4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Ketakutan Jonathan


__ADS_3

Tessa menarik nafas dalam mencoba menangkan hatinya yang kalut. Semua orang menatap Tessa seksama yang mencoba mengembalikan suasana rapat yang terasa canggung karena perselisihannya dengan Arjuna.


"Cassie sangat kejam. Ia tak akan pergi sampai melihat korbannya tak bernyawa. Aku sudah melihat Cassie membunuh banyak orang. Ia bahkan pernah menghajar Tobias karena mengatakan dirinya aneh."


"Oh, sungguh?" tanya Jonathan dengan mata terbelalak.


"Ya. Kalian tahu sendiri Tobias seperti apa. Cassie tak takut melawannya, padahal ia sudah babak belur oleh pukulan pria itu, tapi ia tak menyerah. Ia terus menyerangnya hingga Tobias ketakutan karena Cassie tak melepaskannya ketika berhasil menaiki punggungnya. Dari situlah, Madam melihat jika Cassie berbahaya. Cassie fokus pada tujuannya. Setiap bertemu Tobias, Cassie ingin membunuhnya, karena Tobias satu-satunya orang yang belum berhasil ia bunuh karena telah menyakiti hatinya," ucap Tessa terlihat ketakutan hingga pandangannya tak menentu.


Semua orang langsung terdiam dengan wajah tegang.


"Kau jangan menjanjikan hal-hal yang kau sendiri tak yakin, Jonathan. Cassie akan mengingat dan menagihnya. Seperti yang kudengar tadi soal hal sepele tentang ciuman, dia akan terus melakukan dan menagihnya sampai itu selesai. Ia menganggap itu sebuah misi. Aku bisa melihat kematian dari rasa cintamu padanya," tegasnya menatap Jonathan tajam penuh penekanan dalam tiap kalimatnya. Jonathan menelan ludah terlihat pucat seketika. "Cassie, bukan seperti gadis lainnya. Dia tak normal. Pikirannya polos, dan menerima semua pesan secara mentah, tak disaring. Dan itu, sangat berbahaya. Nyawamu, terancam, Jonathan."


Pemuda itu sesak seketika. Ia langsung menyenderkan punggung seraya memegangi dadanya. Semua orang ikut pucat mendengar kesaksian Tessa.


"Terima kasih atas penjelasannya, Tessa. Kami paham. Aku sangat senang kau berada di sini untuk meluruskan hal ini. Aku ... merasa memang Cassie seperti memiliki sisi lain yang sangat misterius, tak pernah kulihat dari siapapun yang pernah kutemui. Ia bahkan ... lebih buruk dariku," ucap Vesper menilai.


"Lebih buruk darimu? Kau yakin, Vesper?" tanya Bojan memastikan. Vesper mengangguk.


"Dia rapuh. Pikirannya sempit. Dia idealis, dominan dan mandiri. Sekilas seperti diriku saat masih muda dulu. Namun perbedaannya, aku dikelilingi oleh orang-orang yang peduli, sedang Cassie tidak. Ia hanya dimanfaatkan. Tak pernah merasakan hangatnya solidaritas dan kekeluargaan dalam hidupnya. Ia sendirian selama ini, tak ada yang mengarahkan atau menasehatinya. Dia ... menyedihkan."


Jonathan terdiam mendengar penuturan sang Ibu yang tak ia duga. Tessa mengangguk membenarkan.


Semua orang yang mendengar hal tersebut terlihat gelisah akan sosok Cassie yang kini ada dalam jajaran mereka.


"Aku rasa, rapat hari ini cukup sekian. Kalian sudah tahu tugas yang diberikan. Laksanakan dan laporkan semua ke Eiji. Kalian paham?" tegas Vesper dan para mafia itu mengangguk.


Orang-orang meninggalkan ruangan rapat. Jonathan masih duduk di kursinya terlihat gelisah saat mengetahui jati diri Cassie sebenarnya.


"Jonathan. Jika kau bersikap seperti ini, Cassie akan menyadarinya. Kau harus bisa mengontrol emosimu," ucap Vesper menatap anaknya seksama dari tempat ia duduk.


Jonathan beranjak dari kursi dan mendatangi Ibunya. Vesper terkejut saat Jonathan memeluknya erat.


"Nathan takut, Mah. Cassie serem," ucapnya pucat.


"Dia baik padamu, tak perlu takut," jawab Vesper seraya mengelus kepala anaknya lembut. "Kembalilah ke kamar. Kau berjanji pada Cassie dan memintanya untuk menunggu 'kan? Ingat kata Tessa, dia akan menagih semua janji yang dikatakan padanya. Kau harus menepatinya," tegas Vesper menatap anaknya tajam.

__ADS_1


"Singkirin Cassie, Mah. Nathan gak mau deket-deket sama Cassie lagi. Nathan ... takut," ucapnya terlihat bersungguh-sungguh dengan permintaannya.


Vesper menghembuskan nafas panjang terlihat tertekan, tapi ia mengangguk. Vesper berbisik ke telinga anak ketiganya dan Jonathan menatap Ibunya seksama.


