
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Semua orang kini menatap para anggota Red Ribbon seksama. Kali ini, giliran Toras yang berdiri untuk memberikan laporan.
"Kami udah minta tolong sama Eiji dan Monica untuk mencari tahu keberadaan Sandara dari sinyal yang terakhir di kirimkan, dan ternyata ketemu. Risky emang payah. GIGA SIA dan DARA memiliki kecocokan data. Mereka melacak menurut waktu dikirimkan pesan tersebut. GIGA berhasil meretas jutaan data yang masuk di waktu tersebut di berbagai dunia, dan ada satu jaringan yang terputus tak digunakan lagi. Disitulah Eiji dan Monica yakin kalau sinyal itu dikirimkan.'
"Good, lalu?" tanya Vesper penasaran.
"Bala Kurawa milik Arjuna sudah dikirimkan seminggu yang lalu untuk mendatangi lokasi tersebut, tapi ternyata tempat itu sudah kosong. Persis seperti dugaan si Tasya polisi dari Indonesia. Hanya saja, ada temuan kuburan di kawasan itu. Sepertinya, itu makam Mr. White. Dia mati," ucapnya yakin.
"Benarkah? Mr. White tewas?" tanya Arjuna mengulang. Toras mengangguk mantab.
Toras meminta kepada operator—Yuki—untuk menayangkan file yang dikirimkan oleh Bala Kurawa di lokasi pencarian. Vesper dan semua mafia menyaksikan tayangan tersebut dengan serius.
"Itu ada di mana?" tanya Martin menunjuk layar besar yang tergantung pada atap di deretan kursi ia duduk.
"Haiti, Kepulauan Karibia."
Kening semua orang berkerut terlihat berpikir.
"Hei, coba cermati," timpal Arjuna tiba-tiba. Semua orang kini menoleh padanya. "Belize, kediaman Tessa dulunya. Lalu Cuba, ada rumah Tobias di sana. Guatemala, markas Tessa dan makam Lucifer. Panama, Peru, Suriname, dan Puerto Rico adalah tempat tinggal isteri Sutejo. Bisa jadi, Sandara ada di sebuah pulau masih dalam lingkup Kepulauan Karibia."
"Kenapa kau bisa berpikir demikian?" tanya Jamal menyahut dari tempatnya duduk.
Arjuna tertunduk terlihat seperti berpikir serius. "Mereka menghindari penerbangan. GIGA tak mendapati sosok mereka dari tangkapan kamera pengawas. Menurutku, hal ini bisa kita tanyakan pada Afro. Bukankah ... dia pernah menjadi buronan selama beberapa tahun dan sosoknya tak ditemukan? Dia bisa mengakali GIGA," jawab Arjuna melirik kawannya tersenyum miring.
Afro menunjukkan rasa kesalnya dari raut wajah. Semua mafia kini menatap anak mendiang Elios tajam.
"Hem, itu benar. Meskipun aku bisa mengakali mata GIGA dengan penyamaranku, tapi tetap, identitas akan sangat sulit untuk dipalsukan jikalau tak memiliki ID terdaftar. Aku mengindari Bandara, karena keamanan tempat itu cukup ketat terlebih jika akan pergi keluar negeri," jawab Afro mengungkapkan pengalamannya.
"Lalu?" sahut Torin dari tempatnya duduk. Afro menghembuskan nafas panjang, ia merasa tersudut.
"Satu-satunya jalan, menggunakan transportasi yang minim keamanan. Jangkauannya pun tak terlalu luas dan jauh. Jika Sandara berada di Kepulauan Karibia, itu akan sangat mudah menemukan dirinya. Jika aku menerapkan teknik yang sama, aku akan menggunakan kapal untuk menyusup. Aku juga bisa menyerang polisi air di perairan dengan membunuh mereka di tempat lalu membuang mayatnya ke laut. Yah, seperti yang Arjuna lakukan pada Andreas. Buktinya, ia tak terlacak sampai saat ini oleh Kepolisian Honduras," balas Afro.
"Itu karena aku hebat. Sia-sia mencariku, tak ada gunanya," jawabnya berlagak. Semua mafia memilih diam tak mau ikut dalam pertikaian tersebut.
"Oke. Jadi, Kepulauan Karibia?" ungkap Vesper. Arjuna mengangguk mantap. "Eiji, visual lokasi," pinta Vesper.
Segera, Eiji menunjukkan dari pantauan satelit untuk melihat kawasan yang mencakup beberapa pulau di sana. Mata para mafia menajam, mereka kembali berdiskusi.
"Kerahkan Bala Kurawa Arjuna yang tersisa ke semua pulau di Karibia yang belum di jelajahi. Laporkan semua temuan. Kerjakan," tegas Vesper.
"Yes, Mam!" jawab Zulfa anggota SYLPH cekatan.
