
Pagi menjelang. Yudhi dan Sandara telah bersiap dengan kostum mereka. Rumah telah dibersihkan, dan kini, hanya tersisa mereka berdua.
Dua orang itu terlihat sibuk meletakkan beberapa benda di sekitar rumah dan nampak lampu indikator menyala biru dari benda-benda yang ditutupi oleh benda lain.
Hingga akhirnya, siang itu. Sebuah helikopter mendarat.
Yudhi berdiri menyambut tamu yang datang mengenakan topeng setengah wajah, dan kostum layaknya bangsawan kerajaan berwarna hitam. Kesan misterius terpancar jelas dari sosoknya. Tak tampak sosok Sandara bersamanya.
Pintu helikopter terbuka, dan muncul Sierra, Albino, Atit, serta seorang gadis Asia. Mereka keluar dari benda terbang tersebut dan berdiri di pekarangan.
Tak lama, beberapa speed boat merapat ke pinggir pantai, meski dermaga telah hancur.
"Kau!" teriak Sierra lantang dengan otoped ia kendarai, mendatangi Yudhi yang berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang pinggang.
"Perhatikan langkahmu, Puteri Sierra. Kau tak ingin meledak dalam kepingan bukan?" tanya Yudhi mengulurkan tangan kiri menahan laju kendaraan matic itu.
Praktis, semua orang yang telah memijakkan kaki di atas tanah tegang seketika.
"Kalian bertiga, kemarilah. Berjalanlah di jalan setapak yang telah kubuat itu. Jangan melenceng, atau kalian akan meledak," tegasnya.
Atit, Albino dan si gadis Asia melaksanakan perintah Yudhi. Mereka bertiga berjalan dengan kedua tangan terborgol. Tiga orang itu menginjak sebuah papan batu yang di letakkan secara zig-zag sehingga langkah mereka terlihat tak beraturan.
Sierra bergegas menjentikkan jari saat tiga orang itu hampir sampai di tempat Yudhi berada.
Dua orang pria dari pasukan No Face segera mencontoh gerakan tiga orang yang telah merapat ke sisi Yudhi. Pemuda itu mengetahuinya, dan seketika, seringainya keluar.
KLIK!
BLUARRR!
"AAAAA!" teriak si gadis Asia terkejut saat tiba-tiba terdengar suara ledakan hingga matanya terpejam rapat dan kedua tangannya langsung menutup dua telinganya.
Mata semua orang terbelalak saat melihat tubuh dua pria anggota No Face tercerai-berai terkena ledakan. Bahkan, tubuh mereka yang sudah hancur masih bergerak-gerak seakan nyawa itu masih tersangkut di raga.
"Sudah kubilang. Perhatikan langkahmu. Aku mengawasi kalian. Ini rumahku. Jadilah tamu yang sopan. Pekaranganku masih sangat luas untuk mengubur kalian semua," ucap Yudhi tenang.
Mata Sierra terbelalak lebar. Ia terlihat begitu marah, tapi masih bersabar. Sang Puteri meminta anak buahnya tetap berada di tempat dan membiarkan tiga orang sandera mereka masuk ke dalam rumah.
"Dia ada di dalam. Cepatlah, waktu kita tak banyak," ucap Yudhi pelan.
Albino dan Atit mengangguk. Gadis Asia itu masih terlihat ketakutan. Ia digandeng dan dibawa masuk paksa oleh Albino.
Yudhi duduk di sebuah kursi teras seraya menikmati jus jeruk. Ia memandangi orang-orang No Face yang terlihat kesal padanya.
Albino, Atit, dan gadis Asia bernama Sohee terlihat gugup ketika memasuki ruangan redup tak bercahaya lampu.
Lorong yang mereka lewati hanya memanfaatkan sinar matahari yang menyusup dari celah-celah ventilasi, jendela, dan pintu.
