4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Semakin Tak Terduga


__ADS_3

Ternyata, rencana Tobias berhasil. Para polisi kini sibuk mengungkap siapa orang-orang yang membantai anggotanya tersebut.


Satu-satunya polisi yang masih bertahan meneruskan informasi seperti yang Toby ajarkan. Tentu saja, berita ini membuat heboh di Ceko.


Namun, suasana damai tetep dirasakan Tobias dan anak buahnya yang menetap sementara waktu di Ceko seraya menunggu Arjuna yang sebentar lagi akan tiba.


"Toby, Toby," panggil seorang pria menyenggol lengan Tobias pelan. "Wow! Ini aku, Damian," ucap Pion itu terkejut saat Tobias membuka mata dengan moncong pistol menempel di pipinya.


Tobias langsung menurunkan pistolnya saat ia mengenali sosok di depannya mengangkat kedua tangan.


"Emph. Ada apa?" tanya Tobias malas, masih berbaring di ranjang Pusat Kendali bawah tanah.


"Dia sudah datang."


Tobias kembali membuka mata dan langsung berdiri dengan sigap. Damian mengikuti pria bertato itu keluar dari Pusat Kendali menuju ke permukaan menyambut tamunya.


"Hanya kalian berdua?" tanya Tobias seraya menghisap cerutu pemberian Damian.


"Aku sudah membaca artikel tentang tindak kejahatan di Ceko hari ini. Biar kutebak, perbuatanmu?"


"Kau bodoh. Bukan cuma aku saja. Aku hanya berimprovisasi. Siapa suruh para polisi itu datang padaku. Mereka meminta kematian padaku. Ya sudah, aku kabulkan," jawab Tobias santai seraya mengembuskan asap rokok yang mengepul pekat.


Arjuna terlihat bersabar dengan suami dari kakak tirinya itu.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Arjuna melangkah masuk karena pria bertato itu tak mempersilakannya.


Sun tersenyum seraya membungkuk, tapi Tobias mengabaikannya. Damian tersenyum tipis menepuk pundak Sun dan mengajaknya masuk karena udara di malam yang dingin cukup mengusik.


"Bawa anak buahmu kemari untuk mengamankan rumah Jonathan," jawab Tobias seraya menghisap cerutu dan berjalan berdampingan dengan pria Asia yang memiliki banyak tato sepertinya.


"Kenapa harus aku?" tanya Arjuna seraya masuk ke sebuah pintu besi yang dibukakan oleh Dexter.


"Aku masih tak tahu pola penyerangan dari Miles. Sultan keparatt itu mengatakan jika Miles menginginkanku. Namun, kabar dari Kai tidak demikian. Torin menyimpulkan lain. Banyak gosip dan rumor tidak jelas. Aku tak mau termakan berita bohong itu sampai kuketahui kebenarannya," jawab Tobias ikut masuk ke Ruang Kendali dan kembali ke sofa lalu menyilangkan kaki dengan cerutu terapit di ujung bibirnya.


Arjuna melihat Ruang Kendali di ruang bawah tanah kediaman Jonathan sudah penuh orang dari kubu Tobias.


"Lalu, apa yang akan kaulakukan?" tanya Arjuna seraya duduk di sebuah sofa panjang dan diikuti oleh Sun yang berdiri di samping Tuan Mudanya.


"Aku akan mengejar Miles. Masalahnya, Dakota ikut menghilang dan kami tak bisa melacaknya. Daido tewas. Aku membutuhkanmu untuk mencari keberadaan Pionku itu," tegas Tobias lalu menghisap cerutunya lagi.


"Kenapa harus aku melakukannya?"


"Lalu apa tujuanmu kemari? Hanya mampir? Untuk memastikan jika Jonathan ada di rumah ini? Sayangnya, Kim Arjuna, saudara tirimu itu menghilang," tegasnya, dan Arjuna memalingkan wajah terlihat malas. Tobias menatap Arjuna tajam.


"Kabar yang Kai katakan jika bocah tengik itu dan lainnya tak menjawab panggilan, sudah pasti mereka diculik. Hanya saja, aku tak begitu mengenal Miles dengan baik. Tak satupun dari anggota The Cirlce dan No Face yang tahu tentang dirinya bahkan anaknya sendiri, Cassie. Miles ... orang yang sangat misterius dan licik sejauh pengamatanku," tegas Tobias kesal.


