4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pertemuan Belize


__ADS_3

Jonathan membawa pemimpin tim dan juga salah satu anggota pasukan khusus ke wilayah kediaman Tessa di Belize.


Afro yang pernah bekerja kepada Tessa, sudah mengetahui seluk-beluk tempat itu. Rumah tersebut dibiarkan kosong karena Bala Kurawa yang berjaga sudah diculik oleh Miles hingga tak bersisa.


Beruntung, para agent Colombia yang saat itu ditugaskan oleh Han berhasil mengamankan rumah tersebut untuk mencari pager yang diyakini adalah peledak jarak jauh buatan Miles.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Mobil yang ditumpangi Jonathan dan timnya tiba di halaman rumah Tessa. Ternyata, sudah ada satu mobil yang terparkir di sana. Kening Jonathan berkerut, ia tak mengenali mobil tersebut.


Namun, pemimpin tim pasukan bayaran itu dengan sigap meminta kepada anak buahnya untuk menandai mobil tersebut. Jonathan diam saja sampai akhirnya ia keluar dari mobil.


"Jonathan?!" pekik Afro saat dirinya keluar dari pintu teras utama.


"Kak Afro," jawabnya pelan dengan senyum terkembang.


"Siapa dia?" tanya pemimpin tim. Jonathan memasang wajah gembira seraya melambaikan tangan.


"Afro. Dia mafia muda sepertiku. Diantara kami semua, dia yang paling lemah. Jangan terkecoh dengan penampilannya," bisik Jonathan dan pemimpin tim mengangguk pelan.


Sopir masih menunggu di mobil sengaja tak keluar sebagai pengintai.


"Siapa dia?" tanya Afro saat Jonathan dan pemimpin tim berjalan mendekat.


"Bodyguard baruku. Click and Clack sedang dirawat," jawab Jonathan berbohong.


Afro hanya mengangguk pelan seraya melihat pemimpin tim tersebut dengan serius dari atas sampai bawah. Terlihat, pria itu sedikit gugup, dan pada akhirnya malah tersenyum tipis.


"Masuklah. Yang lain sedang dalam perjalanan," ajaknya.


"Yang lain?" tanya Jonathan bingung.


Afro yang sudah jalan lebih dulu menghentikan langkah. "Lysa, Sandara dan Arjuna juga akan datang. Aku sengaja mengumpulkan kalian. Jadi, tolong jaga sikap. Terlebih Arjuna, dia masih dalam masa duka. Kau tak tahu? Tessa meninggal karena ulah Miles."


Praktis, mata Jonathan melebar. "Sungguh?!" Afro mengangguk.


"Siapa Miles, Sandara, Lysa dan Arjuna?" tanya pemimpin tim.


"Diam! Berisik," bentak Jonathan, tapi pemimpin tim itu malah melotot padanya.


Kening Afro berkerut. Matanya lalu melirik ke arah mobil dan wajahnya berubah serius seketika.


"Lalu ada kabar buruk lagi," ucap Afro.


"Apa itu?" tanya Jonathan mengembalikan pandangan ke arah pemuda itu.


Afro meminta Jonathan mendekat padanya, dan Jonathan menurut. Saat pemimpin tim akan ikut melangkah, Afro mengulurkan tangan kanannya ke depan seperti menahan agar tak bergerak lagi. Pria itu bingung, tapi menurut.


Afro merangkul pundak Jonathan dan mengajaknya mundur ke belakang satu langkah. Tiba-tiba saja ....


DODODODODOOR! BLUAR!


"Oh shitt!" pekik Jonathan panik ketika tiba-tiba saja senjata otomatis memberondong mobil yang tadi ditumpanginya hingga meledak.


Pemimpin tim terkejut dan langsung tiarap. Afro mengunci pandangannya pada pria itu. Dengan sigap, putera Elios mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya.


DOR! DOR! DOR!


