
Gaes mau info. Ternyata lele positif terpapar covid dari bang monster, termasuk hula-hula. Dan, eke mulai merasakan gejalanya yang bikin lele sampai sulit buat ngetik. Sumpah, baru kali ini lele ngerasain sakit kaya begini. Jadi pas lele mendingan, lele akan fokus up Love Is Henry dulu karena kontrak di sana ketat. Untuk sementara, up novel di MT akan bolong2 dulu sampai lele pulih sepenuhnya. itu aja info dari lele dan terima kasih doanya. Reader LAP jaga kesehatan ya. Lele padamu❤️ Masih eps bonus dari tips mak ben😆
---- back to Story :
Sandara dan Jordan berhasil diselamatkan oleh dua algojo Amanda. Namun, siapa sangka, kabar dari Banu benar adanya jika ibunya disekap oleh Miles.
Terlihat, wanita tua itu begitu berantakan dengan bekas terikat di pergelangan kedua tangannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Kami tak mengerti yang ia katakan. Dia tadi mengajak kami berbicara. Sayangnya, kami berdua tidak bisa menjawabnya," ucap Match karena tak memakai earphone translator.
Sandara menatap wanita tua itu saksama yang terlihat takut sampai tak berani menatap orang-orang di depannya.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Anda ibu dari Banu?" tanya Jordan dan diangguki oleh wanita beruban itu.
"Bagaimana kondisi anakku? Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya terlihat cemas. Jordan mengangguk dengan lesu. Sandara masih diam menyimak.
"Kita harus segera pergi dari sini. Anak buah Miles masih mengawasi kita. Apalagi jika tahu kalian selamat," pintanya.
Jordan dan lainnya mengangguk, tapi Sandara masih menatap wanita itu tajam saat berjalan bersama lainnya. Sandara mengikuti di belakang seraya melihat sekeliling.
"Di mana mobil kalian?" tanyanya menatap Mix yang menggendong Jordan.
"Di luar wilayah ini," sahut Jordan cepat.
Wanita itu mengangguk pelan. Sandara menyipitkan mata dan tetap diam hingga mereka tiba di mobil yang tak terkena dampak ledakan.
Mix and Match duduk di bangku depan. Sedang Sandara dan Jordan, duduk di bangku tengah. Wanita yang diyakini ibu Banu duduk di belakang sendirian.
"Sudah berapa lama Anda disekap, Nyonya?" tanya Sandara ramah seraya menoleh ke belakang.
"Entahlah, aku tidak tahu. Namun, rasanya sudah lama sekali. Aku tak tahu kapan pagi dan malam hari. Aku dimasukkan dalam ruangan sendirian dan hanya diantarkan makanan oleh petugas sehari dua kali. Itu pun hanya roti dan air," jawabnya menjelaskan terlihat sendu.
"Untuk seorang tahanan yang diberi makan sehari hanya dua kali, Anda cukup berisi, Nyonya," ucap Sandara yang menatap wanita itu lekat.
Wanita itu tampak terkejut saat Sandara memandanginya tajam tanpa berkedip. Jordan melirik Sandara dari tempatnya duduk, termasuk Mix and Match.
"Oh, aku memang sudah gemuk sebelumnya. Aku—"
DOR!
"DARA!" teriak Jordan dengan mata melotot.
CITT!
Praktis, Match menghentikan laju kendaraannya. Tiga lelaki itu terkejut karena Sandara menembak wanita itu tepat di dahi dan langsung menewaskannya.
Sandara berpindah ke bangku belakang untuk memeriksa tubuh wanita itu seperti mencari sesuatu. Seketika, matanya melebar.
"Keluarkan dia dari sini! Dia menggunakan pelacak. Kita dijebak!" seru Sandara lantang saat mendapati sebuah pelacak seukuran kapsul obat di balik kerah pakaian wanita itu.
Mix dengan sigap keluar dari mobil. Match membuka bagasi belakang dan menarik mayat wanita itu lalu melemparkannya begitu saja di padang gurun.
"Cepat pergi dari sini!" seru Sandara lantang.
Match segera menutup pintu bagasi belakang dan bergegas kembali ke bangku kemudi. Mix sengaja membiarkan pelacak itu tetap berada di pakaian wanita tersebut tak merusaknya agar tak dicurigai.
__ADS_1
"Kita harus segera pergi dari Mauritania," titah Sandara dan diangguki oleh dua algojo Amanda.
