
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
----- back to Story :
Pagi itu, Sandara sudah bersiap untuk menyusul rombongannya ke Colmar, Kediaman Sierra Flame.
Afro tak tega jika Sandara pergi sendirian di kota yang tak dikenalnya. Ia nekat untuk mengantar.
Sandara menatap Afro seksama yang sedang merias wajah agar dirinya tak dikenali. Ia menjadi seperti seorang lelaki tua dengan rambut beruban, keriput, kumis dan janggut serta baju kuno. Sandara tersenyum.
"Pantas saja kami kesulitan menemukanmu, Kak. Ternyata ... kau mampu merubah diri. Siapa yang mengajarimu?" tanya Sandara kagum akan keahlian merias Afro.
Remaja tampan itu meletakkan krim warna putih untuk membuat rambutnya memiliki warna seperti uban di atas meja rias perlahan, terlihat sedih.
"Tessa. Dara, jika aku boleh jujur. Selama aku dalam cengkeraman No Face, hanya Tessa dan Sierra yang baik padaku, sisanya, mereka penjahat," jawab Afro menatap Sandara lekat.
Sandara diam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"Lalu ... kenapa kau tak kembali pada Sierra? Dia 'kan isterimu," tanya Sandara terlihat sedih.
"Pernikahan itu bukan yang sesungguhnya. Ms. White sengaja membuatnya agar kau sakit hati padaku. Ia berpikir, kau akan balas dendam dan membunuhku, tapi ternyata ... dugaannya salah. Kau ... malah mencariku dan semakin mencintaiku. Apa dugaanku benar?" tanya Afro menatap Sandara lekat yang duduk di kursi kayu di hadapannya.
Sandara mengangguk, Afro tersenyum.
"Dara. Aku sangat senang ketika mengetahui ada orang lain di luar sana yang mencintaiku, memaafkanku bahkan menunggu kepulanganku. Aku selama ini merasa sendirian dan terasingkan. Namun, aku kini sadar, jika kau sungguh mencintaiku. Aku pikir ... itu hanya cinta monyet," ucap Afro sembari meraih kedua tangan Sandara perlahan dan menggenggamnya erat.
Sandara terkejut mendengar penuturan Afro, apalagi setelah ia mencium punggung tangannya lembut dan mengusapnya.
"Aku akan menunggumu untuk mengunjungiku lagi. Cepatlah dewasa dan kita menikah."
Sandara berlinang air mata, ia memeluk Afro erat. Afro balas memeluk Sandara di mana ia merasakan jika Sandara sungguh ingin menikah dengannya.
"Aku berjanji akan sering berkunjung, Kak Afro. Aku akan membuatmu lolos dari eksekusi Jordan. Jika sampai Jordan bersikeras membunuhmu, aku akan menyusulmu. Aku tak mau mencintai orang lain. Aku tak ingin Jordan menggantikanmu. Aku hanya ingin Kak Afro seorang," ucapnya bersikeras.
Jantung Afro berdebar. Ia tak menyangka jika Sandara memiliki keteguhan hati yang kuat. Afro semakin menyayanginya.
Afro melepaskan pelukannya perlahan dan mengusap pipi gadis cantik itu dengan kedua ibu jarinya.
"Terima kasih, Dara. Baiklah, kita berangkat sekarang. Jarak ke Colmar cukup jauh dan ingat, panggil aku Kakek, bukan Kakak. Orang-orang akan curiga," ucap Afro serius dan Sandara mengangguk dengan senyuman.
Sandara membonceng Afro di belakang di mana keduanya menaiki sepeda untuk sampai ke stasiun terdekat. Kediaman Afro berada di Pagny Sur Meuse, Perancis.
Terlihat keduanya mengobrol ringan selama perjalanan menuju ke stasiun kereta api. Afro yang tak memilki uang, terlihat malu saat Sandara yang melakukan semua pembayaran dan Sandara menyadari hal itu.
Mereka bicara dalam bahasa Perancis.
"Ini uangmu, Kek. Uang dari Perusahaan Farmasi peninggalan ayahmu, Elios. Ia tak menyertakan asetnya ke Dewan Sekretariat 13 Demon Heads karena selama ini dikelola oleh The Circle, tapi kau berhasil merebutnya dan aku malah mengelolanya. Kenapa tak kau kelola sendiri saja? Kenapa harus aku?" tanya Sandara duduk bersama Afro menunggu kereta datang di peron.
