
Karena lele disogok koin jadi up satu lagi deh๐ Makasih tipsnya๐๐๐ Padahal lele mau nguber stokan si bang Axton di sebelah karena baru kesetor 5 eps doang. Kwkwkw. Ngalamat SIMULATION kesendat lagi nih adeh.
------- back to Story :
Arjuna segera melepaskan suntikan peluru jarum itu di dadanya dan menjatuhkannya ke karpet mobil. Arjuna memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak seperti orang kesulitan bernafas.
"Aku ... mobilku di ujung blok itu. Ada penawar racun di sana," ucap Naomi menunjuk mobil yang ia kendarai dengan wajah pucat.
Arjuna mengangguk dan segera keluar dari mobil melalui pintu Naomi yang tak rusak. Sayangnya, Sun pingsan dan kepalanya berdarah terkena benturan kuat.
Sopir truk keluar dari mobil terlihat cemas. Ia merasa bersalah karena menabrak mobil di depannya.
Naomi dan Arjuna yang berhasil keluar melihat seorang pria memegangi kepalanya terlihat shock.
"Tolong keluarkan dia," pinta Naomi sudah seperti orang sekarat.
Pria itu mengangguk dan mengeluarkan Sun yang pingsan. Namun tiba-tiba, segerombolan orang keluar dari dalam bar milik Tessa dengan pistol dalam genggaman.
Naomi dan Arjuna terkejut. Saat mereka dilanda kebingungan, tim penyelamat dari Red Ribbon datang dengan konvoi mobil mereka.
"Tuan Muda, Naomi, pergilah cepat! Sun akan kami urus!" pekik Bintang Red Ribbon saat turun dari mobil dan langsung meraih lengan Sun untuk dipapah.
Arjuna yang belum terkena dampak buruk dari cairan itu segera memapah Naomi untuk pergi dari tempat kejadian. Sopir truk juga diminta segera pergi karena bahaya datang mengancam.
Sopir tersebut berterima kasih karena tak disalahkan. Ia segera memundurkan truknya dan pergi menjauh dari pertempuran.
Arjuna segera menekan penuh gas mobil, berencana untuk kembali ke Apartement Theresia di New York.
Ia cukup yakin jika bisa bertahan sampai ke sana karena hanya menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan.
Naomi merangkak ke dudukkan belakang dengan susah payah untuk mengambil kotak medis di balik jok dudukan tengah. Arjuna berusaha agar stabil dalam mengemudi.
Akhirnya, Naomi berhasil mengambil kotak obat itu dan duduk di atas karpet mobil. Ia terlihat bersusah payah dengan kening berkerut saat membukanya.
Arjuna menggunakan GPS untuk mengarahkannya ke New York, tapi pandangan Arjuna mulai kabur.
Ia malah keluar dari rute yang ditunjukkan oleh GPS menuju ke Penn Valley menuju ke arah sungai di hari yang sudah gelap, menjauh dari pusat kota.
Naomi memegang beberapa botol serum di tangannya, tapi ia terlihat bingung dalam memilih.
Arjuna menampar pipinya berulang kali agar kesadarannya tetap terjaga. Ia merasa seperti mengalami mabuk berat, tapi tak mual dan pusing.
"Naomi! Agh! Sudah dapat belum penawarnya?" tanya Arjuna mulai pucat karena efek dari cairan tak dikenalnya yang telah masuk ke tubuh.
"Pandanganku kabur, Tuan Muda. Aku tak begitu yakin," jawabnya dengan pandangan mulai tak menentu.
Hingga tiba-tiba, BRAKKK!! BLUSHH!!
"AGH!" rintih Naomi dan Arjuna bersamaan karena mobil yang mereka kendarai malah menabrak pohon besar di tempat tak mereka kenal.
Air bag muncul dan menyelamatkan Arjuna dari benturan di wajah serta kepalanya. Naomi jatuh terlentang di karpet mobil mengerang kesakitan.
Arjuna berusaha untuk tetap sadar dan menyingkirkan air bag dari wajah yang menghimpitnya. Ia merangkak dengan susah payah ke belakang.
__ADS_1
BRUKK!!
"Aggg!" rintih Naomi saat Arjuna malah jatuh menimpanya.