"Hem. Apa bedanya denganmu?" sahut Arjuna yang membuat Tobias langsung meliriknya tajam dengan cerutu dalam apitan dua jemarinya.


"Bedanya, aku terlahir menjadi penguasa dan dia, mencoba mengubah nasib dari pelayan menjadi seorang Tuan Besar. Hem, Kai contohnya, tapi ... usaha Kai berhasil," jawab Tobias, dan Arjuna tersenyum miring. Sun memilih diam tak berkomentar.


"Aku akan pergi dari sini esok hari dan mulai memburu Miles. Kita akan bertemu lagi saat pernikahan Yuki dan Torin. Aku cukup yakin, jika Miles akan membuat gara-gara saat kita semua berkumpul," tegasnya seraya mematikan bara di cerutunya lalu beranjak.


"Kau mau ke mana?" tanya Arjuna bingung.


"Tidur. Kau pikir? Masih ada dua kamar utuh di tempat ini dan akan kupakai," tegasnya lalu pergi begitu saja.


Arjuna menghembuskan nafas pelan. Ia menoleh ke arah Sun dan pemuda Asia itu mengangguk.


"Bisa tolong temani kami untuk memeriksa bengkel Jonathan?" tanya Sun ramah ke hadapan para Pion.


"Aku saja," jawab Damian, dan Sun mengangguk berterima kasih.


Larut malam, Arjuna, Sun, Damian dan salah satu anggota The Eyes, mendatangi bengkel Jonathan yang dibiarkan terbuka begitu saja dalam keadaan kosong tak berpenghuni.


"Waspada," tegas Arjuna telah siap dengan pakaian tempur Black Armys buatan Kai generasi terbaru.


Mobil memasuki halaman parkir bengkel. Anggota The Eyes membuka jendela mobil lalu menembakkan beberapa gas bius ke dalam ruangan hingga kepulan asap putih itu menyeruak di seluruh ruangan. Empat orang itu dengan sigap menyuntikkan serum.


"Sun," panggil Arjuna seraya menyiapkan persenjataannya.


Sun dengan sigap segera menggunakan teropong sensor panas untuk memindai pergerakan makhluk hidup di dalam bengkel Jonathan.


"Negative, Sir," jawab Sun yakin. Arjuna mengangguk bersamaan dengan Damian serta salah satu anggota The Eyes.


KLEK!

__ADS_1


Empat orang itu keluar bersamaan. Sun satu tim dengan Arjuna. Damian dengan anggota The Eyes bernama TE-75. Dua orang itu bergerak dengan tujuan berbeda.


Sun dan Arjuna akan pergi ke Pusat Kendali. Sedang Damian dan TE-75 akan menyisir seluruh ruangan untuk mencari petunjuk atas hilangnya orang-orang Jonathan.


"Tato-1, masuk," panggil Arjuna dari earphone yang terpasang di telinganya.


"Tato-1 diterima. Kami bisa melihat pergerakanmu dari kamera. Pemancar Fatamorgana pasti tak diaktifkan. Hati-hati," jawab Dexter di Pusat Kendali kediaman Jonathan.


Di sisi lain.


"Lysa, kau melihatnya?"


"Ya. Satelit Marlena melihat jika tak ada pergerakan di sekitar bengkel. Ini aneh, Toby. Terlalu sepi. Apakah ada jebakan?" tanya Lysa dari Pusat Kendali yang berada di Perusahaan Elektronik Jerman.


Tobias tak menjawab dan tetap melihat dari pantauan kamera mini yang dipasang pada seragam empat orang itu. Arjuna dan Sun menyisir dalam gedung yang gelap, begitupula Damian serta TE-75.


"Nyalakan lampu," perintah Tobias yang berdiri di depan beberapa layar yang terkoneksi dengan Pusat Kendali Jonathan.


"Copy that," jawab empat orang itu serempak.


Arjuna dan lainnya mencari saklar untuk menyalakan lampu di setiap ruangan yang mereka temukan.


KLIK! KLIK! KLIK!


Seketika, beberapa ruangan menyala terang. Ternyata, ada beberapa barang hilang seperti onderdil mobil, velg, ban, dan beberapa perlengkapan bengkel lainnya.


Orang-orang yang melihat hal itu yakin jika benda-benda itu dicuri karena bengkel tersebut menjadi kosong.


