4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tak Berempati


__ADS_3

Kai segera mendatangi Vesper dan berusaha untuk menenangkan hati sang isteri yang mendadak wajahnya terlihat pucat.


Wanita yang diyakini sebagai pemimpin tempat itu, mengajak Vesper untuk beristirahat di pondoknya dan dijaga oleh para bodyguard.


Sedang Han, meminta Seif ikut dengannya ke Filipina untuk penyelidikan lebih lanjut. Cassie diam-diam mengikuti Han saat ia berbicara serius dengan Seif di tepi danau.


"Aku bisa membantu," sahut Cassie yang mengejutkan dua pria itu karena tiba-tiba muncul.


"Jeremy terluka parah, Cassie. Ia berada di lab saat insiden berlangsung. Beruntung, keluarganya ada di Red Mansion. Ayahmu sungguh pintar dan akurat dalam menggunakan persenjataan kami," ucap Han menatap gadis cantik itu tegas.


"Meskipun aku tak mengenal ayahku karena kami tak begitu akrab, tapi aku menyadari sesuatu dari pergerakannya," sahut Cassie yang mengejutkan Han dan Seif.


"Apa itu?"


"Dia ingin menggunakan seluruh senjata milik Boleslav dan Vesper Industries yang dicuri dari Jonathan. Apakah ... kalian punya detailnya? Mengenai apa saja yang dibeli olehnya, berapa jumlahnya, dan berapa yang telah Miles gunakan selama penyerangan ke jajaran 13 Demon Heads?" tanya Cassie serius.


Han dan Seif langsung berpandangan.


"Kami bisa mencari tahu tentang hal itu. Ide bagus, Cassie. Aku akan membicarakan hal ini kepada Eiji dan Kai. Aku pergi dulu," sahut Seif.


Pria bertubuh besar itu meninggalkan Han dan Cassie. Seif berlari dengan tergesa kembali ke pondok.


"Ayahku merasa sudah berhasil menjatuhkan Vesper. Setidaknya, ia tak akan mendatangi isterimu. Aku yakin itu. Miles akan membiarkan Vesper mati dengan sendirinya," sambung Cassie yang membuat Han langsung memejamkan mata.


"Lalu menurutmu, tindakan apa yang harus kita lakukan?" tanya Han bertolak pinggang.


"Berapa jumlah serum penawar dari Rainbow Gas yang kalian miliki? Apakah cukup jika dibagikan ke tiap orang dalam seragam tempur? Maksudku ... ayahku pasti akan menyerang dengan gas itu. Setidaknya, saat gas terhirup, para Black Armys, anggota Dewan, dan para mafia lainnya masih bisa menyelamatkan diri sendiri karena membawa serum penawar. Bagaimana jika diletakkan di alas sepatu atau dalam rompi anti peluru? Aku rasa, itu cukup efektif," ucapnya dengan wajah datar.


Senyum Han terkembang. Ia meraih kepala Cassie dan mencium keningnya. Cassie terdiam saat Han melakukan hal tersebut.


"Meskipun kau belum resmi menjadi isteri Jonathan, tapi ... kau sudah memberikan cucu padaku, pada Vesper dan Kai. Terima kasih karena kau berpihak pada kami Cassie. Tetaplah di sini dan jaga isteriku. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan untuk meneruskan idemu," ucap Han dan Cassie mengangguk.


Han pergi meninggalkan Cassie menuju ke pondok tempat Vesper dirawat. Wanita cantik itu menatap danau yang permukaannya terlihat berkilau bagaikan berlian bertaburan.


"Jonathan ...," ucapnya lirih mengingat pria yang dicintainya.


Minggu ketiga bulan April.


Kabar laboratorium Jeremy di Filipina diserang Miles dan meledak hebat, serta menewaskan para pekerja karena banyaknya zat kimia yang terkandung di dalamnya, membuat warga sipil di negara itu dan para mafia di seluruh dunia terkejut.


Bahkan, militer tak menduga jika ada laboratorium di bawah tanah yang tak tercium oleh mereka selama ini.