Zulfa mengirimkan masing-masing 20 anggota Bala Kurawa ke tiap markas yang berhasil ditemukan untuk berjaga. Dan 20 orang untuk menelusuri tempat-tempat yang diyakini Sandara di sekap.
Kai terlihat sedikit lega, karena ia merasakan titik terang keberadaan anaknya, meski masih samar. Pengadilan akhirnya ditunda, dan dilanjutkan esok hari.
__ADS_1
Siang itu, para mafia menikmati jamuan yang disediakan oleh Black Castle. Mereka menginap semalam untuk melanjutkan persidangan esok hari.
Dalam jadwal, Tessa akan melanjutkan pengakuannya dalam pengaruh gas halusinasi, dan selanjutnya keputusan dengan vote untuk nasib wanita cantik itu, bersalah atau bergabung.
Lysa yang tak bisa hadir karena sudah hamil besar, mengikuti persidangan tersebut melalui teleconference.
Keesokan harinya sebelum pengakuan Tessa, pertemuan kembali di lanjutkan di ruang persidangan karena jumlah peserta yang cukup banyak.
Kali ini, Sierra diizinkan ikut bergabung termasuk Tobias, para Pion, dan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads bukan peserta sidang melalui teleconference.
"Oke. Aku ucapkan terima kasih atas partisipasi kalian. Kita akan membahas hal ini lebih detail mengingat Venelope dan antek-anteknya, adalah musuh utama yang harus kita rampungkan. Kita akan dengarkan laporan misi dari Rohan dan para Pion D di Peru," ucap Amanda langsung ke topik.
Empat layar besar menghadap empat sisi ruang Persidangan. Semua orang yang memadati ruangan itu bisa melihat dengan jelas tayangan video tersebut.
"Kami sudah mendatangi kediaman Markonah di Peru. Hasilnya sama, tempat itu ditinggalkan. Tak ada ruang rahasia yang kami temukan termasuk perangkap dan lainnya. Zulfa telah mengirimkan Bala Kurawa untuk menjaga tempat ini karena kami yakin jika orang dari No Face akan datang merebut kembali," ucap Rohan menyampaikan.
"Baiklah. Misi selanjutnya. Pergilah ke kediaman anak-anak pak Sutejo yang diinformasikan berada di Timur Tengah. Pastikan, tempat-tempat itu kalian amankan dan jangan sampai diambil lagi oleh Venelope," tegas Vesper.
"Yes, my Queen," jawab Rohan sopan.
"Aku memiliki banyak pasukan, Nyonya Vesper. Jangan sungkan untuk menggunakan mereka," timpal Arjuna membusungkan dada terlihat bangga.
Beberapa orang terlihat sebal dengan tingkah sok putera Han tersebut, tapi yang lainnya tersenyum tipis.
"Oh, terima kasih, Tuan Kim Arjuna. Bantuanmu sangat kami hargai," jawab Vesper seolah-olah Arjuna bukan anaknya, tapi memang begitulah ketika rapat berlangsung. Tak ada hubungan keluarga dan semua orang dianggap setara. Kesan formal begitu terasa.
"Mm, begini. Soal pesan yang dikirimkan Sandara. Dia mengatakan jika No Face bermaksud untuk mengadu domba Indonesia dengan negara tetangga. Namun, melihat perkembangan politik, sepertinya informasi itu palsu. Dia sengaja atau bagaimana? Indonesia dengan beberapa negara bahkan di luar Asia baik-baik saja," ucap Eiji melaporkan.
"Pesan palsu? Kenapa dia mengirimkan berita bohong yang mengerikan seperti itu? Bagaimana jika para polisi di Indonesia menanggapi hal tersebut dengan serius, peperangan bisa sungguh terjadi. Kita ini mafia elite, bukan teroriis," tegas Martin dari tempatnya duduk.
Suasana riuh. Para mafia mengungkapkan pemikiran mereka masing-masing akan informasi yang Sandara kirimkan.
Kai menatap Vesper tajam di kejauhan, dan sang Ketua hanya diam dengan kedua tangan saling memangku menutupi bibirnya.
"Apa yang Sandara rencanakan, Vesper?" tanya Amanda menatap kawannya lekat. Vesper diam saja seperti memikirkan sesuatu.
Mata Vesper hanya terfokus pada layar besar di hadapannya yang menunjukkan kode-kode khusus dari kombinasi huruf, angka dan beberapa simbol tentang isi pesan yang dikirimkan kepada Risky.
