4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Ambisi Lysa


__ADS_3

Baiklah, SIMULATION sudah tamat. Kalau nanti SIMULATION up itu berisi pengumuman aja ya. Terima kasih sudah sabar menunggu 4YM dan semoga bisa tamat sesuai jadwal akhir Februari ini. Amin❤️


Lalu kabar selanjutnya, 1 Februari nanti novel baru muncul pengganti SIMULATION yakni The Red Lips💋 Nanti cek aja di profil Lele, dan cari novel dengan cover seperti yang terlampir di bawah ini.


Segera favoritin sebagai bacaan baru. Kisah ini gak ada kaitannya dengan Vesper and the gank ya. Terima kasih dan lele padamu😍



----- back to Story :


Lysa malah membuat kekacauan di warung ramen milik sang ibu—Vesper. Lysa melukai Black Armys dan merusak usaha legal di tempat tersebut.


Namun, salah satu penjaga yang masih bersiaga di ruang bawah tanah segera mengirimkan alarm peringatan kepada markas yang lain.


Tentu saja, hal itu mengejutkan semua orang di bawah jajaran Vesper yang berada di Jepang. Sayangnya, sang Ratu tak tahu perbuatan anak pertamanya karena fisiknya mulai melemah.


Rambut Vesper mulai rontok karena serum tak lagi bisa mempertahankan hidupnya. Semua orang terlihat sedih, meski sang Ratu tetap tersenyum dalam sakitnya.


DUAKK!! BRAKK!!


"Agh!" erang salah satu penjaga saat dadanya ditendang hingga ia menabrak pintu toko yang terbuat dari papan kayu itu.


Pintu tersebut jebol dan membuat pria itu mengerang kesakitan di tepi jalan. Saat ia akan bangkit, pria itu melihat seseorang berdiri dengan membawa pedang seperti yang Lysa tunjukkan. Praktis, mata Black Armys itu melotot.


Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


"Hei! Hei!" seru Black Armys Vesper saat melihat sosok pembawa pedang berlari setelah keberadaannya terlihat. "Lysa! Dia di sana! Itu pria yang membawa pedang merah!" teriak Black Armys tersebut memegangi dadanya.


Praktis, Lysa langsung menoleh ke luar. Anak pertama Vesper tersebut berlari kencang seraya membawa pedang yang tadi ia letakkan di atas meja.


Lysa melihat sosok berpakaian hitam yang ditunjuk oleh anak buah Vesper. Lysa segera mengejar dan meninggalkan keributan yang ia buat.


Para pegawai di toko sekitar ramen milik Vesper mendatangi kedai tersebut. Mereka tampak panik melihat warung tetangganya rusak karena ulah seorang perempuan.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang pegawai toko kue dango yang bersebelahan dengan warung ramen.


Black Armys yang berada di luar tampak bingung menjawab.


"Wanita itu mabuk. Ia mengira kami menyembunyikan selingkuhan suaminya. Dasar gila! Siapa sangka jika dia bisa ilmu pedang. Untung saja dia membawa pedang kayu. Jika sungguhan, kami sudah mati semua," jawab Black Armys tersebut berdalih.


Para pegawai dari toko lain tampak iba. Mereka lalu membantu tetangga mereka untuk merapikan toko. Para penjaga dari kubu Vesper bernapas lega karena polisi tak perlu datang ke lokasi.


Penanggungjawab warung ramen mengatakan tak akan mempermasalahkan hal tersebut mengingat tak ada yang terluka parah.


Soal perabotan yang rusak, petugas warung mengatakan jika memang sudah seharusnya diganti dengan yang baru. Namun tetap saja, kejadian itu menjadi bahan perbincangan sekitar wilayah tersebut.


Di tempat Lysa berada.


Pria yang disinyalir adalah pembunuh Tobias berlari kencang. Kali ini, Lysa yakin jika lelaki itu adalah pembunuh suaminya.

__ADS_1


Saat Lysa sudah hampir berhasil menangkap pelaku tersebut dengan mengulurkan tangan kiri untuk menarik caping yang dikenakannya, tiba-tiba saja, SREETTT!!


"Agh!" erang Lysa ketika muncul seseorang dari sebuah gang ketika ia berlari.


Lengan kiri Lysa tersayat dengan pedang dari sarung warna merah yang digunakan oleh orang tersebut.


Lysa memegangi lengannya yang sakit dan menatap orang itu tajam yang menutup wajahnya dengan masker. Matanya tak terlihat karena ia menggunakan caping.


TANG!!


Beruntung, kali ini Lysa melihat serangan kedua dari sosok lain yang muncul dengan pedang yang serupa dari sisi kanan.


Mata Lysa melebar. Ia baru menyadari jika tak hanya satu orang yang menggunakan pedang pembunuh Tobias.


Lysa segera bergerak mundur seraya melihat dua musuhnya secara bergantian. Dua orang itu berdiri tegap seraya menggenggam pedang yang sama termasuk pakaian yang dikenakan.


"Arrghhh!" erang Lysa marah dan mulai melakukan aksi balas.


Lysa melangkah maju seraya menyabetkan pedang Silent Blue miliknya tanpa menyalakan laser. Ia kini serius dengan serangannya.


Namun siapa sangka, dua orang itu cukup lincah dan bisa menangkis semua serangan yang Lysa tujukan pada keduanya secara bergantian.


Saat Lysa menangkis serangan pedang dari sisi kanan dengan Silent Blue, lawan dari sisi kiri ikut melakukan serangan dengan ujung pedang ia hunuskan ke arahnya.


Lysa menarik pedang pembunuh Tobias yang ia selipkan di pinggul sebelah kiri untuk menangkisnya.


