4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kompetisi Aset


__ADS_3

Hari itu, duka mendalam menyelimuti hati keluarga yang ditinggalkan Adipura. Meskipun pria tua itu meninggalkan sejumlah luka dan kebencian karena perlakuan buruknya saat ia masih hidup, tapi orang-orang bisa memaafkan.


Satria tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya begitupula sang anak-Raden. Dua orang itu yang terlihat begitu kehilangan karena tak bisa menahan isak tangis mulai dari prosesi pemandian, sholat jenazah hingga pemakaman. Sembab, masih terlihat jelas di wajah mereka.


Sayangnya, Kai dan timnya termasuk Jonathan, tak menampakkan diri karena khawatir jika kehadiran mereka malah membuat polisi menaruh curiga.


Kematian Adipura bahkan dipalsukan dengan alasan penyakit TBC yang dideritanya. Para pelayat datang silih berganti begitu kabar duka disiarkan oleh Satria dan keluarganya.


Kai mohon pamit bersama timnya ke Markas tempat Naomi, yang dijadikan Pusat Komando sekaligus Pos Darurat di kota tersebut.


Markas Naomi, Green Ruko, Yogyakarta.


Terlihat, Kai dan semua orang berkumpul. Mereka tersambung dengan teleconference orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads setelah Eiji menginformasikan kabar genting ini.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Kalian ceroboh! Bagaimana bisa si Ungu ada 2 dan kalian tak menginformasikan ini sejak awal?!" geram Jamal dengan mata melotot.


"Iya, maap. Eko mewakili seluruh tim yang bertugas sejak jaman kepengurusan pak Sutejo, mohon maaf sebesar-besarnya ya, Bapak, Ibu," ucapnya memelas berharap orang-orang iba padanya, tapi tampaknya tidak demikian. Wajah angker yang ditunjukkan oleh para anggota dewan itu.


"Lysa sampai dituduh manipulasi data loh, sebel," gerutu Lysa memonyongkan bibir. Tobias menyeringai sembari menikmati cemilan almond lapis cokelat dalam toples di pangkuannya.


"Jangan sebel sama Eko. Kata orang tua jaman dulu ya to, kalau orang hamil sebel sama seseorang, nanti anaknya mirip sama yang disebelin loh. Tar kamu bingung, anaknya kok jadi mirip Eko?"


"Eh, amit-amit jabang bayi!" celetuk Lysa langsung mengelus perutnya sembari memejamkan mata bergidik ngeri.


Beberapa orang yang paham dengan perkataan Eko dan Lysa menahan senyum, meskipun suasana sedang tegang.


"Jadi, si Ungu kini diburu oleh tim dari Arjuna?" tanya Yusuke memastikan dan Eko menunjukkan jempolnya.


"Lalu, bagaimana misi kita untuk menyelamatkan Ahmed? Mereka ada di mana?" tanya Rohan menyahut.


"Sinyal terakhir yang aku dapat, mereka ada di Turki, kediaman Ahmed. Namun, aku tak yakin jika kita ke sana, Ahmed dan Yudhi masih berada di tempat," sahut Eiji melaporkan.


Semua orang terlihat berpikir keras.


"Tolong, jangan libatkan Ivan dulu. Ia masih masa penyembuhan. Namun, aku siap menyokong jika kalian butuh pasukan dari anak buahnya atau akomodasi penunjang selama menjalankan misi," timpal Sherly mewakili suaminya yang masih di rawat secara intensif.


"Ya, kami mengerti. Begitupula aku dan Bojan. Kami belum bisa ikut, tapi kami akan berikan dukungan penuh bagi siapapun yang akan bergerak. Kami minta maaf," sahut Martin dan semua orang mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu, izinkan Eko ambil tugas maha penting ini, Mbak Vesper. Kali ini, biar Eko yang jadi Komandan Pasukan Tertinggi untuk misi pelenyapan Ungu dan para dedemitnya. Bagaimana, Kanjeng Ratu Vesper?" tanya Eko mantab.


"Ya, silakan," jawab Vesper santai dengan Han berbaring di sampingnya dalam posisi miring karena sebagian tubuhnya di perban. Han masih malu, jika lukanya terlihat oleh orang-orang. Eko bersemangat. "Tapi kau, tak boleh turun ke lapangan," tunjuk Vesper ke arah Kai yang kepergok jika ia akan ikut dalam misi.


