
Keesokan harinya. Jordan yang telah mendapatkan les private super kilat dari Trio Mak Combang, mengetes kemampuan untuk menaklukkan hati Naomi.
Jordan sendiri tak menyangka jika ia bisa jatuh hati pada sosok Naomi yang termasuk dalam kategori pegawai bawahan.
Dengan langkah ragu, Jordan mendekati Naomi yang duduk sendirian di ruang makan sembari mengecek laporan misi di tablet-nya.
"Good morning, Jason," sapa Naomi dengan senyum terkembang. Namun, senyum Jordan sirna seketika.
"Aku Jordan."
"He? Benarkah? Ta-tapi, kau tadi tersenyum sangat lebar. Kukira kau Jason. Maaf," jawab Naomi merasa bersalah.
Jordan melupakan senyumannya sembari menoleh ke belakang, di mana Trio Mak Comblang mengawasinya dari balik dinding.
"Kalian mempermalukanku," gerutunya.
"Hem? Kau bilang apa?" tanya Naomi sembari memasukkan sesendok sereal gandum ke mulutnya.
Namun, Jordan menggeleng pelan. Jordan semakin kaku karena aksinya kali ini dikendalikan oleh Trio Mak Comblang dari earphone yang terpasang di salah satu telinganya.
"Lalukan rencana B. Semangat, Jordy!" bisik Bayu dari sambungan earphone. Jordan menelan ludah.
"Aku menerima kabar terbaru jika lorong sudah bisa kita jelajahi. Para Pion sudah menyisir ulang dan mengevakuasi seluruh mayat. Bagaimana jika ...."
"Ya! Kita pergi sekarang!" potong Naomi cepat.
Jordan mengangguk dengan kikuk. Ia beranjak dari dudukannya dan kembali menoleh. Ia melihat Ibunya, Vesper dan Bayu memberikan jempol dengan senyum terpancar. Jordan diam saja.
Trio Mak Comblang segera pergi menuju ke ruang kerja Amanda untuk memantau lebih lanjut pergerakan Jordan dari kamera mini yang tersembunyi di balik salah satu kancing mantel bulunya.
"Oh! Dingin sekali," ucap Naomi mendekap dirinya saat keluar dari mansion yang hangat menuju ke helipad di roof top.
"Berikan topimu, Jordan! Pakaikan ke Naomi, cepat!" perintah Vesper dan anak lelaki Amanda segera melakukannya.
Naomi tertegun saat Jordan memasangkan topi hitam rajutannya ke kepalanya dengan wajah datar.
"A-aku tak apa," ucap Naomi melepaskan, tapi Jordan merebut dan memasangnya kembali. Naomi bingung.
"Ini perintah. Jangan membantah," sahutnya tegas.
Naomi mengangguk dengan wajah tertunduk. Trio Mak Comblang gemas karena Jordan sungguh tidak peka.
"Kalo Bayu aja yang gantiin gimana? Dongkol Bayu," ucap salah satu anggota The Kamvret dengan wajah malas.
"Hehe, sabar, Bayu. Proses. Kita sudah menyiapkan strategi alfabet sampai Z. Jordan pasti berhasil," jawab Vesper mantab.
"Ah, sikap Jordan seperti Antony saat pertama kali aku bertemu dengannya. Oh, aku jadi merindukan sikap dinginnya," celetuk Amanda yang membuat Vesper dan Bayu melirik seketika.
Helikopter lepas landas meninggalkan mansion Amanda di Napoli. Benda terbang itu menuju ke Perusahaan Farmasi Elios yang tempatnya tak jauh dari kediaman Ketua Dewan Sekretariat tersebut.
Hingga akhirnya, helikopter mendarat di helipad roof top gedung farmasi dan menurunkan penumpangnya.
"Jordan, terima kasih," ucap Naomi menyerahkan topi milik remaja tampan tersebut. Jordan mengangguk dan menerimanya dengan wajah datar.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke ruang kerja Elios, tempat ditemukannya palka rahasia menuju ke terowongan.
Seorang anggota Silhouette yang menunggu di depan pintu, membukakan untuk mereka berdua.
"Oh! Tuan Doug? Anda di sini?" tanya Naomi gugup.
"Hallo. Maaf, jika kedatanganku mengejutkan kalian. Aku diminta oleh nyonya Vesper untuk melihat struktur bangunan di tempat ini begitupula perangkap yang terpasang," jawabnya sopan seraya berdiri dari sofa empuknya mendekati mereka.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana hasilnya, Paman?" tanya Jordan sembari menjabat tangan Doug dan pria itu cukup kaget karena Jordan bersikap santun. Doug tersenyum.
"Ikut denganku," ucapnya mengajak Naomi dan Jordan masuk ke dalam palka yang dijaga oleh salah satu anggota Silhouette.
