4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Masih Bagi-bagi Warisan


__ADS_3

eh mau info dulu. udah tau ada info ini belom? kalau belom, coba update apk noveltoon kamu ya. terus biar dapat diamond banyak bagi kamu yg punya poin berlimpah, vote tips poin dikit-dikit aja. tapi jangan lupa, abis tips langsung ke beranda dan ambil diamond +1 itu, baru nanti vote lagi. buat hepi2 aja.



----- back to Story :


Jantung semua orang berdebar menunggu giliran siapa yang kali ini dipanggil. Wajah Beny kini menjadi sorotan semua mafia yang berkumpul di ruang rapat tersebut.


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Eiji," panggil Beny seraya membuka map merah maroon tersebut. Eiji dengan polosnya mengangkat tangan kanan seperti siswa sekolah yang dipanggil guru. "Turunkan tanganmu. Memalukan," ucap Beny sinis dan malah mendapatkan tawa dari para mafia. Eiji menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. "Mansion Ramos milik Joel di Rusia, menjadi milikmu. Berikut uang tabungan senilai 3 miliar yang dihitung sesuai dengan jumlah anggota keluargamu. Terimalah," ucap Beny seraya menyerahkan map itu dengan cuek.


"Ha? Mansion Ramos untukku? Sungguh?!" pekiknya sampai melotot.


"Kautuli ya? Mau tidak? Jika tidak, aku dengan senang hati akan mengambilnya darimu," tegas Beny.


Eiji langsung merebut map itu dan mendekapnya erat. Para mafia terkekeh. Mereka tak menyangka dengan hal ini.


Jeremy memberikan selamat, tapi Eiji seperti orang bingung. Ia hanya mengangguk pelan dan tak berkomentar apapun.


"Eiji shock sampai gak bisa ngomong," ledek Biawak Kuning dan semua orang mengangguk setuju.


Namun, Eiji malah berlinang air mata, tapi cepat-cepat ia hapus dengan lengan bajunya. Semua orang tersenyum.


"Selanjutnya, Sun," panggil Beny seraya membuka map warna hitam. Sun terkejut dan langsung duduk dengan tegap. "Kau mendapatkan markas Hashirama yang berada di Jepang. Selain itu, Vesper meminta maaf karena pertikaian yang terjadi antara Arjuna dan M yang membuat ayahmu tewas. Vesper meminta kau untuk tinggal dan mengelola peninggalan terpenting dalam sejarah 13 Demon Heads tersebut. Ia juga memberikan uang 2 miliar dan berharap, kau bisa mengembangkan sebuah bisnis untuk bekal hidupmu," ucap Beny seraya memberikan map tersebut.


Sun tersenyum dan menerima map itu dengan mata berlinang. Ia membuka map itu dan terdapat surat dari Vesper untuknya.


Sun meneteskan air mata saat membacanya dan hal itu membuat Arjuna tampak bersalah karena dialah penyebab kematian ayah dari pria yang selama ini melindungi nyawanya.


Sun melipat kertas itu usai membacanya perlahan. Ia memasukkan surat Vesper ke dalam amplop hitam lalu menutupnya.


"Terima kasih, Nyonya Vesper. Titip salam untuk ayahku di sana. Katakan padanya ... aku ...," ucapnya tertunduk sedih seraya menatap tulisan Sun bertinta emas pada bagian depan map.


"Sun. Tinggallah bersamaku. Aku sangat menyesal dan minta maaf atas yang terjadi pada ayahmu," ucap Arjuna menatap Sun lekat. Semua orang diam tak berani bicara.


"Entahlah, Tuan Muda. Kau tak dengar yang dikatakan Beny? Nyonya Vesper memintaku tinggal untuk menjaga markas Hashirama. Seharusnya ... kau mengindahkan pesan terakhir dari ibumu jika benar kau menyesal sudah membunuh ayahku," jawab Sun dengan wajah datar tak memandang Arjuna.


Putera Han terlihat begitu terpukul. Jonathan mengelus punggung kakaknya dan Arjuna hanya bisa menundukkan wajah penuh dengan penyesalan.


"Oke, aku lanjutkan. Aku tak mau terlibat dalam konflik kalian berdua," ucap Beny terlihat ikut pusing, tapi kembali serius saat mengambil map berikutnya dari rak. "Selanjutnya, Agent X," panggil Beny dengan map berwarna biru tua. X terkejut saat namanya dipanggil, tapi ia terlihat siap. "Markas Jeju yang dulu di tempati oleh paman BinBin kini menjadi milikmu. Nyonya Vesper memberikanmu uang senilai 3 miliar karena kau diam-diam sudah berkeluarga. Hem, kau nakal," ucap Beny seraya menaikkan salah satu alis.


X terkejut, tapi para agent yang sepertinya tahu hal itu terlihat gelisah.


"Kau sudah berkeluarga? Sejak kapan?" tanya Drake heran.