"Sandara belum kembali, Sayang. Red Ribbon tak membuahkan hasil dalam pencariannya. Aku cemas. Aku khawatir jika ini ada hubungannya dengan si Ungu," timpalnya dengan wajah memelas.


"Tenang, Mbak Vesper. Kalau Nak Kai ikut, Eko yang akan jaga doi. Eko berjanji demi nusa dan bangsa dunia mafia, bahwa Nak Kai gak akan turun ke lapangan. Dia akan jadi penyambung informasi aja, kaya misi kemarin. Bagaimana?" tanya Eko sembari menepuk pundak Kai mantab dan suami termuda Vesper meliriknya heran.


Vesper mendesah pelan dengan anggukan. Senyum Kai dan Eko merekah.


"Nathan ikut ya. Nathan ikut gemes deh, Mah. Yudhi ditangkep sama mereka. Yudhi 'kan temen Nathan. Dia lindungi Nathan waktu di Black Stone. Nathan mau bales budi. Boleh ya?" rengeknya dan Vesper mengangguk untuk kedua kalinya tanpa suara. Tiga pria itu terlihat riang.


"Aku sebagai salah satu anggota dewan merasa malu karena sampai saat ini belum terlibat cukup jauh. Ikut sertakan aku, Nyonya Vesper. Tugaskan aku di bagian manapun yang menurutmu, tenagaku dibutuhkan," ucap Rohan sungkan. Vesper tersenyum.


"Baiklah. Aku juga minta maaf tak bisa ikut ke lapangan untuk sekarang. Aku sedang menata ulang semua orang-orang dalam jajaranku, dan memastikan, jika penyusup itu benar-benar sudah tak ada di markas-markas kita," jawab Vesper menegaskan. Semua orang mengangguk paham. "Baiklah, aku akan membagi para anggota Dewan Muda untuk menjalankan misi. Dan ini adalah, Misi Penyelesaian. Kali ini, pastikan semua lenyap dan tak perlu ada tahanan. Bunuh semua, rebut aset mereka jika bernilai tinggi. Jika tidak, hancurkan, biarkan bumi menelannya. Kalian paham?!" tegas Vesper dengan mata membulat penuh.


"Yes, Mam!" jawab semua orang serempak.


"Ini kompetisi. Bagi siapapun yang berhasil melenyapkan orang-orang itu, Venelope, Mr. White, Smiley, Ungu, The Mask, dan Tessa, aset-aset mereka, silakan kalian ambil untuk memperkaya serta melebarkan kekuasaan. Tak usah repot-repot membaginya denganku, aku sudah kenyang," jawabnya santai. Semua orang tersenyum miring.


"Wow! Aset mereka boleh diambil?" tanya Bojan menyahut dari ranjang tidurnya. Vesper mengangguk. "Ehem, kalau begitu, jika aku terlibat dalam menyokong misi ... apakah ... aset tersebut bisa dibagi dengan tim yang bertugas?" tanyanya dengan maksud terselubung.


"Dasar rakus. Kau licik," sahut Javier dan Bojan mendesis.


Rohan terlihat berpikir serius. "Lysa. Para Pion D. Aku cukup yakin para anak buah Tobias itu tak memiliki aset. Apa boleh, aku menggunakan mereka, Tuan Tobias?" tanya Rohan melirik lelaki bertato yang memasang wajah masam.


"Sejak kapan para Pionku disewakan? Tidak bisa!"


Rohan menghembuskan nafas pelan. Lysa mendekati suaminya dan terlihat seperti membujuknya.


Semua orang penasaran yang akan Lysa katakan. Vesper melirik Javier di layar monitor yang menatap sepasang suami isteri itu tajam.


"Toby. Selama ini para Pion bekerja untukmu. Anggap saja ini bonus untuk mereka. Biarkan mereka mendapatkan aset-aset itu. Jangan pelit begitu, kau 'kan kaya," rengek Lysa memanyunkan bibirnya.


Tobias menatap wajah Lysa lekat dan tiba-tiba, ia mencium bibirnya ganas. Javier memalingkan wajah.


"Oke! Aku dermawan dan baik hati. Tapi ingat, mereka harus kembali dalam keadaan hidup. Hanya saja, Sun tidak termasuk. Dia sudah kabur lebih dulu bersama Arjuna si mata sipit untuk mencari si Ungu gendut," jawab Tobias dengan wajah garang.


