
Arjuna mematung seketika saat melihat Tessa terlihat begitu cantik dan panas dengan lingerie warna merah menyala.
Terlihat jelas lekuk tubuhnya yang sintal dengan bra dan g-string ia kenakan. Jantung Arjuna berdebar kencang tak karuan saat Tessa beranjak dari sofa empuknya dan kini berjalan perlahan mendatanginya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau pria yang menepati, Juna. Kau datang padaku," ucap Tessa yang kini berdiri persis di depannya dengan tatapan menggoda.
"Ya, begitulah," jawabnya dengan mata tak bisa berpaling dari mata indah Tessa yang menghipnotisnya.
"Kenapa kau datang kemari mencariku?" tanya Tessa yang kini meletakkan kesepuluh jemari lentiknya di bahu anak kedua Vesper tersebut.
Jantung Arjuna berdebar. Dugaan ayahnya tepat jika Tessa akan menanyakan hal tersebut padanya.
Arjuna yang tak bisa berbasa-basi, ditambah tak terbiasa di sentuh wanita, terlihat gelisah dalam bersikap.
"Menikah denganku?" lolosnya begitu saja.
Tessa terkejut bukan main. Ia sampai melebarkan matanya dan melepaskan kedua tangannya di pundak Arjuna.
Tessa terlihat gugup. Arjuna bisa melihat kelemahan lawan, ia mulai mengambil alih.
"Kenapa, Tessa sayang? Bukankah ... kau sangat menginginkanku?" tanya Arjuna menatapnya lekat.
Tessa memalingkan pandangannya. Ia malah membalik tubuhnya dan kini memunggungi Arjuna. Anak lelaki Han melihat ada hal yang tak beres.
"Kau tak mencintaiku?" tanya Arjuna.
"Bu-bukan begitu. Ha-hanya saja ...," jawabnya gugup.
Tiba-tiba, CEKLEK!
"Nona Tessa, dia di sini," ucap lelaki berkulit hitam terlihat serius.
Mata Tessa melebar. Ia terkejut dan langsung mendorong tubuh Arjuna keluar dari kamarnya dengan tergesa.
Arjuna bingung karena merasa ia seperti di usir. Tessa terlihat ketakutan akan sesuatu. Arjuna melihat Sun sudah bersiap dan berdiri bersama para bodyguard Tessa yang terlihat panik.
"Hai! Ada apa?" tanya Arjuna langsung membalik badannya dan kini menatap Tessa tajam.
Tessa tak menjawab dan malah mencium bibir Arjuna lekat seperti enggan berpisah. Arjuna terkejut dan diam saja. Ia menatap Tessa tajam yang mengusap bibirnya dengan ibu jari dan senyum tipis.
"Percayalah, jika aku sangat mencintaimu, Kim Arjuna. Hanya saja, kau harus pergi sekarang. Go, now! Aku berjanji kita akan bertemu lagi," ucapnya mendorong tubuh Arjuna menjauh darinya.
Arjuna bingung. Tessa bergegas masuk ke kamarnya lagi dan menutup pintu. Arjuna dan Sun digiring ke tangga menuju ke lantai dua di sebuah ruangan seperti ruang kerja.
Keduanya bingung, tapi menurut. Hingga keduanya terkejut saat sebuah dinding bergeser seperti sebuah pintu. Ada lift khusus di sana.
Mereka dijaga oleh dua orang yang ikut masuk ke lift tersebut menuju ke sebuah ruangan besar di basement dengan banyak mobil terparkir di sana. Kening Sun dan Arjuna berkerut.
"Cepat! Keluarlah dari pintu itu. Ikuti saja terowongan sampai bertemu jalan raya. Minta anak buahmu menjemput dan jangan kembali kemari jika masih ingin melihat nona Tessa," tegas bodyguard Tessa berambut pirang.
"Memang kenapa? Ada apa? Kalian seperti takut akan sesuatu," tanya Sun sebelum ia keluar dari pintu seperti garasi di depannya.
"Bukan sesuatu, tapi seseorang," sahut bodyguard Tessa berambut hitam menegaskan.
"Who?" tanya Arjuna ikut penasaran dan menatap dua bodyguard Tessa tajam.
"Mr. White. Cepat pergi sebelum kalian bertemu dengannya," jawab si pirang membuka pintu garasi tersebut.
Arjuna dan Sun di dorong paksa keluar. Keduanya menatap pintu garasi yang kembali tertutup perlahan. Arjuna dan Sun saling memandang.
"Siapa itu Mr. White hingga Tessa seperti ketakutan dengannya?" tanya Sun curiga.
"Entahlah. Kita kembali masuk saja ke dalam dan mencari tahu," jawab Arjuna serius.