"Ya, begitulah. Kasusnya hampir sama dengan M dan S," jawab X canggung.

__ADS_1


Semua orang mengangguk paham, tapi beberapa orang malah terkekeh.


"Kenalin dong, X. Kamu main sembunyi-sembunyi loh," sahut Eko, tapi X tersenyum terlihat sungkan.


"Bukannya tak mau, hanya saja ... isteriku takut dengan kalian. Dia tahu identitasku, tapi tak ingin terlibat jadi ... dia kusembunyikan. Hanya saja, bagaimana nyonya Vesper tahu?" tanya X heran.


"Dari laporan rekeningmu," jawab Beny santai. Mata semua orang kini tertuju padanya. "Tak hanya X, tapi kalian semua para agent. Vesper tahu jika tiap bulan ada dana yang dikirimkan ke sebuah rekening dengan nominal yang sama. Vesper meminta The Shadow untuk mencari tahu. Jangan lupakan kelompok itu," jawab Beny yang membuat semua orang melongo.


"Bahkan saat ia sakit pun, Vesper masih bisa menyelidiki orang-orangnya. Untung saja dia sudah tiada," sahut One. "What?" tanya One karena ditatap tajam oleh para mafia lainnya.


Para agent tampak pucat karena rahasia mereka sudah terbongkar. Beny memberikan map itu kepada X dan pria itu berterima kasih atas kebaikan Vesper.


"Bentol. Kapan giliran Eko?" tanya Eko menyahut.


"Berisik!" tegasnya kesal dengan translator dipasang pada salah satu telinganya. Orang-orang terkekeh karena ternyata Eko tak sabaran. "Kemudian ...," ucapnya seraya mengambil sebuah map warna merah maroon.


"Wah ini. Eko pasti," ucap Eko semangat karena ia mulai menandai warna map. Semua orang hanya tersenyum, tapi ternyata tebakannya salah. "Seif."


"Hahaha! Sabar, Ko, sabar," ledek Biawak Putih. Eko langsung menyenderkan punggung terlihat lesu.


"Vesper memberikan rumah yang dulunya milik almarhum Siti Fatonah, isteri kelima pak Sutejo padamu. Karena Yudhi sebagai keturunan terakhir telah tewas dan tanah itu terbengkalai, Vesper memintamu untuk menempatinya. Ia memberikanmu uang 3 miliar rupiah untuk membangun kembali rumah yang rusak karena serangan waktu itu dan membuat sebuah usaha di sana. Selamat," ucap Beny yang membuat mata semua orang melotot termasuk pasangan itu.


"Wogh! Diam-diam nyonya Vesper ngurus cuy!" sahut Biawak Cokelat dan hal itu mengejutkan semua orang.


"Ya, begitulah. Jadi, kalian paham betapa pusingnya diriku mengurus semua ini. Aku sampai mengerahkan 20 orang untuk membantuku termasuk pengacara dan lainnya. Jadi, hargai usahaku," tegas Beny melotot dan semua orang mengangguk cepat tak berani membantah lagi.


Sandara tersenyum dalam diamnya, dan hal itu membuat Seif lega karena merasa anak terakhir Vesper dapat merelakan tempat tersebut untuknya.


Kini, sebuah map warna biru tua diambil. Orang-orang tampak gugup termasuk para agent karena mereka merasa salah satu diantaranya akan dipanggil, tapi kali ini dugaan mereka salah.


"Aku tak mengenal kelompok ini. Biawak Putih," panggil Beny yang membuat mata pria itu melebar seketika.


"Kang, namamu disebut, Kang!" sahut Biawak Hijau dan Biawak Putih mengangguk cepat.


Beny menjentikkan jari dan seorang pria yang menjadi asistennya. Lelaki itu segera menuju ke pintu.


Orang-orang tampak bingung ketika muncul seorang anak lelaki memasuki ruangan. Kening semua orang berkerut saat anak lelaki itu tampak gugup, tapi diyakinkan oleh asisten Beny jika ia akan baik-baik saja.


"Kaukenal?" tanya Beny, tapi Putih menggeleng cepat.


"Namanya Bara. Dia anak dari mantan isterimu Sri Wahyuningsih. Usai kejadian di Wonosari, beberapa tahun kemudian, ada seorang wanita menghubungi nomor ponsel yang digunakan oleh Tora kala itu untuk membuat keluarga para Biawak tahu tentang jati diri kalian. Ingat kejadian itu?" tanya Beny, dan semua orang mengangguk. "Mantan isterimu meninggal karena sakit. Meski Bara bukan anakmu, tapi ia memasrahkan puteranya padamu. Dia minta maaf dan minta tolong dengan sangat agar kau merawatnya. Suaminya juga telah meninggal. Bara sebatang kara. Anakmu dari pernikahanmu sebelumnya tak mau menerima Bara. Vesper tahu hal ini dan dia mengurus Bara dengan menempatkannya di Panti Asuhan berfasilitas khusus. Namun, kini saatnya kau untuk merawatnya," tegas Beny.


