
Perlahan, Naomi melangkahkan kaki mendekati sekumpulan orang-orang yang mengelilingi Arjuna serta dua bayi menggemaskan itu.
Namun seketika, baik Sun atau Eko, keduanya seperti orang ketakutan karena menjauh dari Arjuna. Naomi yang memasang wajah dingin, membuat dua lelaki itu tak mau cari masalah.
Sedang Arjuna yang sibuk menikmati indahnya lautan di hari yang mulai senja bersama dua orang terkasihnya, membuatnya tak tahu jika Naomi sudah berada di belakangnya. Namun, Sig menyadari kehadiran sang ibu.
"Em ... Mam-mam," panggilnya imut.
"Hem?" sahut Arjuna karena dua tangan Sig seperti ingin menggapai sesuatu dengan kepala mendongak.
Arjuna mengikuti pergerakan dari tangan Sig dan matanya. Seketika, Arjuna tertegun karena mendapati Naomi berdiri diam menatapnya dengan wajah datar.
Arjuna menelan ludah tampak sedikit takut mengingat Naomi tak segan memukulnya beberapa saat lalu.
"Om Eko, Sun, tolong gendong mereka dulu," pinta Arjuna gugup karena khawatir jika Naomi mengamuk lagi dan dua bayi lucu itu terkena imbas.
Dengan sigap, Eko dan Sun mengambil Loria serta Sig. Namun, dua bayi itu malah menangis. Eko dan Sun panik saat Naomi melirik keduanya tajam.
"Mereka mengenali orang tuanya. Berikan padaku," pinta Naomi dengan wajah datar meminta anaknya.
Sun dengan gugup memberikan Sig pada ibunya. Seperti yang dikatakan oleh Naomi, Sig langsung diam dan terlihat nyaman dalam dekapan sang ibu.
"Jun, Jun, Lorier ngamuk. Kamu aja yang gendong. Eko ... Eko kebelet pipis. Babay!" ucapnya menyerahkan Loria dengan paksa lalu kabur mengajak Sun.
Arjuna terlihat cemas, tapi ia hanya bisa berdiri diam seraya menggendong bayinya yang kembali tenang. Naomi menatap Arjuna tajam, tapi pemuda itu menundukkan pandangan.
"Apa kau mencintaiku?"
"He?" tanya Arjuna seperti terkejut sampai menaikkan pandangan. "A ... aku ...."
Naomi merasa jika Arjuna masih sama seperti yang ia kenal dulu. Wanita cantik itu langsung membalik tubuhnya dengan Sig dalam gendongan.
Arjuna tertegun dan berlari mengejar meski menahan sakit di tubuhnya.
"Aku tak begitu mengerti definisi dari cinta menurut versimu, Naomi! Namun, aku sangat yakin jika kau cinta pertamaku!" ungkap Arjuna lantang yang membuat wanita Jepang itu langsung menghentikan langkah meski masih memunggungi mantan bosnya dulu.
Arjuna melangkah perlahan dan menggendong Loria semakin erat untuk mengantisipasi kegugupannya.
Sedang di sudut lain, ternyata Eko, Sun, Han bahkan S mengintip menggunakan teropong karena penasaran.
"Semoga kita gak katarak gegara ngintipin dua sejoli yang selama ini memunafikkan diri," bisik Eko, dan Sun mengangguk setuju.
Empat lelaki itu tampak gugup meski sekedar melihat.
"Aku terlalu mementingkan status hingga mengabaikan perasaanmu saat itu, Naomi. Namun, saat aku bersama Tessa, aku mulai menyadari banyak hal tentang seorang wanita. Kau ... seperti Kai yang mencintai ibuku," ucap Arjuna yang membuat Naomi semakin menunjukkan wajah dinginnya.
Arjuna terlihat berhati-hati dalam melangkah dan berbicara hingga ia kini berdiri tepat di belakang wanita cantik yang masih memunggunginya.
