4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
17 AGUSTUS*


__ADS_3

Akhirnya, tanggal yang dinantikan untuk menguak misteri dari keluarga Sutejo datang. Biawak Hijau dan Salma telah bersiap untuk menyambut kedatangan anak dari Markonah, salah satu isteri pak Sutejo.


Sedang anak buah Han yang berjaga di sekitar dengan menyamar layaknya warga sipil bersiaga.


Sayangnya, hingga malam menjelang, tak ada tanda-tanda kehadiran seperti yang dibicarakan oleh warga sekitar.


Pantauan CamGun yang dipasang sepanjang ruas jalan menuju ke kediaman itu, tak menemukan petunjuk apa pun tentang kemunculan keturunan Sutejo tersebut.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Bagaimana sekarang?" tanya Salma menatap suaminya yang terlihat serius memeriksa semua tampilan CCTV bersama dua orang petugas di sebuah ruangan yang dijadikan pusat kendali sementara.


"Sepertinya dia tahu kalau diincar. Entah dia takut sama kita, atau takut dengan Miles. Karena Ijo yakin, kalau anak-anak pak Sutejo itu pasti diancem. Hanya yang tua-tua aja berani melakukan tindak kejahatan. Contohnya seperti Yudhi. Dia anak baik-baik sebelum akhirnya ikut edan karena keadaan. Ijo yakin, yang lainnya juga senasib seperti dia," jawab Biawak Hijau mantap.


Salma mengangguk pelan. Saat Biawak Hijau mengajak isterinya untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tiba-tiba saja, sensor gerak menangkap pergerakan di kandang Llama/ilama.


"Bos!" panggil anak buah Han lantang menunjuk kamera CCTV saat melihat pergerakan di dalam kandang yang membuat hewan-hewan itu seperti menyingkir karena ada yang lewat.


"Tetep di sini dan siaga. Mas ke TKP. Muach!" ucap Biawak Hijau lalu meninggalkan ciuman rakus dibibir sang isteri hingga Salma terdorong ke belakang.


Sedang dua pria yang bertugas di pusat kendali seperti ingin muntah melihatnya.



Biawak Hijau bergegas ke titik yang dicurigai. Operator dengan sigap melaporkan kepada anak buah Han di lapangan jika ada pergerakan di kandang yang mengusik ketenangan para ilama. Segera, semua orang bersiap.


Biawak Hijau menggunakan teropong sensor panas untuk mendeteksi pergerakan di dalam, tapi ia kesulitan mendapat tangkapan karena ilama yang berada dalam kandang membuat targetnya tersamarkan.


"Oke," ucap Biawak Hijau akhirnya menggunakan gaya bertempurnya seperti Biawak.


Pria itu merayap di atas tanah menuju pintu kandang. Kening Salma berkerut saat ia melihat pergerakan suaminya dari teropong karena ia menjadi sniper.


"Hehe, apa yang dia lakukan? Aneh sekali," ucapnya menahan tawa, tapi melindungi sang suami.


KREK ....


Biawak Hijau mendorong pintu kandang perlahan. Ia mengintip dan mendapati hewan-hewan lucu itu berkumpul di tepian seperti ada sesuatu di tengah.


Biawak Hijau kembali merayap dengan perlahan agar pergerakannya tak ketahuan.


Hingga akhirnya, matanya melebar. Ia melihat seseorang memakai pakaian kamuflase mirip ilama sehingga sosoknya tersamarkan.


Mata Biawak Hijau menajam saat melihat orang itu mengangkat sebuah papan kayu dan ternyata ada lubang di bawahnya.


Biawak Hijau semakin merayap mendekat, tapi pandangannya terhalang oleh hewan-hewan berbulu dan berkaki empat tersebut.


"Oh! Bawa apa itu? Hei! Hei!" teriak Biawak Hijau lantang saat melihat orang itu menenteng satu buah koper hitam yang ternyata disembunyikan di lantai kandang selama ini. "Penyusup!" seru Biawak Hijau langsung berdiri.


Praktis, anak buah Han langsung menyergap di luar kandang tersebut. Orang itu menutup wajahnya dengan masker bulu dan hanya terlihat dua matanya saja.