Saat Arjuna mengeluarkan belati Silent Blue untuk melubangi pintu garasi tersebut, Sun menahannya. Arjuna menatapnya tajam.
"Jangan, Tuan Muda. Ini sepertinya berbahaya. Banyak warga sipil yang akan terlibat. Ingat, kita tak boleh mencolok di depan publik. Sebaiknya kita mencari tahu nanti. Kondisi kita tidak mendukung," ucap Sun menasehati.
"Kau takut, Sun?" sindir Arjuna. Sun menghela nafas pelan.
"Bukan seperti itu. Hanya saja ...."
"The Ocean! Do you hear me? Over," panggil dari Bintang Red Ribbon.
"Yes. What happened?" tanya Sun langsung merespon.
"Naomi terlihat. Ia memasuki Club. Sepertinya ia mengikuti seseorang."
__ADS_1
"What?!" pekik Sun mengejutkan Arjuna.
"Apa apa?" tanya Arjuna panik.
"Lubangi pintu ini, Tuan Muda. Cepat!" tegas Sun yang mendadak berubah pikiran.
"Memangnya, ada a ...."
"Naomi ada di dalam!" potongnya cepat.
"WHAT?!" pekik Arjuna sampai matanya melotot.
SRINGG! BLANGG!
Arjuna melubangi pintu besi itu dan Sun mendorongnya kuat. Sun masuk terlebih dahulu sembari menenteng koper hitam dan pistol dalam genggaman tangan kanannya.
Arjuna mengikuti di belakang dengan belati Silent Blue dan pistol dalam genggaman kanan kiri kedua tangannya.
Mereka berjalan perlahan dengan penuh kewaspadaan menuju lift. Arjuna menatap Sun seksama.
"Bagaimana kita membukanya? Ini menggunakan akses khusus," tanya Arjuna menatap asistennya seksama.
Sun tersenyum tipis. Ia berjongkok dan membuka koper kerjanya. Arjuna berkerut kening saat Sun mengambil Access Card yang memiliki kalung tali seperti milik Naomi.
Sebuah kartu akses absensi untuk masuk ke Perusahaan ayahnya di Hong Kong.
Arjuna bingung ketika Sun mengambilnya dan menempelkan belakang kartu itu di depan papan tombol lift, seperti yang dilakukan oleh bodyguard Tessa untuk mengaktifkan tombol lift tersebut.
TING!
Arjuna terkejut karena pintu lift terbuka. Sun segera menenteng kopernya kembali dan mengalungkan ID Card-nya ke leher.
Arjuna menatap Sun seksama yang menekan tombol 2 ke lantai tempat mereka tadi diamankan.
"Kenapa bisa?" tanya Arjuna masih tak mampu menebak.
"Kartu Vesper. Pernah dengar?" jawab Sun tersenyum.
"Kau memilikinya?" tanya Arjuna kaget sampai matanya melebar.
Sun tersenyum. Arjuna merasa kecolongan. Ia tak pernah tahu hal itu padahal sudah sejak lama memilikinya. Arjuna merasa bodoh seketika.
TING!
Saat Arjuna membuka pintu itu sedikit untuk mengintip, ia terkejut ketika mendapati Naomi sedang mengendap seperti ingin menyusup ke lantai tiga.
CEKLEK!
"Hah? Emph!" pekik Naomi terkejut saat mulutnya dibekap dari belakang dan tubuhnya di tarik kuat, masuk ke sebuah ruangan.
DUAKK!!
"Argh!" rintih Arjuna saat hidungnya malah terkantuk kepala belakang Naomi hingga berdarah. Bekapannya terlepas seketika.
"Nona Naomi, ini kami!" pekik Sun dengan suara tertahan.
Naomi mengira orang yang membekapnya adalah musuh. Ia kaget bukan kepalang saat menyadari lelaki di hadapannya adalah Sun dan di belakangnya adalah Tuan Mudanya.
"Oh! Tuan muda?" pekiknya kaget.
"Shit," rintih Arjuna memegangi hidungnya yang berdarah.
"Ups. Sorry," ucap Naomi tak enak hati, tapi ia kembali bersikap seolah tak peduli.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Sun curiga.
"Aku tak sengaja bertemu lelaki berambut putih saat akan memasuki Bandara."
"Wait. Siapa maksudmu?" tanya Arjuna sembari mengelap darahnya dengan tisu yang ia temukan di atas meja kerja Tessa.
"Pria yang pernah berkelahi dengan kita di klinik Gangnam. Misi menggagalkan operasi Ms. White. Kau ingat?" tegas Naomi dan Arjuna langsung mengangguk cepat.
"Oh. Jangan-jangan, Mr. White adalah ...."
"Ya, Tuan Muda. Sepertinya begitu," sahut Sun meyakinkan.