"So-sorry," ucap Arjuna yang mulai kehilangan tenaga dan kepala pusing.
Arjuna melihat ada banyak botol serum berjatuhan di karpet mobil. Ia memungutinya satu persatu dan membaca tulisan tersebut seksama, melebarkan matanya secara maksimal.
"Ini. Aku rasa ini penetral racun," ucap Arjuna menunjukkan botol serum ke hadapan Naomi.
Perlahan, Arjuna duduk di karpet dan menyender pada sisi pintu mobil. Naomi berusaha untuk bangun untuk mencari suntikan.
Ia kembali duduk dengan susah payah dan nafas tersengal. Ia membongkar kotak obat hingga akhirnya berhasil mendapatkannya.
"Aku saja," pinta Arjuna dan Naomi memberikan suntikan yang sudah ia robek plastik pembungkusnya dengan kedua tangannya.
Arjuna berusaha untuk tetap sadar dan fokus. Ia menusukkan ujung jarum ke tutup botol itu dengan melebarkan matanya dan menyedot semua cairannya.
"Mana suntikan yang lain?" tanya Arjuna, tapi Naomi sudah kembali ambruk, terlentang di karpet bekeringat hebat.
Arjuna panik dan segara menghampiri tubuh Naomi yang tergolek lemas. Arjuna memegang pergelangan tangannya dan mencari pembuluh vena.
Nafas Arjuna mulai tersengal, tapi ia bisa merasakan jika Naomi mulai lunglai tak bertenaga, tangannya dingin dan ia seperti hilang kesadaran. Arjuna panik.
"Naomi, bertahanlah, hah," pintanya saat mata Naomi mulai sayup-sayup seperti akan pingsan.
Arjuna segera menyuntikkan setengah cairan itu di pembuluh vena Naomi dan setengahnya untuk dirinya.
Arjuna bernafas lega karena setidaknya mereka tertolong meski tak tahu bagaimana dampak penetral racun pada mereka nanti.
Ia memandangi wajah Naomi yang masih pucat dengan nafas mulai tenang tak seperti tadi yang menderu layaknya orang setelah berlari kencang.
Arjuna tersenyum saat tangan kanannya menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik bodyguard-nya. Naomi diam saja terlihat begitu letih.
Namun, tiba-tiba, keduanya seperti orang panik dan gelisah. Naomi membuka matanya dan nafasnya kembali tersengal. Ia langsung duduk begitupula Arjuna yang berusaha bangkit dengan posisi push up.
"Panas! Panas sekali," ucap Naomi panik dan Arjuna mengangguk setuju.
Keduanya segera keluar dari mobil dengan tergesa. Naomi memegangi kepalanya begitupula Arjuna yang berdiri terhuyung dan berpegangan pada badan mobil agar tak ambruk.
"Oh! Sungai! Ada sungai di depan!" teriak Naomi menunjuk aliran sungai di depannya dengan mata melebar dan nafas menderu.
Arjuna dan Naomi berlari meski berulang kali jatuh karena rasa pusing menghampiri mereka. Keduanya melompat begitu saja ke sungai seperti orang hilang kewarasan.
BYURR!!
"Oh," ucap Naomi dan Arjuna saat tubuh mereka mulai merasakan kenyamanan setelah terkena dinginnya air sungai.
Nafas mereka kembali tenang. Arjuna malah sengaja menenggelamkan tubuhnya agar kepalanya ikut basah terendam air.
Naomi mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia melihat sekeliling di mana tempat itu gelap gulita jauh dari gemerlap kota. Ia mengambang dan berputar sembari mengelap wajahnya dengan air sungai itu.
Namun tiba-tiba, efek dari obat kembali bereaksi. Arjuna kembali muncul ke permukaan air terlihat menggigil.
"Hah! Dingin! Dingin!" teriak Arjuna dengan tubuh gemetaran.
__ADS_1
Naomi juga merasakan hal yang sama. Kini mereka kembali naik ke pinggiran sungai dengan tergopoh dan basah kuyup. Keduanya menggigil dan berjalan terhuyung ke mobil.
"Hah, kenapa seperti ini reaksinya? Apa salah serum penawar? Cairan apa yang diberikan Mr. White pada kita?" tanya Arjuna yang langsung melepaskan seluruh pakaiannya bahkan sepatunya begitu saja di luar mobil.