__ADS_1


Sosok yang menggunakan pakaian kostum seperti ilama tersebut langsung mengangkat kedua tangan begitu semua moncong senjata terarah ke tubuhnya. Pria itu malah menjatuhkan kopernya.


Biawak Hijau berjalan mendekat dengan langkah gusar dan tak peduli dengan penampilannya yang berantakan terkena jerami.


SREKK!


"Eh?!" pekik Biawak Hijau kaget saat melihat sosok yang sepertinya ia kenal setelah maskernya ia tarik paksa.


"Siapa dia?" tanya Salma dari panggilan radio karena wajah penyusup itu tertutupi tubuh besar sang suami.


"Dia Banu. Anak terakhir dari bu Markonah kalo gak salah. Bener 'kan?" tanya Biawak Hijau menatap pria itu lekat dan lelaki dewasa yang memiliki kumis tipis itu mengangguk membenarkan, meski terlihat gugup. "Eh, Banu. Kamu masih inget sama Om gak? Om adalah Biawak Hijau. Salah satu anak buah bapakmu dulu," tanya Hijau, tapi pria itu malah diam mengedipkan mata.



"Oh! Om Biawak yang jumlahnya ada 10 ya?!" pekiknya, dan Biawak Hijau mengangguk membenarkan dengan wajah berbinar. "Ya, Om. Inget! Walaupun Banu masih kecil waktu itu, tapi Banu inget kalau jumlah anak buah kepercayaan bapak ada 10. Oh, Om salah satunya? Lalu, lainnya mana?" tanyanya seraya menurunkan penutup kepala seperti bulu ilama.


"Udah banyak yang tewas. Sisa 4 sekarang. Om salah satunya," jawabnya dan pria itu ber-Oh dengan mulut lebar.


Biawak Hijau menatap gerak-gerik pria dewasa di hadapannya seperti waspada dengan sekitar. Ditambah, banyak moncong senjata ditujukan ke arahnya.


"Itu apa?" tanya Biawak Hijau menunjuk koper tergeletak di samping kaki kanan Banu.


"Tolong Banu, Om. Tinggal Ibu yang masih hidup," jawabnya memelas.


"Kita ngomong di dalam aja ya," pinta Biawak Hijau dan Banu mengangguk.


"Gimana? Kayaknya gaswat ini," tanya Hijau menatap Banu lekat.


"Bukan gaswat lagi, Om. Banu udah sampai mau bunuh diri karena gak sanggup. Abang-abang jadi gila kekuasaan. Om Ahmed mati, Bude-bude juga, serta saudara-saudara lainnya. Banu gak tahan, Om," jawabnya lalu menangis.


Biawak Hijau bingung dan langsung memeluk Banu yang sesenggukan. Semua orang yang tersambung dengan pembicaraan itu diam menyimak.


"Kau sudah merekamnya?" tanya Salma kepada operator di pusat kendali.


"Yes, Mam," jawab salah satu operator mantap.


"Ulah siapa, Ban?" tanya Biawak Hijau lalu melepaskan pelukan.


"Miles, Om. Sepertinya, si Miles ini udah ngincer keluarga bapak sejak lama setelah tahu kalau almarhum itu mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. Awalnya, No Face yang datang. Mereka nawarin emas untuk ditukar. Ibu juga mata duitan, dia terima aja gitu gak mikir konsekuensinya. Sekarang imbasnya kaya gini," ucap Banu berkeluh kesah.


Biawak Hijau mengangguk-angguk dengan wajah serius saat mendengarkan.


"Gak lama setelah itu, kita diajak kumpul pas tanggal 17 Agustus di Suriname tahun berapa gitu untuk mengenang bapak, tapi ternyata keluarga bapak dibunuh-bunuhin semua. Ditembak idup-idup, Om! Banu liat pakai mata sendiri saat mereka nolak kerjasama dengan Miles langsung di DOR gitu," ucapnya seraya mempraktekkan.


Biawak Hijau berkerut kening.