"Saat itu aku takut jika kau akan bernasib sama seperti Kai. Oleh karena itu, aku tak mau mengakui perasaanku yang sesungguhnya. Aku takut kau dicemooh orang karena kita tak sederajat. Aku takut kau merasa tidak pantas dan sakit hati karena mencintai lelaki sepertiku. Meski demikian, aku sangat merindukan kehadiranmu. Terlebih, setelah kaupergi dariku. Aku cemburu saat kau memilih Jordan. Kubalas dengan menikahi Tessa karena kutak mau dianggap payah dan tak bisa melupakanmu. Sayangnya, namamu masih tersimpan di hatiku, Naomi. Aku minta maaf karena menyakiti hatimu terlalu dalam dan meninggalkanmu dalam kebencian," ucap Arjuna dengan wajah sendu menatap Loria yang balas memandanginya.
"Namun, aku tahu. Cintamu hanya untuk Jordan seorang. Hanya saja, jangan pisahkan Loria dengan Sig. Aku sangat menyayangi puteramu. Loria juga terlihat nyaman dengan anakmu. Aku ...."
"Sebenarnya apa yang ingin kaukatakan?!" tanya Naomi langsung membalik tubuhnya dan menatap Arjuna tajam terlihat marah.
__ADS_1
Arjuna diam menatap Naomi lekat dengan wajah sayu.
"Biarkan aku hidup di sisimu. Aku tak mengapa jika kau tak mencintaiku. Mungkin, itu balasan yang sepadan atas sikap burukku padamu. Aku hanya ingin melindungimu, Sig dan Loria dengan aku didalamnya seperti keluarga. Aku tak akan mengganggu privasimu. Kaubebas dan tak perlu terikat apapun denganku," jawab Arjuna pelan.
Naomi menatap Arjuna lekat. Ia menatap puteranya Sig yang membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya meski ada S sebagai kakek. Naomi mengembalikan pandangannya pada Arjuna dan ia mengangguk pelan.
Seketika, senyum Arjuna terkembang. Ia tampak bahagia meski bukan pernikahan yang ia dapatkan dari wanita yang pernah dicintainya.
"Terima kasih sudah memberikanku kesempatan, Naomi. Kau ... memang wanita yang sangat baik," ucap Arjuna dan Naomi hanya diam saja tak merespon pujian itu.
Namun sepertinya, baik Eko atau lainnya tampak kecewa. Wajah mereka berubah lesu, apalagi saat mereka berkumpul untuk makan malam.
"Kaumakan dulu saja. Aku bisa memandikan mereka berdua sekaligus," ucap Arjuna saat dua bayi menggemaskan itu terlihat kumal usai diajak berkeliling sekitar.
Naomi mengangguk. Arjuna dengan sigap melucuti pakaian Sig dan Loria lalu membawa mereka ke kamar mandi.
Bath up itu diisi oleh air hangat. Arjuna dengan telaten memandikan mereka bergantian.
"Sepertinya kalian suka berenang ya? Baiklah, akan Ayah belikan pelampung agar bisa bermain air," ucap Arjuna saat melihat Sig dan Loria asik memukuli air yang hanya setinggi telapak tangan itu.
Naomi diam-diam memperhatikan karena cemas jika Arjuna kerepotan. Namun, Arjuna membuktikan jika ia mampu mengurus dua anak itu.
Loria ia baringkan pada kursi mandi portabel dan Sig ia dudukkan sembari dibasuh tubuhnya perlahan.
Naomi langsung beranjak saat Arjuna membawa keduanya dalam balutan handuk menuju ke matras untuk dipakaikan baju.
Namun kali ini, sepertinya konsentrasi Arjuna buyar. Ia malah memakaikan Loria baju milik Sig yang notabene adalah bayi laki-laki.
"Eh?!" pekiknya kaget sendiri saat menyadari jika baju yang dikenakan puterinya bukan miliknya.
"Hahaha! Kalian lucu sekali bahkan memiliki ekor!" seru Arjuna ketika dua bayi itu tengkurap dan asyik memakan tangan sendiri. "Lapar ya? Ayah siapkan susu dulu," ucap Arjuna seraya memukul gemas pantat dua bayi beda kelamiin itu meski berlapis popok.