Tiba-tiba, langkah ketiganya tersentak saat melihat sebuah kedipan lampu berwarna merah dari sebuah ruangan. Tiga orang itu berjalan mendekat ke arah pintu yang telah di buka dan mengintip.
Terlihat, seseorang duduk di sebuah kursi kuno berwarna merah maroon dengan kostum hitam berikut topeng yang menutup wajahnya.
Rambut wanita itu di kuncir kuda di atas kepala. Ia duduk dengan kaki menyilang. Aura ketegangan begitu terasa saat ia menggerakkan telunjuk kanannya untuk meminta mereka mendekat.
Mereka bicara dalam bahasa isyarat.
Wanita itu mengeluarkan sebuah kertas dengan tulisan sandi rumput di sana, dan mata Atit melebar seketika.
Atit menggerakkan bibir seperti orang bicara tanpa suara. Albino dan Sohee hanya diam saling melirik karena tak paham dengan gelagat dua orang yang saling berhadapan.
Tiba-tiba saja, wanita bertopeng itu beranjak dari kursinya dan berjalan perlahan ke arah Atit, Albino dan Sohee.
Wanita yang tubuhnya terlihat tinggi dan semampai itu berjalan melewati mereka begitu saja keluar ruangan.
"Ikuti saja, dan ...," ucap Atit berbisik lalu meletakkan telunjuk di depan bibir tanda agar dua orang di depannya tak banyak bertanya. Albino dan Sohee mengangguk paham.
Atit, Albino dan Sohee keluar dari kamar tersebut mengikuti sosok misterius yang menutupi dirinya dengan kostum aneh menggunakan topi lebar berbentuk kerucut seperti penyihir, gaun panjang, sarung tangan, dan topeng.
"Oh, sudah selesai?" tanya Yudhi seraya meletakkan gelas jusnya ke lantai lalu berdiri.
Kening Sierra berkerut melihat sosok tak dikenalnya yang terlihat begitu tinggi bahkan hampir menyentuh pintu. Anak buah Sierra langsung menyiagakan senjata.
"Sierra Flame! Masa kejayaanmu telah usai. Turuti perintahku dan kubiarkan kau hidup, untuk menjadi, budakku," ucapnya dengan suara lantang layaknya wanita dewasa.
__ADS_1
"Siapa kau? Sandara?" tanyanya curiga.
"Aku pemimpin No Face," jawabnya mantap seraya berjalan perlahan keluar dari rumah.
Sosok seperti penyihir itu berjalan dengan menginjak jalan batu yang tadi dilewati Atit. Langkahnya tertuju ke kumpulan orang-orang yang mengarahkan senjata ke tubuh wanita tak dikenal tersebut.
"Kau pasti Sandara! Drama apa yang sedang kaumainkan, hah?!" pekik Sierra lantang.
Wanita berpakaian hitam itu mengarahkan telunjuk kanannya ke para anak buah Sierra yang berada di sisi kanan. Para pria berpakaian hitam itu terlihat bingung karena tak paham dengan apa yang terjadi.
Tiba-tiba, telunjuk wanita itu berubah bentuk menjadi seperti sebuah pistol. Seketika, DODODODOOR!!
"ARGHHH!!"
"Oh!" kejut Sierra saat tiba-tiba anak buahnya ditembaki oleh sebuah senjata yang tak diketahui keberadaannya karena menyerang tubuh orang-orang itu dari sisi samping kanan, depan dan belakang.
Wanita itu lalu mengarahkan telunjuknya ke sisi sebelah kiri, dan orang-orang yang merasa dirinya dalam bahaya langsung mengeluarkan pistol.
"Jangan diam saja! Tembak dia!" teriak Sierra dengan mata melotot.
Wanita itu dengan sigap melebarkan tangan kiri hingga kelima jarinya terlihat jelas meski terbungkus sarung tangan. Seketika, BLUARR!!
"ARRGHHH!!"
"Hah, dasar gila! Apa yang kaulakukan Sandara?!" pekik Sierra melotot lebar.