"Akhirnya, sodara-sodara yang merasa diancem, mau kerjasama dengan Miles. Sayangnya, Banu gak dilibatkan karena dianggap anak bawang," sambungnya sambil memonyongkan bibir dan malah memainkan kostum ilamanya.


Biawak Hijau memegang dahi Banu seperti memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Hiyung alah! Lagi inget si Ijo. Kamu Banu si ...," ucapnya menggantung saat melihat Banu yang malah memandanginya dengan wajah lugu. "Ya, itulah pokoknya. Walah cah bagus, bejo tenan kamu. Mungkin ada gunanya juga kalau jadi orang oon ya. Kamu selamet dan sehat. Ini Ijo kudu berbahagia atau berduka ini. Walah," ucapnya seraya mengelus kepala Banu iba.


Banu yang duduk di atas jerami bersama ilama mengelilinginya tersenyum lebar dan terlihat senang dibelai.


"Oia, isi koper. Om katanya mau lihat 'kan?" tanyanya dan Biawak Hijau mengangguk mantap.


CEKLEK!


Praktis, mata Biawak Hijau melebar seketika.


"Banu suruh ambil ini sama Miles. Katanya, jangan sampai ketahuan sama orang 13 Demon Heads. Oia, Om orang 13 Demon Heads bukan?" tanya Banu menatap Biawak Hijau lekat. Biawak Hijau langsung menggeleng cepat. "Oh bukan ya. Baguslah kalau begitu. Ini rahasia, Om," sambungnya dan Biawak Hijau mengangguk cepat.


"Banu ini ... dia bodoh atau bagaimana? Secara logika, jika ayahnya saja mafia dalam jajaran anggota dewan 13 Demon Heads, sudah pasti anak buahnya juga," tanya Salma terheran-heran.


"Maaf, Nyonya. Sepertinya ... Banu ini sedikit ... keterbelakangan?" jawab anak buah Han selaku operator.


Salma ber-Oh dan tak lagi berkomentar. Suasana canggung seketika.


"Itu apa, Ban?" tanya Biawak Hijau karena tak mengenali benda tersebut yang bentuknya mirip seperti pemancar, tapi memiliki banyak tombol pada tiangnya.


"Katanya, ini alat yang udah Miles siapin selama ini. Em, kalau di film tembak-tembakan, sekali tekan, DUWARRR!!"


Biawak Hijau langsung terperanjat karena kaget ketika Banu berkisah dengan penuh ekspresif.


"Duwar? Meledak?" tanya Hijau sampai matanya melotot.


"Nah iya. Katanya si Miles. Dulu, para 8 Mens tewas dengan cara mengenaskan karena diserang secara serempak oleh 13 Demon Heads. Jahat ya, Om. Kasihan, mereka mati semua," ucap Banu iba.


Biawak Hijau mengembuskan napas panjang seraya memalingkan wajah karena ia juga terlibat dalam penyerangan itu.


"Nah terus, si Miles ingin menggunakan dengan cara yang sama. Dia ingin menghancurkan 13 Demon Heads secara serempak pakai alat ini. Katanya, Miles sudah memasang semua peledak yang terkoneksi sama alat ini di seluruh markas, rumah, toko, terus ... apalagi ya kemarin bilangnya, ya pokoknya gedung-gedung gitu punya 13 Demon Heads di seluruh dunia," ucapnya menjabarkan sampai merentangkan tangan seakan tempat-tempat itu ada banyak sekali.


Praktis, mulut Biawak Hijau menganga lebar seketika.


"Alat ini nanti terhubung sama satelit yang katanya udah berhasil dia ambil dari bosnya dulu. Mm, namanya sulit, tapi ada Igor-Igornya gitu lah. Nah, terus dikirim sinyal ke sana, teken 'enter' dan wasalam deh. Katanya, bakal ada kembang api besar di seluruh dunia. Hore!" seru Banu riang seraya bertepuk tangan.


Praktis, Biawak Hijau seperti terkena serangan jantung dan malah ambruk di lantai.


"Om! Om!" panggil Banu panik karena Biawak Hijau tergeletak meski matanya masih terbuka.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Yg tipsnya belom nongol sabar ya. Abisin punya mak ben dulu 😆

__ADS_1


__ADS_2