Arjuna dengan penuh perhatian membaringkan dua bayi itu di ketiaknya sisi kiri dan kanan. Sig dan Loria tampak nyaman saat dipeluk oleh pria bertato itu.
Perlahan, Arjuna memejamkan mata. Ia tampak lelah dan mengantuk usai dihajar habis-habisan oleh Naomi, memandikan Sig dan Loria serta mengajak mereka bermain sedari tadi.
Perlahan, Naomi melangkah memasuki ruangan mendatangi ketiganya di mana bayi Loria dan Arjuna sudah tertidur pulas.
Naomi tersenyum lebar di mana Jordan saja tak bisa menidurkan Sig, terlebih mengajaknya bermain karena pemuda itu bukan tipe lelaki yang banyak bicara meski Naomi tahu jika Jordan sangat menyayangi puteranya.
"Kau lebih ceria saat bersama Arjuna dan Loria di sisimu, Sig. Kau juga banyak bicara saat bersama pria brengsekk ini. Apakah ... kau bersedia jika ia menjadi ayahmu? Meski demikian, Jordan tetap tak bisa tergantikan," tanya Naomi lirih kepada sang anak.
"Hemm ... mam-mam," jawabnya imut seraya memberikan botol dotnya yang telah kosong ke wajah Arjuna.
Seketika, Arjuna terbangun karena merasa wajahnya basah dan seperti dipukul-pukul dengan benda lunak.
Namun, ia lebih terkejut lagi saat Naomi duduk bersimpuh di sampingnya. Arjuna kembali gugup, tapi keningnya berkerut saat Naomi tersenyum.
"Apakah kau bersedia menjadi ayah Sig? Aku tak bisa membesarkan Sig seorang diri meski S ada di sisiku. Hanya saja, aku tak mau membebani ayahku. Dia sedang merintis usaha, dan aku tak mau merusak impiannya," tanya Naomi yang membuat Arjuna melebarkan mata.
"Ayah baptis atau bagaimana?" tanyanya bingung.
Seketika, wajah Naomi berubah masam karena Arjuna tidak peka. Ia langsung beranjak dan berjalan gusar.
__ADS_1
"Na-Naomi! Apa aku salah bicara? Apa maksud dari pertanyaanmu?" tanya Arjuna berteriak sampai membangunkan Loria dan membuat Sig terperanjat karena kaget. "Oh! Maaf, Sayang. Ayah tak sengaja," ucap Arjuna lalu menimang keduanya dengan panik seraya menahan kantuk.
Naomi menghentikan langkah dan kembali menatap Arjuna tajam dari tempatnya berdiri.
"Aku tak mau kau hanya menjadi bagian dari keluargaku tanpa status pernikahan. Jika tak mau ya sudah! Aku tak akan memintanya lagi!" jawab Naomi gusar, tapi membuat mata Arjuna terbelalak lebar.
"Ka-kau? Aduh ... sebentar, Nak. Ayah ingin memastikan pendengaran dulu," pinta Arjuna pada Sig karena bayi tampan itu meminta dotnya diisi ulang. "Sebentar ya, sebentar saja. Ayah tak mau kena pukul ibumu lagi. Semua isi stok ASI di lemari es akan menjadi milikmu," ucap Arjuna seraya merebahkan bayi Sig ke matras di mana bayi Loria kembali tidur meski susunya belum dihabiskan.
Sig yang masih haus dan lapar, tak segan mengambil botol dot dari genggaman tangan Loria lalu meminumnya.
Arjuna merangkak dan berusaha berdiri mendekati Naomi yang tersenyum tipis melihat tingkah lakunya.
"Ka-kau memintaku menikahimu? Begitu? Apa ... kau demam lagi? Aku khawatir kau mengigau, Naomi?" tanya Arjuna cemas, tapi perkataannya membuat Naomi kembali menunjukkan wajah masam.
"Haruskah aku memukul kepalamu agar kau peka, ha? Sepertinya aku memang harus berbuat kasar padamu, Kim Arjuna. Aku tak bisa membayangkan betapa tertekannya Tessa menghadapi sikapmu yang menjengkelkan itu!" bentak Naomi yang membuat Arjuna sedikit memundurkan tubuhnya karena kaget.
