
Buffalo, menemani Vesper tidur di kamar. Ia khawatir jika ada bahaya mengancam, mengingat mereka berada di rumah orang lain.
"Ada apa, Nyonya Vesper?" tanya Buffalo yang melihat Vesper nampak murung di ranjang.
Vesper menonton tayangan ulang dari rekaman CCTV yang berhasil ditangkap oleh GIGA seraya duduk menyender dengan dua tumpukan bantal di punggungnya.
"Sepertinya ... Sandara memang belum ingin pulang. Apa kautahu yang kupikirkan, Fal?" tanya Vesper lalu mematikan tablet tersebut. Buffalo menggeleng pelan. "Aku merasa ... Sandara pembunuh Yudhi. Namun apa motifnya, aku tidak tahu. Aku semakin tak mengerti jalan pikiran anak-anakku. Aku merasa ... semakin jauh dari mereka," jawabnya sendu sembari meletakkan tablet di meja samping ranjang.
"Mereka sudah semakin besar, Nyonya. Mereka pasti memiliki keinginan dalam tujuan hidup. Kita sebagai orang tua, hanya bisa mendukung, melindungi, dan menasehati," jawab Buffalo pelan. Vesper tersenyum dengan mata terpejam, seperti siap tidur.
"Aku hanya merasa ... mereka sudah tak membutuhkanku lagi, Fal. Mereka sudah dewasa. Jika aku terlibat terlalu jauh, aku khawatir, hal itu malah membuat mereka merasa terusik karena privasi dicampuri, meski aku Ibu mereka," jawab Vesper lirih.
Buffalo diam menatap Vesper saksama lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh wanita yang berjasa besar pada hidupnya itu.
Seketika, mata Vesper kembali terbuka saat Buffalo memeluknya dari samping. Vesper mengelus punggung Buffalo lembut.
"Apa kau bahagia hidup bersama Drake?" Buffalo mengangguk. "Entah kenapa, Fal. Aku merasa ... orang-orang yang bukan anak kandungku, malah lebih menyayangiku ketimbang anak-anak yang lahir dari rahimku. Termasuk Tobias. Meski dia pembangkang, tapi ... dia menuruti semua hal yang kuucapkan. Aku ... ingin menghabiskan waktu dengan cucu-cucuku," ucapnya lirih.
"Kau akan memiliki banyak waktu untuk melakukannya, Nyonya," sahut Buffalo terlihat sedih masih memeluk Vesper.
"Jika Djibouti tak membuahkan hasil, aku ingin menghabiskan masa tuaku dengan cucu-cucuku, Fal. Bisakah ... aku mengandalkanmu dan lainnya untuk menjaga wasiatku?" tanya Vesper melirik Buffalo yang perlahan menaikkan pandangan. Wanita tangguh itu mengangguk pelan. "Terima kasih, Fal. Terima kasih," ucap Vesper lirih dan kembali memejamkan mata.
Entah kenapa, Buffalo terlihat sedih mendengar ucapan Vesper. Ternyata, pembicaraan itu di dengar oleh semua bodyguard Vesper di balik pintu. Eiji menemukan petunjuk di mana Sandara berada.
Namun, melihat Vesper terlihat letih, Eiji dan lainnya mengurungkan niat. Mereka pergi dan kembali ke kamar masing-masing.
Keesokan harinya, saat sarapan di ruang makan.
Semua bodyguard Vesper berkumpul termasuk orang-orang Sudan yang sepertinya penasaran dengan sosok Vesper karena pertama kalinya, mereka berhadapan langsung bukan dari rumor.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Kenapa kalian malah diam saja? Ayo, makan bersama," ajak Vesper, tapi malah membuat orang-orang itu terkejut.
"Ma-makan bersama Anda?" tanya seorang pria gugup. Vesper mengangguk pelan. "Sungguh?" tanya pria itu terlihat tak percaya.
"Weladalah. Banyak nanya loh," sahut Eko gemas, tapi orang-orang itu tak mengerti.
Eko meminta orang-orang itu mengambil kursi untuk duduk di sekitar mereka. Tentu saja, para penjaga berkulit hitam itu terlihat antusias.
Buffalo dan lainnya membagikan makanan yang ada di meja makan untuk semua pria itu meski tak merata karena jumlah makanan yang terbatas.
"Nyonya Vesper, maaf jika lancang," ucap seorang pria dengan piring dalam genggaman.
"Yes?" tanya Vesper menatap pria itu sendu.
"Jika ... suatu saat, yah ... entahlah, apapun bisa terjadi. Bolehkah ... aku bergabung denganmu? Aku sangat ingin menjadi salah satu pasukan Black Armys-mu," jawabnya gugup, tapi membuat terkejut semua orang.