Doug terlihat santai saat menuruni tangga yang berliku seperti spiral. Naomi yang baru pertama kali masuk ke dalam terlihat gugup meski ruangan tersebut kini lebih terang karena lampu yang dipasang pada dinding tangga.
Tiba-tiba, Doug berhenti. Jordan yang mengikuti di belakangnya berikut Naomi menatap pria itu seksama.
"Kau melewatkan bagian ini, Jordan," ucap Dough yang membalik tubuhnya dengan senyuman.
Jordan menoleh ke sisi sebelah kiri dan kanan tembok. Perlahan, Naomi mendekati dinding di sisi kiri.
"Apakah ... ada pintu rahasia di sini?" tanya gadis Jepang itu meraba dinding seperti mencari sesuatu.
KLEK! GREEKK ....
Mata Naomi terbelalak seketika saat Jordan menarik sebuah lampu dinding di atasnya dengan wajah datarnya. Doug tersenyum.
"Good. Analisisku, kalian terburu-buru dan panik saat menelusuri, jadi tak mengamati dengan jelas sekitar. Jalan yang kalian tempuh kemarin tak memiliki pintu keluar. Aku sudah menelusurinya bahkan melewati lubang yang kau buat dengan memanfaatkan ledakan perangkap. Kau beruntung Jordan," ucap Doug dengan kedua tangan di balik pinggang.
"Jika jalan yang ditempuh Jordan dan lainnya adalah buntu, maka ...," sahut Naomi menggantung ucapannya.
"Tempat itu memang sengaja dibuat sebagai ladang pembantaian bagi penyusup," sambung Jordan.
Doug tersenyum dengan anggukan, tapi membuat Naomi dan Jordan menelan saliva.
"Kita masuk," ajak Doug santai berjalan di depan di mana ruangan tersebut gelap dan hanya terlihat cahaya redup di ujung terowongan.
"Oh! Pintunya terkunci," pekik Naomi saat memegang jeruji besi yang tertutupi tanaman merambat.
Doug melirik Jordan dan remaja itu segera menarik pedang Silent Red dari sarung di pinggulnya. Naomi dan Doug menyingkir, untuk memberikan ruang bagi Jordan membuka pintu tersebut.
SRINGG! KLANG!
Jordan memotong kunci yang mengait dan mendorong pintu besi itu dengan satu tangannya. Doug dan Naomi segera keluar.
"Wah! Ini ... Teluk Napoli?" tanya Naomi terkejut dan Doug mengangguk.
"Ya. Di sana, ada dermaga kecil yang membawa Venelope serta lainnya menggunakan kapal. Aku cukup yakin, saat Jordan dan lainnya mengaktifkan Galundeng, pemblokir sinyal di matikan agar mesin kapal menyala. Namun setelah mereka berhasil kabur, tempat ini kembali terhalang," jawab Doug santai sembari melihat indahnya Teluk di musim dingin.
"Aku ceroboh dan bodoh. Aku selalu menganggap diriku jenius dan cerdas. Aku terlalu sombong dan egois. Jika aku lebih cermat dan berhati-hati, Darius tidak perlu mati. Ini salahku," ucap Jordan tertunduk terlihat sedih.
Trio Mak Comblang terdiam dan ikut merasakan kesedihan yang sama. Naomi mendekatinya.
"Jika tak ada kau, ibumu sudah tewas tenggelam. Jika tak ada kau, tak ada yang akan memberitahukan kami lokasi kalian berada. Kau sudah melakukan hal hebat untuk anggota timmu, Jordan. Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku tahu, kau meninggalkan Camp Militer karena cemas dengan misi yang Jonathan sedang lakukan. Firasatmu menyelamatkan kawan-kawanmu," ucap Naomi dengan senyum terkembang menatap Jordan seksama.
Jordan tersenyum. Entah apa yang menggerakkan hatinya, ia memegang tangan Naomi dan menggenggamnya erat. Naomi bingung, bahkan Doug terkejut di buatnya.
Sedang di Pusat Kendali kediaman Amanda.
"Aaaa! Kau lihat itu, Vesper? Jordan memegang tangannya! Aaaa!" lengking Amanda yang membuat Bayu kembali memejamkan mata dan menutup salah satu telinganya.
"Aaaaa! Jantungku berdebar, Manda! Oh, wajahku merona. Musim dingin serasa musim panas melihat Jordan bisa bersikap romantis seperti itu tanpa kita minta," sahut Vesper memegangi kedua pipinya tersipu malu.
Bayu menghela nafas. Ia merasa tertekan karena duduk diapit dua Nyonya Besar yang memiliki lengkingan mematikan.
"Budek ini kuping Bayu lama-lama. Sabar-sabar demi mobil Porsche," ucapnya sembari mengelus dada.
Doug menatap dua anak muda di sampingnya dengan kening berkerut. "Kalian berpacaran?"
"Yes."
