
Zaid, Sun, dan Torin, mengejar Jonathan yang pergi meninggalkan ruang persidangan begitu saja. Pemuda itu terlihat sedih dan marah dalam waktu bersamaan.
CEKLEK!
"Jonathan!"
TOK! TOK! TOK!
"Nathan?"
"Jo, biarkan kami masuk. Coba kita cari solusi dari perubahan sikap Sierra ini," panggil Zaid setelah panggilan dari Sun dan Torin ia abaikan.
Namun, Jonathan tak menjawab. Tiga pemuda itu terlihat khawatir dengan mental Jonathan.
"Biarkan dia tenang untuk sesaat. Sebaiknya, kita berkumpul ke ruang rapat. Vesper sedang meminta penjelasan dari Jeremy," ajak Kai, dan tiga pria itu mengikutinya.
Di ruang meeting Black Castle.
"Kami sudah menyuntikkan serum penawar padanya, tapi Sierra tak berubah. Gadis itu malah semakin gila dan menyebalkan," gerutu Roza Red Skull.
"Ambil sisi positifnya. Kita jadi tahu Sierra sebenarnya. Selain itu, aku jadi tahu dampak lain dari gas halusinasi," ucap Jeremy dari sambungan video call dan semua orang mengangguk setuju.
"Sejak awal aku sudah curiga ketika Sierra dikatakan pengganti Madam. Aku cukup yakin jika dia bukan gadis sembarangan. Hanya saja masalah utamanya, Jonathan. Malang sekali nasibnya," sambung Vesper sedih.
Semua orang terhenyak sejenak. Mereka tahu benar jika Jonathan sangat mencintai gadis bermanik biru tersebut.
"Aku punya sebuah pemikiran. Ingin dengar?" tanya Kai, dan semua orang mengangguk.
Kamar yang mengurung Sierra.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
CEKLEK!
"Oh, apa yang membawamu kemari, Tuan Tampan?" tanya Sierra yang duduk di samping ranjang mengenakan kemeja putih panjang dengan dua kancing terbuka, terlihat jelas belahan dadanya.
Kaki jenjangnya tampil memukau karena hanya mengenakan celana d*alam yang selaras dengan bajunya.
Putera dari Boleslav masuk ke dalam. Ia berdiri diam dengan kedua tangan di saku celana. Sierra tersenyum menawan menyambutnya.
"Kau penuh misteri, Sierra. Banyak pertanyaan di benakku. Ingin membaginya?"
"Hem, boleh," jawabnya seraya menepuk matras kasur di sampingnya.
Putera dari Amanda duduk perlahan. Namun tiba-tiba, "Ugh!"
"Kau bukan si pria tampan yang dingin. Aku mengenal intonasi suaranya. Hem, biar kutebak, kau ... kembarannya?" tanya Sierra merebahkan tubuh Jason dengan mendorong dadanya.
Jason pucat seketika. Ia malah gugup dan mematung saat Sierra mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"Kau mau ap— emph!"
Jason meronta, tapi Sierra memegangi pergelangan tangannya kuat dan menaiki pinggulnya.
Jason tak berkutik ketika Sierra menciumnya semakin dalam dan agresif, hingga pada akhirnya, Jason pasrah dalam siksaannya.
CEKLEK!
DEG!
"Agh, Sierra, stop! Jonathan akan membunuhku!" teriak Jason panik saat Sierra memuaskan dirinya dengan menikmati kejantanannya di liang kenikmatan.
Kedua tangan Jason diikat dengan celana d*lam Sierra. Matanya ditutup dengan kemeja putih si gadis pirang. Jason benar-benar tak berkutik.
Jonathan mematung melihat aksi Sierra yang menyuarakan rintihan kepuasannya di atas pinggul kembaran Jordan memamerkan tubuh polosnya.
Saat Sierra ingin mengubah posisinya, ia terkejut ketika mendapati Jonathan tersenyum tipis. Sierra menarik selimut dengan cepat dan menutup tubuhnya yang bergairah.
"Aku tak apa, sungguh. Aku tak berhak melarang apapun yang ingin kaulakukan, Sierra. Aku ... minta maaf jika kuputuskan untuk membatalkan pernikahan kita. Kau bukan Sierra-ku. Meski suatu saat nanti Sierra-ku kembali, aku rasa ... aku tak bisa menerimanya lagi," ucapnya dengan wajah datar seraya berjalan mendekati Jason.
"Hah?! Jo-Jonathan!" pekik Jason panik saat Jonathan melepaskan kemeja yang menutup kepalanya.
"Aku tak marah padamu. Jangan merasa bersalah. Ayo pergi," ajaknya seraya melepaskan ikatan di pergelangan tangan Jason.
Sierra mematung. Ia terlihat kaget dengan sikap pemuda yang tetap tenang setelah melihatnya berselingkuh.
Jonathan dengan perhatian membantu mengambil pakaian Jason yang berserakan di lantai karena keagresifan Sierra. Jonathan merapikan penampilannya dengan wajah datar.
Di luar kamar.
"Jo-Jonathan," panggil Jason terlihat begitu bersalah.