Vesper hanya tersenyum tak menjawab.
"Aku juga ingin, Nyonya, jika diperkenankan," sahut pria lainnya mengangkat tangan.
Tak lama, seluruh penjaga kediaman Sudan ikut melakukan hal yang sama. Para bodyguard Vesper tersenyum tipis seraya menyuapi mulut mereka yang kelaparan.
"Aku tak bisa menjanjikan hal itu. Keadaan, sedang tidak mendukung. Sudah benar kalian memihak Sudan. Jangan membuat ulah jika tak ingin kehilangan nyawa," jawab Vesper tenang, tapi wajah kecewa nampak di raut para pria itu.
"Nona Lily. Kecebong menemukan sebuah kertas origami di jendela Guest House tempat Sandara tinggal sementara waktu. Hanya saja, Kecebong tidak paham karena menggunakan sandi rumput. Ini isi suratnya," ucap Eiji seraya menyerahkan tablet-nya kepada Vesper.
Terlihat semua orang tegang, tapi Eko dan kawan-kawan prianya telah mengetahui hal tersebut semalam. Seketika, mata Vesper melebar.
__ADS_1
"Dara hamil anak Yudhi?!" pekiknya yang membuat Buffalo ikut tertegun.
"Hanya saja. Alasan tewasnya Yudhi masih tanda tanya, Nona. Jika Yudhi ayah dari janin yang dikandung Sandara, kenapa dia dibunuh? Apakah ... ada sebuah kesepakatan atau semacamnya?" tanya Seif heran.
Vesper terlihat pusing karena memijat kepalanya.
"Sekarang gimana, Mbak Vesper? Tambah rumit ini. Namun, Eko yakin. Perginya Dara sama anggota HURI dan Sudan, ada sangkut pautnya dengan hal ini. Kita harus menyelidikinya. Eko khawatir, hal ini menimbulkan konflik baru," tegasnya dan Vesper masih diam tak menjawab.
"Libatkan Afro," jawabnya seraya membuka mata.
"Afro? Anda yakin?" tanya Drake ragu.
"Afro harus tahu keadaan Sandara. Minta Afro menemuiku di Djibouti. Katakan, aku menunggunya di sana," perintah Vesper tegas dan Eiji mengangguk siap.
Para bodyguard Vesper lainnya menatap Ibu dari Sandara saksama. Terlihat jelas, Vesper seperti memikirkan sesuatu.
"Kalian. Interogasi semua anak buah Sudan. Minta mereka memberikan pendapat tentang dua majikan mereka itu. Gunakan gas halusinasi. Kita tak memiliki banyak waktu. Kita harus segera ke Djibouti dan selanjutnya, ke pernikahan Yuki-Torin."
"Yes, Mam," jawab orang-orang itu sigap.
Tora dan lainnya segera menghabiskan makanan. Mereka yang bicara menggunakan bahasa Indonesia, tak dimengerti oleh anak buah Sudan.
Usai sarapan, orang-orang itu dikumpulkan dan diinterogasi secara masal satu persatu oleh bodyguard Vesper. Eiji melakukan perekaman dari pengakuan mereka.
"Sudan," ucap Vesper menatap tajam dua wajah dalam bingkai foto yang ditemukan Eko kemarin.
Kediaman Khafi Sudan, Djibouti, Afrika.
Sandara disambut bak puteri di kediaman salah satu kolektor tersebut. Sandara terlihat sungkan ketika diajak bersalaman dengan pria tampan bernama Jibran, anak dari Khafi Sudan.
Jibran merangkul pundak Sandara, tapi dengan sigap, Sandara menampiknya dengan kasar. Semua orang terkejut.
"Bersalaman, itu sudah dari cukup. Tak perlu menyentuhku, atau aku tak segan, melakukan hal sama seperti ibuku saat masih muda dulu," tegas Sandara mengancam dengan telunjuknya.
"Apa itu?" tanya Khafi penasaran.
"Potong tangan."
Praktis, semua orang terlihat tegang seketika, tapi Jibran terlihat tak khawatir dengan ancaman itu. Ia mempersilakan Sandara ikut dengannya dan tak menyentuhnya lagi.
Jibran membawa Sandara berkeliling rumahnya di mana kini, kediaman Sudan akan menjadi tempat tinggalnya sementara waktu sampai saatnya melahirkan nanti.
"Di mana para isteri tuan Khafi?" tanya Sandara karena para HURI tak ikut dengannya. Khafi seperti memiliki tugas untuk para wanita berkerudung itu.
