
Tak lama, Jordan kembali dengan pandangan terfokus pada Yudhi seorang. Dua pria tampan beda Benua itu saling bertatapan tajam. Bayu memilih diam menyimak dengan serius.
"Kau pasti tahu di mana Sandara," tanya Jordan berdiri di hadapan putera mendiang Siti Fatonah.
"Anggap aja begitu. Jika kau merasa iba dengan penderitaannya, berikan aku semua barang ini. Siapkan mobil untukku karena besok pagi, aku akan pergi. Aku tak akan mengusik hidup kalian," jawabnya seraya mengeluarkan sebuah kertas dalam amplop yang ia berikan pada Jordan.
Pemuda itu langsung menerima dan membuka amplop putih tersebut. Ada sebuah kertas di dalamnya. Yudhi melirik Bayu yang menatapnya saksama.
"Untuk apa semua benda ini?"
"Ahmed mati, keluargaku mati, semua karena ketamakan No Face. Aku tak peduli jika mereka kini berada di pihak kita. Namun, masa lalu tak bisa diabaikan begitu saja. Kau sampai terkena serum monster karena ulah mereka. Sudah cukup kebaikan dan toleransi kita pada orang-orang itu. Mereka parasit, dan aku tak percaya ketulusan para wanita iblis itu," jawab Yudhi terdengar jujur.
"Lanjutkan," pinta Jordan dengan kertas dalam genggaman.
"Biarkan aku yang melakukan semua. Kalian tak usah terlibat. Aku dengan suka rela membalaskan dendam keluargamu yang telah tewas karena kekejaman No Face dan The Circle. Sebagai imbalannya, berikan yang kutuliskan itu," jawabnya menunjuk kertas tersebut.
Jordan menyerahkan kertas itu kepada Bayu dan kening salah satu anggota The Kamvret tersebut berkerut.
"Kamu udah punya berapa anak buah? Ini penyerangan skala besar loh, meski diem-diem," tanya Bayu gugup.
"Tak perlu banyak anak buah. Aku bisa melakukannya seorang diri. Meragukanku?" tanya Yudhi melirik.
Bayu dan Jordan saling memandang dalam diam.
"Oke. Tapi pastiin, hanya orang-orang The Circle dan No Face yang terkena dampak, jangan sampai orang-orang kita juga," tegas Bayu.
"Itu gak mungkin. Pasti sebagian dari mereka akan terkena imbas. Akan sangat mencurigakan jika The Circle dan No Face saja yang mati. Tetap harus ada yang dikorbankan," jawab Yudhi tenang.
Bayu memejamkan matanya rapat sejenak lalu melirik Jordan lagi. Suami Naomi mengangguk pelan.
"Oke. Kamu di sini aja, biar Bayu yang siapin semua," jawabnya lalu beranjak dan pergi dari rumah tersebut. Yudhi tersenyum pada pria yang hampir seumuran dengannya.
"Kau menyukai Dara?" tanya Jordan saat mereka hanya berdua.
"Aku akan menikahinya suatu saat nanti. Tunggu saja kabar baik dariku. Dia ... masih harus merasakan penderitaan. Namun aku pastikan, ini yang terakhir kali. Oleh karena itu, saat Dara kembali, aku ingin memastikan semua aman untuknya," jawab Yudhi dengan pandangan tertunduk.
Jordan diam saja tak menjawab. Ia lalu mengantarkan Yudhi ke kamar untuk menginap semalam. Yudhi berterima kasih dan segera beristirahat.
Keesokan harinya, Naomi masih terlihat shock akan kenyataan pahit yang akan dia terima nanti. Namun Jordan memastikan jika semua aman terkendali.
"Terima kasih atas jamuannya. Maaf, Kak Naomi jika ucapanku kemarin membuatmu terguncang. Aku hanya bersikap realistis. Lebih baik kau mendengar kenyataan pahit di awal sebelum hal itu terjadi. Aku tahu kau wanita yang baik dan bijak dalam mengambil keputusan. Semoga, kau paham maksud tindakanku," ucap Yudhi berdiri tegap di depannya.
"Ya, aku mengerti. Aku bisa memahaminya," jawabnya dengan senyuman.
Yudhi pamit dan pergi mengendarai sebuah mobil sedan hitam pemberian Jordan untuknya. Permintaan Yudhi juga telah dimasukkan dalam bagasi belakang.
Sepeninggalan Yudhi.
"Dia ... mengendarai mobil sampai ke Turki? Itu bisa memakan waktu hingga 3 hari," tanya Naomi menatap suaminya lekat.
"Biarkan saja. Mobil yang kuberikan juga salah satu mobil perusahaan. Kita tak rugi apapun. Jadi, bagaimana kabar calon anakku? Kita jadi 'kan ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu?" tanya Jordan dengan senyum tipis. Naomi mengangguk.
Bayu memilih untuk tetap di rumah saat majikan mereka pergi ke Rumah Sakit dijaga oleh 4 orang Silhouette.