"Kau mengerti?" Jonathan mengangguk. Ia lalu pergi meninggalkan ruang rapat dengan langkah ragu, meski sesekali masih menoleh ke arah Ibunya seperti enggan untuk pergi. "Kau akan baik-baik saja. Percaya padaku. Mama tak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Pergilah," ucap Vesper dengan senyuman.


Jonathan mengangguk dan akhirnya pergi meninggalkan ruang meeting.


Ternyata, gerak-gerik Jonathan terbaca oleh Cassie yang menunggunya di kamar, sedang duduk di sofa mengamatinya.


"Apa yang terjadi di ruang rapat selama aku tak ada? Apa kalian membicarakanku?" tanyanya menatap Jonathan yang bersikap lain karena memunggunginya, seperti menghindar. "Jonathan?"


"Hah?" kejutnya saat Cassie menyentuh pundaknya.


Cassie menyipitkan mata. "Kau ... takut padaku?"


"Ha? Oh, enggak. Nathan cuma capek aja," jawabnya mengalihkan pandangan.


Cassie menatap Jonathan tajam. CUP! Jonathan terkejut saat Cassie menciumnya di bibir sekilas. Jonathan menggeser langkahnya dan kini menuju ke kamar mandi mencuci tangan, masih mengenakan setelan lengkap.


"Kamu ... kapan pergi jalanin misi cari Sandara?" tanyanya seraya membuang tisu.


Cassie melepaskan pelukannya dan kini berdiri tegak di belakang kekasihnya, menatap Jonathan lekat dari pantulan cermin.


"Kau mengusirku?"


Jonathan melirik ke cermin sekilas dan kini beranjak dari kamar mandi ke ruang ganti untuk melepaskan jam tangan.


"Nathan cuma khawatir sama keadaan Sandara aja. Udah lama banget dia gak pulang. Gak ada yang bisa nemuin jejaknya," jawabnya dari ruang pakaian seraya melepaskan setelannya. "Kamu 'kan orang No Face, The Circle, jadi pasti tau markas-markas mereka yang gak kami ketahui. Kalau kamu yang cari, pasti cepet ketemunya. Semua orang berharap banyak padamu, Cas," sambung Jonathan yang telah mengganti pakaiannya dengan piyama.


Jonathan diam sejenak saat ia melihat dirinya di cermin ruang ganti. Jonathan menarik nafas dalam dan memejamkan mata sejenak seperti berusaha untuk mengatur nafasnya.


"Cas?" panggil Jonathan karena gadis yang selalu menguncir rambutnya seperti ekor kuda itu tak menjawab. "Cas?" panggil Jonathan lagi seraya melangkah keluar dari ruang ganti. "Cas? Cassie?!" pekik Jonathan panik karena gadis itu menghilang.


Mata Jonathan melebar saat melihat gaun yang Cassie kenakan tergeletak di lantai kamar mandi. Jonathan melihat jendela kamarnya terbuka lebar. Ia segera berlari dan melongok keluar.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, CLEB! BRUKK!!


Jonathan pingsan saat peluru bius menembak tengkuknya dan membuatnya tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Cassie berdiri di belakangnya dengan pistol bius dalam genggaman tak berpakaian. Wajah sendu terlihat dari paras ayunya. Matanya berkaca seraya berjalan mendekati Jonathan.


Cassie berjongkok dan menatapnya terlihat sedih, sebuah ekspresi yang tak pernah ia tunjukkan sejak kemunculannya.


"Kau ... sama saja dengan lainnya," ucapnya lirih.


Cassie kembali berdiri dan mengambil sebuah tas ransel di ruang pakaian Jonathan. Ia memasukkan beberapa benda yang Jonathan simpan secara rahasia dan menggendongnya.


"Aku tak akan kembali. Namun, kutepati janjiku untuk menemukan Sandara," ucapnya sedih.


Cassie mengenakan setelan khusus milik Jonathan dengan topeng gagak dalam genggaman tangan kanan serta pedang Silent Blue milik Jonathan yang telah ia rubah kepemilikannya dengan pergantian sidik jari saat anak ketiga Vesper tersebut pingsan.


"Selamat tinggal, Jonathan. Kau ... hanya akan tersimpan dalam album fotoku, dan aku akan mengambilnya dari Sierra."


Cassie melangkah keluar dari kamar Jonathan menuju ke kamar tempat Sierra dulu tempati. Ia menutup pintu kamar itu dan membuka almari pakaian besar warna putih.


Cassie masuk ke almari tersebut dan berdiri pada sebuah papan dengan ornamen bunga pada alasnya.


Cassie menunjukkan wajah datarnya saat ia mengulurkan telunjuk kanan untuk menekan sebuah ornamen bunga di atas kepalanya.


Seketika, KLIK! NGEKKKK!


Papan ornamen bunga tersebut turun ke bawah seperti sebuah lift. Tubuh Cassie seperti tenggelam ke dalam almari tersebut dan perlahan ia menghilang tak terlihat.


Dua menit kemudian, alas ornamen bunga itu kembali naik ke atas tanpa Cassie. Almari terlihat seperti semula, meski pintunya terbuka lebar.


***


minggu nanti lele up satu eps dulu ya karena mau ngisi acara seminar Career Day buat senen dan agak ribet bikin materinya karena buat anak-anak SD. Kwkwkw. Tengkiyuw tipsnya, lele padamu😍


__ADS_1


__ADS_2