"Oh. Sama seperti mendiang tuan Sutejo. Para isteri dan anak-anak dari ayahku tersebar di seluruh penjuru dunia," jawab Jibran menghentikan langkah saat mereka tiba di sebuah pintu usai menaiki tangga menuju ke lantai dua. "Ini ... kamarmu."
CEKLEK!
Sandara tersenyum, ia terlihat menyukai kamar barunya yang sesuai dengan seleranya. Sandara masuk perlahan dan melihat fasilitas yang disediakan oleh kamar tersebut.
"Apa kau bermaksud menyindirku dengan warna ungu ini? Janda?" tanya Sandara seraya menaikkan salah satu alis. Jibran terkekeh.
"Janda? Memangnya ... kau sudah menikah?" tanya Jibran heran.
Sandara diam menatap Jibran lekat. "Aku sudah bertunangan."
__ADS_1
"Oh, biar kutebak. Afro? Hem. Asal kautahu, Sandara. Afro memiliki garis keturunan dari The Circle. Semoga, dia bukan salah satu target pelenyapan dari misi kita nantinya."
Praktis, mata Sandara melebar. Sandara melangkah dengan sorot mata tajam menunjuk pria berambut abu-abu tersebut.
"Berani kau menyakiti kak Afro seperti yang Yudhi lakukan, aku tak segan merobekmu dengan tanganku. Aku mempertahankan janin ini karena kesepakatan dengan ayahmu. Aku tak peduli jika harus menggugurkannya. Aku tak, menginginkannya," tegas Sandara.
Jibran menarik napas dalam. Ia lalu mengangkat kedua tangannya ke atas seraya mundur.
"Oke. Aku tak akan menyentuh kak Afro tersayangmu. Namun sebaiknya, kau sampaikan pada ayahku dan kolektor lainnya. Kau tak menyebutkan nama Afro sebagai target pengecualian. Sebaiknya, kau bergegas. Ayahku, orang yang cepat dalam bertindak."
Segera, Sandara keluar kamar dengan sigap. Ia berjalan tergesa menuruni tangga untuk menemui Khafi. Namun, Khafi dan para HURI sudah tak ada di lantai dasar tempat mereka berkumpul tadi.
"Di mana mereka?" tanya Sandara kepada salah satu penjaga berkulit hitam.
"Pardon me?"
Sandara menghela napas panjang. Ia baru sadar, hanya Khafi dan Jibran saja yang bisa bahasa Indonesia.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Di mana Khafi Sudan?"
"Oh. Tuan dan para HURI telah pergi untuk menjalankan misi. Kami tak tahu tujuan mereka. Ada apa? Anda bisa mengatakan padaku. Saya akan meneruskannya pada tuan Khafi," ucap salah seorang pria terlihat sigap, tak seperti bodyguard lainnya.
"Kirim pesan pada Khafi Sudan. Katakan, Afro bukan salah satu target. Dia calon suamiku. Khafi tak boleh menyakitinya," tegas Sandara. Kening pria itu berkerut.
"Calon suamimu Afro? Namun, tuan Khafi mengatakan jika kau akan menikah dengan tuan Jibran."
Seketika, mata Sandara melebar. Ia membalik tubuhnya dan melihat Jibran tersenyum manis di lantai dua dekat tangga. Jibran membalik tubuhnya dan berjalan begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"JIBRAN!" panggil Sandara lantang terlihat begitu marah, tapi sosok pria itu sudah tak terjangkau matanya lagi.
Sandara mengepalkan kedua tangannya terlihat marah. Semua penjaga nampak siaga saat Sandara seperti akan mengamuk.
"Bawa aku pergi dari sini, jika tidak, aku akan membunuh janin dalam perutku," tegasnya mengancam. Pria berkulit hitam di depan Sandara terlihat panik.
"Satu ... dua ...," ucapnya mulai mengancam. "Ti—"
CLEB!
BRUKK!!
"Tangkapan bagus. Bawa dia kemari. Hempf, sepertinya ... gadis ini akan sedikit merepotkan," ucap Jibran menembak bius Sandara dari lantai dua.
Pria berkulit hitam yang berhasil menangkap tubuh Sandara sebelum menghantam lantai, segera membopong gadis cantik itu kembali ke kamar.
Jibran melepaskan jarum bius di leher calon isterinya. Pria itu meninggalkan Sandara di kamar tanpa menguncinya.
"Pastikan dia tak kabur. Aku tak mau Ibu dari calon anakku stres. Kalian mengerti?" tegas Jibran dan para pria itu mengangguk paham.
Jibran pergi meninggalkan rumah dengan pria yang menangkap Sandara tadi menggunakan mobil entah ke mana.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya, tapi brankas kosong😆 Jadi ... nanti sehari cukup 1 eps aja ya. Lele padamu❤️