Para anak buah yang tadinya mengepung tempat itu di sisi kiri dan kanan tewas, akibat serangan tak terduga tersebut.
Wanita bertubuh tinggi itu terus melangkah mendekati otoped yang dikendarai oleh Sierra. Saat wanita bermata biru itu akan kabur, tiba-tiba saja ....
CRETTT!!
"AAAAAA!"
BRUKK!!
"Puteri!" teriak para anak buah Sierra yang masih bertahan saat melihat pemimpin mereka jatuh di atas rumput setelah tersengat oleh alat tembak setrum ketika mengendarai otoped-nya.
"ARRRGHHHH!" teriak Sierra menjerit saat jari tangan kirinya digilas oleh roda otoped yang dinaiki oleh wanita bertopeng tersebut.
Semua orang yang melihat kebiadapan sosok tak dikenal itu mulai ketakutan. Yudhi memilih diam dengan pengendali dalam genggaman tangan kanan dan kiri berupa remote di dalam saku celana.
"Serahkan No Face padaku, Sierra Flame. Kau tak mengindahkan peringatanku. Sayang sekali, tak hanya kaki, kini seluruh jemarimu akan lumpuh olehku," ucapnya seraya memundurkan otoped-nya dan kini beralih ke tangan Sierra lainnya.
Gadis cantik yang tengkurap di rumput tak berdaya itu hanya bisa menangis sampai wajahnya memerah.
Kini, wanita berkostum itu turun dari otoped dan mengarahkan alas sepatunya yang memiliki besi runcing. Mata Sierra terbelalak.
"Aku hitung sampai tiga, menolak, punggung tanganmu akan menjadi alas sepatuku."
Sierra gemetaran, dan tak ada satupun yang menolong karena tiba-tiba saja, terlihat beberapa lampu berwarna merah berkedip di atas permukaan tanah di sekitar mereka berdiri.
"Berusaha menolong Sierra, kalian akan meledak. Nikmati ladang ranjau buatan kami," ucap wanita bertopeng seraya bertolak pinggang dan mulai mengangkat kaki kiri.
Orang-orang itu kebingungan dan meletakkan pistol mereka perlahan saat Yudhi membuka penutup kain pada kursi yang ia duduki.
Terlihat moncong senapan sudah disusun berjejer dan diikat pada sisi kursi kayu itu. Atit, Albino dan Sohee terkejut karena tak menyangka hal ini.
"Aku akan mulai menghitung dari tiga," ucap wanita bertopeng menundukkan wajah di mana gadis bermata biru itu menggeleng dengan isak tangis dan wajah sudah tergenang air mata. "Tiga!"
KRAKK!!!
"ARRGHHHHH!! AAAAAAAA! BAIK! BAIK!" teriaknya dengan mata terpejam dan erangan lantang kesakitan saat punggung tangannya tertancap besi-besi tajam yang menembus hingga ke telapak tangannya.
CRATT!!
"AAAAAA!! AAAHHHHHH! HIKS, HIKS," tangis Sierra hingga kedua tangannya gemetaran sampai seluruh tubuh bergetar karena sakit luar biasa dirasakan oleh dua tangannya.
"Kneel" perintah wanita itu menghadapkan tubuhnya ke para pria yang terlihat kebingungan dalam bersikap.
DOR!!
Praktis, semua pria langsung berlutut saat Yudhi menembakkan pelurunya ke atas langit saat ia menarik sebuah pistol dari balik pinggang.
__ADS_1
"Oke. Kau, angkat Sierra dan ikuti aku," perintah Sandara mendekati seorang lelaki bertubuh besar yang bersujud di rumput.
Namun, saat pria itu mengangkat kepalanya, tiba-tiba, BRUKK!!
"AGH!"
"DARA!" teriak Yudhi lantang saat wanita bertopeng itu jatuh terlentang karena kakinya ditarik oleh pria yang berpura-pura patuh tersebut.