Mata Jonathan melebar. Pemimpin tim tersebut bahkan tak bisa berkutik saat Afro dengan cepat menembak kepala dan punggungnya.


"Ada berapa banyak mereka?" tanya Afro menoleh ke arah Jonathan yang terkejut.


"Mm ... lupa, tapi masih ada satu mobil yang menunggu di luar. Mereka pasti⁠—"


"Terbangkan CD," ucapnya seperti memberikan komando, tapi entah kepada siapa.


Jonathan tak melihat adanya alat yang terpasang di telinga Afro seperti sebuah alat komunikasi.


Tiba-tiba saja, muncul tiga buah CD dari balik kediaman Tessa dan terbang mencari keberadaan mobil yang dimaksud.


Afro mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengaktifkannya. Jonathan melihat dari layar ponsel yang kini terbagi tiga saat kamera dari CD menangkap gambar di sekitarnya.

__ADS_1


"Itu mobilnya!" pekik Jonathan menunjuk pada tampilan CD-2.


"CD-2. Hancurkan."


Seketika, suara tembakan beruntun terdengar. Jonathan melihat drone bersenjata itu menembaki mobil tersebut yang terkejut karena tiba-tiba saja mendapatkan serangan dari udara.


Mobil tersebut berusaha menghindar, tapi dua buah drone datang dari depan dan belakang. Tanpa diduga, BRAKK!! BLUARRR!!


"Wow!" teriak Jonathan dengan mata melotot saat melihat kepulan asap dan kobaran api di kejauhan yang disinyalir adalah ledakan dari mobil tersebut.


Dua CD sengaja menabrakkan diri. Jonathan yakin jika dalam drone tersebut memiliki granat mini.


Afro memasukkan ponselnya kembali dengan santai saat melihat drone miliknya terbang pulang.


Jonathan menatap Afro keheranan dan mantan suami Sandara itu hanya tersenyum lalu merangkul pundaknya lagi.


"Ayo masuk. Kaulapar?" tanyanya.


Jonathan mengedipkan mata, tapi mengangguk. Afro mengajak Jonathan masuk ke dalam rumah.


Namun seketika, langkah Jonathan terhenti. Ia melihat kakak perempuannya ternyata sudah tiba lebih dulu di rumah itu, tapi tak menyapanya.


"Hai, Kak Lysa," sapa Jonathan duluan.


Lysa diam saja dan berjalan menuju ke tangga lalu masuk ke sebuah pintu yang diyakini adalah kamarnya.


"Jutek amat," keluh Jonathan karena diabaikan.


"Ya begitulah. Banyak hal buruk terjadi. Jadi ... aku ingin tahu apa yang terjadi padamu. Ayo," ajak Afro.


Keduanya mengobrol seru di ruang makan. Afro terlihat serius mendengarkan cerita Jonathan yang ternyata, semua ucapannya adalah benar.


Tanpa Jonathan sadari, semua pengakuannya terekam oleh sebuah alat yang sudah Afro pasang di bawah meja makan.


Afro juga meletakkan detektor kebohongan di dalam vas bunga di atas meja yang sengaja ia simpan.


Afro menyadari jika terjadi perselisihan diantara empat anak Vesper. Selama di Lugu Lake, Afro banyak merenung. Semenjak bercerai dengan Sandara, perasaan was-was dan gelisah selalu menghantuinya.


"Jadi ... Cassie sekarang di mana?" tanya Jonathan dengan sosis panggang siap untuk dimasukkan dalam mulut.


"Om Eko dan timnya sedang berusaha menyelamatkannya. Hanya saja, kita juga harus menolong. Banyak hal yang sudah kaulewatkan, Jonathan. Banyak hal telah berubah, dan kali ini, berhentilah bersikap bodoh. Menurutlah padaku. Kaubisa?" tegas Afro. Namun, Jonathan diam saja tak menjawab.


"Eh?!" pekik Jonathan saat Afro menarik piring berisi makanan tersebut.