Afro menghembuskan nafas panjang. "Jika aku yang mengelolanya, aku hanya berstatus sebagai pemilik, tapi uang-uang itu akan masuk ke brankas mereka. Aku hanya dijadikan alat pencetak uang dan tak dibayar. Lebih baik aku menyerahkan padamu ketimbang orang-orang serakah itu," jawab Afro sembari menatap jalur kereta api di hadapannya.
"Kau sangat baik, Kek. Kau pihak yang dirugikan dan kau malah mempercayakan asetmu padaku. Aku akan menjaga dan mengembangkannya dengan baik. Aku akan berusaha keras, aku tak akan mengecewakanmu," ucap Sandara menggenggam tangan Afro erat dan remaja itu mengangguk pelan.
Hingga akhirnya, pemberitahuan jika kereta memasuki peron berbunyi. Sandara masuk bersama Afro dan duduk di bangku sesuai dengan tiket yang dipesan.
Perjalanan kurang lebih 2 jam ditempuh oleh keduanya dari Pagny Sur Meuse menuju Colmar. Sandara merangkul lengan Afro dan meletakkan kepalanya di bahu sang kekasih.
Penumpang sepi di hari itu. Hanya segelintir orang yang melakukan perjalanan menuju ke Colmar.
Petugas kereta api mengira mereka berdua adalah kakek dan cucu. Afro bahkan bisa menirukan cara bicara seperti orang tua.
Ia mengatakan sedang mengantarkan cucunya untuk menemui ayahnya di Colmar. Petugas itu pun percaya dan bersikap santun kepada Afro.
__ADS_1
Afro dan Sandara mengobrol banyak hal, memanfaatkan waktu selagi mereka masih bisa bersama.
Setibanya di Colmar, Sandara memberikan lipatan kertas berisi uang di dalamnya. Afro terkejut dan menatap Sandara seksama sebelum mereka berpisah.
"Aku tak bisa meninggalkan kartu debit atau kreditku padamu. Kau tahu sendiri 'kan, jika itu sampai ketahuan oleh jajaran, kau bisa dilacak. Maaf, aku tak membawa uang banyak ketika kabur. Aku ... terlalu gegabah," ucap Sandara tertunduk.
"Dara. Aku sungguh malu menerima uang ini, tapi ... aku sangat membutuhkannya untuk bertahan hidup. Terima kasih, Sayang. Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa padamu. Kau ... sungguh malaikat di hidupku. Tetaplah sehat dan jadilah gadis yang kuat. Kau membutuhkan banyak kekuatan untuk bisa membantuku. Tetaplah menjadi artis agar aku selalu bisa melihatmu di televisi. Aku selalu mendoakan untuk keselamatanmu," ucap Afro menggenggam lipatan kertas di tangannya.
Sandara mengangguk dan memeluk Afro erat. Afro balas memeluk kekasihnya dengan rasa sedih karena harus berpisah.
Afro tak menyangka, jika kali ini ia sungguh mencintai Sandara. Ia merasa kehilangan dan kesepian saat Sandara mulai melangkah pergi menjauh darinya untuk kembali ke kehidupannya.
Afro pun segera kembali naik ke kereta karena ia tak bisa berlama-lama muncul di depan publik.
Afro tak mengira, jika uang yang diberikan Sandara cukup banyak sekitar 10 juta rupiah.
"Semoga Tuhan selalu memberkati dan melindungimu, Sandara. Tetaplah hidup untukku," ucap Afro dengan mata terpejam dan mencium kertas berisi setumpuk uang dalam lipatannya.
Di sisi lain. Sandara menggunakan taxi untuk membawanya ke kediaman Sierra. Ia yang pernah berkunjung satu kali saat di culik dulu, terlihat sudah menyiapkan alibi dan mental jika diinterogasi oleh Ayahnya serta yang lain.
"Ayah kini seperti Jordan. Ia mulai bersikap tegas padaku. Ia tahu jika aku berbohong dan tak segan untuk menghukumku seandainya aku melakukan kesalahan. Aku harus lebih waspada dan jaga sikap. Aku harus menjadi gadis baik di hadapannya dan semua orang," ucapnya dalam bahasa Indonesia dan sopir taxi hanya melirik karena tak paham yang Sandara katakan.
Sandara mengaktifkan ponselnya kembali agar dirinya terlacak oleh Satelit Marlena atau GIGA.
Hanya saja, Sandara terkejut ketika mendapatkan pesan dari GIGA DARA jika second user sudah diblokir oleh ibunya, Vesper. Sandara panik seketika.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba? Jika aku tak bisa mengakses GIGA, bagaimana ... bagaimana aku tahu keadaan kak Afro? Kenapa mama juga bersikap demikian padaku?" tanyanya sedih menggenggam ponselnya erat.