Saat ketiganya sedang serius membicarakan hal ini, tiba-tiba pintu tersebut terbuka.
"Hei, siapa di sana?!"
__ADS_1
DUAKK!
Naomi reflek mendorong pintu tersebut hingga wajah dan tubuh orang itu terbentur pintu. Lelaki tersebut langsung jatuh terlentang.
"Cepat pergi!" pekik Sun.
Naomi dan Arjuna segera berlari keluar dari ruangan. Mereka bertiga terkejut ketika mendapati banyak bodyguard di sekitar ruangan, terlebih sosok Mr. White muncul bersama Tessa dari pintu lift yang terbuka.
Mata Tessa melebar seketika. Spontan, Naomi, Sun dan Arjuna terkejut, menghentikan langkah seketika.
SHOOT! CLEB!
"Argh!"
"Naomi!" pekik Arjuna panik ketika Mr. White tiba-tiba saja mengarahkan moncong pistol dan sebuah peluru jarum menancap di leher Naomi yang melindungi Tuan Mudanya.
Naomi terhuyung ke belakang dan dengan sigap, Arjuna segera menangkapnya. Sun dengan cepat melemparkan koper hitamnya ke kumpulan orang-orang di hadapannya.
"Kembali ke dalam!" pekik Sun mengarahkan pistol ke orang-orang itu sembari berjalan mundur.
Arjuna segera menarik tubuh Naomi yang mulai lunglai ke ruangan tempat mereka muncul tadi.
DOR! DOR!
Arjuna, Sun dan Naomi berhasil masuk ke dalam ruangan. Sun kembali menempelkan kartu Vesper miliknya ke sensor televisi yang tertempel di dinding seperti yang dilakukan oleh bodyguard Tessa tadi.
Arjuna memegangi Naomi erat yang berusaha untuk tetap sadar meski terlihat ia mulai pucat seperti menahan sakit di tubuhnya.
TING!
"Cepat masuk!" pinta Sun.
Ketiganya segera masuk. Saat anak buah Tessa berhasil menyusul, Sun tersenyum miring ketika memegang sebuah pulpen dalam genggaman dan ibu jarinya sudah menempel di sana.
KLIK!
BLUARRR!!
Arjuna dan Naomi terkejut saat merasakan goncangan dalam lift yang telah tertutup. Arjuna menatap Sun tajam saat lift berhasil turun ke basement.
"Ke mobil di sana!" teriak Sun sambil berlari menunjuk sebuah mobil SUV hitam yang terparkir.
Arjuna menggendong Naomi yang mulai lunglai dan berkeringat banyak, padahal tak terluka sedikitpun.
BROOM!! BRANGG!!
Sun menabrak pintu garasi. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, keluar dari terowongan hingga akhirnya mereka menemukan jalan raya sepi seperti yang dikatakan bodyguard Tessa.
"Apa itu tadi?" tanya Arjuna menatap Sun tajam dengan Naomi duduk pucat di sampingnya.
"Koper pemberian tuan Q sebagai antisipasi jika keadaan terdesak. Kita tadi ... sedang terdesak 'kan?" tanya Sun melirik Arjuna dari spion tengah sembari mengemudi. Terlihat ia khawatir dengan aksinya.
"Hem. Kerja bagus, Sun," jawab Arjuna menepuk pundaknya dengan senyuman.
Sun terlihat lega. Namun, mereka mulai khawatir karena Naomi merintih dan terlihat ia begitu kesakitan.
"Naomi! Kau tak apa?" tanya Arjuna panik sembari mengambil peluru jarum yang Naomi genggam setelah ia mencabutnya begitu tertembak.
Arjuna menatap peluru yang berisi cairan itu seksama. Ia melihat masih ada setengah cairan di dalamnya.
"Tuan, kita ...."
BRANGG!!!
"AGGG!"
CLEB!
Tiba-tiba, muncul sebuah truk yang menghantam mobil Arjuna dari samping di bagian pintu tempat ia duduk.
Arjuna terkejut saat tak sengaja, peluru jarum itu ikut menancap di dadanya, menembus kemeja putihnya.
"Oh, shit!" keluhnya saat mencabut peluru itu di mana cairannya sudah terserap ke dalam tubuh.
***
Nah, karena gak ada tips masuk jadi hari ini satu eps aja. Tengkiyuw. Lele padamu💋💋💋
tapi lele mau ksh tau bagi kalian para pengguna Audio Room di Mangatoon/Audiotoon.
__ADS_1
Bisa datang dan ikuti acaranya. Bisa tanya2 langsung nanti ke lele di sesi tanya jawab dr pd nunggu balesan komen di novel. Kwkwkw. Ditunggu kedatangannya 😘