4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Diselesaikan Ibu


__ADS_3

Bulgaria. Markas Kolektor.


Mereka bicara dalam bahasa Arab. Terjemahan.


"Jadi ... kalian bertiga adalah 10 anggota dari Biawak milik Sutejo, begitu?" tanya salah satu kolektor asal Libya—Malika.


Biawak Cokelat, Kuning dan Putih mengangguk.


"Lalu, siapa gadis itu?" tanya Malek dari Tunisia menunjuk Lucy.


"Dia salah satu orang kepercayaan Vesper yang diutus langsung olehnya untuk menemui kalian," jawab Biawak Kuning tegas dan Lucy terlihat tetap tenang dalam diam dengan earphone translator di salah satu telinganya.


"Vesper? Tentang apa?" sahut Iskra yang tak ikut dalam penyerangan Sudan di Turkey.


Lucy meletakkan ponselnya di atas meja di hadapan para kolektor. Praktis, mata orang-orang itu melebar saat melihat nama Vesper di sana.


Iskra dan para kolektor langsung duduk dengan tegap padahal hanya berupa panggilan telepon saja.


"Ya, Lucy?" jawab Vesper dengan suara lemah.


"Saya sudah di sini," jawabnya yang memperdengarkan panggilan telepon tersebut.


"Hem. Terima kasih. Salam. Aku Vesper, senang bisa berbicara dengan kalian semua. Apakah ... suaraku terdengar jelas?"


"Yes," jawab semua orang terlihat gugup.


"Baiklah. Mudah saja. Hentikan perburuan kalian pada Sandara. Dendam yang terjadi antara Sudan dan Sandara. Kenapa kalian ikut terlibat? Kalian sudah dengar kabar terbaru di Turki?"


"Kabar di Turki? Tentang apa?" tanya salah satu kolektor asal Mesir.


"Sudan telah tewas, begitupula salah satu pria bertopeng anak buah Miles, yang lebih tepatnya asisten mertuaku dulu. Adipura. Orang itu adalah Bima. Orang-orangku, yang dulunya juga menjadi anak buah Sutejo, The Kamvret, Trio Bali melaporkan temuan mereka. Selama ini, mereka mengintai pergerakan Sandara dan Sudan. Mereka sengaja tak terlibat. Jadi, dendam Sudan telah diselesaikan. Ayah dan anaknya telah tewas. Apakah kalian ingin memperpanjang rantai dendam ini? Jika ya, akan kukirimkan orang-orangku ke sana sekarang untuk melenyapkan nama Kolektor sampai ke generasi penerus."


Praktis, mata semua orang melebar termasuk Lucy dan tiga Biawak.


"Kau sungguh kejam, Vesper!" teriak salah satu kolektor asal Saudi Arabia.


"Kalian yang memaksaku. Jadi, aku hanya memberikan dua pilihan. Pertama, terima tawaranku dengan menghentikan rantai dendam ini. Sudah cukup Sudan, Jibran, dan orang-orang Huri yang tewas akibat kesepakatan tak menguntungkan ini. Imbalannya, aku mendukung penuh kegiatan Kolektor. Bahkan, aku menjamin keselamatan kalian dengan Black Armys-ku sebagai penjaga. Asal kalian tahu, Miles mengincar kalian," ucap Vesper yang membuat semua orang terlihat tegang.


"Kedua. Kalian menolak tawaranku, maka, satu per satu dari kalian, akan kupastikan hanya akan menjadi nama, dan nama kolektor akan lenyap bersama dengan para pemimpinnya. Aku ingin jawaban sekarang. Lima menit," tegas Vesper yang membuat para kolektor panik seketika.


"Wa-wait," pinta salah satu kolektor gugup dengan telunjuk di arahkan ke empat orang utusan Vesper.


Lucy dan lainnya mempersilakan para kolektor untuk berdiskusi.


"The power of emak Vesper. Ngeri, padahal cuma telepon doang," bisik Biawak Cokelat dan diangguki oleh kawan-kawannya.

