4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dia Berubah


__ADS_3

Para KFC yang pada tanya kemana si Kai kenapa Vesper sama Han mulu, lha Kai-mu dimana? Hayo inget gak dimana dia? Lagi ciyus bikin kaki robot buat jeng Sierra bla bla Flame nak. Si Vesper kan dititip King D sama Lysa.


Kalo King D diboyong ke lab sm vesper, abis itu lab diacak-acak sama si bocah. mending ikan koi yang diobok2 ye kan. Jadi, sabar kisanak. Lele gak memihak vesper sama siapa karena di hati lele cuma bang Joel seorang, sisanya buat kalian aja.


------ back to Story :


Hari itu, Vesper meninggalkan Kyoto bersama dengan Tora, Tokio dan Mitsuki. Eko menyebut mereka, Trio Jepang atau sebutan lainnya tteokbokki (makanan Korea).


Vesper terbang menggunakan pesawat pribadinya menuju ke Newfoundland and Labrador, salah satu pulau di Kanada, Amerika.


Sekitar 15 jam penerbangan, akhirnya Vesper dan Trio Jepang tiba di Gander International Airport.


Yuki yang berada di Amerika, telah menunggu bersama Torin yang mendampinginya di hanggar pesawat.


Vesper menyalami orang-orang yang kini masuk dalam jajarannya termasuk Torin sampai nanti Adrian atau dikenal sebagai baby Ryan Giamoco, menduduki kursi peninggalan ayahnya, Adrian Axton.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.


"Yuki, status," pinta Vesper saat Yuki berjalan di sampingnya menuju ke mobil.


"Ada aktivitas di kediaman Tobias, Nyonya. Hanya saja, kami tak bisa mendekat. Para Pion D terlihat berlalu lalang di sekitar pulau. Kami tak bisa bergerak banyak. Anda bisa lihat sendiri 'kan, kami sampai menyamar seperti ini," jawab Yuki yang menggunakan wig sebahu dengan poni dan kacamata seperti kutu buku.


Torin ikut tersenyum yang juga merubah penampilannya agar tak ketahuan oleh para Pion D. Vesper mengangguk bangga.


"Berarti benar, jika Lysa dibawa oleh Tobias kemari. Apa yang direncanakannya?" guman Vesper terlihat serius berpikir sembari melihat keluar jendela, pemandangan musim gugur pulau Newfoundland.


"Entahlah, Nyonya. Namun, jika benar informasi yang diberikan oleh Naomi, bahkan Sultan sampai sekarat, Lysa dalam bahaya. Kau ingin kami mengepung pulau ini, Nyonya?" tanya Torin menatap Vesper serius.


"Hem. Siapkan semua. Kali ini, aku tak segan menghukum Tobias. Kerahkan semua yang berada di Amerika. Aku tak peduli jika pulau ini bahkan sampai tenggelam jika Tobias tak mengembalikan Lysa padaku," jawab Vesper tegas masih memandang keluar jendela.


"Yes, Mam!" jawab Torin yang dengan sigap, mengirimkan pesan ke seluruh markas dalam jajaran 13 Demon Heads yang ingin bergabung dalam misi pembebasan Lysa.


Ternyata, semua anggota dewan setuju. Pos darurat buatan Jonathan yang telah tersebar di beberapa negara, siap mendatangi pulau itu dan menunggu perintah Vesper untuk diledakkan.


Kai yang membaca pesan itu, melirik ke arah Sierra yang terlihat begitu senang karena Jonathan selalu menemaninya selama masa pemulihan. Kai menghembuskan nafas panjang, Jeremy meliriknya.


"Aku rasa, kita perlu memberitahukan Sierra tentang hal ini. Siapa tahu, Sierra bisa bicara baik-baik dengan ayahnya, sebelum Vesper meluluhlantahkan pulau itu beserta Tobias di dalamnya," ucap Jeremy pelan dan Kai mengangguk setuju.


Kedua pria itu mendekati Sierra yang duduk di ranjang pasien, terlihat lebih sehat dan senyumnya merekah setiap hari.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Sierra menatap dua lelaki yang kini memandanginya seksama. Senyum Sierra redup seketika. Ia yang telah memasang earphone translator siap mendengarkan.


"Sierra. Tobias menculik Lysa. Sekarang, Vesper berencana untuk membawa Lysa kembali. Hanya saja, jika Tobias menolak, Vesper tak segan menenggelamkan pulau itu bersama ayahmu dan para pionnya. Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Jeremy terlihat tegang.


Mata Sierra melebar. Ia terkejut mendengar informasi mencengangkan dari Jeremy.


Sierra segera mengambil ponselnya dan menghubungi ayahnya. Terlihat ia ketakutan. Jeremy, Kai dan Jonathan, menatap Sierra tajam.


"Dad?" panggil Sierra yang men-speaker panggilannya.


"Yes."


"Apa kau di Newfoundland? Apakah nona Lysa bersamamu?" tanya Sierra terlihat cemas. Tobias diam tak menjawab. "Dad! Kembalikan nona Lysa atau hal buruk akan terjadi padamu!" teriak Sierra seperti akan menangis.