Desas-desus jika Jomar Jeremiah salah satu mafia dalam jajaran 13 Demon Heads, membuat militer ingin mengusutnya.


Namun, mereka sadar jika orang-orang Vesper tak akan membiarkan salah satu orang kepercayaannya ditangkap.


Militer pun memilih untuk melakukan pengawasan diam-diam agar gerak-gerik mereka yang mencurigai Jeremy tak ketahuan.


Beruntung, Jeremy berhasil dievakuasi oleh para Black Armys yang menjaga Red Mansion begitu alarm peringatan penyerangan berbunyi di kediaman mendiang Joel tersebut.


Tempat itu luluh lantah dengan kobaran api dahsyat dan ledakan masih terdengar bersahut-sahutan karena bahan-bahan kimia dalam bangunan itu.


Jeremy tak sadarkan diri dan mengalami luka parah di tubuhnya. Ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat dan langsung mendapatkan penanganan intensif.

__ADS_1


Roxxane dan Rayya terlihat begitu sedih karena Jeremy sampai mengalami koma. Roxxane mendampingi Jeremy di Rumah Sakit, sedang Rayya harus tetap menjaga Red Mansion.


Verda dan One bergegas pergi ke Filipina untuk mengamankan dua anak mereka. Red Mansion didatangi oleh banyak wartawan pencari berita, polisi dan warga di sekitar kediaman itu.


Orang-orang Vesper yang telah dibekali skenario melihat kejadian masa lalu yang pernah dialami sang Ratu saat kematian Joel, membuat mereka siap menghadapi insiden ini.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Ya. Suamiku memang seorang profesor. Dia dokter dan juga ilmuwan. Jeremy sedang melakukan beberapa percobaan vaksin dari beberapa penyakit yang belum bisa disembuhkan. Dia pekerja keras, dan sangat menyayangi keluarga. Dugaan kalian salah jika mengatakan Jeremy adalah pria yang jahat. Jika dia seorang penjahat, kenapa suamiku menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk memberikan beasiswa kepada calon dokter dari golongan tidak mampu?" tanya Rayya yang berdiri di balik gerbang Red Mansion karena Black Armys melarang warga sipil masuk ke dalam kecuali polisi.


Para warga yang merasa ucapan Rayya benar, mengangguk dan mendukungnya.


"Lihatlah kehidupan warga di sekitar rumah kami. Bisa kalian bandingkan sebelum Jeremy yang mengelola tempat ini. Sekarang, semua rumah tampak indah, itu karena Jeremy menyisihkan uangnya untuk membantu warga yang tidak mampu. Ia bahkan mempekerjakan warga sekitar untuk membantunya di apotek dan sekolah medis. Tuduhan kalian sungguh kejam dengan mengatakan dia penjahat dan sekarang pantas mendapatkan balasannya. Kita lihat saja, tanpa Jeremy, apakah orang-orang yang ditolongnya bisa bertahan dalam keterbatasan?" tanya Rayya menatap para wartawan itu tajam lalu berpaling pergi begitu saja karena mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyakiti hatinya.


Warga yang merasa jika pertanyaan para wartawan menyinggung perasaan wanita cantik itu, mengusir awak media.


Tentu saja, hal itu membuat kerusuhan di luar kediaman Jeremy, Red Mansion. Rayya tak mau ambil pusing. Ia kini fokus menunggu kedatangan Verda dan suaminya untuk mengamankan buah hatinya.


Empat anak Vesper yang mendengar kabar itu ikut terkejut. Mereka berasumsi jika Miles mulai melakukan aksinya.


Namun, mereka yakin jika Miles tak berani mengusik mengingat pasangan mereka adalah orang The Circle dulunya.


Mansion Han, Hong Kong.


"Juna. Aku merasa jika Bala Kurawamu yang menjaga Panama dan Peru menghilang karena diculik oleh Miles. Aku yakin, jika Miles mencuci otak mereka dan membuat orang-orangmu berpihak padanya. Ia tak membunuhnya," ucap Tessa menjelaskan, tapi Arjuna terlihat santai menanggapi hal tersebut.


