
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Miles dan tiga pria bertopeng mulai membahas tentang aksi mereka untuk menyerang 13 Demon Heads memanfaatkan anak-anak Vesper.
Tiga pria dengan nama narkotika siap untuk melakukan gempuran yang tak pernah diketahui oleh para mafia elite tersebut. Mereka membagi menjadi 4 tim dengan incaran masing-masing.
"Oke. Selamat bekerja dan percayalah, The Mask selalu berkuasa," ucap Miles tersenyum licik dengan rentangan tangan menyerupai sayap burung dan tiga pemimpin itu melakukan hal sama.
Tiga pria bertopeng pergi meninggalkan rumah kaca ke pos masing-masing. Miles melihat kepergian mereka dari balik kaca tempat ia tinggal sekarang di lantai dua.
"Sir," panggil salah satu anggota gagak mendatangi Miles.
Pria tua itu menoleh dan melihat anak buahnya menenteng banyak koper ke dalam ruangan tersebut. Miles tersenyum miring.
"Sudah semua? Sesuai petunjuk yang Cassie berikan?"
"Yes, Sir. Bisa dibilang, senjata makan Tuan," jawab salah satu pria bertopeng gagak seraya membuka koper hitam besar dalam genggamannya.
Terlihat, pemancar fatamorgana serta beberapa isi koper lainnya berisi persenjataan milik Vesper Industries yang berhasil Cassie curi selama ini, seperti yang ia lakukan saat Kai dan timnya berada di Angola.
"Good. Amankan tempat ini," perintahnya.
"Yes, Sir," jawab anggota gagak lalu bersiap. Mereka mengeluarkan beberapa benda melaksanakan perintah Tuannya.
Di sisi lain.
Yudhi kembali ke Turki ditemani oleh Eko dan Afro. Seorang rival baru untuk mendapatkan hati Sandara yang masih menjalani pengobatan untuk kesembuhan lukanya.
"Apa kau tak ada kerjaan? Kenapa mau mengikutiku? Pekerjaanku masih banyak mengingat sekarang aku yang bertanggungjawab penuh dengan aset peninggalan om Ahmed," tegas Yudhi memasang wajah dingin.
"Hehe, om Eko jadi deg-degan. Kayaknya bakal ada cinta segi bergoyang. Uhuy," ucapnya riang sembari menatap Afro dan Yudhi bergantian dari tempatnya duduk.
"Om! Afro yakin dia tahu di mana Sandara. Dia sengaja sembunyiin dia!" serunya lantang menunjuk remaja di hadapannya. Yudhi memasang wajah malas. "Afro bakal ngawasin kamu. Afro bakal jadi mimpi burukmu. Afro akan ambil Sandara dari kamu. Liat aja," tegasnya garang.
"Ter-se-rah," ucapnya penuh penekanan lalu pergi meninggalkan Afro yang berdiri kesal bertolak pinggang.
"Udahlah, Fro. Kamu pulang aja. Itu perusahaanmu diurusin. Kasian si mi dok-dok ngerjain sendirian. Masa Bos kluyuran. Nanti Eko kasih kabar kalo Dara ketemu. Ciyus," ucapnya seraya menunjukkan dua jari dengan mantap.
Afro menghembuskan nafas panjang. Akhirnya ia menurut dan pulang ke Italia keesokan harinya ditemani Trio Bali.
Sepeninggalan Afro.
"Sekarang gimana, Om? Gak mungkin Yudhi ngerjain semua. Yudhi butuh orang buat ngebantu," tanya Yudhi terlihat pusing di meja kerja kediaman Ahmed yang kini menjadi miliknya.
__ADS_1
"Eko udah bicarain hal ini sama Mbak Vesper. Eko sama tante Dewi akan tinggal di sini sementara waktu buat temenin kamu. Nanti ya to, bakal ada orang-orang dari The Eyes yang bantuin kamu. Jumlah mereka kebanyakan dan Lysa bingung nempatin orang-orang itu. Terlebih, mereka masih muda-muda kaya kamu. Jangan khawatir, Eko yang akan seleksi mereka. Oke?" jawabnya seraya menunjukkan jempol. Yudhi mengangguk.
Akhirnya, 50 anggota The Eyes datang ke kediaman Ahmed di Turki, Istanbul di minggu ketiga bersama Dewi dan Jubaedah untuk membantu menjalankan bisnis peninggalan mendiang sang paman baik legal ataupun ilegal. Yudhi melihat kelima puluh orang itu masih muda.
"Om, Yudhi mau bicara sama tante Lysa," pintanya saat para remaja itu dikumpulkan di aula. Eko mengangguk seraya memberikan ponselnya.
Pemuda itu keluar dari ruangan besar tersebut. Eko masih berada di Aula untuk mengatur para anak buah Lysa yang dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas.
"Salam. Tante Lysa, ini Yudhi," ucapnya ramah seraya berdiri di balkon menatap lautan luas di depannya.
"Ya, Yud. Kenapa? Pasukan Tante udah dateng 'kan?"
"Hem. Tante. The Eyes yang dateng kemari Yudhi beli aja. Yudhi gak mau punya utang. Kalau mereka masih di bawah naungan Tante, Yudhi kerjanya gak tenang. Tante kasih harga berapa untuk 50 orang itu?" tanyanya to the point.
"What? Tak perlu membelinya. Kau cukup menggaji mereka saja," tolak Lysa.
"Kalo Tante gak mau jual, Yudhi balikin aja. Yudhi akan rekrut orang lain."
"Eh, aduh, gimana ya. Mm, bisa tunggu bentar gak? Tante coba bicarain sama om Toby dulu. Bentar ya," pintanya terdengar bingung. Yudhi pun mempersilakan.