__ADS_1


"Untung kita udah tobat dari dunia pengkhianatan. Coba gak, nasib kita sama kaya Biawak lainnya. Apalagi si Ungu kembar, ngenes matinya," sahut Biawak Putih dan diangguki lagi oleh orang-orang dari kubu Vesper.


"Lima menit habis," ucap Vesper yang membuat semua orang langsung terlihat serius.


"Oke! Kami, para kolektor menerima penawaran pertama. Berdamai. Namun, berjanjilah Anda mengirimkan Black Armys untuk—"


"Oh! Mereka sudah di sini! Bagaimana bisa?" tanya Lucy terkejut.


"Gak usah tanya. Anggap aja mbak Vesper kaya cenayang," sahut Cokelat ikut kaget.


"Apakah pasukanku sudah di sana?" tanya Vesper.


"Ya, Mbak," jawab Biawak Kuning terkesiap melihat para pria berseragam hitam memasuki ruang rapat dipenuhi koleksi hewan-hewan yang diawetkan.


"Aku kirimkan 100 Black Armys. Masing-masing 10 orang untuk 1 Kolektor. Sisanya, untuk menjaga markas di Bulgaria. Jangan kalian pikir aku tak tahu di mana rumah kalian berada. Semuanya, sudah ditandai."


Para kolektor menelan ludah. Lucy sebagai pengantar pesan malah terlihat pucat. Ia mengibaskan tangannya yang mendadak merasa ruangan itu pengap seketika.


"Itu saja dariku. Semoga keselamatan selalu menyertai kita. Salam."


KLEK! TUT ... TUT ... TUT.


"Gitu doang?" tanya Biawak Putih dan Lucy mengangguk seraya mengambil ponselnya lagi.


"Tanda tangan kesepakatan," sahut Biawak Kuning seraya meletakkan sebuah koper dan membuka isinya.


Terlihat, beberapa lembar dokumen telah siap dengan logo Vesper dan tanda tangan sang Ratu di sana.


Para Kolektor akhirnya merapat untuk melakukan kesepakatan tertulis itu.


Diam-diam, Vesper menugaskan Eiji untuk memasang pelacak pada koper yang dibawa oleh Biawak Kuning ke Bulgaria. Eiji melakukannya dengan rapi sehingga tak diketahui oleh siapa pun.


Eiji bahkan memasang beberapa pelacak di berbagai perlengkapan atas permintaan sang Ratu sebelum masa pensiunnya.


Vesper hanya mempercayakan hal-hal kritis pada para bodyguard-nya, meski ia kini telah kehilangan Tora yang sudah mengabdi pada keluarganya semenjak ikut sang ibu—Jiao Yu.


Vesper meminta Dominic untuk mengirimkan Black Armys ke markas kolektor, sebagai antisipasi jika opsi kedua harus dilakukan.


Di Turkey, Kediaman Ahmed.


Trio Bali yang didampingi Toras, selama ini diam-diam mengawasi Sandara. Meski awalnya mereka berpura-pura memihak pada Arjuna, tapi sebenarnya, mereka tetap melaporkan temuan pada sang Ratu.


"Jaga rumah itu dan pastikan Miles tak mengambilnya," pinta Vesper dengan suara parau terdengar begitu letih.


"Siap, Mbak Vesper!" jawab Trio Bali mantap.

__ADS_1


"Lalu ... bagaimana dengan pasukan Pria Tampan? Apakah mereka selamat?" tanya Vesper lagi.


"Selamat, Mbak. Kami berhasil mengamankan mereka saat kejar-kejaran dengan anak buah Sudan. Meski awalnya mereka ragu, tapi setelah kita yakinkan, akhirnya orang-orang itu bersekutu dengan kita. Mereka sekarang sedang membereskan sisa peperangan. Sebenarnya, kami bisa menyelamatkan Sudan, sebelum ditangkap oleh Bima, tapi ternyata, malah di DOR sama Sandara. Dia sudah berubah. Sudah gak imut-imut, manis dan menggemaskan kaya dulu. Udah mirip sedikit kaya Mbak Vesper. Dikit doang," jawab Wayan santai dari panggilan telepon.