Naomi menggeleng cepat, memeluk tubuhnya erat. Arjuna yang hanya mengenakan boxer melihat Naomi masih mengenakan pakaiannya yang basah.
"Lepaskan! Atau kau terkena hipotermia. Aku akan menyalakan pemanas udara di mobil," ucap Arjuna mendatangi Naomi dengan nafas tersengal menahan dingin.
Naomi mengangguk cepat. Ia segera melucuti pakaiannya dan meletakkannya di atas mobil agar kering terkena hembusan angin.
Naomi segera masuk ke dalam mobil di dudukkan belakang, memeluk tubuhnya yang menggigil hebat. Arjuna berusaha untuk menyalakan mobil, tapi tak bisa.
"Agh! Sial! Kenapa tak menyala?" gerutunya memukul setir mobil. "Oh, ini lebih dingin dari latihan saat di Siberia. Dinginnya menusuk tulangku," ucap Arjuna dengan suara bergetar.
Arjuna melihat Naomi meringkuk di dudukkan belakang yang menggigil hebat hingga tubuhnya bergetar. Arjuna segera mendatangi dan duduk di sebelahnya.
Arjuna menutup semua pintu dan hanya pintu kemudi sengaja ia buka sedikit, agar mereka berdua tak kehabisan udara di dalam mobil.
"Kemarilah. Kita akan baik-baik saja. Tim penyelamat pasti akan mencari kita," ucap Arjuna yang merasa rahangnya sudah kaku.
Ia merasa sulit untuk bergerak dan bicara. Tubuhnya serasa membeku.
Naomi merapatkan tubuhnya ke pelukan Tuan Mudanya. Naomi berusaha untuk tetap sadar dan terus menghembuskan nafasnya dari mulut ke dada Arjuna di mana ia juga merasakan jika Tuan Mudanya menggigil hebat.
Arjuna duduk menyender dan memeluk Naomi erat seperti sebuah boneka Jepang yang cantik. Arjuna ikut menghembuskan nafas dari mulutnya ke pundak bodyguard-nya itu agar mendapatkan kehangatan darinya.
Tubuh mereka yang menggigil malah membuat gelayar aneh menyelimuti hati mereka. Naomi
yang kedua tangannya saling menggenggam di depan dada, perlahan memeluk punggung Tuan Mudanya dan membenamkan wajah di dadanya.
Jantung Arjuna berdebar kencang di dalam mobil yang tak bercahaya lampu dan gelapnya malam di luar.
Perlahan Arjuna mulai sadar jika ia memeluk bodyguard-nya yang hanya memakai pakaian da*am saja.
Tangan Arjuna bergetar saat ia memberanikan diri memijat kepala Naomi kuat dengan tangan kanannya.
Naomi yang duduk melipat kedua kakinya sembari memeluk erat Tuan Mudanya itu tertegun ketika ia merasakan tangan kiri Arjuna mengelus punggungnya perlahan.
Jantung Naomi ikut berdebar kencang terlebih saat ia mendengarkan deru nafas dan jantung Tuan Mudanya yang seirama ketika menyentuhnya.
Perasaan hangat tiba-tiba muncul di hati keduanya yang sedang mencoba bertahan sampai tim penyelamat tiba.
Naomi semakin merapatkan pelukannya saat ia merasakan Tuan Mudanya mulai menciumi kepala dan perlahan turun ke pundaknya.
Naomi gugup dan hanya bisa mematung, membiarkan Tuan Mudanya mulai menelusuri tubuhnya dengan kedua tangan.
Naomi semakin canggung ketika Arjuna memegangi wajahnya yang ia hadapkan ke
parasnya yang tampan.
Meski bercahaya redup, tapi Naomi cukup sadar dan melihat dengan jelas, saat mata Arjuna menatapnya lekat.
"Aku baru menyadari satu hal, Naomi dan aku sangat yakin apa itu," ucapnya lirih meraba pipi halus bodyguard-nya dengan ibu jarinya.
"Apa itu?" jawabnya gugup dengan nafas mulai kembali normal.
__ADS_1
"Aku mencintaimu."