"Tak akan. Dia milikku. Tak akan kuserahkan atau kukembalikan kepada siapapun."


KLEK! TUT ... TUT ... TUT ....


"Dad! Dad!" panggil Sierra dengan mata berlinang, karena Tobias bersikeras dengan keinginannya. Jonathan memeluk kekasihnya erat yang pada akhirnya menangis.


Jeremy dan Kai hanya bisa terdiam. Mereka tak menyangka, jika tebakan Vesper benar bila anaknya berada di pulau itu.


Di tempat Vesper berada, Newfoundland.


Vesper terlihat serius mendengarkan dengan ponsel yang ia tempelkan di salah satu telinganya. Yuki dan Torin terlihat serius, menunggu instruksi dari pemimpin mereka.

__ADS_1


"Ya, terima kasih, Habib atas laporannya. Tolong rawat Javier. Salam," ucap Vesper lalu menutup panggilannya.


Vesper memejamkan mata sejenak dan terlihat ia serius kali ini.


"Mam, semua sudah di posisi. Siap untuk menunggu perintah," tegas Torin dari laporan tim yang tersebar.


"Mitsuki, Tokio. Kalian sudah siap?" tanya Vesper dari sambungan radio berfrekuensi khusus dari earphone-nya.


"Yes, Mam!" jawab keduanya serempak.


"Good. Ayo mulai," perintah Vesper.


Yuki dan Torin segera bersiap. Torin mengemudikan mobil itu sendiri dengan Yuki duduk di sebelahnya.


Mereka yang sedari tadi menunggu di bawah bukit, mulai menaiki bukit, menuju ke kediaman Tobias di hari yang mulai gelap.


"Mam. Sensor panas mendeteksi ada enam orang dalam rumah itu. Tiga di atas dan tiga di bawah," ucap Yuki menginformasikan dari teropong khususnya.


"Oke," jawab Vesper santai.


BROOM!


Vesper turun diikuti oleh Yuki dan Torin yang melindunginya. Saat Vesper mendekati teras rumah dan akan mengetuk pintu, tiba-tiba pintu telah terbuka.


"Hem, kau sudah di sini rupanya. Sierra terlambat memberitahuku," ucap Tobias sebagai salam pembuka.


"Kembalikan Lysa padaku, Toby," pinta Vesper dengan wajah datar tak seperti biasanya ketika bertemu dengan anak angkatnya.


"Tidak bisa! Dia milikku dan aku mencintainya. Tega sekali kau memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai, Mom," tegas Tobias menolak.


BUKKK!!


"Agh!" rintih Tobias saat Vesper mendorong dadanya dengan kuat hingga lelaki bertato itu mundur ke belakang beberapa langkah hampir terjatuh.


Pion Darwin dan Damian muncul dari balik pintu dengan senapan laras panjang dalam genggaman, membidik Vesper, Yuki dan Torin bergantian.


"Mini DOMINO," lirihnya.


"Kali ini aku tak segan padamu, Toby. Kau apakan Lysa, hem? Mencuci otaknya? Menggunakan gas halusinasi milik Jeremy? Jika sampai kutemukan Lysa dalam keadaan mengenaskan, aku tak segan meruntuhkan bangunan peninggalan ibumu ini dengan kau dan para pionmu di dalamnya," ancam Vesper menatapnya tajam dan terus berjalan perlahan mendekatinya.


Tobias berjalan mundur terlihat gugup. Ia melirik ke senapan besar yang dipegang oleh Yuki.


Lampu indikator yang tadinya berwarna hijau kini berubah menjadi merah setelah moncong senapan itu di arahkan ke dinding.


Sensor mini Domino telah mendeteksi logam yang terdapat pada dinding dan siap untuk ditembakkan.


Dua pion terlihat tegang seketika. Yuki dan Torin terus mengikuti Vesper perlahan di belakangnya, melindunginya di sisi kiri dan kanan.


Tobias berjalan mundur terlihat gugup sampai terpepet ke tangga menuju ke atas. Vesper terus mendekatinya dengan tangan kosong dan menatapnya lekat.


Tobias menaiki tangga perlahan dengan posisi mundur. Vesper melangkahkan kakinya satu demi satu menaiki tangga mengikuti Tobias.


"Kau membunuhku, kau juga akan membunuh Lysa. Dia mencintaiku," tegas Tobias menunjuknya.


"Kau sakit, Tobias! Aku tahu semuanya! Kau memperkosa anakku! Dan aku bisa menebak kelanjutannya. Kau pasti menggunakan tipu muslihat untuk menikahi Lysa 'kan? Aku bisa melihat sebuah cincin baru di jarimu. Lihat saja, jika sampai terjadi hal buruk pada Lysa, aku tak segan merobekmu dengan tanganku sendiri!"


BUAKKK!! BRAKKK!!


"Arghh!" rintih Tobias saat Vesper menendang perutnya kuat hingga ia menghantam pintu kayu di belakangnya sampai roboh.