"Biarkan saja. Fokus ke tujuan kalian. Anggap saja, Jonathan bersedekah," ucap Tobias.


"Se-de-kah? Apa itu, Toby?" tanya Dexter dengan kening berkerut.


"Jangan lupa, aku memiliki titel lain, Al-Saleh. Aku ... muslim yang taat, saat ... dibutuhkan. Hem, begitulah," jawab Tobias sedikit gugup, tapi membuat Lysa terkekeh di tempatnya berada.


"Sedekah Jonathan sangat banyak. Jika dia tahu, pasti akan marah. Aku yakin itu," timpal Arjuna dan membuat Yuki yang ikut mendampingi Lysa tersenyum geli tak bersuara.


Namun, suasana hening beberapa saat kemudian.


"Toby, ini aneh. Sinyalku tak bisa melihat pergerakan Arjuna dan Sun saat memasuki koridor menuju Pusat Kendali. Bagaimana dengan komunikasi kalian?" tanya Lysa yang mengejutkan Tobias serta lainnya.


"Damian! Damian! Tarik mundur Arjuna dan Sun! Mereka hilang!" perintah Tobias lantang yang membuat Damian dan TE-75 segera membalik tubuh dengan sigap.


Dua orang itu bergegas menyusul Arjuna dan Sun menuju ke Pusat Kendali di ruang bawah tanah.


Disisi lain, Arjuna dan Sun yang fokus dengan misinya, tak menyadari jika sambungan komunikasi terputus.


Keduanya tiba di Pusat Kendali, tapi pintu itu digembok dari luar. Sun dengan sigap mengeluarkan belati Silent Gold dan menyalakan lasernya.


CESS! KLANG!


"Kenapa digembok?" tanya Arjuna heran, tapi Sun menggeleng tidak tahu.


Arjuna mendorong pintu itu perlahan. Ternyata, tempat itu gelap dan sepi. Sun mendekati dinding mencari saklar. Arjuna berdiri dengan dua tangan menggenggam pistol terarah ke depan dalam posisi siaga.


KLIK!


"HUWAHHH!" teriak Arjuna lantang mengagetkan Sun yang berdiri di belakangnya saat tiba-tiba saja, muncul dua ekor anjing beringas menyerangnya.


"Tuan Muda!" teriak Sun dengan mata melotot karena Arjuna diterkam dan dua tangannya langsung terkena gigitan karena serangan tak terduga itu.


DOR! DOR! DOR! DOR!


BRUK!


Arjuna mengerang kesakitan. Baju dilengannya robek begitupula tangannya ikut terluka dengan darah langsung mengucur deras di kedua tangannya.


"JUNA!" panggil Damian berhasil tiba di lokasi bersama TE-75 dan langsung mendekatinya.


"Sial!" geram Arjuna menahan sakit di kedua tangannya.


Beruntung, Sun dengan sigap menembak dua hewan yang berperilaku tak wajar tersebut. Sun dan Damian bergegas memapah Arjuna keluar dari Pusat Kendali.


Saat TE-75 akan ikut keluar, ia melihat Pusat Kendali tersebut seperti ditinggalkan dalam posisi komputer menyala. Remaja pria itu berjalan mendekat dan mencoba mengirim sinyal, tapi tidak bisa. Pemuda itu diam sejenak.


"Pusat, over," panggilnya ke Pusat Kendali tempat Tobias berada, tapi tak ada jawaban.

__ADS_1


TE-75 lalu mengeluarkan ponsel, tapi tak ada sinyal. Pemuda itu bergegas keluar, tapi malah menuju ke pintu keluar yang menembus ke hutan di belakang bengkel.


NGEKK ....


"Hei!"


"Oh!" Praktis, pemuda itu sampai terperanjat karena kaget. Sun mendatanginya dengan langkah cepat dan kening berkerut.


"Ada apa?"


"Sinyal di Pusat Kendali bengkel tak bisa mengirim keluar atau menerima. Apakah ... ada Pemancar Fatamorgana? Namun, tadi aku sudah mencoba menonaktifkannya, tapi ... masih tak bisa mendapatkan sinyal," jawabnya serius.


Kening Sun berkerut. Ia lalu mencoba menghubungi Damian dan Arjuna yang menunggu di mobil, tapi tak ada jawaban. Matanya lalu kembali ke pemuda di depannya.


