4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Lima Usaha Kai*


__ADS_3

Sedang di sisi lain tempat Jonathan berada, Black Castle.


Pemuda itu ikut dibuat kerepotan. Anak buahnya yang berada di seluruh penjuru dunia kini berkumpul di kastil megah peninggalan William Charles.


Black Armys milik Vesper telah diusir olehnya dan kini, tentara Vesper berkumpul di Grey House.


Sayangnya, One yang telah mengetahui hal itu terlihat tak mempermasalahkan pelimpahan dari anak buah Vesper.


Verda telah menyiapkan tempat untuk penempatan mereka nantinya setelah mendapat persetujuan dari sang Ratu.


Vesper dan rombongannya akan singgah di Grey House untuk mengurusi anak buahnya yang kini menunggu instruksi pekerjaan dari bos besar mereka.


Dampaknya, Venelope, Sierra, Click and Clack terkena imbas. Mereka ikut kewalahan mengurusi pembagian pekerjaan dari pos darurat yang dimiliki Jonathan.


Sayangnya, jumlah pasukannya lebih banyak dari tempat usaha yang dimiliki. Sistem penggajian pun menjadi kacau, di mana banyak dari mereka yang tak tahu bagaimana mengelola bisnis.


"Selama mereka di sini tak melakukan apa pun, kita tetap mengeluarkan biaya, Jonathan. Kau sudah menghabiskan banyak uang saat membeli persenjataan Vesper dan Boleslav. Buruknya, senjata-senjata itu kini dirampas oleh Miles dan akan digunakan untuk menyerang kita. Sungguh miris," ucap Sierra terlihat kesal karena menuruti ide gila kekasihnya waktu itu.


"Gak usah ungkit masa lalu! Sekarang pikirin, gimana itu bagi 1000 orang ke usaha yang Nathan punya. Uang-uang yang udah Nathan keluarin, harus balik tiga kali lipat!" serunya.


"Kaupikir, uang-uang itu bisa datang sendiri, ha? Beruntung, Zaid masih mau menerima anak buahmu untuk mengurus usaha wedding organizer meski harus berbagi dengan Black Armys Vesper. Kau tak memikirkan semuanya dengan matang. Sekarang kau kelabakan dengan keegoisanmu," tegas Sierra sebal.


PRANG!


Sierra dan lainnya terkejut saat Jonathan membanting gelas minumnya hingga serpihan kaca dan air mengotori lantai. Sierra menarik napas dalam terlihat begitu bersabar.


"Aku tak bisa menemanimu di sini. Jangan lupa, aku juga memiliki perusahaan. Aku seorang CEO di Robicon Coorporation. Begitupula Venelope yang kini ikut kutugaskan untuk mengurusi Golden Coorporation. Termasuk Click and Clack yang ikut terlibat dalam pengurusan Gold Coorporation. Kami tak bisa di sini untuk mengurusi usahamu," ucap Sierra serius menatap Jonathan.


"Kalian meninggalkanku?" tanya Jonathan melotot tajam pada Sierra dan lainnya.


"Kami sudah membantumu sejauh ini. Kami hanya akan menolong sampai penempatan anak buahmu. Setelah itu, kami harus kembali ke pekerjaan utama. Kami juga menaungi banyak pekerja yang membutuhkan kami. Bukan kau saja Bos untuk usaha-usaha yang kaulakoni, Jonathan, tapi kami juga. Kami memiliki tanggungjawab besar sepertimu," tegas Sierra.


Jonathan terlihat shock. Ia memijat kepalanya yang mendadak terasa berat dan pusing karena semua beban yang diterimanya.


Sierra, Venelope dan mantan bodyguard Madam menatap Jonathan saksama.


"Peluangmu hanya satu. Temukan Cassie, meskipun dia bodoh, tapi ia bisa menemanimu. Aku rela kau bersamanya, karena jujur Jonathan, meski aku mulai menerimamu dalam hatiku, tapi sikapmu jelas bertentangan dengan tipe pria idamanku. Kau memang tampan, bersyukurlah pada keturunan Benedict yang memiliki kutukan fisik sempurna. Kau beruntung karena warisan yang kaudapat dari ayah dan kakekmu. Masalahnya adalah, apakah kaubisa menjaga wasiat itu?" tanya Sierra seraya beranjak dari dudukkan lalu melangkah pergi diikuti Venelope, Click and Clack.


Jonathan terdiam. Ia terlihat tertekan dan bingung. Ia melirik ke arah dinding di ruang kerjanya.


Ada sebuah foto keluarga dengan sosok William Charles, Nyonya Evelyn, Pustakawan Tom, Erik Benedict, Ivan Benedict, Vesper dan dirinya saat masih bayi dalam gendongan sang ibu.


Jonathan tertunduk terlihat sedih. Entah apa yang dipikirkannya, pemuda itu seperti berusaha agar tak menangis.


Ia melipat kedua tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya agar tak ada yang tahu jika ia sedang berduka.


...***...


Akhirnya, Vesper dan rombongannya tiba di China setelah menempuh penerbangan hampir 9 jam dari Turki menuju China.