Yudhi mengendarai mobilnya dengan tenang dan akan melintasi beberapa negara hingga ke tujuan akhirnya nanti, Turki. Yudhi telah menandai beberapa tempat untuk singgah seraya melakukan aksinya.
Target pertama, ia akan mampir ke Kroasia, di mana Jonathan memiliki Pos Darurat dengan kamuflase sebuah toko kue dari usaha legal milik Torin.
__ADS_1
Perjalanan darat dengan mobil kurang lebih 10 jam tersebut, tentu saja membuat Yudhi lelah. Ia singgah di beberapa rest area untuk mengisi bahan bakar dan makan siang. Hingga ia akhirnya tiba di kota tempat usaha legal tersebut berada.
Yudhi menyiapkan peralatan dan penyamarannya. Ia membawa dua buah serum yang telah ia siapkan dengan alat tembak suntik. Yudhi masuk ke toko kue tersebut saat mulai ramai di datangi pengunjung ketika jam pulang kantor.
Yudhi berbaur dengan para pelanggan. Ia menyelinap masuk ke toilet di mana tujuannya adalah dapur.
Yudhi sengaja memanggil salah satu pelayan dengan beralasan jika bilik yang digunakannya rusak. Pelayan itu pun membantunya, tapi ....
DUAK!! CLEB! BRUKK!
Yudhi menarik tubuh pelayan yang berhasil ia lumpuhkan setelah ia memukul wajah pria malang itu dan menusukkan sebuah suntikan dengan cairan bening hingga pingsan. Yudhi melucuti pakaian pria itu dan menyamar menjadi dirinya.
Yudhi memasuki dapur dengan santai. Mata dan langkahnya terfokus pada persediaan air. Ia menyuntikkan sebuah serum berwarna bening ke sebuah tangki besar tanpa dicurigai karena semua petugas dapur sibuk dengan pekerjaan mereka untuk memuaskan lidah dan perut pelanggan.
Saat Yudhi beranjak dari tempatnya dengan berpura-pura menyapu lantai, ia melihat seorang pria yang ia sinyalir adalah anak buah Jonathan dari kelompok The Circle.
Yudhi mendekat dengan gerakan diam-diam. Ia mendengar pembicaraan pria itu yang meminta agar makan malam mereka diantar. Salah seorang petugas dapur mengangguk.
Yudhi melihat seorang wanita menyiapkan beberapa roti untuk dipanggang. Yudhi mendekat dan mengatakan ingin membantu.
Ia diminta mengoles lapisan atas kue tersebut dengan 'butter' dan Yudhi melakukannya dengan telaten.
Diam-diam, ia mencampur serum terakhirnya berwarna kuning menyerupai mentega tersebut.
Senyum Yudhi terkembang saat ia telah selesai dan memasukkan adonan itu ke dalam oven. Petugas dapur segera memanggang kue tersebut.
Yudhi meninggalkan kamera mini di bawah meja dengan fokus ke pintu tempat para anak buah Jonathan berkumpul di ruang bawah tanah.
Yudhi segera keluar dari toko kue tersebut usai membeli cemilan untuknya di mobil sembari menunggu.
Cukup bersabar Yudhi menunggu. Ia melihat ternyata mentega yang telah ia campur dengan serum khusus digunakan oleh koki lain untuk mengoles adonan lainnya sebelum dipanggang. Yudhi menghembuskan nafas panjang sembari menggigit rotinya lagi.
Dan tak lama, beberapa orang keluar dari pintu belakang toko tersebut dengan tergesa terlihat cemas. Yudhi menyadari jika para pria tersebut adalah anak buah Jonathan.
Tak lama, kericuhan mulai terjadi di dalam toko kue saat beberapa pelanggan muntah-muntah dan terlihat kesakitan. Senyum Yudhi terkembang. Ia lalu melaju mobilnya meninggalkan toko dan berpapasan dengan sebuah mobil ambulance.
"Hem, ini baru gertakan Jonathan. Kita lihat, apakah ini akan berimbas dengan kerjasamamu bersama Torin?" ucapnya dengan senyum terkembang seraya menyeruput minuman cokelatnya sambil mengemudi.
Yudhi meneruskan ke titik selanjutnya ke Serbia. Ia menginap di sebuah hostel sederhana untuk mengistirahatkan tubuhnya yang letih.
Sepeninggalan Yudhi. Dugaan pemuda itu benar. Torin marah besar dan berimbas dengan kerjasama yang terjadi bersama Jonathan.
"Sekarang bagaimana? Tempat kita disegel! Para pelanggan tewas, Jonathan!" pekik Torin dengan mata melotot lebar meluapkan amarahnya dalam video call.
"Orang-orangku juga tewas! Kau pikir, hanya kau saja yang mengalami kerugian, ha?" balasnya membentak.