Jordan seperti kehilangan kemampuannya. Ia terbengong melihat gerak cepat Sandara yang tahu jika mereka diincar.
"Kau melihat kebohongan di matanya?" tanya Jordan dengan wajah pucat karena kehilangan banyak darah.
"Ya. Aku heran, bagaimana bisa kau tak menyadarinya?" tanya Sandara berkerut kening.
Jordan memalingkan wajah. Sandara tersenyum tipis saat ia sudah kembali ke bangku tengah samping Jordan.
"Pasti karena kau sakit, jadi instingmu memudar. Tak masalah, kau akan kembali peka saat sehat nanti, Jordan," ucap Sandara seraya memejamkan mata dan menyenderkan punggung.
Jordan tersenyum tipis dengan wajah menghadap jendela, tak ingin senyumnya dilihat oleh Sandara.
Akhirnya, orang-orang itu tiba di rumah sewa. Match dengan sigap menelepon dokter yang mengobati Sandara kemarin.
Gadis cantik itu mengemasi semua perlengkapannya dan terlihat siaga mengawasi sekitar rumah karena ia khawatir dibuntuti.
Mix segera menyiapkan keberangkatan untuk esok hari meninggalkan Mauritania. Sandara mendekati Mix yang terlihat serius mengirimkan pesan di ponselnya.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Sandara menatap Mix lekat.
"Kembali ke New York. Jordan terluka parah, Sandara. Dia sudah lama tak pulang ke rumah. Naomi merindukannya. Ia juga belum bertemu dengan puteranya. Sebaiknya kau ikut kami. Bagaimanapun, keluarga Theresia juga keluargamu," jawab Mix menjelaskan.
Sandara terdiam. Ia tak menjawab dan memalingkan wajah.
"Atau kau ingin kembali kepada Afro? Dia pasti juga merindukanmu, terlebih kedua orang tuamu. Jangan khawatir, biar aku dan Match yang menyelesaikan misi ini. Kau pulanglah," sambungnya.
"Aku ... ikut ke New York saja. Aku ... merindukan mommy," jawab Sandara dengan pandangan tertunduk.
"Baiklah. Sekarang, istirahatlah. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali. Jordan sedang dirawat, dan kuyakin, dia bisa bertahan sampai esok hari," ucap Mix dan gadis cantik itu mengangguk.
Sandara menarik napas dalam. Ia mencoba menghubungi suaminya, tapi panggilan itu tak tersambung. Sandara terlihat bingung. Ia yakin jika nomor yang ia tekan adalah nomor kekasih hatinya.
Sandara mencoba menelepon Doug dan kediaman Afro di Italia, tapi tak ada jawaban. Sandara terlihat cemas. Ia khawatir jika pria yang dicintainya diserang oleh Miles.
"Kenapa tak ada jawaban? Apa yang terjadi?" tanyanya pucat.
Keesokan harinya, Sandara dan tim meninggalkan Mauritania. Jordan sudah terlihat membaik setelah mendapatkan transfusi darah dari dokter tersebut dan pengobatan untuk luka di kakinya.
Jordan dan timnya terbang menggunakan pesawat milik mendiang sang ayah—Boleslav. Sandara menatap Jordan lekat di mana lelaki tampan itu terlihat cemas akan sesuatu.
"Kau kenapa?" tanya Sandara heran.
"Entahlah, Dara. Aku ... merindukan Naomi dan ingin sekali bertemu puteraku. Namun, aku takut jika tak bisa mengendalikan diri lagi dan malah membuat orang-orang yang kusayangi terluka," jawabnya terlihat sedih.
"Kau pria yang kuat, Jordan. Kau bisa mengendalikannya. Percaya padaku," ucap Sandara seraya menyentuh punggung tangan pria berambut cokelat itu lembut.
Jordan mengangguk pelan dengan pandangan tertunduk. Selama penerbangan, baik Sandara atau pun Jordan memilih untuk tidur dan sesekali bangun untuk menikmati sarapan, makan siang, dan makan malam hingga akhirnya mereka mendarat di New York tengah malam.
Sandara yang terlihat malu, malah menutup wajahnya dengan masker sehingga hanya matanya saja yang terlihat.
Arthur yang datang menjemput, berkerut kening karena ia hampir tak mengenali Sandara. Ia lupa jika gadis cantik itu telah berubah wajah.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Dia siapa?" tanya Arthur menunjuk Sandara saat menjemput di bandara dengan tim Silhouette.
