4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Amukan Jonathan*


__ADS_3

Jonathan menghentikan laju mobilnya di pinggir jalanan yang sepi. Ia kembali ke dudukan belakang dan membuka tas-tas yang dimasukkan oleh para anak buahnya.


"Sejak kapan bagasi jadi di dalam mobil? Mereka ini bego apa gimana?" keluh Jonathan karena barang-barang pesanannya diletakkan di dudukkan tengah samping Smiley.


Pria tua itu masih tak sadarkan diri karena diberikan suntik bius oleh anak buah Jonathan. Jonathan memanfaatkan waktunya dengan menghadiahkan dua gelang pemenggal di kedua tangan serta kedua kaki Smiley. Seketika, senyum Jonathan merekah.


"Oke, hadiah lainnya buat Sierra, Lope, Ungu, pemimpin The Mask sama pria-pria bertopeng yang entahlah siapa nama mereka," ucap Jonathan seraya memasukkan benda-benda pengantar kematian itu ke dalam tas ranselnya.


Jonathan kembali ke bangku sopir dan melaju kendaraannya dengan santai bahkan menikmati musik dari radio mobil.


"Suaranya bang Zayn Malik emang keren banget. Ya ... 10-10 sama Nathan-lah," ungkapnya bangga.


Jonathan menikmati masa tahanannya dengan mampir ke sebuah salon rambut di mana tempat itu juga memiliki jasa tindik.


Ia ingin mengganti penampilannya. Ia merasa seperti panda sungguhan akibat kumis dan brewoknya tumbuh terlalu lebat.


Tentu saja, para pelayan wanita di tempat itu merasa senang karena tamu mereka seorang pemuda tampan dan kaya. Jonathan menggunakan uang milik Smiley dan sopir yang telah tewas.


Jonathan mengganti warna rambutnya dan merapikan penampilannya. Ia juga menindik dua telinganya agar terlihat seperti mafia sungguhan.


Cukup lama pemuda itu menikmati perawatan di salon tersebut hampir 4 jam. Hingga akhirnya, ia merasa puas karena hasilnya sesuai dengan keinginan.


"Wow! Thank you, handsome," puji tiga pelayan salon saat mendapatkan bonus uang dari Jonathan sebelum ia pergi.


Jonathan tersenyum seraya melambaikan tangan dan meninggalkan sebuah kedipan mata. Namun, saat ia kembali ke mobil, senyumnya sirna ketika mendapati Smiley tak ada di dalam mobil.


"Argh! Smiley!" teriaknya kesal karena pria tua itu kabur. "Bener-benar gak kapok ya. Liat aja, Nathan bales kamu!" ucapnya geram dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Jonathan yang selalu membawa tasnya ke mana pun, segera mengambil sebuah jam tangan dan mengaktifkan layarnya.


"Hah! Ketemu. Cari mati," ucapnya setelah menemukan lokasi Smiley yang tak jauh dari tempatnya berada.


Jonathan segera melaju mobilnya kencang. Smiley kembali ke rumah tempat dirinya di sekap di mana Jonathan masih ingat rute itu karena ia pergi dalam keadaan sadar dan mata berbuka.


TIN! TIN! TIN!


"Hah! Hah! Hah!" engah Smiley saat ia menyadari jika Jonathan berhasil menyusulnya.


Jonathan menatap tajam pria tua itu dari dalam mobil. Jonathan semakin dalam menekan pedal gasnya. Mobil sedan hitam itu melaju kencang dan ....


BROOM! DUAKK!


"Argh!" rintih Smiley saat tubuh bagian belakangnya dihantam kuat oleh moncong mobil hingga jatuh bergulung-gulung di aspal.


Smiley mengerang kesakitan dan mengalami luka di wajah serta tubuhnya.


TIN! TIN!


Klakson mobil kembali diserukan oleh Jonathan. Smiley ketakutan. Ia berusaha bangun dengan jalan tertatih dan nafas tersengal.

__ADS_1


Smiley kini menghindari jalan raya dan berusaha masuk ke padang rumput di sisi kiri jalan. Namun, Jonathan tak memberikan ampun.


BROOM! DUAKK!


"Aggg!" erang Smiley saat Jonathan kembali menabraknya hingga pria tua itu jatuh tersungkur dengan tubuh penuh luka dan rumput.


Jonathan keluar dengan menggendong tasnya. Ia menatap Smiley dengan sorot mata tajam. Pria tua itu berdarah di bagian kepala dan wajah, tapi seakan Jonathan tak peduli.


Anak ketiga Vesper tersebut menggunakan sepasang sarung tangan kulit berwarna hitam di kedua tangannya.


Seketika, "ARRGHHH!" erang Smiley hingga tubuhnya mengejang.


Jonathan menarik tangan Smiley dan meletakkan tangannya di kalung yang membelenggu lehernya. Seringai terbit di wajah pemuda itu. Smiley seperti mengalami kejang tak berkesudahan.


Jonathan kembali berdiri dan mendatangi mobilnya. Ia membuka bagasi belakang dan menyeret Smiley dengan menarik kedua kakinya.


Pria tua itu mengerang karena punggungnya terkena beberapa batuan dan membuatnya semakin merintih kesakitan.


BRUKK! KLEK!


Jonathan memasukkan Smiley ke dalam bagasi belakang mobil dan menutupnya rapat. Jonathan menghembuskan nafas panjang dengan bertolak pinggang. Ia kembali masuk ke dudukkan kemudi seraya melepaskan sarung tangan. Jonathan kembali melaju mobilnya.


Akhirnya, Jonathan tiba di kawasan tempat ia disekap. Sebuah rumah berwarna merah dekat perairan terlihat di kejauhan.