Vesper tersenyum dalam panggilannya. Kai hanya diam dan ikut berbaring di samping sang isteri seraya memeluknya.


"Tapi aneh loh, Mbak Vesper. Menurut kesaksian Banu waktu ditangkap Hijau, seharusnya Bima ini ada di Kenya kediaman Yudhi. Lah kok dia bisa ada di sini? Apa laporannya palsu?" tanya Nyoman menimpali.


Wajah sang Ratu serius seketika. "Aku mengerti. Akan kupikirkan. Terima kasih sudah membereskan kekacauan ini. Tetaplah di sana sampai instruksi selanjutnya," pinta Vesper.


"Siap, Mbak Vesper!" jawab tiga orang itu serempak lalu menutup panggilan.


"Sejak kapan kau merencanakan ini bahkan tak melibatkanku?" tanya Kai gemas pada sang isteri yang masih menyimpan misteri padanya. Vesper tersenyum dengan mata terpejam.


"Sudah lama. Sejak kau pergi ke Yogyakarta ketika Adipura dinyatakan tewas. Jauh sebelum itu, aku sudah curiga pada Bima sejak Arjuna bersekolah di sana dari laporan Naomi dulu. Oleh karena itu, aku yakin jika Bima akan muncul suatu saat nanti. Namun, siapa sangka jika kematiannya malah jatuh pada Sandara. Walaupun menurut laporan jika Bima tewas oleh Sudan terlebih dahulu. Bagiku, sama saja. Intinya dia sudah mati," jawab Vesper lirih.


Kai mengembuskan napas panjang seraya mengecup wajah Vesper dengan lembut di kening dan pipinya. Vesper tersenyum.


"Berjanjilah kau akan selalu ada untuk anak dan cucu-cucu kita, Kai," ucap Vesper kembali membuka mata.


"Aku tak mau menjanjikan hal semacam itu," jawabnya ketus.


"Kenapa?" tanya Vesper menoleh ke arah suami termudanya.


"Bisa saja aku tiba-tiba tewas oleh sesuatu sebelum menunaikan janji itu. Aku tak mau ditagih olehmu saat di neraka dan membuatku harus kembali ke dunia. Jangan meminta padaku, suruh Han saja," jawab Kai menolak tidak seperti biasanya.


"Kenapa melibatkan aku? Kau yang diminta, bukan aku," sahut Han yang tiba-tiba muncul dengan wajah garang, tapi membuat Kai terkekeh termasuk Vesper.


"Siapa yang mengajarimu menggendong bayi dengan cara seperti itu?" tanya Kai langsung duduk melihat Han saksama.


"Anak-anak ini menangis. Aku tak tahu di mana pengasuh mereka. Jadi ... kugendong saja dengan kain seadanya. Mereka suka dan merasa nyaman. Benar 'kan Fara?" tanya Han menoleh ke belakang saat Fara diikat dengan kain di punggung yang membuatnya seperti koala. Fara mengangguk seraya menikmati pisang dalam genggaman tangan kanannya. "Selain itu, lihatlah. Benedict ini juga tak masalah dengan caraku menggendongnya," imbuh Han yang menggendong anak Cassie di depan layaknya kangguru.


Vesper terkekeh melihat cucunya tertidur pulas, tapi seperti orang berdiri karena tubuhnya menggantung.


"Ya sudah. Aku pergi dulu. Mengurus bayi membuatku lapar," ucap Han yang terlihat letih seraya berjalan dengan gagah dengan dua bayi di depan dan belakang tubuhnya.


"Hahaha, aku membayangkan jika dia juga harus menggendong anak dari Arjuna nanti. Mau ia letakkan di mana?" tanya Kai geleng-geleng kepala sudah berimajinasi sendiri.


Vesper tak menjawab dan kembali memejamkan mata. Kai mulai memudarkan senyumnya lalu mengecup kening sang isteri lembut. Kai membiarkan sang Ratu tertidur di kamar dan menyelimutinya dengan kain tebal.


***



waduh tipsnya serem😆 bukan minta crazy up kan ya? kwkwkw lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2