Di sisi lain.
"Nona Lily, ponsel Sandara sudah kembali aktif. Dia sedang melakukan perjalanan menuju ke kediaman Sierra. Dari pantauan CCTV traffic light, ia menggunakan taxi," ucap Eiji melaporkan.
"Hem, terus awasi, Eiji dan laporkan pada Kai serta James nomor taxi yang Sandara tumpangi. Tanyakan pada sopir itu sebelum pergi, di mana Sandara mulai menggunakan jasanya. Dia menghilang semalaman tak berjejak. Aku yakin, dia menyembunyikan sesuatu. Anak itu, sejak dulu, menyimpan banyak misteri. Kadang aku tak bisa membaca pikirannya. Untung tebakanku selalu benar," ucap Vesper tiba-tiba yang membuat semua pendengar melirik padanya.
"Baik, Nona," jawab Eiji cepat dan segera meneruskan pengamatannya ke pada Kai dan James.
Jeremy yang sebelumnya telah mengetahui penyakit Sierra sudah mempersiapkan diri untuk bertemu pasiennya secara langsung di mana sebelumnya, ia hanya tahu riwayat kesehatannya dari berkas pemberian Tobias.
"Kai," panggil Jeremy saat suami termuda Vesper menyambutnya di teras depan.
"Jeremy. Wow! Benar kata nona Lily, kau terlihat muda," ucap Kai sembari memegangi kedua lengannya, menatap Profesor itu dari atas sampai bawah terlihat kagum.
"Kau juga, tak menua. Apa kau ... memakai balsem seperti Tora?"
Kai tertawa begitu saja mendengar hal konyol dari sahabatnya itu. Kai mengajak Jeremy masuk dan langsung menuju ke kamar Sierra di mana Jonathan sudah menunggunya terlihat tak sabar bersama Yena dan Zaid.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Hallo, aku Jeremy. Salam kenal, Nona Sierra," ucap Jeremy memperkenalkan diri.
"Hallo, Profesor. Senang bertemu denganmu," sambut Sierra sembari mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.
Jeremy lalu duduk di sebelah Sierra di mana gadis cantik bermata biru itu duduk menyender di kasur dengan gaun pendek agar kakinya yang lumpuh bisa dilihat dengan jelas oleh sang Profesor.
Jeremy mulai melakukan observasi. Terlihat, semua orang tegang karena penasaran apakah Sierra bisa disembuhkan atau tidak.
"Apakah kau merasakan sesuatu jika kusentuh seperti ini?" tanya Jeremy menggelitik telapak kaki gadis cantik itu. Sierra menggeleng.
Semua orang terlihat serius memperhatikan.
"Bagaimana dengan bagian ini? Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Jeremy ketika menggelitik lutut Sierra, tapi gadis itu kembali menggeleng.
Namun, saat Jeremy memijat pahanya, Sierra reflek seketika dan malah mengejutkan Profesor itu.
"Ish, Paman Jeremy jangan ganjen dong! Cari kesempatan nih! Jojo laporin ke tante Rayya dan Roxxane loh. Dipecat jadi suami baru tau rasa," tunjuk Jonathan emosi seketika.
__ADS_1
"Hei! Aku sedang melakukan pemeriksaan saraf motorik dan sensorik. Kau ini, sembarangan bicara," sahut Jeremy ikut protes.
Sierra malah tertawa geli karena kekasihnya begitu posesif. Kai, Zaid dan Yena berusaha menenangkan keduanya yang malah berselisih.
"Sudahlah, Nathan. Profesor hanya melakukan tugasnya. Aku juga penasaran bagaimana analisisnya. Apakah ... kau membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti Rontgen, CT scan, MRI, dan elektromiografi (EMG)?"
Jeremy terkejut karena Sierra mengetahui semua hal itu.
"Ya, tentu saja. Namun, kita harus ke Rumah Sakit untuk melakukannya, tapi ... aku memberikan pilihan. Jika kau mau ikut denganku ke Filipina, kau akan tinggal di laboratoriumku. Selain itu, aku mendapatkan target untuk membuatmu bisa berjalan sebelum pesta pernikahanmu dilangsungkan saat musim panas nanti. Bagaimana?"
Sierra terkejut. "Kau ... bisa menyembuhkanku? Aku bisa berjalan lagi?" tanyanya dengan jantung berdebar.