Tobias merintih sembari memegangi perutnya yang sakit. Namun, mata Vesper melebar.


Amarahnya berubah menjadi ketakutan ketika melihat anak perempuannya berdiri memunggunginya, mengarahkan moncong pistol ke tubuh Mitsuki dan Tokio yang dipegangi kuat oleh Pion Dexter dan Darion di belakangnya.


Tiba-tiba, DOR! DOR! BRUKK!


"LYSA!"

__ADS_1


"PAMAN MITSUKI! TOKIO!" teriak Torin kaget setengah mati ketika melihat Lysa menembakkan pelurunya tepat mengenai dahi dua pria Jepang tersebut dan menewaskan mereka.


Mata Vesper dan Yuki terbelalak lebar. Panggilan Yuki pada kawan karibnya itu seperti tak terdengar olehnya.


Dua pion tersenyum miring saat menjatuhkan tubuh dua anak buah Vesper ke lantai yang sudah tak bernyawa.


"Hahahaha! Hahahaha! Oh, bagus sekali, Sayang. Yah, mereka pantas dibunuh," tawa Tobias sembari berdiri perlahan meski masih memegangi perutnya yang sakit.


Nafas Vesper tersengal, rasa sesak menyelimuti hatinya. Matanya berlinang saat melihat anak pertamanya membunuh dua orang kepercayaannya yang menjaga Kastil peninggalan ayahnya, Hashirama selama ini.


Tobias mendatangi Lysa dan merangkul lehernya. Ia mencium pipinya dengan rakus dan Lysa tersenyum miring, terlihat menikmati perlakuan Tobias.


Vesper, Yuki dan Torin dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Hem, kau benar, Mom. Lysa membenci kehidupan lamanya. Jadi, aku memberikan kehidupan baru untuknya. Lihatlah, kami serasi bukan?" tanya Tobias yang memeluk Lysa dari samping dan mensejajarkan wajahnya ke wajah wanita pujaannya itu.


Leher Vesper terasa tercekik saat melihat Lysa malah berciuman dengan Tobias dengan penuh gairah seolah ia cinta sejatinya.


Yuki menangis dan memejamkan matanya. Hatinya ikut sakit melihat sahabatnya kini dijadikan salah satu boneka Tobias.


"ARGHHH! LYSA!" teriak Yuki lantang dengan air mata menetes.


DUK! DUK! DUK!


Mata semua orang terbelalak lebar, ketika melihat Yuki menembakkan meriam mini DOMINO ke dinding di samping kanan Tobias berdiri. Seketika, DUWARRR!! BLARRRR!!


"AAAA!"


Bangunan tersebut langsung meledak hebat dan atap runtuh. Lantai ambles berikut dengan semua orang yang berdiri di sana.


Torin segera berlari menuruni tangga sembari menarik tangan Vesper. Sang Ratu masih shock dengan apa yang dilihatnya. Ia pasrah ketika Torin membawanya meski pikirannya melayang entah kemana.


Yuki melihat sahabatnya dipeluk oleh Tobias saat mereka jatuh dari lantai yang ambles.Yuki segera turun ke bawah untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


"Yuki! Kau gila! Ada Lysa di sana!" teriak Torin saat Yuki berdiri dengan wajah tergenang air mata dan senapan besar dalam genggaman.


"Lebih baik aku melihat Lysa sekarat ketimbang bersama Tobias," jawabnya penuh kebencian.


"Oh, begitu! Kalian ingin membunuh suamiku? Rasakan ini!" teriak Lysa yang ternyata selamat dari runtuhan puing dan lantai yang ambles.


Mata Vesper, Yuki dan Torin terbelalak lebar ketika Lysa mengarahkan moncong pistolnya ke arah mereka bertiga.


DOR! DOR! DOR!


Vesper, Yuki dan Torin kembali menaiki tangga untuk menghindari serangan peluru tajam dari Lysa.


Namun, mereka sudah terhimpit, tak ada jalan keluar di lantai atas yang sudah berlubang karena ledakan mini DOMINO.


DOR! DOR!


"Agh! Shit!" pekik Torin saat ia mendapat tembakan tepat mengenai punggungnya meski ia menggunakan jas anti peluru.


Lysa sudah berdiri di bawah tangga dengan pistol dalam genggaman dan sorot mata pembunuh.


Vesper dan Yuki kebingungan karena satu-satunya jalan adalah dengan melompat meski jaraknya sangat mustahil bisa mendarat dengan selamat. Saat mereka terdesak, tiba-tiba ....


"VESPER-SAMA!" teriak Tora yang muncul dari lubang besar di dinding dengan helikopter yang ia tumpangi.


Mata Lysa dan para pion D yang masih bertahan dari ledakan langsung mengarah ke helikopter.


Mereka yakin, jika Vesper dan lainnya akan melarikan diri dengan benda terbang tersebut.


***


Uhuy, tengkiyuw tipsnya. Lele padamu💋💋💋


__ADS_1


__ADS_2