"Jika tak menurut, makananmu akan kubuang ke laut," ancamnya.


"Tega amat. Demi sosis, ya, Nathan nurut," jawabnya, tapi Afro memicingkan mata. "Serius. Balikin sini. Nathan laper tau. Di penjara makanannya roti doang," ucapnya sebal dan menarik piring itu lagi.


Afro tersenyum seraya melihat Jonathan saksama. Pemuda itu iba karena Jonathan terlihat kurus, tak terawat dan memiliki luka lebam di wajah.


Tak lama, TING TONG!


"Oh! Ada yang datang lagi," ucap Jonathan dengan sosis di mulutnya.


"Duduk dan habiskan makananmu. Awas kabur," tegas Afro menunjuk Jonathan, dan putera Erik tersebut mengangguk pelan seraya mengunyah.


CEKLEK!


Lama keduanya saling berpandangan, tapi Afro akhirnya mengembangkan senyuman.


"Aku lapar," ucap Sandara sebagai salam pembuka. Afro tersenyum tipis.


"Kebetulan aku masak banyak. Masuklah," jawabnya seraya memiringkan tubuh agar mantan isterinya itu segera masuk.


Afro mengajak Sandara ke ruang makan. Gadis itu diam sejenak saat melihat Jonathan duduk menikmati sosis, tapi diam tak menyapanya. Afro mengembuskan napas panjang.


"Hanya ada satu ruang makan di sini. Jadi, berbagilah. Oke," ucapnya mencoba menjadi penengah karena ia tahu jika Sandara dan Jonathan masih memiliki konflik.


Sandara mendatangi rak piring dan mengambil satu. Ia lalu meletakkan satu buah telur mata sapi, dua sosis, beberapa kentang yang dipanggang, dan segelas air putih.


Sandara membawa makanannya keluar dari ruang makan. Gadis itu terlihat enggan untuk bergabung. Afro terlihat pusing, tapi mencoba bersabar.

__ADS_1


"Setelah makan, langsung istirahat. Kita akan bicara esok pagi. Kaumengerti?" tegasnya menunjuk Jonathan lagi dan pemuda itu mengangguk seraya terus menyuapi mulutnya.


Afro mengikuti Sandara yang duduk di ruang tengah menikmati makanannya. Sandara melirik Afro sekilas lalu melanjutkan makan. Afro memberanikan diri duduk di dekat mantan isterinya yang terlihat gugup.


"Kau baik-baik saja?" Sandara mengangguk pelan seraya makan perlahan. "Kaudatang sendiri?" Sandara mengangguk lagi dengan pandangan tertuju pada piring di pangkuannya.


Afro yang merasa jika Sandara masih enggan bicara padanya ikut bingung dan canggung. Namun, Afro tak ingin pergi. Ia duduk diam menemani Sandara dan hanya memandanginya entah apa yang dipikirkan.


"Bebas pilih kamar mana saja?" tanya Jonathan yang sudah selesai makan dan muncul di ruang tengah. Afro mengangguk mempersilakan. Saat Jonathan akan naik ke tangga, pemuda itu baru menyadari sesuatu. "Mayat-mayatnya gimana?"


"Tentu saja harus kaubereskan. Kerjakan," jawabnya. Mulut Jonathan menganga, tapi Afro tersenyum tipis. "Sudah, tidur saja. Akan kuurus," jawabnya santai.


Jonathan mengangguk pelan lalu menaiki tangga dan masuk ke sebuah ruangan yang sengaja pintu-pintu di lantai itu dibuka.


"Mayat apa? Aku tak melihat mayat. Hanya sisa mobil terbakar dan itupun sudah dipadamkan. Apakah ... terjadi serangan? Karena bau gosongnya seperti masih baru," tanya Sandara yang akhirnya bicara.


"Ya, begitulah. Ceritanya cukup mengejutkan," jawab Afro seraya mengusap wajahnya. Sandara melirik mantan suaminya itu dalam diam.