__ADS_1
"No."
"O-o," celetuk Manda saat mendengar jawaban keduanya berlainan. Doug terdiam.
Naomi menatap Jordan tajam begitupula anak Amanda.
"Apakah sangat sulit untuk bisa menyukai lelaki sepertiku? Apa karena aku terlalu muda? Apa karena aku dijuluki psikopat?"
Semua orang terdiam. Rona bahagia di wajah Trio Mak Comblang sirna seketika. Naomi memandangi tangan Jordan yang masih memegangnya erat.
"Kenapa kau menyukaiku?" tanya Naomi tertunduk.
"Karena, hanya kau yang bisa mengerti aku."
Amanda terharu. Vesper tersenyum sembari menepuk pundak sahabatnya. Doug berdiri diam menyimak.
"Lalu ... bagaimana dengan Sandara?" tanya Naomi yang mengejutkan semua pendengar. Jantung Manda dan Vesper berdegup kencang.
"Jika kau bersedia hidup bersamaku, nama Sandara akan hilang dengan sendirinya karena kehadiranmu. Kau tahu, sangat melelahkan menunggu dan berharap, padahal aku sudah tahu jika aku dan Sandara tak mungkin bisa bersama. Aku berusaha bersikap realistis meski menyakitkan," jawabnya terlihat sedih.
"Ya, aku tahu perasaan itu, Jordan. Aku sangat paham," jawabnya ikut sedih.
Doug menatap keduanya bergantian, terlihat bingung dalam bersikap.
"Mm, maaf, boleh menyela," tanyanya kikuk sembari mengangkat salah satu tangan. Jordan dan Naomi mengangguk pelan.
"Kulihat kalian cocok. Kalian berdua petarung dan memiliki kisah percintaan rumit sebelumnya. Kalian bisa merasakan kepedihan dari pasangan. Saranku, jalani saja dulu. Perihal nanti bagaimana kedepannya, biar Tuhan yang menentukan. Kalian berhak bahagia," ucap Doug kembali tersenyum.
Jordan mengangguk dan terlihat lega, tapi Naomi masih ragu akan sesuatu.
"Aku ... aku tak sederajat denganmu, Jordan," jawabnya lirih.
"Mommy dan nyonya Vesper merestui hubungan kita. Jika tak percaya, kau bisa mendengarkan pengakuan mereka," jawab Jordan memberikan earphone-nya kepada Naomi dan praktis, gadis Jepang itu tertegun seketika.
"What?!" pekiknya kaget.
"Dasar Jordan bodoh! Kenapa membocorkan hal ini pada Naomi! Agh, dia pasti akan marah dan merasa di permainkan," geram Manda langsung frustasi.
"Udahlah. Punya Porsche memang cuma mimpi. Iklasin aja, Bay," ucap Bayu pada dirinya sendiri.
Naomi mengambil earphone itu dan menatapnya. Amanda tak bisa bicara dan Vesper ikut tegang. Serasa, semua keahliannya dalam beralibi sirna seketika. Trio Mak Comblang terdiam.
"Terima kasih atas restunya. Jika menurut kalian ini yang terbaik untukku dan Jordan, aku akan mencoba menjalaninya," ucap Naomi dengan senyuman saat earphone itu terpasang di salah satu telinganya.
Mata Jordan terbelalak, Doug ikut terkejut. Trio Mak Comblang mematung seketika mendengar penuturan Naomi yang tak mereka duga.
"Jadi ... kita ... sepasang kekasih?" tanya Jordan gugup. Naomi tersenyum dan mengangguk pelan.
Naomi bingung saat melihat Jordan seperti orang sesak nafas dan terkena serangan panik. Doug juga ikut khawatir. Naomi bisa merasakan tangan Jordan berkeringat dan ia gemetaran.
"Jordan, kau tak apa? Apa kau sakit?" tanya Naomi menatap Jordan seksama yang memegangi dadanya.
"Cepat! Kita harus kembali ke atas," sahut Doug dan Naomi segera memapah Jordan yang mendadak seperti orang kebingungan usai diterima cintanya.
"Yeah! Porsche! Bayu jadi orang kaya!" teriaknya senang melompat-lompat di lantai Pusat Kendali di mana Amanda malah menangis dan Vesper langsung menuang wine untuk merayakan kesuksesan mereka menjodohkan dua orang yang patah hati.
"Cheers!" ucap ketiganya saat bersulang wine.
Naomi yang mendengar dari sambungan earphone tersenyum. Hatinya begitu bahagia karena baru pertama kali ini, hubungannya direstui bahkan tak memandang status sosial.
***
__ADS_1
aduh maap telat up. lele udah mulai diruwetkan dg tugas sekolah anak. lele seneng sekali baca komen2 kalian di eps Lele Curhat. Huwaaa lele terharu. Lele padamu dan trims tipsnya๐๐๐