"Sebenarnya, tidak. Dugaanku, kau mengalami Paraplegia Flaksid. Bisa dibilang, otot-otot tubuh pada kedua kakimu dari lutut ke bawah mengalami kelumpuhan dalam kondisi lemas dan terkulai. Sepertinya, kau sudah tahu hal itu," jawab Jeremy menjelaskan dan Sierra mengangguk membenarkan.
"Hanya saja, Kai ikut membantu dengan mengembangkan kaki robot buatanmu. Kai sudah membuat design-nya dan kini sedang dipelajari oleh tim robot kami. Doakan saja, sampai alat itu jadi, kondisi fisikmu sudah normal, itu yang terpenting," jawabnya dengan senyuman.
Sierra terlihat begitu terharu. Impiannya untuk bisa berjalan terdengar nyata untuknya. Sierra menggenggam tangan Jeremy erat dengan senyum terkembang.
"Terima kasih, Profesor. Kau sungguh baik dan mau menolong gadis cacat sepertiku. Aku tak tahu harus bagaimana berterima kasih," ucap Sierra berlinang air mata.
Jeremy mengangguk dengan senyuman. Sierra juga mengulurkan tangannya untuk mengajak Kai berjabat tangan.
Kai mendekati Sierra dan menerima jabat tangannya. Sierra menggenggam tangan Kai erat dan berterima kasih padanya. Kai mengangguk.
TOK! TOK!
Semua orang di kamar Sierra menoleh seketika. Lucy meringis di samping pintu terlihat sungkan.
"Ya Lucy, ada apa?" tanya Yena heran.
"Sandara sudah di sini."
Kai segera berlari keluar kamar untuk menemui anak gadisnya yang dikabarkan kabur.
James dan lainnya yang pada akhirnya mengaku tak menemukan Sandara, hanya bisa pasrah saat Kai marah meski ia tak menyalahkan orang-orang yang telah berusaha mencarinya.
"Dara! Kau dari mana saja?" tegas Kai yang mendekatinya dengan langkah cepat saat remaja cantik itu hanya berdiri di samping sofa dengan wajah tertunduk.
"Maaf, Papa Kai. Dara ...."
"Kau membuatku cemas setengah mati. Jangan seperti itu lagi. Papa tak suka kau menyelesaikan masalah dengan melarikan diri. Bagaimana jika hal buruk terjadi padamu?" ucap Kai memeluk anak gadisnya erat terlihat begitu khawatir.
Sandara tersenyum dan balas memeluk ayahnya erat.
"Dara baik-baik saja, Papa. Dara sadar jika ceroboh. Dara hanya merasa tertekan akhir-akhir ini karena banyak kegiatan di management dan pemesanan produk di butik. Saat Papa menanyakan hal itu, membuat Dara semakin tertekan, Dara lelah dan memilih pergi untuk menenangkan diri. Namun ternyata, Dara malah tersesat. Beruntung Dara menemukan penginapan dan bisa kemari menggunakan taxi," jawabnya saat Kai melepaskan pelukannya ketika ia menjelaskan.
"Kau naik taxi dari Pagny Sur Meuse?" tanya Kai heran. Sandara menggeleng.
"Aku menggunakan kereta, saat kemari baru menggunakan taxi," jawabnya lesu.
"Kau pasti lapar. Kau terlihat kumal. Ayo, bersihkan dirimu dulu baru kita makan," ucap Lucy mengajak Sandara untuk merapikan diri dan gadis cantik itu mengangguk pelan.
Lucy mengajak Sandara ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kai bernafas lega karena anak gadisnya baik-baik saja. James mendekati Kai yang mulai terlihat tenang.
"Kai. Tadi aku menanyai sopir taxi sebelum pergi atas permintaan Nona Lily. Apa yang dikatakan Sandara benar. Ia menggunakan jasanya dari stasiun dan naik seorang diri. Sepertinya, dugaan ia bersama Afro tak terbukti. Tebakanku salah, sial," gerutu James kesal.
Kai tersenyum sembari menepuk pundak sahabatnya.
"Yang terpenting, Dara sudah kembali dengan selamat. Aku tak menyalahkanmu, James. Kau sudah berusaha sebaik mungkin. Setelah ini, kembalilah bersama Sandara ke Paris lalu pulang ke Seoul. Jadwal Sandara padat. Aku akan ikut ke Filipina untuk bertemu tim robot. Aku titipkan gadis kecilku padamu ya," ucap Kai penuh permohonan.
"Yes, Sir!" jawab James memberikan hormat dan Kai terkekeh karena sikap James berlebihan.
***
Makasih tips koinnya. Panjang nih epsnya😆
__ADS_1