Sandara lalu menaikkan pandangan. Ia melihat ada satu pintu yang dibuka di lantai satu dan dua pintu di lantai dua. Ia juga melihat saat Jonathan masuk ke sebuah pintu dengan satu pintu telah tertutup sebelumnya.


"Ada siapa lagi?" tanyanya yang kini berani menatap Afro.


"Hem?" jawab Afro bingung.


"Jonathan sudah datang. Lalu, siapa yang sudah datang sebelumnya? Kak Juna? Lysa?" Afro diam menatap Sandara lekat. "Hem, kak Lysa ya. Apa yang kaurencanakan, Afro," tanya Sandara tak lagi memanggilnya 'Kak'.


"Akan kujelaskan saat kalian semua berkumpul. Aku sengaja karena sudah bosan dan lelah dengan sikap kalian berempat yang meresahkan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads," jawab Afro serius.


"Apa ada hubungannya dengan ibuku dan Miles?" Afro mengangguk.


Sandara diam saja tak berkomentar dan kembali makan. Tiba-tiba saja, Afro memegang kepala Sandara. Gadis itu terkejut dan menatap Afro lekat.


"Aku masih tak bisa membaca isi pikiranmu. Apa yang kaurencanakan, Dara. Katakan padaku," ucap Afro menatap Sandara saksama.


"Mungkin karena itulah kita tak berjodoh. Aku terlambat menyadarinya, tapi ... kini aku sudah mengerti. Lepaskan, aku sedang makan," jawabnya dengan wajah datar.


Afro melepaskan pegangannya. Ia menatap Sandara dengan wajah sendu, sedang Sandara terlihat biasa saja seraya menikmati masakan buatan pria tampan itu.


CEKLEK!


"Juna?" panggil Afro saat melihat pintu tersebut terbuka dan datanglah putera Han.


"Dara?" panggil Arjuna terkejut melihat saudarinya berada di tempat itu.


"Halo, Kak Juna. Kau baik-baik saja?" tanyanya ramah, tapi wajahnya datar.


Arjuna mengangguk. Pria bertato itu mendatangi Afro lalu keduanya berpelukan seperti sangat merindukan. Sandara diam saja menghabiskan makanannya.


"Apa yang terjadi? Kulihat seperti ada bekas pertempuran di luar," tanya Arjuna saat melepaskan pelukan.


"Akan kuceritakan besok. Kaulapar?" Arjuna menggeleng. "Ya sudah. Sebaiknya kausegera istirahat. Kita akan bicara esok pagi. Aku juga sangat lelah," jawabnya seraya memijat matanya.


Arjuna menatap Sandara di mana gadis itu sedang meneguk air putih dengan anggun.


"Kau baik-baik saja? Kaudatang sendiri?" tanya Arjuna terlihat khawatir dengan kondisi adiknya. Sandara mengangguk seraya membawa piring dan gelas yang sudah kosong.


"Aku mau istirahat setelah ini. Sampai bertemu besok pagi. Aku tidur di bawah saja," ucapnya.


Afro dan Arjuna mengangguk. Sandara pergi meninggalkan keduanya. Afro masih memandangi kepergian gadis cantik itu, dan ternyata Arjuna menyadarinya.


"Masih mencintainya, hem? Menyesal?" ledek Arjuna.


Afro melirik Arjuna kesal dan pergi meninggalkannya begitu saja. Arjuna terkekeh. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Arjuna mengintip dari balik jendela seperti ingin memastikan sesuatu lalu menaiki tangga. Ia masuk ke kamar terakhir dengan pintu yang masih terbuka.


***



tengkiyuw tipsnya😍 Red Lips sama Monster Hunter gak tentu ya jadwal updatenya. Lele fokus 4YM dan LIH dulu😁

__ADS_1


Trims sudah sabar menunggu dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya hari ini. Happy weekend❤️


__ADS_2