
Sandara merangkak mundur menjauh dari Lion yang mulai mengganas. Ia bisa melihat jelas perubahan dalam diri Lion seperti ketika ia menonton dari database GIGA, ketika ibunya dulu—Vesper—berubah saat penyerangan di Kastil Borka.
'Sama persis. Gejala yang dialami oleh Lion sama seperti mama. Para hewan ini, disuntik dengan serum monster,' batin Dara menganalisis dalam ketakutannya. Matanya kini membidik Venelope yang berdiri di luar jeruji besi menunjukkan seringainya. 'Venelope meniru serangan di Kastil Borka. Saat itu, pasukan mama juga diserang oleh para tikus hingga paman Drake terluka parah. Dasar tukang jiplak! Kini kau menerapkannya, hem? Entah kau tahu atau tidak, Venelope. Akan kubuat kau merasakan serum monster itu nantinya. Lihat saja.'
"Grrrr." Erangan Lion membuat Sandara terperanjat. Ia berhasil mengambil kesempatan dengan mengambil pedangnya kembali.
"Aku tak ingin membunuhmu, Lion, tapi ... hiks," tangis Sandara, meski ia berusaha untuk tegar.
Lion mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Sandara dengan erangan siap untuk mencabiknya.
"Maaf, Papa Kai ... maaf, Lion ... tapi sepertinya ... kau memang harus berakhir di tempat ini. Terima kasih," ucap Sandara sedih. Perlahan ia bangun dengan badan membungkuk dan pedang Persia dalam genggaman tangan kanan.
Lion mengaum. Sandara berlari kencang menuju ke arah jeruji tempat Venelope berdiri. Wanita berambut pirang itu terkejut dan melangkah mundur.
"Penakut! Padahal kau di luar kerangkeng. Mana mungkin Lion bisa menyerangmu!" teriak Sandara dengan mata tajam terkunci pada sosok Venelope seorang. "Kenapa harus melihat dari jauh? Mendekatlah, agar kalian bisa merasakan sensasi sesungguhnya. Atau memang ... kalian kelompok mafia pengecut sepanjang sejarah! Hahahahaha!" tawa Sandara yang terus berlari berputar dengan sindiran-sindirannya.
MC acara terpancing dan berjalan mendekat, meski masih menjaga jarak. Liu si jerapah ikut berlari sehingga suasana dalam arena kacau balau.
Lion terlihat bingung memilih mangsanya. Jerapah atau gadis kecil yang sudah berlumuran darah targetnya?
Perlahan, para penonton yang terlihat penasaran mulai mendekat satu persatu. Suara auman Lion, kepanikan Liu, dan suara dentangan dari pukulan pedang ke jeruji besi yang sengaja Sandara perdengarkan, membuat suasana pertarungan di arena begitu mendebarkan.
"Bukankah kau MC? Kenapa malah sibuk menonton? Kemampuanmu dalam menggambarkan kejadian di lokasi patut dipertanyakan, Nona Berkelip," sindir Sandara dengan seringainya.
MC itu tersulut emosi. Ia mendekat dan melihat sekitar arena dalam kurungan.
TANG! TANG! TANG!
"Come on, Lion! Aku di sini!" teriak Sandara memanggil dengan memukul bilah pedangnya ke jeruji besi yang masih dilapisi oleh kawat.
Lion yang awalnya ingin menyerang Liu, kini pandangannya teralih ke Sandara yang berdiri memunggungi MC. Singa itu siap menyerangnya.
"Oh, ini akan sangat seru, Para kerabat. Sandara Liu akan bertarung satu lawan satu melawan—"
NGEKKKK! JLEB!
"Agh! Uhuk!"
Semua orang terkejut, ketika Sandara membalik pedangnya dan memposisikan ujung benda tajam itu ke belakang dari samping tubuhnya. Pedang itu menembus kawat besi dan mengenai perut dari si pembawa acara.
"Leah!" teriak Venelope lantang.
CRATTT!!
BRUKK!!
"Oh!" seru para penonton terkejut dan langsung menjauh dari jeruji.
Wanita MC roboh dengan darah mengucur dari perut karena tusukan pedang tajam tersebut.