Biawak Putih terkejut. Bara diam saja tertunduk karena dia tak paham bahasa Inggris. Biawak Putih menatap Bara lekat dan berjalan mendatanginya. Bara tampak gugup saat Biawak Putih berjongkok di depannya.


"Kamu ... Bara?" tanyanya seraya menatap anak lelaki itu lekat. Bara mengangguk pelan. "Mulai sekarang, kamu tinggal sama Bapak ya. Mau 'kan?" pintanya.


Bara mengangguk. Biawak Putih terlihat senang. Ia memeluk Bara dan anak lelaki itu balas memeluknya.

__ADS_1


"Eko nangis," ucap pria berkepala gundul itu seraya memeluk Seif yang duduk di sebelahnya.


Orang-orang tersenyum karena Biawak Putih berbesar hati mau menerima anak dari mantan isterinya meski bukan darah dagingnya.


"Vesper memberikanmu uang sejumlah 2 miliar agar kau mengembangkan sebuah usaha untuk kehidupanmu kelak bersama Bara. Selain itu, rumah di Puerto Rico milik almarhum isteri Sutejo bernama Juleha menjadi milikmu. Kau bisa tinggal di sana bersama dengan Bara dan membesarkannya," ucap Beny yang membuat mata semua orang kembali melebar.


"Jauh amat!" seru Biawak Putih terkejut.


"Tidak mau ya sudah," ucap Beny seraya menutup map itu, tapi dengan sigap Biawak Putih langsung merebutnya.


"Mau dong. Rejeki gak boleh ditolak. Cuma ... nanti Putih pikirin lagi gimana selanjutnya. Putih masih nyaman tinggal di Indonesia," sahutnya seraya menggenggam map itu erat.


"Itu urusanmu. Jika ingin menjual atau semacamnya, jangan libatkan aku. Urus sendiri," tegas Beny dan Biawak Putih mengangguk.


Biawak Putih meminta kepada Bara untuk menunggunya di luar. Anak lelaki itu menurut di mana Dewi sudah menanti Bara untuk diajak berkumpul bersama yang lain.


Biawak Putih kembali duduk ke kursinya untuk mendengarkan keseluruhan pembagian aset karena ia juga penasaran.


Beny lalu mengambil sebuah map warna hitam. Orang-orang makin penasaran siapa lagi yang ditunjuk kali ini.


Mata mereka langsung tertuju pada Dominic yang ikut kaget karena namanya tertulis di sana.


"Dominic Kenner. Vesper mempercayakan Vesper Industries padamu. Sayangnya, usahanya untuk mengembalikan tanahmu di Honduras gagal karena sudah diklaim oleh pemerintah. Jadi, ia mengharapkan puterinya Sandara untuk mengizinkanmu tinggal di Kastil Borka yang kini menjadi miliknya," ucap Beny seraya melirik Sandara.


Mata semua mafia kini tertuju ke arah gadis cantik itu. Sandara tersenyum dengan anggukan.


"Tentu saja. Silakan. Aku tak keberatan. Kastil itu terlalu besar untuk kuhuni sendiri," jawab Sandara. Dominic terlihat senang karena dia diizinkan untuk tinggal.


"Selain itu, kau diberikan uang senilai 3 miliar untuk keluargamu. Jika kau ingin membeli rumah atau mendirikan usaha lain, dipersilakan. Namun, selama para mafia membutuhkan senjata dari Vesper Industries, ia meminta kau untuk tetap menyanggupi pemesanan itu. Selain itu, hasil dari penjualan akan dibagi menjadi 6. Sandara, Kai, Jeremy, Eiji, kau, dan para Black Armys pekerja," tegas Beny.


Dominic mengangguk paham dan semua orang tampak tegang mendengarkan.


"Hehehe, kayaknya Vesper Industries yang kauincar gagal kaudapatkan, Kak Juna," kekeh Jonathan menyindir. Arjuna hanya tersenyum kecut menanggapinya.


"Setidaknya ada namaku di sana," sahut Kai, dan semua orang terkekeh.


"Selanjutnya ... aku lelah. Istirahat sejenak. Aku lapar. Mana makananku?" tanya Beny mengeluh.


Para mafia yang sudah tak sabar terpaksa menahan rasa penasaran mereka. Han lalu mengajak Beny untuk menikmati makan malam bersama para mafia lainnya di ruang makan


Map-map yang belum dibacakan kembali dibawa oleh Beny. Ia seperti tak mengizinkan siapapun menyentuh apalagi membuka selain dirinya. Orang-orang menghormati hal tersebut.


***



uhuy tengkiyuw tipsnya, lele padamu😘 selamat akhir pekan cemuanya❤️

__ADS_1


__ADS_2