"Sudah kubilang, aku tak apa. Aku pernah dengar ungkapan ketika di rumah kakek Herlambang. 'Ketika pasangan akan menikah, akan datang berbagai halangan entah itu apa. Apakah pasangan itu bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan, atau tidak?' Dan aku memutuskan, untuk menyerah," jawabnya dengan pandangan tertunduk berwajah sendu.
Jason malah terlihat gelisah mendengar ucapan Jonathan. Pemuda itu paham betul jika kawannya begitu kecewa. Jason terdiam saat melihat Jonathan berjalan dengan lesu meninggalkannya menyusuri koridor.
CEKLEK!
"Sudah puas kau, hem?! Kau sungguh memalukan, Sierra!" pekik Tessa melemparkan sebuah bantal yang jatuh di lantai.
Namun, gadis berambut panjang itu terlihat tak bersalah dengan perbuatannya. Ia malah sibuk menyisir rambutnya dan membiarkan bantal empuk itu memukul punggungnya.
"Bawa aku pergi. Aku ingin bertemu dengan Venelope."
"Untuk apa?!" pekik Tessa dengan mata melotot.
"Membuktikan ucapanmu," jawabnya tersenyum miring seraya membalik tubuhnya yang masih duduk di kursi rias.
"Pergilah sendiri. Aku tak mau kembali pada mereka. Sudah cukup aku diperbudak, dan aku tak mau menjadi orang bebal dengan memberikan mereka kesempatan untuk menyiksaku," tegas Tessa melotot.
__ADS_1
"Kau berani membantah perintahku?"
Nafas Tessa menderu. "Yes. Aku juga bukan budakmu. Kekuasaanmu berakhir dengan tewasnya Madam, 8 Mens, dan orang-orang dalam jajaran The Circle. Kepunahan The Circle sebentar lagi."
Mata Sierra terbelalak. "Kau pengecut. Di tanganku, The Circle akan kembali bangkit," tegasnya seraya berdiri dengan menopang tubuhnya menggunakan kedua tangan.
"Coba saja. 13 Demon Heads tak akan membiarkan hal itu terjadi," jawabnya mantap. "Dan akan kumulai dengan mengurungmu di sini selama-lamanya!"
CEKLEK! KLEK!
"TESSA!"
Sierra berjalan merambat menuju ke pintu yang dikunci dari luar. Sierra marah besar. Ia mencoba membuka pintu dengan paksa, tapi usahanya sia-sia.
Sierra berjalan dengan menahan sakit di kakinya menuju jendela. Tapi saat ia melihat keluar, matanya terbelalak seketika.
Kolam besar yang dipenuhi oleh buaya mengelilingi menara tempat ia tinggal. Sierra melongok keluar jendela dan mendapati CCTV dengan senjata mengarah ke tubuhnya. Mata Sierra melotot lebar. Ia terlihat panik seketika.
"Sial. Mereka mengurungku di sini," geram Sierra yang tak melihat jalan keluar dari tempat tersebut.
Di sisi lain.
Jason menangis di kamarnya. Orang-orang yang mendengar pengakuan pemuda itu ikut iba, terlebih Amanda. Keperjakaan anaknya direnggut oleh Sierra. Terlihat, Amanda menahan amukannya.
"Aku ... minta maaf, Jason. Kau terlibat karena ideku," ucap Kai menyesal.
"Bukan salahmu, Paman Kai. Aku menyetujuinya. Namun, aku sungguh tak menyangka jika Sierra bisa berbuat demikian padaku. Tenaganya sungguh kuat. Aku bahkan tak bisa kabur darinya. Aku sungguh lemah," jawabnya dengan wajah sembab.
Jordan diam saja menatap saudara kembarnya yang terus-terusan mengatakan bersalah pada Jonathan.
Putera Erik tersebut mengurung diri di kamar tak ingin di ganggu siapapun. Kamar Jonathan yang tak terhubung dengan kamera pengawas, membuat orang-orang yang peduli padanya cemas jika pemuda itu melakukan hal nekat.
Malam itu, Vesper membuat keputusan jika Sierra dianggap sebagai musuh dan tahanan. Tessa mengatakan rencana dari Sierra saat menemuinya di kamar.
Orang-orang terlihat khawatir dengan pemikiran calon pengganti Madam tersebut, tapi tiba-tiba, Jonathan muncul dan mengejutkan semua orang.
"Biarkan dia pulang, Mah. Tak ada gunanya mengurung Sierra di sini. Ucapannya hanya akan meracuni semua orang," ucap Jonathan sendu.
"Kau tak apa?" tanya Han cemas. Jonathan mengangguk dengan senyum tipis.
Meski Jonathan terlihat baik-baik saja, tapi hal itu malah membuat semua orang mencemaskan kondisi kejiwaannya.
"Baiklah. Lepaskan Sierra, tapi biarkan dia pergi sendiri. Aku tak mengizinkan siapapun mengantarkan kepergiannya. Kau setuju, Jonathan?" tanya Vesper berwajah dingin.
"Ya," jawabnya datar.
***
tengkiyuw tipsnya ❤️ epsnya dikit krn ngetik ya pakai hp dan lele masih camping. tar kl udh kembali ke peradaban lele ksh panjang lagi. happy weekend 😘 brankas koin kosong ya😁
__ADS_1