"Hahahaha! Dasar bodoh! Kawat kalian tak mampu melawan ketajaman pedang pak Sutejo. Oh ... aku menyukai pedang ini. Dan aku bisa merasakan, amarah pak Sutejo masuk ke jiwaku. Kalian membuatnya kecewa, dasar parasit! Mati saja!" teriak Sandara lantang.
Gadis itu dengan sigap merobek kawat besi di celah-celah jeruji. Terlihat, ia menjulurkan tangan ke tubuh MC yang sekarat.
Para penonton menjauh karena takut terkena serangan pedang Sandara. Venelope geram saat melihat wanita pembawa acara akhirnya tewas karena tusukan di perutnya.
"Awas saja kau, Sandara! Akan kubalas!" teriaknya marah.
"Jangan hanya bicara! Kemari, dan kutunjukkan padamu seperti apa kematian itu! Buka pintunya!" balasnya berteriak menantang.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Sandara, Lion telah memangsa Liu yang tak bisa melindungi dirinya. Sandara yang diliputi kebencian dan amarah, mengabaikan keselamatan hewan malang itu.
"Hahaha! Oh, kau sibuk dengan kami. Lihatlah, Liu-mu sudah menjadi santapan Lion," tawa Venelope dengan senyum terkembang.
Mata Sandara melebar. Ia menoleh dan melihat Liu sudah tergeletak di lantai bersimbah darah dengan luka robek di beberapa tubuhnya.
Sandara memejamkan matanya rapat, air matanya kembali menetes, meski tak ada isak tangis di sana seperti sebelum-sebelumnya.
"Tak mau membukanya ya? Baiklah, akan kubuka sendiri," ucapnya dengan seringai.
Mata Venelope terbelalak lebar, saat melihat cincin pengendali milik si pembawa acara kini sudah berada di jarinya.
KLEK!
"Hehehehe, sepertinya, Lion akan sibuk hari ini," ucapnya menyeringai.
"Run!" teriak Smiley ke semua penonton.
Sandara dengan cepat berlari ke arah pintu dan membukanya lebar.
TANG! TANG! TANG!
"LION!" teriak Sandara yang berhasil keluar dari jeruji.
"Harrggghhh!!" erang Lion membalik tubuhnya dengan bongkahan daging Liu di mulutnya.
"Bunuh mereka semua!" teriak Sandara lantang menunjuk orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Suasana kacau balau seketika. "Kejar aku!" teriak Sandara yang berlari menuju ke kerumunan.
"Rooarrr!"
Lion berlari mengejar Sandara. Singa itu keluar dari jeruji besi yang mengurungnya. Sandara menyabet orang-orang yang masuk dalam jarak serangannya.
Satu persatu, orang-orang itu jatuh dengan luka ditubuh karena tak memakai pakaian pengaman.
Gadis cantik itu menahan sakit di bahu serta tangannya yang terkoyak karena serangan Afro, dan melakukan serangan dengan satu tangan menggunakan pedang Persia-nya.
"Dasar pengecut! Kemari kalian!" teriak Sandara marah dan semakin berambisi untuk melukai orang-orang itu.
Sandara ikut berlari ke arah orang-orang yang disinyalir menuju tempat evakuasi. Sandara mengayunkan pedangnya untuk melukai para penonton yang tadi menertawai penderitaannya.
"Hahahaha! Hahahaha!" tawanya gembira saat satu persatu korbannya jatuh meski belum tewas. Namun, Lion menuntaskannya. "Setelah ini berakhir, kita berhadapan satu lawan satu, Lion!" ucap Sandara dengan nafas tersengal dan darah para korban menempel di sekujur tubuhnya.
Lion sibuk menghabisi nyawa para korban dengan meremukkan wajah mereka satu persatu.
Hingga akhirnya, Sandara melihat jika pintu evakuasi di tutup. Venelope dan lainnya berhasil kabur dari ruangan tersebut.
"Agh! Sial! Aku terkurung!" geram Sandara saat semua pintu terkunci.
Dan akhirnya, apa yang diucapkan oleh Sandara terjadi. Ia harus berhadapan satu lawan satu dengan Lion.
"Grrrrr ...."
"Ironi sekali, Lion," ucap Sandara sedih yang kini berdiri di lantai tingkat dua pada barisan kursi seraya menatap Lion sendu.