Cukup lama Yudhi menunggu jawaban dari Lysa hampir 15 menit lamanya, tapi pemuda itu bersabar hingga panggilan itu kembali tersambung padanya.
"Yudhi?"
"Ya, Tante."
"Ya, gak papa. Deal, 1 miliar ya. Nanti Yudhi akan minta om Eko yang transfer. Makasih Tante. Salam buat Fara dan semua orang di sana. Salam," ucapnya seraya menutup panggilan.
Yudhi kembali ke Aula lalu mencolek lengan Eko. Pria gundul itu mendekatkan telinganya saat Yudhi berbisik.
"Dibeli? Ciyus? Weladalah," pekik Eko sampai matanya melotot.
"Om jelasin ke mereka ya. Yudhi ke ruang kerja dulu. Om nyusul ya kalau udah selesai," pintanya dan Eko mengangguk.
Yudhi pergi meninggalkan Aula. Eko mengamati gerak-gerik anak terakhir dari mendiang Siti Fatonah. "Itu bocah kenapa ya? Kenapa rona-rona kebahagiaan kayak lenyap gitu? Kepergian Ahmed ninggalin bekas luka yang mendalam ke Yudhi ini bau-baunya. Kasian amat tu bocah," ucap Eko iba seraya menghembuskan nafas panjang.
Eko lalu meminta kelima puluh remaja itu untuk memakai alat translator yang diberikan Eiji untuk mereka.
"Okeh, listen up! Jadi ya to, mulai hari ini. Kalian semua di bawah naungan Yudhistira alias Yudhi yang menjadi majikan kalian. Sekarang, Bos kalian bukan Tobias atau Lysa lagi. Nama kalian juga bukan The Eyes. Nama kalian ... apa ya? Nanti yang kasih nama Yudhi. Tunggu aja info darinya. Itu aja penjelasan dari Eko. Nah, sekarang kita tour ke rumah ini dulu. Ayo kita kemon," ajak Eko yang memimpin di depan.
Para remaja itu mengangguk, meski beberapa dari mereka berbisik seperti membicarakan nasib di tangan Yudhi.
Di ruang kerja Ahmed.
"Hallo? Kau di mana?" tanya suara seorang perempuan terdengar lesu.
__ADS_1
"Aku masih di Turki. Aku sedang menyelesaikan pelimpahan aset. Bersabarlah, Sayang. Maaf, aku tak bisa menemanimu untuk sementara waktu, tapi aku akan segera pulang begitu urusan di sini selesai. Tak apa 'kan?" tanya Yudhi seraya melihat monitor di depannya yang menangkap pergerakan Eko bersama kelima puluh anggota barunya.
"Ya, tak apa. Aku mengkhawatirkanmu," jawabnya lirih.
Yudhi tersenyum lebar. "Kenapa tak kaukatakan jika kau merindukanku, Sayang? Itu terdengar lebih baik untukku," pinta Yudhi.
"Aku merindukanmu." Senyum Yudhi semakin terkembang.
"Ya sudah. Jangan lupa istirahat, minum obatmu, dan turuti ucapan Atid serta para dokter demi kesembuhanmu," ucap Yudhi.
"Oke."
"Bye, Dara. I love you."
Namun, Sandara tak menjawab. Yudhi menghembuskan nafas panjang saat menutup teleponnya. Ia melirik ke arah jendela yang terbuka dan terasa angin semilir sejuk angin laut.
"Dia masih mencintai Afro. Menyebalkan," gerutu Yudhi langsung meletakkan telepon genggamnya dengan kesal.
Yudhi lalu menyusul Eko yang membawa orang-orang itu berkumpul di halaman belakang.
Para remaja berpakaian hitam itu melakukan salam hormat dan Yudhi membalasnya dengan anggukan seraya berjalan mendekat. Eko menatap gerak-gerik Yudhi seksama.
"Sudah dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing anggota 10 orang?" tanya Yudhi dengan kedua tangan saling menggenggam di belakang pinggang.
"Udah, Bos Yudhi," jawab Eko mantap bertolak pinggang.
"Oke, nama baru untuk kelompok ini adalah Mirror. Jangan tanya alasannya, tapi itulah nama kalian sekarang. Nomor keanggotaan aku mulai dari M-01 sampai terakhir M-050. Kalian paham?"
"Yes, Sir!" jawab orang-orang itu serempak dengan hormat.
"Good. Aku akan siapkan seragam baru untuk kalian. Untuk sementara, pakailah yang kalian miliki." Orang-orang itu mengangguk. "Kelompok M-A akan mengerjakan bagian pembedahan mayat. Lalu M-B akan mengerjakan pengemasan organ. Regu M-C akan mengerjakan penyimpanan. Lalu M-D akan melakukan pengiriman. Terakhir, M-E akan melakukan penjagaan di setiap aktifitas kegiatan. Kalian paham?"
"Yes, Sir!"
Eko menatap Yudhi seksama dengan mata berkedip berulang kali. Yudhi meminta kepada Eko untuk mengantarkan orang-orang itu sesuai dengan kelompoknya ke ruangan yang diinformasikan. Eko hanya bisa menurut meski wajahnya terlihat bingung.
Yudhi berjalan meninggalkan kediaman Ahmed menuju ke Goa tempat ditemukannya peninggalan Lucifer Flame dan ikan lele raksasa yang kini telah tiada😩.
"Hem, tempat ini sangat cocok. Tinggal merapikan Black Stone. Hanya saja akan berurusan dengan pemerintah setempat. Mudah," ucapnya dengan senyuman saat duduk di kursi batu dengan kaki menyilang.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya😍 diborong Kade😆 Lele padamu💋