"Yang diambil olehnya hanya beberapa. Kita tak rugi apapun. Biarkan saja, kita sudah siap untuk melawan jika berani menyerang kita," jawab Arjuna seraya mencukur jenggot dan kumisnya yang mulai tumbuh di depan kaca wastafel kamar mandi.


Tessa tetap terlihat cemas. Ia merasa tak tenang dengan keadaan ini. Tessa yang mengenal Miles, membuatnya panik jika pria tua itu akan datang menyerang keluarganya.


"Hanya dia yang bisa menolong keluargaku, tapi ... apakah dia bersedia?" ucap Tessa lirih seraya memegang ponselnya yang belum diaktifkan.


Black Castle, Inggris.


"Miles mulai bergerak. Aku cukup yakin, jika dia akan menyerang Black Castle. Namun, aku juga yakin. Jika tempat ini masih sanggup bertahan. Kau harus melindungi rumah ini, Jonathan," tegas Venelope dan pemuda itu mengangguk siap dengan anak buah telah ia kerahkan di segala penjuru Kastil.


"Tempat ini menyimpan aset penting para anggota Dewan 13 Demon Heads. Meskipun Silhouette menjaga brankas, tapi kau tetap bertanggungjawab untuk mempertahankannya, Jonathan. Bukankah ... kau yang menyarankan tempat ini sebagai pengadilan dan markas Sekretariat Dewan?" sahut Sierra dan Jonathan mengangguk membenarkan.


Click and Clack terlihat sibuk untuk mengurus keberangkatan para The Circle Jonathan yang di tempatkan ke Pos Darurat di berbagai belahan dunia.


Hampir tiap hari, baik dermaga ataupun bandara, dibuat sibuk dengan aktivitas yang Jonathan lakukan. Diam-diam, Kai mengamati pergerakan Jonathan dari satelit GIGA.


"Terlalu mencolok, Jonathan. Miles akan mengincarmu," ucap Kai yang terpaksa pergi meninggalkan Lugu Lake bersama Han dan Seif untuk melihat kondisi Jeremy di Filipina atas permintaan Vesper.


Hari itu, mereka bertiga terbang dengan pesawat Vesper seraya melakukan tindakan pencegahan, mengingat Miles menggunakan senjata mereka untuk melakukan gempuran.


Di tempat Sandara berada. Rumah Dinas Perusahaan Elios. Italia.


Usai perkenalan yang dilakukan oleh Afro kepada seluruh karyawan dan jajaran Direksi perusahaan Farmasi Elios, Sandara siap untuk bekerja bulan depan.


Gadis itu masih harus menyesuaikan diri. Banyak berkas dan laporan baik video ataupun catatan tercetak yang harus ia pelajari sebelum menerima jabatan sebagai Presiden Direktur nantinya.


Sandara terlihat fokus dengan pekerjaan barunya bahkan ia seperti tak peduli dengan kejadian yang menimpa Jeremy.

__ADS_1


"Dara, kenapa kau tak menghubungi Rayya dan Roxxane sekedar berempati pada mereka?" tanya Afro bersiap karena esok hari mereka akan segera terbang ke tempat lain sebagai bulan madu bisnis.


"Mereka pasti tahu jika aku sedang berduka. Namun, aku ingin memprioritaskan perusahaan seperti yang kau minta, Kak Afro," jawab Sandara terlihat sibuk dengan laptop di depannya bahkan tak melihat suaminya.


"Cukup 10 hingga 15 menit saja menelepon. Hal itu, tak akan membuatmu menjadi orang miskin," sahut Afro tegas menatap isterinya tajam.


"Aku serahkan padamu, Kak Afro. Tolong sampaikan salamku pada mereka berdua. Terima kasih," jawab Sandara menatap Afro dengan senyuman. Namun, wajah dingin yang malah Afro tunjukkan.


Afro berpaling dan pergi meninggalkan Sandara di ruangan sendirian entah apa yang ia pikirkan. Sandara terlihat gelisah saat ia menyadari jika sudah 1 jam lamanya Afro tak kembali.