Mata Lion terfokus pada Sandara seorang yang masih hidup di ruangan itu meski terluka cukup parah.
"Arrrr," erangnya lagi terlihat siap untuk menyerang Sandara. "Harrghhh!"
BRAKKK!
__ADS_1
"Hah! Hah! Hah!" Nafas Sandara menderu. Ia berlari kencang saat Lion melompat ke arahnya, tapi gadis cantik itu berhasil menghindar dengan berlari ke samping.
Lion menabrak kursi hingga ia terjungkal, tapi dengan sigap segera bangkit dan berlari mengejar Sandara.
Gadis itu terlihat mulai kehilangan tenaganya karena luka yang dideritanya. Sandara hanya bisa terus berlari menghindar, tapi kesialan kembali mendatanginya.
DUK! BRUKK!
"Aghh!"
"Harrghhh!"
"AAAAA!" teriak Sandara lantang, saat ia berusaha kabur dan malah tersandung ketika akan menuruni tangga.
Sandara jatuh bergulung-gulung sampai ke lantai dasar. Tubuhnya semakin tak berdaya, dan rasa sakit kini menerjang tubuhnya. Ditambah, ia yang tergeletak di lantai membuat Lion dengan mudah untuk menerkamnya.
Saat Sandara berusaha untuk kembali berdiri dengan ujung pedang sebagai penopang tubuhnya, SREETT!! BRUKK!
DOR! DOR! DOR!
BRUKK!
Baik Sandara atau Lion roboh. Singa malang itu tewas setelah terkena peluru yang melubangi tubuhnya.
"DARA!" teriak Neon panik, dan segera berlari meski wajahnya lebam karena pukulan ketika ia mencoba memberontak saat dikeluarkan paksa dari bangku penonton. "Ya, Allah! Dara!"
Smiley yang berhasil membunuh Lion dengan tiga tembakan di kejauhan, ikut mendatangi Sandara yang tengkurap di lantai.
Para petinggi No Face dan penonton yang berhasil kabur mulai memasuki ruangan untuk melihat hasil akhir.
Mata Smiley melebar, saat melihat wajah Sandara terkena cakaran Lion dan membuat robekan panjang yang membuat kecantikannya sirna seketika.
"Harrghhh! Kalian harus bertanggungjawab! Lihat saja, jika Sandara sampai mati, aku akan membunuh kalian semua! Lihat saja!" teriak Neon marah besar dengan Sandara dalam pelukannya tak sadarkan diri.
Smiley dan semua orang terkejut akan ancaman dari Neon.
"Kau, berani pada kami?" tanya Venelope menatap Neon tajam dari tempatnya berdiri.
Neon yang tak lagi memakai topeng menunjukkan sisi lain dari dirinya. Terlihat jelas, rahang Neon mengeras. Perlahan, tangan kanannya menarik alas sepatu yang dikenakannya.
Smiley yang berdiri di sampingnya terkejut, saat melihat sebuah detonator pengendali jarak jauh memiliki banyak tombol di balik alas sepatu itu.
"BOOM," ucapnya menatap tajam Smiley seraya menekan tombol merah pada papan di balik alas sepatu.
"Run!" teriak Smiley lantang yang mengejutkan semua orang.
Benar saja, BOOM! BOOM! BOOM!
BLUARRR! KRAKKK!
Semua orang kembali panik. Bangunan itu bergetar hebat setelah terdengar ledakan beruntun dari luar. Smiley dan semua orang berlari keluar dari gedung arena mencoba untuk melarikan diri.
Neon menatap Sandara terlihat pilu. Ia menggendongnya perlahan, meski retakan besar terjadi dan meruntuhkan dinding bangunan serta atap secara berkesinambungan.
Namun, bukannya ia membawa Sandara keluar, Neon malah masuk ke dalam kurungan besi. Ia duduk di sana dengan Sandara masih dalam pelukannya.
"Aku minta maaf, Sandara. Semua salahku, karena aku terlalu takut untuk melawan. Namun, sudah tidak lagi. Aku akan melindungimu, kau akan baik-baik saja," ucapnya sedih dengan mata terpejam dan membiarkan bangunan itu runtuh secara perlahan.
***
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya. maap telah up😁 nginem dulu uyy. brankas mulai kosong gaes😗 #kode-kode.