"Kau ...."
"Aku masih mencintaimu, Tuan Muda. Namun kali ini, aku tak segan memarahimu jika sikapmu kembali menyimpang. Aku ingin kau menjadi suamiku, menjadi ayah untuk Sig, dan aku ... ingin kau menjadi satu-satunya lelaki terakhir yang kucintai. Apakah kali ini kaupaham dengan yang kuucapkan?" tanya Naomi seraya memeluk Arjuna, tapi lelaki itu malah mematung.
"Kim Arjuna?" tanya Naomi dengan intonasi menekan.
"Ha? Ya, tentu saja. Tentu saja aku mau. Apapun yang kaukatakan, aku bersedia," jawabnya gugup dan ragu untuk membalas pelukan itu.
Perlahan, senyum Arjuna terkembang saat ia mulai bisa menelaah permintaan Naomi. Jantungnya berdebar kencang.
Ia tak menyangka jika Naomi masih mencintai bahkan memberinya kesempatan untuk hidup bersama untuk selamanya.
"Junet bener-bener bikin malu. Kalo ibumu tau si Naomi yang ngajak nikah, bisa disembelih kamu," ledek Eko yang tiba-tiba muncul dari balik pintu bersama yang lain.
Arjuna terkejut, begitupula Naomi. Keduanya melepaskan pelukan dan tampak canggung saat ditatap semua orang dalam senyuman.
"Dia ini bodoh dan tidak peka. Harus menggunakan kata-kata pedas agar paham yang dikatakan," ucap Naomi yang membuat Arjuna seperti orang linglung hari itu.
"Oia itu. Setuju, Nom! Junet emang geblek. Bloonnya gak ketulungan soal hati dan perasaan. Sering-sering aja kamu omelin. Eko ikhlas," sahut Eko yang membuat semua orang tersenyum.
Tiba-tiba saja, Arjuna memeluk Naomi erat yang mengejutkan semua orang termasuk ibu dari Sig.
"Aku sangat mencintaimu, Naomi. Terima kasih," ucap Arjuna terlihat begitu bahagia karena mendapatkan kembali cinta kasih dari mantan bodyguard-nya.
Han dan S saling memandang dalam senyuman. Satu per satu dari mereka memberikan selamat bagi pasangan baru calon suami isteri itu.
Bahkan, Arjuna segera menghubungi Jordan perihal hal ini meski semua orang di kediaman S tampak gugup.
"Hem, aku tahu jika akan seperti ini akhirnya. Aku ucapkan selamat pada kalian berdua. Berjanjilah jangan sampai Naomi dan Sig sengsara, Kim Arjuna. Aku masih menyimpan pedang Silent Red dan benda tajam itu bisa membelahmu kapanpun saat kutahu kau menelantarkan mereka. Pegang janjiku," tegas Jordan yang membuat semua orang terdiam tampak shock, sedang Arjuna tersenyum tipis.
"Kau juga. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejatimu. Terima kasih atas kebodohanmu, Jordan. Kini, Naomi milikku dan tak akan kulepaskan lagi meski kau bersujud memintanya padaku," jawab Arjuna tegas seraya merangkul pinggang Naomi yang kini menempel lekat di tubuhnya.
Naomi tampak malu, tapi ia tersenyum tipis karena tak menyangka jika tuan mudanya dulu begitu mencintainya.
Jordan tak menjawab dan menutup panggilan itu. Arjuna tampak bahagia dan senyumnya tak memudar sedikitpun sejak hari itu.
Semua orang ikut lega karena pada akhirnya dua insan yang sejak dulu saling mencintai akhirnya bisa bersama untuk selamanya.
__ADS_1
...--- Kisah Naomi dan Junet end sampai sini ya ---...
tapi kok lele cedih ya? huwaaa😭😭😭 btw pemenang LIH udh lele share di IG. Silakan dicek dan selamat bagi pemenang❤️