Sandara mencari Afro di berbagai tempat, tapi tak ia temukan. Sandara mulai cemas. Ia lalu mendatangi Toras yang baru saja kembali dengan mobil ia kemudikan.


"Kau dari mana?" tanya Sandara dengan kening berkerut.


"Oh. Saya mengantarkan tuan Afro dan Trio Bali ke Bandara. Mereka pergi ke Filipina untuk melihat keadaan tuan Jeremy yang masih tak sadarkan diri hingga sekarang. Namun, jangan khawatir. Ada saya yang akan menjaga Anda. Selain itu, bukankah Jibran dan para HURI akan datang kemari?" tanya Toras saat keluar dari mobil dan kini berdiri di samping pintu.


"Kak Afro pergi? Meninggalkanku sendiri?" tanya Sandara terlihat marah.


Toras diam seperti memikirkan sesuatu.


"Katanya, Anda sibuk dengan urusan perusahaan. Jadi ... dia tak ingin melibatkan Anda. Namun katanya, jika Anda ingin menyusul, tuan Afro sangat mengharapkannya," jawab Toras sopan.


Napas Sandara memburu, ia terlihat marah, tapi berusaha untuk tetap tenang. Gadis itu kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Toras menghembuskan napas terlihat tertekan dengan hal ini.


Perusahaan elektronik LH Solution, Jerman.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Bagaimana?" tanya Lysa duduk di kursi kerja di kantornya.


"Aku sudah berusaha menanyakan hal ini pada King D. Namun, anak itu mengatakan jika ia tak mengenali pembunuh Tobias. Sudahlah, Lysa. Lupakan hal itu. Toby saja sudah pasrah dengan jalan hidupnya. Tak ada gunanya kau membuang waktu untuk mengusut hal ini. Aku juga marah sama sepertimu, tapi bukan dengan mengabaikan keluargamu," tegas Dakota, tapi membuat mata Lysa melotot lebar.


"Mengikhlaskannya? Hah, yang benar saja. Jangan membuatku tertawa. Aku kenal kalian lelaki seperti apa," kekeh Lysa menyindir.


"Jika pelakunya ditemukan, lalu kau berhasil membunuhnya, selanjutnya apa? Hal itu tak akan membuat Tobias kembali. Ia telah mati," sahut Pion Dexter serius.


"Ya, itu benar. Namun, sebelum pelaku itu kutemukan dan kubunuh dengan tanganku sendiri, tugas kalian adalah mencarinya sampai dapat. Jika belum ditemukan, jangan kembali," tegas Lysa menunjuk dan hal itu membuat semua Pion berwajah dingin seketika.


"Asal kau tahu, Lysa. Kami bekerja pada Tobias selama ini, bukan denganmu. Kami menghormatimu sebagai isterinya, tapi dengan sikapmu yang seperti ini, kau lebih buruk dari Toby," ucap Pion Darwin yang membuat napas Lysa memburu.


Para Pion pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Lysa di mana mereka juga memiliki jabatan di perusahaan elektronik yang dikelola itu.


Lysa diam termenung dan mengurung dirinya di ruang kerja hingga malam menjelang. Hingga akhirnya, Lysa memutuskan untuk pulang karena fisik dan hatinya letih.


The Eyes, kini menjadi satu-satunya bodyguard dan penjaga aset miliknya dari pemberian Toby. Namun, saat Lysa kembali ke rumah, ia mendapati rumah mewahnya itu kosong.


Bahkan, barang-barang milik para Pion tak ada di kamar seperti meninggalkan huniannya. Lysa panik dan mencoba menghubungi orang-orang itu melalui ponselnya, tapi nomornya seperti diblokir.


Lysa marah dan membanting ponselnya di lantai hingga serpihan itu berhamburan.


"Benar-benar tak bisa diandalkan," gerutu Lysa hingga napasnya tersengal.


***

__ADS_1



tengkiyuw tipsnya❤️lele padamu💋 kalau nanti lele gak up berarti sibuk parah ya😩yang komennya belom dibales harap sabar karena jadwal lele padat merayap sampai akhir januari. terima kasih atas perhatiannya😍


__ADS_2