senyum karena dua pria itu terlihat panik dan pasti penasaran dengan hasil pembicaraan antara ibu dan anak di dalam kamar.
__ADS_1
"Afro. Sebaiknya, kau ajak Dara berjalan-jalan. Saat menuju kemari, aku melihat beberapa jalanan sudah dibersihkan. Ya, mungkin Sandara akan sedikit kedinginan, tapi ... ada kau yang akan menghangatkannya. Pulang sebelum matahari tenggelam. Kau bisa menjaga anakku?" tanya Vesper dan Afro mengangguk cepat.
"Kenapa kau malah meminta Afro untuk— Oh, oke," ucap Kai langsung membungkam mulutnya saat kalimat protesnya yang belum tersampaikan terpaksa diputus karena sang isteri langsung melotot tajam padanya.
"Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama. Kau, tetap bersamaku. Ada banyak hal yang harus dibicarakan," tegas Vesper menatap suaminya tajam.
Kai menghembuskan napas panjang dan mengangguk terlihat terpaksa dengan ajakan itu. Afro terlihat gembira.
Hingga akhirnya, Sandara menampakkan dirinya keluar dari kamar meski terlihat ragu. Dua pria yang menunggu kemunculan gadis cantik itu terdiam untuk beberapa saat untuk mengagumi kecantikannya.
"Oh, tolong. Jangan mempermalukanku dengan ekspresi bodoh kalian itu," tegas Vesper geleng-geleng kepala.
Kai memalingkan wajah terlihat malu. Afro tersenyum lebar seraya mendekati kekasihnya. Sandara tersenyum tipis seraya melirik sang Ibu yang menggerakkan bibirnya seraya berkata 'Smile' berulang kali.
"Kau ... cantik sekali," ucap Afro seraya meraih tangan Sandara untuk di gandeng.
Kai berdiri diam karena sang isteri terus mengawasinya tajam penuh dengan ancaman dalam setiap tatapannya.
"Hati-hati, Sayang. Kita akan makan malam bersama, jadi ... yah, Papa akan menunggu di rumah Afro," ucap Kai kaku.
Sandara melepaskan gandengan Afro. Ia berjalan ke arah Kai lalu memeluknya erat. Kai terlihat begitu terharu karena sang anak akhirnya mau mendekatinya bahkan memeluknya.
Kai balas memeluk meski ia terlihat seperti akan menangis. Vesper menahan tawa termasuk Afro karena mata Kai berkaca.
"Aku sangat menyayangimu, Pa. Maaf, sudah membuatmu cemas," ucap Sandara saat melepaskan pelukannya.
Kai hanya bisa mengangguk dan berusaha keras menahan air matanya. Vesper mendatangi suaminya dan memeluknya dari samping. Kai balas memeluk Vesper untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Kalian, tolong jaga Sandara. Awas saja jika anakku kembali dalam keadaan lecet. Akan kubuat kalian sama menderitanya dengan Sandara saat ia disekap No Face," tegas Kai melirik dua Biawak tajam.
"Siap, Mas Kai!" seru dua Biawak dengan hormat.
Afro menggandeng Sandara kembali dan mengajaknya keluar dari kamar apartemennya. Mereka berempat menaiki lift. Dua Biawak menggunakan mobil terpisah dan membiarkan Sandara untuk semobil dengan Afro.
Terlihat, pemuda tampan itu berulang kali menoleh ke arah tunangannya dan hal itu membuat Sandara tersipu malu.
Afro memarkirkan mobilnya di pinggir trotoar dan mengajak Sandara berjalan bersamanya ke sebuah restoran untuk menikmati sarapan.
Sandara sudah tak memakai masker penutup wajah lagi di mana kini wajahnya sudah terlihat sempurna, meski luka di bahunya masih membekas karena gigitan itu cukup besar.
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Makasih tipsnya dan semoga suka dengan visual baru Sandara di mana dulu nih, dulu pas bikin Vesper 1 seharunya visual Sandara Liu itu Liu Yifey, tapi karena lele kesulitan cari wajah mbak Vesper akhirnya lele tuker aja. Kwkwkw. Maap upnya telat, kerjaan menggila gaes.