"Agh!" erang lawanya itu.


Seketika, kening Lysa berkerut. Ia baru menyadari jika lawannya tersebut seorang perempuan karena suara barusan.


GRAB!


"Agh!" erang lawannya itu lagi saat Lysa dengan sengaja menyentuh dadanya.


Wanita berpakaian serba hitam itu menangkap tangan Lysa dan memplintirnya kuat hingga tubuh Lysa menyamping.


KRAKK!


"Agggg!" erang Lysa kesakitan saat tangan kirinya terdengar retakan cukup santer.


Pedang pembunuh Tobias terjatuh dari genggamannya. Lysa masih menahan serangan lawan di sisi kanan menggunakan Silent Blue.


Namun, Lysa tak menyerah. Ia menggunakan kaki kirinya untuk menendang kaki lawan di sisi kiri dengan kuat hingga wanita itu langsung membungkuk dan melepaskan cengkeraman.


SRINGG! KLANG!


DUAKK!


"Ugh!" erang lawan di sisi kanan saat Lysa mengaktifkan laser dari pedang Silent Blue dan membuat bilah pedang lawan terbelah.

__ADS_1


Lysa lalu menendang perut lawan hingga orang itu merintih. Namun lagi-lagi, Lysa menyadari jika lawan lainnya juga seorang perempuan. Saat Lysa akan menangkap mereka, tiba-tiba ....


BUZZ!


"Uhuk! Uhuk!"


Sebuah bom asap muncul di dekat kakinya dan membuat pandangan Lysa kabur. Kepulan asap putih itu menyeruak di sekitarnya.


Lysa melihat tiga pedang pembunuh Tobias berada dekat kakinya. Lysa mematikan laser Silent Blue dan segera menyarungkannya di pinggul sebelah kiri. Ia lalu mengambil tiga pedang merah itu dengan tangan kanannya.


Lysa berlari keluar dari kepulan asap yang mulai menyesakkan dada dan membuat matanya perih.


Lysa berlari tergopoh menjauh dari tempat pertarungan hingga ke tepi pantai yang sepi. Napas Lysa tersengal dan ia ambruk di dermaga.


Lysa menyender pada pagar pembatas. Napasnya tersengal dan tangan kirinya sakit. Lysa meletakkan pedang pembunuh Tobias dan mensejajarkannya. Ia melihat pedang itu dengan saksama, tapi perlahan air matanya menetes.


"Arghhh!" erangnya marah dengan tangisan.


Lysa menekuk kedua kakinya dan memeluk dengan tangan kanan. Lysa menangis sedih dan membiarkan tangan kirinya yang sakit terjuntai begitu saja.


"Hiks, mereka mempermainkanku ... Mereka mempermainkan penderitaanku ... Kurang ajar, tak bisa dimaafkan," ucap Lysa sampai wajahnya tergenang air mata.


Namun perlahan, Lysa bisa mengendalikan kesedihannya. Ia mengumpulkan tiga pedang itu dan memasukkannya dalam tas termasuk pedang Silent Blue miliknya.


Lysa berdiri perlahan dan berjalan mencari klinik dengan bantuan aplikasi dari ponsel. Lysa mengobati lukanya di sana. Dokter jaga tampak iba dengan kondisi Lysa, tapi wanita cantik itu mengatakan baik-baik saja.


Lysa beralasan jika ia tadi bertemu dengan pencopet. Ia berusaha mempertahankan tasnya dan berhasil, tapi imbasnya, ia terluka.


Dokter itu salut dan mengizinkan Lysa untuk menginap di kliniknya semalam. Lysa yang sedang dirundung kesedihan itu menerima tawaran baik tersebut. Lysa diberikan sebuah kamar untuk menginap.


Selama Lysa bermalam di kamar pasien, ia tetap sibuk memetakan wilayah. Ia berasumsi, jika banyak pembunuh palsu yang berkeliaran dan mereka pasti sedang mengawasinya. Lysa merasa jika keberadaannya diketahui oleh penjahat itu.


"Apakah ... ini sebuah jebakan? Ia tahu aku akan datang mencari pembunuh Tobias. Ia lalu menyebar beberapa orang dengan menggunakan ciri-ciri seperti yang dituliskan padaku. Jika itu benar, kenapa ia melakukannya? Lalu ... apakah petunjuk itu sungguh akan membawaku kepada pembunuh sebenarnya? Bagaimana jika semua petunjuk itu palsu dan ada orang yang sengaja ingin membunuhku?" tanya Lysa mulai menduga setelah ia mengalami banyak hal selama di Jepang.


Namun seketika, seringainya keluar.


"Baguslah jika ia sudah mempersiapkan banyak kloningan. Aku tak segan untuk membunuh mereka semua. Pasti, diantara pembunuh palsu itu, ada satu yang asli. Kau akan ketemukan, Penjahat," ucap Lysa bengis dengan pedang pembunuh Tobias ia tatap lekat di atas kasur ia duduk.


Saat fajar menjelang, Lysa pergi diam-diam dari klinik tersebut. Meski tangannya terluka dan terbalut perban, ambisinya untuk menemukan pembunuh Tobias tak meredup.


Lysa bergerak keluar dari Yokohama dan kini menuju ke Shizuoka. Lysa menggunakan kereta untuk mengunjungi salah satu usaha legal Vesper di sana.


Lysa sengaja mendatangi wilayah kekuasaan sang ibu karena ia yakin, jika para kloningan itu berada di sekitar markas milik Vesper entah apa tujuannya.


***



Tengkiyuw tipsnya💋 Lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2