"Terima kasih, Tuan Tobias," ucap Rohan sopan, tapi pria bertato itu terlihat tidak peduli. Tobias kembali menikmati cemilannya dengan kedua kaki di naikkan ke atas meja. Lysa memberikan jempolnya.

__ADS_1


"Baiklah. Zurna, bisa kau buatkan surat kesepakatan kerjasama untuk orang-orang yang terlibat dalam misi kali ini?" pinta Vesper kepada isteri dari James. Zurna mengangguk dari layar teleconference. Vesper berterima kasih.


"Lalu, siapa yang kami buru?" tanya Rohan serius.


"Kalian pergilah ke Turki, kediaman Ahmed. Cari tahu keadaan di sana. Apapun hasilnya, laporkan padaku," tegas Vesper dan Rohan mengangguk siap.


"Lalu saya bagaimana, Vesper-sama?" tanya Yusuke ikut angkat bicara.


"Kau bergabunglah bersama Eko, The Kamvret, Jonathan, Click and Clack, serta Kai. Kalian akan mencari keterlibatan 5 nama yang menggunakan jenis narkoba itu. Jika benar Asisten Bima terlibat, kita harus memburunya. Satria sedang mencari tahu, apakah ada berkas yang hilang dari usaha bisnis legal dan ilegal Adipura," jawab Vesper berwajah serius. Yusuke mengangguk siap."Lalu, para anggota Dewan lainnya. Kalian sebagai penyokong para tim yang mendapatkan misi di lapangan. Persiapkan penyetokan senjata dan anak buah di pos darurat."


"Yes, Mam!" jawab para anggota Dewan yang tersisa menyanggupi permintaan bos besar mereka.


Saat teleconference berakhir, Satria menghubungi ponsel Kai, dan suami termuda Vesper segera menerimanya.


"Ya, Satria. Apa yang kau temukan?" tanya Kai men-speaker panggilannya.


"Aku, Tika dan Raden sudah mencoba membongkar brankas tersembunyi milik ayah. Ada yang hilang, Kai. Perusahaan di Swiss yang aku kelola, tak ada berkas aslinya. Beruntung aku masih menyimpan salinannya. Hanya saja, tanpa berkas asli, perusahaan itu bisa diotak-atik oleh Bima. Aku khawatir, jika Bima melakukan manipulasi dengan meminta ayah menandatangani penyerahan aset atau semacamnya. Ini gawat, Kai."


Mata Kai dan semua orang yang mendengar terbelalak. Mereka tak menyangka jika aset dari Adipura ikut disabet selain usaha Vesper di Meksiko.


"Aku mengerti. Aku akan menyelidikinya lebih lanjut ke Swiss."


"Terima kasih, maaf merepotkan. Dan, maafkan kesalahan ayah selama ini. Aku tahu, kau masih marah dan membencinya, tapi ayah sudah tak ada. Setidaknya, biarkan ayah menebus kesalahannya di akhirat sana," ucap Satria terdengar seperti sebuah permohonan.


"Ya, aku tahu. Aku sudah memaafkannya tanpa kau minta. Aku baik-baik saja," jawab Kai sendu.


Kai menutup panggilan telepon dan kini matanya menatap wajah Eko tajam.


"Oke, Swiss! Kita akan otewe ke sana. Eko akan siapkan keberangkatan!" ucapnya mantap dan Kai mengangguk dengan senyuman.


Kali ini, Eko begitu bersemangat untuk menyelesaikan masalah internalnya dengan Ungu. Menurut Eko, pria tersebut menimbulkan kekacauan di beberapa tempat.


"Semoga, semua bisa selesai sebelum kak Zaid dan Yena menikah. Nathan gak enak kalau sampai kita gak bisa hadir karena masih jalanin misi di lapangan," ucap Jonathan terlihat sedih.


"Ya, kita berdoa saja," jawab Kai dengan senyum terkembang. "Nathan, hubungi Torin. Kudengar, ia sedang berada di Swiss mengurus usaha peninggalan keluarga Axton. Katakan pada Nandra, kita akan singgah di sana selama beberapa hari," pinta Kai dan Jonathan dengan sigap menghubungi anak mendiang Bardi tersebut.


Hanya saja, hati Kai masih tak tenang. Sandara, anak semata wayangnya belum juga ada kabar hingga saat ini.


***

__ADS_1


uhuy! makasih ya tipsnya. lele padamu😍 oia brankas kosong. 1 atau 2 eps kah hari ini😁



__ADS_2