Jonathan turun dari mobil dengan pistol ia sembunyikan di balik pinggang. Ia berjalan dengan menggendong tasnya masuk ke rumah tersebut. Seketika, matanya terbelalak.


Ia melihat para penjaga di rumah itu tergeletak tak sadarkan diri, tapi tak mati. Jonathan mengecek denyut di leher orang-orang yang terkapar di beberapa sudut ruangan. Jonathan segera berlari menuju ke selnya.


"Cassie! Cassie!" panggilnya lantang.


Jonathan panik karena tak mendapati kekasihnya di sel tempat ia disekap selama ini. Ia berlari dan membuka seluruh pintu yang ditemui dengan tergesa.


Hingga akhirnya, ia menemukan pusat kendali. Jonathan melihat Venelope tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Lope! Lope! Hei, bangun! Di mana Cassie?!" tanyanya lantang seraya menggoyangkan tubuh wanita berambut pirang panjang itu. Sayangnya, Venelope tak menjawab.


Jonathan beranjak dan mendekati deretan komputer dengan banyak layar terpasang di dinding.


Jonathan mencoba mencari tahu dari kamera pengawas. Ia melihat dari tampilan rekaman di dalam rumah ketika seluruh ruangan tertutupi gas putih kecuali lantai tempat Cassie dikurung. Para penjaga tak sadarkan diri begitu terkena dampak dari gas tersebut.


Seketika, matanya melebar ketika mendapati pemimpin The Mask masuk ke sel tempat Cassie di sekap. Sayangnya, orang itu membelakangi kamera.


Orang itu membuka topeng gagak yang menutup sosoknya selama ini, dan sebuah ekspresi terkejut ditunjukkan oleh Cassie.


Entah apa yang mereka bicarakan karena suara keduanya hampir tak terdengar. Cassie ikut dengan orang itu yang kembali memakai topengnya.


Dua orang itu pergi setelah melumpuhkan semua penjaga di rumah tersebut. Cassie dan pemimpin The Mask meninggalkan kediaman tersebut dengan sebuah kapal.

__ADS_1


Sayangnya, kapal tersebut tak memiliki ciri-ciri spesifik yang membuat Jonathan bisa melacaknya.


"Arrghhh! Cassie!" teriak Jonathan marah dan melemparkan semua benda di hadapannya ke sembarang tempat.


"Jonathan?" panggil Sierra yang muncul dengan kursi roda elektrik ke ruangan tersebut.


Jonathan menatap Sierra tajam dan langsung mendatanginya cepat. Sierra terlihat takut karena nafas Jonathan memburu dan langsung mencekiknya. Sierra memegangi kedua pergelangan tangan Jonathan yang mencengkeram kuat lehernya.


"Di mana Cassie? Jangan bohong! Kau pasti mengutus pria gagak itu untuk membawanya pergi!" teriak Jonathan dengan mata melotot, tapi Sierra menggeleng dengan wajah berkerut menahan sakit di lehernya.


"Ahhh ... Jonathan?" panggil Venelope yang akhirnya sadar meski wajahnya sayu.


BRUKK!


"Agh!" rintih Sierra saat ia dihempaskan hingga kursi rodanya jatuh ke samping bersama dengan dirinya.


Jonathan kini mendekati Venelope dengan nafas memburu. Venelope terlihat panik saat Jonathan juga mencengkeram kuat lehernya dan menarik tubuhnya hingga perempuan itu berdiri dalam keadaan tercekik.


"Di mana Cassie?! Lihat saja! Jika sampai Cassie terluka, Nathan gak segan robek kalian berdua! Di mana Cassie?!" tanyanya memaksa hingga matanya terbelalak lebar.


"A-aku ti-tidak tahu, sungguh," jawab Venelope berusaha melepaskan cekikan kuat di lehernya hingga wajahnya berkerut.


"Aku tak tahu apapun, Jonathan. Aku juga baru sadar. Saat keluar kamar, semua orang pingsan. Aku tak bohong padamu kali ini, sungguh," sahut Sierra merangkak di atas lantai menjauh dari kursi rodanya.


"Argh! Tidak berguna! Cari dia!" perintah Jonathan marah seraya mendorong tubuh Venelope hingga wanita itu terdorong kuat dan tubuhnya menghantam peralatan komputer di belakangnya. Venelope jatuh di lantai menimpa barang-barang di sekelilingnya.


Jonathan membuka tas ranselnya dan mendatangi Sierra. Praktis, mata Sierra terbelalak saat Jonathan memasangkan gelang pemenggal di kedua tangannya.


Pemuda itu lalu mendatangi Venelope dan melakukan hal yang sama. Dua wanita cantik itu terkejut dan terlihat pucat seketika.


"Kalian, tahanan Nathan. Berani kabur, curang, Nathan gak segan mutilasi kalian hidup-hidup seperti paman Ahmed!" tegasnya menunjuk dengan mata melotot.


Sierra dan Venelope saling bertatapan tajam di kejauhan. Keduanya terlihat panik dengan hal ini.


Jonathan menarik baju Venelope hingga perempuan itu kembali berdiri. Jonathan mendudukkan Venelope di bangku ruang kendali.


Pria yang kini merubah warna rambutnya menjadi hitam, juga menarik baju Sierra lalu mendudukkannya di samping Venelope.


"Cari keberadaan Cassie terserah dengan cara apa. Nathan tunggu sampai 1 jam. Gak ketemu? Liat aja, Nathan bakal kasih hukuman pada kalian berdua. Cepat!" perintahnya tegas dengan mata melotot menatap dua wanita yang duduk di bangku kendali terlihat gugup.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Tengkiyuw tipsnya❤️ Lele padamu💋 Ditunggu sogokan untuk besok biar bisa dobel eps lagi ya. Kwkwkw


__ADS_1


__ADS_2