"Dara. Jangan bilang kau mulai rabun, Paman Arthur," ledek Jordan saat ia didudukkan pada kursi roda.
__ADS_1
Arthur berdecak kesal, tapi akhirnya membungkuk untuk melihat Sandara lebih dekat. Sandara menurunkan pandangannya terlihat enggan untuk dilihat.
"Kau marah padaku, hingga tak mau melihatku?"
"Tidak, Paman Arthur. Hanya saja ... aku sudah cukup membuat banyak masalah. Aku ... malu," jawabnya lirih.
Praktis, ucapan Sandara membuat kaget semua orang yang mendengar. Mereka tak menyangka jika Sandara mengakui perbuatannya selama ini yang dianggap main hakim sendiri.
"Aku tak menyalahkanmu. Ayo, semua orang sudah menunggu kalian," ajak Arthur seraya merangkul pundak Sandara.
Sandara mengangguk pelan dan akhirnya masuk di mobil kedua bersama Arthur. Sedang Jordan, bersama Mix and Match.
Setibanya di apartemen Theresia, gadis itu tertegun karena sambutan meriah diberikan untuknya. Naomi menangis sedih melihat suaminya terluka dan tak bisa berjalan.
Jordan merasa bersalah dan meminta maaf. Naomi memeluk Jordan erat yang terlihat begitu merindukannya.
Sandara diam saja melihat cinta kasih keduanya. Terlebih, saat Amanda menggendong cucunya yang telah diberi nama.
"Dia ... anak kita?" tanya Jordan terlihat gugup saat bayi tampan itu didudukkan di pangkuannya oleh sang ibu.
"Sudah kubilang, dia tampan sepertimu," jawab Naomi dengan mata berlinang. Jordan terlihat takut-takut saat menggendong puteranya yang tertidur lelap.
"Hallo, Sig," sapa Jordan dengan senyum terkembang.
Naomi kembali meneteskan air mata. Sandara terdiam seraya mengelus perutnya di mana ia dulu hampir memiliki anak meski dari perbuatan bejat Yudi dan sayangnya harus gugur.
"Apa kabarmu, Sayang?" tanya Amanda seraya mendekati Sandara dan memeluknya.
"Aku baik-baik saja, Mom. Aku merindukanmu," jawab Sandara membalas pelukan Amanda hingga matanya terpejam.
Amanda melepaskan pelukannya seraya melepas masker yang menutupi wajah cantik Sandara meski terlihat beberapa luka di sana.
Semua orang tampak iba, di mana gadis manis itu harus menerima banyak cobaan hingga ia menjadi seperti ini.
"Kau lapar? Jika ya, makan dulu sebelum tidur," tanya Amanda, tapi Sandara menggeleng.
"Aku ... ingin langsung tidur saja," jawabnya lirih.
Amanda mengangguk dan mengajak Sandara ke kamar yang akan ditempatinya. Gadis itu terlihat senang karena senyumnya terkembang. Amanda meninggalkan Sandara untuk beristirahat di malam yang sudah larut.
"Aku ingin pulang," ucapnya lirih saat memandangi indahnya kota New York dari balik jendela kamar.
Keesokan harinya, Sandara yang bangun lebih awal menemui Amanda di ruang makan. Amanda menatap Sandara lekat yang terlihat gugup seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Amanda curiga.
"Aku ... ingin pulang ke rumah kak Afro di Italia. Bisakah ... aku diantarkan ke sana?" tanya Sandara malu.
Amanda menarik napas dalam. Ia terlihat bingung dalam menjawab. Sayangnya, Sandara tak melihat ekspresi itu.
"Tentu saja. Aku akan meminta Arthur untuk mengantarmu ke Italia," jawab Amanda pada akhirnya.
"Terima kasih, Mom," jawab Sandara tersenyum lebar.
Amanda terlihat iba pada kondisi anak susunya itu. Ia seperti mencemaskan sesuatu. Ia melihat Sandara mulai menunjukkan senyumnya.
Namun, Amanda takut jika senyum itu akan memudar jika Sandara mengetahui hal sebenarnya.
"Pastikan dia tak melakukan hal nekat lagi, Arthur. Aku mengandalkanmu," tegas Amanda, dan Arthur mengangguk paham saat menyiapkan keberangkatan.
__ADS_1