"Sepertinya ... ada pesan tersembunyi dari kode-kode ini yang memang ditujukan untuk kita, Amanda. Namun, aku tak begitu yakin. Entahlah," jawabnya lirih yang kini duduk tegap seraya mengetukkan telunjuknya di atas meja. Amanda menatap sahabatnya lekat. "Meskipun Sandara anakku, tapi ... ia berkembang. Aku seperti tak mengenalinya lagi. Aku bukan cenayang yang bisa menebak setiap gerak-geriknya," ucapnya yang ditutup senyuman pada akhir kalimat. Amanda mengangguk paham.
"Nyonya, tuan Jeremy ingin memberikan laporan," ucap Eiji dari tempatnya duduk menunjuk layar.
"Yes," jawab Vesper dan Amanda bersamaan.
"Selamat malam semua. Baiklah. Setelah melakukan penelitian, dua mayat yang dibawa oleh tim Eko dari insiden di Angola, sudah dipastikan jika jenis kelamin dari dua makhluk itu adalah laki-laki." Semua orang terlihat ngeri saat Jeremy menunjukkan dua sosok menyeramkan seperti hantu itu ke kamera. "Dugaan Eko benar jika mereka ini keturunan Albino."
Eko terlihat bangga seraya menyisir kepala gundulnya dengan sisir kecil yang muat masuk saku celana. Semua orang yang sekubu dengannya ikut bangga.
__ADS_1
"Dan yang mengejutkan adalah, hasil tim medis di lapangan benar. Darah mereka telah bercampur dengan darahmu, Vesper. Ini temuan yang langka karena kau tahu sendiri, semua makhluk hidup akan mati jika menerima darahmu, tapi dua makhluk ini tidak," imbuhnya yang mengejutkan semua orang.
"Bagaimana Venelope bisa mendapatkan darah Vesper?" tanya Bojan dari tempatnya duduk.
"Tobias? Apa kau ingin membuat pengakuan?" tanya Jeremy menaikkan salah satu alis.
Semua mafia langsung memasang wajah kesal tiap nama Tobias disebut.
"Apa? Mana aku tahu jika darah Vesper akan digunakan untuk eksperimen semacam itu?" jawab Tobias tak mau di salahkan dengan King D dalam pangkuannya ikut tak memakai baju.
"Kau memiliki tato?" tanya Javier sampai wajahnya condong ke depan karena mendapati tubuh anaknya penuh dengan gambar.
"Yes!" jawab King D riang dan malah bertepuk tangan dengan Tobias.
"Tobias!" teriak Javier lantang terlihat marah.
Hakim dan Sauqi yang duduk mengapit Javier mencoba menenangkan hati Sultan mereka yang dirundung amarah.
"Itu bukan tato asli. Itu hanya spidol. King D menggambar tubuhnya sendiri, dan ternyata susah hilang," sahut Lysa cepat untuk meredakan kesalahpahaman.
"Kenapa kau masih menanggapi ucapannya, ha?!" bentak Tobias melotot ke arah sang isteri.
Semua orang dibuat tegang seketika. King D ikut dibuat bingung karena Ibunya mencoba menjelaskan dengan lembut kepada Ayah tirinya, tapi Tobias tetap berintonasi tinggi.
"Jangan membentak isteriku!"
"Mantan, Sultan! Mantan! Berani kau mendekati Lysa dan King D, aku akan datang dan meluluh lantahkan istanamu!" sahut Tobias lantang menunjuknya.
Lysa terlihat tak tahan. Ia langsung mematikan sambungan video itu. Semua orang terkejut termasuk sang ibu—Vesper.
"Tenangkan hatimu, Sultan. Jangan terpancing emosi. Kau tahu watak Tobias, bersabarlah. Pemimpin Agung tak akan terhasut oleh omongan syetan seperti pria bertato itu," ucap Habib menasehati.
"Setan? Execuse me? He is my father!" tegas Sierra dari sambungan video yang ternyata mendengar ucapan dari Habib.
Jonathan panik. Ia langsung menelepon Sierra, tapi tak diangkat olehnya. Suasana semakin tegang seketika.
"Jika bukan karenaku, kami sudah membunuhmu sejak dulu, Sultan. Cleopatra tidak becus, dan mati konyol. Untung ayahku berhasil mendapatkan cinta sejatinya. Karena King D dan mimi Lysa, kau masih hidup hingga sekarang," ucap Sierra bengis, tapi mengejutkan semua orang.
"Cleopatra? Kau yang mengirimnya untuk menghasut Sultan?" tanya Sauqi curiga.
Mata Sierra terbelalak. Jonathan terlihat kaget. Calon suami gadis cantik itu teringat cerita sang kakak ketika memergoki seorang wanita yang akan menjadi calon isteri Sultan.
Saat itu, Lysa ditawan oleh Tobias dan malah melahirkan King D. Praktis, semua mafia menaruh curiga pada Sierra.
***
makasih tipsnya😍 lele padamu❤️ditunggu tips berikutnya~ puanjang nih epsnya. kwkwkw
__ADS_1