"Aku tak percaya lagi padamu. Kau menjanjikan keamanan dari Pos Darurat yang bergabung dengan usaha legalku. Aku minta semua anak buahmu pergi dari bisnis legalku. Aku akan menggunakan Black Armys milik Vesper saja!" jawabnya menunjuk.
Nafas Jonathan menderu. Ia langsung mematikan sambungan video call tersebut. Sierra, Venelope, Click and Clack yang berada di ruangan tersebut terlihat gugup karena Jonathan menatap mereka tajam.
"Ulah kalian, benar 'kan? Mengaku saja!" tanyanya berteriak.
"Kami selama ini berada di sini bersamamu. Bagaimana kami melakukan kecurangan itu? Terlebih, orang-orang itu adalah anggota kami juga, dulunya," jawab Sierra membela diri.
"Pasti kalian balas dendam karena Nathan minta The Circle dan No Face membubarkan diri. Kalian sengaja masuk dalam jajaran Nathan untuk melakukan aksi ini karena Nathan gak mau kasih anak buah seperti kesepakatan di awal. Ngaku aja!"
"Itu tidak benar. Untuk apa kami harus melukai orang-orang dalam jajaran kami sendiri?" tanya Venelope ikut membela.
__ADS_1
"Sungguh, bukan kami yang melakukannya!" tegas Clack. "Oh, mungkinkah ...."
Kepala semua orang menoleh ke arah pria gundul itu.
"Siapa?" tanya Jonathan berdiri dengan kepalan tangan.
"Tobias?"
"Kenapa Tobias?" tanya Jonathan berkerut.
"Entahlah. Rasanya aneh tiba-tiba saja ia merelakan kekuasaannya di mana selama ini dirinya terobsesi untuk menjadi pemimpin The Circle. Ia memilih untuk menjadi pengusaha legal. Itu bukan gayanya," jawab Clack menegaskan.
"Hem, aku setuju. Terlebih saat di Pengadilan. Ia berat hati untuk membuat pengakuan dan janji itu," sambung Click.
Sierra dan lainnya setuju dengan hal tersebut. Anak dari Tobias menjanjikan akan mencari kebenaran dari tuduhan mereka.
Venelope berusaha menenangkan Jonathan yang mengamuk karena telepon di kantornya tak berhenti berdering di mana anak buahnya yang ditempatkan di Pos Darurat usaha legal milik Torin diusir.
"Sekarang kami harus bagaimana, Bos?" tanya salah seorang anggota dari kelompok The Circle-nya bingung.
"Kumpul ke Ceko," jawabnya cepat.
"Siap!" jawab anggota tersebut yang diteruskan ke kawan-kawan lainnya.
Ternyata, serangan Yudhi tak berhenti sampai di situ. Keesokan harinya.
"Ini pasti ulah para wanita No Face-mu itu! Kemarin Torin dan sekarang aku. Lalu besok siapa lagi? Mereka pasti membohongimu, Jonathan! Mereka menyerang kita dari dalam!" pekik Bojan marah setelah usaha legalnya di Serbia terkena serangan serupa hingga orang-orangnya terlibat dengan pihak kepolisian dan departemen kesehatan. Usaha legal Coffee Shop milik Bojan disegel.
"Bentar, Om Bojan. Nathan masih nyelidiki kasus ini. Jangan tuduh orang-orang Nathan," jawabnya mencoba menenangkan salah satu anggota Dewan tersebut.
"Apa mereka iri padaku, karena aku pernah menjadi kekasihmu? Apa mereka ingin menyingkirkanku juga?" sahut Sisca yang wajahnya ikut muncul di video call tersebut.
Jonathan pusing dan menggaruk kepalanya.
"Jonathan. Sampai semua masalah ini selesai, aku tak mau menjalin bisnis denganmu. Aku akan mengusir semua orang-orangmu, suka atau tidak."
KLEK! TUT ... TUT ... TUT!
"ARGGHHH! SIAL! KENAPA JADI RUNYAM GINI!" teriaknya marah.
Tak lama, Sierra dan lainnya muncul. Mereka terlihat panik karena Jonathan mengamuk lagi. Kali ini, kesabaran Jonathan telah habis. Ia mendatangi Sierra dan Venelope dengan langkah memburu. Dua wanita itu terlihat takut.
"Arghh!" rintih Sierra dan Venelope saat Jonathan menjambak rambut keduanya lalu menarik mereka dengan kasar keluar dari ruangan.
Sierra sampai terjatuh dari kursi roda dan Jonathan tak peduli. Sierra merangkak di atas lantai dengan air mata menetes begitu pula Venelope yang dipaksa jalan membungkuk.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
lele laper. makasih tipsnya😍 brankas koin abis gaes. kwkwkw ditunggu sogokannya😆panjang2 nih epsnya diatas jumlah koin lagi napsu ngetiknya.
oia sebentar lagi simulation akan dicetak dan bonusnya masker LAP limited edition. jangan lupa nabung biar bisa peluk buku lele dengan ciuman merekah di dalamnya💋
__ADS_1