Sore itu, mereka dijemput oleh Black Armys kiriman One karena Vesper ingin singgah ke Grey House terlebih dahulu untuk menuntaskan urusannya dengan anak buahnya yang dipulangkan oleh Jonathan.

__ADS_1


Vesper tak terlihat kaget, termasuk dua suami dan tujuh bodyguard-nya. Mereka seperti sudah mengetahui gerakan dari anak-anak Vesper yang mulai membelot dari kendali sang ibu.


"Halo, Adik tiriku. Hem, merindukan rumah lamamu?" tanya One berkesan menyindir.


Vesper terkekeh tak menjawab, tapi memeluk kakak beda ibu itu dengan senyum terkembang.


Sang Ratu disalami oleh banyak orang yang telah menunggu kedatangannya sejak dikabarkan jika ia dan rombongannya akan singgah sebelum memulai tour pensiunnya.


"Terima kasih sudah menjaga Grey House untukku," ucap Vesper saat Verda membuka pintu rumah kacanya yang terlihat tetap terawat.


"Tentu saja. Banyak kenangan tersimpan di sini. Aku tahu," sahutnya dan membuat Vesper kembali tersenyum.


"Istirahatlah, lalu kita akan makan malam bersama di markas Sarang Semut. Semua tentaramu tak sabar menunggu kehadiranmu. Jangan lupa pidato sambutan," tegas Verda yang membuat senyum Vesper sirna seketika.


"Pidato? Haruskah?" tanya Vesper terlihat tak siap, tapi Verda seakan tak peduli. Vesper mengembuskan napas panjang.


Saat Vesper membalik tubuhnya, ia terkejut melihat Han dan Kai sudah merebahkan diri dengan mata terpejam di sisi kanan kiri ranjang.


Sang Ratu yang lelah, akhirnya ikut serta merebahkan diri di antara mereka. Han dan Kai dengan sigap menyambut sang isteri yang pasrah untuk digempur sore itu.


Malam harinya, Vesper, Han dan Kai yang telah mengenakan pakaian senada, terlihat siap untuk menyapa para Black Armys di Aula Sarang Semut. Ruangan itu sesak seketika.


"Aku ucapkan terima kasih atas kesetiaan kalian padaku selama ini. Aku juga minta maaf karena kalian dipulangkan oleh Jonathan tanpa diberikan pesangon dan sebagainya. Namun, jangan khawatir, aku telah menyiapkan tempat untuk kalian semua. Hidup kalian akan terjamin dan terfasilitasi di bawah naunganku," ucap Vesper santai.


"Woho!" seru para Black Armys seraya bertepuk tangan menyambut kabar itu dengan gembira.


Vesper lalu meminta kepada Eiji untuk menunjukkan beberapa tempat yang telah Vesper petakan di mana para Black Armys buangan Jonathan akan tinggal.


Orang-orang itu menatap layar 50 inch itu saksama yang diletakkan pada sisi kiri dan kanan.


Semua orang tampak tegang di mana Vesper diam-diam melebarkan kekuasaan melalui nama dua suaminya.


"Beberapa diantaranya telah selesai dibangun dan siap beroperasi. Sisanya masih dalam tahap pembangunan. Oleh karena itu, beberapa dari kalian akan ditugaskan sebagai tenaga pekerja bangunan dan sisanya sebagai karyawan untuk menjalankan bisnis. Kami sudah memilih 500 orang dari kalian untuk pembagian tugas," jelas Vesper. Para Black Armys mengangguk siap.


"Lalu, 500 sisanya akan bekerja kepada para anggota Dewan yang memiliki usaha legal dengan pos darurat di dalamnya," sambung Han.


Para Black Armys level M itu terlihat tak sabar menerima pekerjaan baru mereka.


Eiji dengan sigap menampilkan sebuah tempat usaha milik Kai. Suami termuda Vesper berdiri untuk melakukan presentasi lanjutan.



"Chili. Aku membuat sebuah usaha Cafe and Bar di Isla Grande de Chiloé. Tempat itu telah siap untuk beroperasi awal Mei nanti. Aku membutuhkan 25 pekerja untuk mengelola bisnis itu dan 25 Black Armys penjaga pos darurat yang aku tempatkan di basement," ucapnya.


Eiji lalu menampilkan nama-nama Black Armys yang telah Kai pilih dari riwayat tugas mereka selama ini.


Tentu saja, para Black Armys yang terpilih begitu senang karena mendapatkan pekerjaan di mana mereka sebelumnya dianggap sampah oleh masyarakat di negaranya dulu.


"Terima kasih, Tuan Kai!" seru kelima puluh orang itu seraya berdiri dan membungkuk hormat. Kai tersenyum dan mengangguk pelan.


Eiji lalu menampilkan usaha kedua milik Kai. Ternyata, usaha yang Kai pilih berlokasi di tepian pantai. Ia sengaja, agar pengiriman bantuan cepat dilakukan melalui jalur air dan darat.