Wanita berkostum yang diyakini adalah Sandara, menggunakan dua sikunya untuk membuat tubuh bagian atasnya terangkat sedikit untuk melihat pria yang melukainya. Dengan sigap, DUAKK!! KRAAKK!!
"AAAAAA!" teriak Sohee yang langsung dibungkam oleh Albino saat Sandara menggunakan salah satu kakinya yang leluasa untuk mendaratkan besi-besi tajam pada alas sepatunya ke wajah pria tersebut dan langsung menewaskannya.
"Kalian! Mati saja!" teriak Sandara lantang, dan langsung bangun dengan posisi berlutut.
Roknya ternyata bisa terbuka di mana ia menggunakan celana kain panjang dengan banyak pisau terikat di paha bagian luar sisi kiri dan kanan.
Sandara segera menarik pisau-pisau itu dan melemparkannya ke tubuh para pria yang terlihat panik karena tak siap.
Yudhi membantu kekasih hatinya dengan menembaki para pria yang berusaha untuk melukai Sandara.
"Kalian! Masuk ke dalam!" perintah Yudhi garang ke tiga orang yang akan mengoperasi wajah Sandara.
Albino, Atit, dan Sohee ketakutan. Mereka segera masuk ke dalam rumah dengan tergesa.
Yudhi menghabiskan seluruh amunisi dari semua senapan yang sudah ia persiapan di kursi kayunya. Belasan shotgun model lawas ia kokang dan ditembakkan ke seluruh anak buah Sierra.
Sandara melepaskan sepatu berdurinya dan berlari dengan kaos kaki hitam untuk melindungi kakinya.
Sandara melompat dengan lincah menghindari lampu-lampu warna merah yang tersebar di permukaan tanah.
DOR! DOR! BRUKK!
BLUARRR!!
SRING! JLEB!
BRUK! DUWAARRRR!!
Tubuh-tubuh yang roboh karena tembakan Yudhi dan sabetan pisau Sandara langsung menghantam permukaan tanah dengan keras.
Mayat-mayat itu meledak setelah terkena ranjau aktif. Sierra tak bisa berkutik dan tetap tengkurap di atas rumput dengan tangan berdarah hebat.
Tiba-tiba, muncul sebuah yacht berwarna putih dengan sebuah bendera yang Sandara kenali. Senyumnya terpancar seketika.
Gadis itu langsung membalik badan dan menatap Yudhi yang telah selesai menghabisi seluruh anak buah Sierra di halaman rumahnya.
"Mereka datang. Matikan semua," pinta Sandara. Yudhi segera menekan tombol dari remote yang ia masukkan dalam saku.
Semua lampu yang tadinya menyala merah dan biru di beberapa tempat langsung padam.
Sandara masuk ke dalam rumah seraya menenteng sepatu dengan alas duri besi tajam dan sebuah pisau koleksi Pak Sutejo di rumah itu yang telah berlumuran darah korbannya.
Yudhi menenteng shotgun dengan satu tangan saat mendatangi kumpulan pria berpakaian hitam yang berlari dengan sebuah senapan laras panjang mendekati kawasan pekarangan rumahnya.
"Vesper?" tanya Yudhi berdiri tegap.
"Yes. Pasukan Pria Tampan Jonathan," jawab salah satu pria mengenalkan diri.
"Ha?"
"My name is Dahlia. I'm the team leader."
Yudhi melongo untuk beberapa saat ketika melihat lima orang yang turun dari yacht tersebut adalah para pria dengan wajah rupawan dari berbagai ras.
***
Puanjang nih epsnya hampir 2000 kata😆 jarinya napsu gak bisa di rem😁
Seperti yg lele info di eps 67. Perkiraan tamat 4YMS2 adl akhir Des. Awal th kita mulai dg tambahan genre baru yakni fantasi krn lompatan taunnya udh cukup jauh😁 Jadi, mulailah baca simulation agar terbiasa. Tengkiyuw tipsnya~ lele padamu💋
__ADS_1