"Selidiki. Aku akan beritahukan hal ini pada Tuan Muda," tegasnya dan pemuda itu mengangguk.


TE-75 segera melaksanakan perintah Sun dan mencari keberadaan Pemancar Fatamorgana yang tak diketahui letaknya itu.


"Tuan Muda!" panggil Sun saat melihat mobil yang ditumpangi oleh Arjuna dan Damian masih terparkir di halaman, tapi tak terlihat sosok mereka berdua. Sun segera berlari dengan cepat mendatangi mobil.


Tiba-tiba saja, SWOOSH!! BLUARR!!


"ARGHHH!!"


BRUKK!


Sun terlempar saat ia hampir sampai di mobil tersebut. Beruntung, pakaian tempur Sun anti api sehingga ia tak terkena luka bakar serius.


Sun tergeletak di teras ruangan tempat biasanya Jonathan memamerkan koleksi velg-nya.


Sun terlihat seperti orang linglung, tapi matanya menangkap pergerakan beberapa orang yang meluncur menggunakan tali dari atas pohon dan kini menarik tubuhnya yang masih shock karena serangan tak terduga itu.


"Hah, hah," engah Sun saat pandangannya kabur, tapi masih bisa melihat walau samar ketika ia di masukkan ke dalam sebuah mobil yang tiba-tiba saja datang dan masuk ke halaman bengkel Jonathan.


Sun didudukkan di bangku tengah. Ia menoleh ke arah jendela mobil dan melihat mobil yang ditumpangi Arjuna serta Damian terbakar hebat.


"Emph!" erang Sun saat mulut dan hidungnya dibekap dengan sebuah kain basah, tapi memiliki aroma kuat yang membuatnya langsung tak sadarkan diri.


BROOM!!


Namun, tanpa sepengetahuan mereka, TE-75 melihat kejadian itu dari atas atap bangunan dengan sebuah Pemancar Fatamorgana portabel dalam genggamannya yang biasa digunakan pada sebuah mobil.


"Oh, shitt," umpatnya terlihat pucat.


Segera, remaja itu turun ke lantai bawah untuk melaporkan yang ia lihat. Ia kembali ke Pusat Kendali dan menghubungi Tobias di mana sinyal sudah kembali aktif.


"Apa?!" pekik Tobias kaget sampai matanya melotot usai mendapatkan kabar mengejutkan dari salah satu anak buahnya.


"Sekarang bagaimana, Tuan?" tanya pemuda itu gugup.


"Cari tahu dari mobil yang kalian tumpangi tadi, apakah Arjuna dan Damian ada di dalamnya? Cepat!"


"Yes, Sir!"


Pemuda itu berlari keluar lalu memadamkan kobaran api dari mobil yang meledak hebat karena luncuran RPG dengan semprotan pemadam. Ternyata, tak ada bangkai manusia di dalamnya. TE-75 segera menghubungi Tobias kembali.


"Bagaimana?" tanya Lysa cemas yang kini ikut tersambung.


"Sepertinya, tuan Arjuna dan Damian dibawa pergi oleh mereka sebelum Sun menyadarinya," jawabnya berasumsi.


"Tetap di sana dan jangan ke mana-mana. Tutup semua pintu dan jendela. Singkirkan bangkai anjiing sialan itu. Dan pastikan, tempat itu tak dipasangi peledak," perintah Tobias tegas.


"Yes, Sir," jawab pemuda itu cepat dan segera kembali masuk ke dalam bengkel.


Remaja pria itu menutup semua pintu dan jendela di bengkel dan mematikan semua lampu kecuali di Pusat Kendali yang berada di bawah tanah.


Pemuda itu dengan sigap menyingkirkan dua bangkai hewan berkaki empat yang diyakini telah terkena serum monster karena matanya merah dan mulutnya berliur.


Tobias meminta Lysa mengabarkan kepada semua orang dalam jajaran Dewan 13 Demon Heads atas penyerangan ini dan hilangnya Arjuna, Sun, dan Damian.


Tentu saja, hal ini kembali menggemparkan semua orang dalam jajaran mafia elit itu.


***


kwkw jarinya mulai gak bs direm ini dr kemarin jdi tembus 2000 kata lebih kan😵 kl autor lain paling udh di pecah jdi 2 atau 3 eps😆 uhuy tengkiyuw tipsnya😍 maap telat up. kerjaan menggila gaes~

__ADS_1



__ADS_2