__ADS_1



"Selanjutnya, di Liberia. Sebuah usaha restoran aku pilih, di pinggir pantai. Tempat ini juga nantinya akan mempekerjakan 25 Black Armys sebagai pegawai dan 25 Black Armys sebagai penjaga pos darurat. Aku sudah memilih nama-nama yang akan mengoperasikan usahaku itu. Selamat," ucap Kai seraya menunjuk ke arah layar ketika nama dari 50 orang itu terpampang.


Senyum kebahagiaan kembali muncul di wajah orang-orang yang terpilih. Kumpulan orang dari berbagai ras itu tampak bersyukur dengan kepercayaan yang Kai berikan pada mereka.


"Terima kasih, Tuan Kai!" seru orang-orang itu serempak.


"Dan tentu saja, wilayah berikutnya adalah Indonesia," ucapnya dengan senyuman.


Para Black Armys asal negara itu terlihat siap, seperti sudah merasa jika mereka yang terpilih nantinya.


Dan benar saja, saat Eiji menunjukkan daftar nama, orang-orang itu bersorak gembira.


"Kan, bener kataku. Kita pasti pulang ke bumi pertiwi," ucap salah seorang Black Armys gembira dan diangguki oleh kawan-kawan senegaranya.


"Aku memilih Manado, Sulawesi Utara. Tempat itu berdekatan dengan Filipina dan juga pulau-pulau besar di Indonesia. Walaupun jarak sedikit menyulitkan kita dalam memberikan bantuan, tapi setidaknya, kita memiliki pos darurat di wilayah itu," tegas Kai dan semua orang mengangguk paham.



"Aku terinspirasi dengan barak milik kita. Jadi, aku membuat sebuah Hostel dengan berbagai jenis type kamar. Detail, akan aku jelaskan saat penempatan," ucap Kai tenang, berdiri menghadap calon karyawannya.


"Hostel ini dilengkapi dengan Cafe, penyewaan mobil dan sepeda motor pagi para turis, serta paket tour di sekitar wilayah. Aku membutuhkan banyak orang. Kalian lihat sendiri, 100 orang sebagai pegawai, dan 25 orang di pos darurat," tegasnya. Semua orang mengangguk paham.


Eiji dengan sigap melanjutkan dengan tampilan lainnya di mana Kai akan mempresentasikan 2 usaha yang tersisa hari itu.


Vesper terlihat bangga dengan suaminya yang diam-diam memiliki rencana jangka panjang dalam hidupnya. Han terlihat sabar menunggu antrian presentasi.



"Selanjutnya, Yunani. Setelah tragedi yang terjadi pada Sun, aku berinisiatif untuk memiliki pos darurat di wilayah itu. Beruntung, ada sebuah usaha cafe yang bankrupt dan rumah itu dijual. Aku sengaja tak mengubah nama dan kepemilikian dari pengusaha sebelumnya. Itu bagus untuk mengantisipasi pelacakan dari militer. Malah, pemilik sebelumnya bersedia bekerja untukku. Namun ingat, pemilik cafe itu tak tahu siapa kita sebenarnya. Jadi, jangan sampai rahasia kita terbongkar. Kalian mengerti," tegas Kai menunjuk para Black Armys yang duduk di hadapannya.


"Yes, Mr. Kai!" jawab orang-orang itu serempak.


"Aku membutuhkan 25 pegawai dan 25 penjaga di pos darurat Yunani," sambungnya. Orang-orang yang terpilih mengangguk paham. "Oke, yang terakhir," ucapnya seraya menunjuk layar. Semua orang serius memperhatikan.


"Mauritania," ucapnya yang membuat kaget semua orang di mana tempat itu memiliki kisah tragis Sandara, puteri tunggal Kai. "Aku ingin memastikan, tak ada satu pun dari kita yang menderita di tempat itu lagi. Cukup Sandara. Oleh karena itu, aku sengaja membangun sebuah usaha dekat pantai untuk mengawasi tempat itu. Firasatku mengatakan jika salah satu anak dari pak Sutejo, masih menguasai tempat itu," tegasnya. Semua orang tampak serius seketika.


"Aku akan membuat sebuah mini market. Sekarang masih dalam proses perizinan dan nantinya akan segera dibangun begitu selesai pengurusan legalitas. Oleh karena itu, aku membutuhkan 20 orang Black Armys pekerja bangunan yang siap ditugaskan untuk mewujudkan tokoku. Selanjutnya, aku akan mempekerjakan 10 orang pegawai dan 15 penjaga di pos darurat," ucapnya dengan daftar nama yang telah ditunjuk tertera di layar tersebut.


Para Black Armys yang telah mendapatkan pekerjaan, mengangguk siap dan tak sabar untuk segera bekerja.


Kai kembali ke tempat duduk dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari semua orang, termasuk Vesper yang menghadiahkan kecupan manis di pipinya.


Kai membalasnya dengan senyum terkembang, sedang Han bersungut kesal.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ Maap kesorean, kerjaan banyak gaes ampe belom mandi dan makan ya ampun. Semoga selalu diberikan kesehatan. Amin


__ADS_2