
BROOM!!
"Hah?!" kejut Jonathan saat ia menyadari jika masih berada dalam mobil, tapi kini bukan Smiley yang duduk di bangku kemudi.
Jonathan melihat sosok yang ia kenali duduk di sampingnya pada dudukkan tengah. Seketika, matanya membulat penuh.
"Halo, Jonathan sayang," sapa Sierra dengan gaun seksi berwarna merah menyala, belahan di paha samping membuat kaki jenjangnya terlihat begitu jelas, berikut atasan model sabrina.
Nafas Jonathan menderu, ia menatap Sierra tajam.
"Smiley jahat padamu, hingga wajah pacarku yang tampan ini sampai babak belur," ucap Sierra menunjukkan wajah iba.
"Apa maumu?" tanya Jonathan tegas.
Sierra tersenyum manis. Jemari lentiknya singgah di salah satu paha Jonathan. Pemuda itu menatap tangan Sierra dengan kening berkerut.
"Kembalikan pasukan The Circle milikku, maka kau akan kulepaskan, Sayang."
PLAK!!
"Agh!" rintih Sierra saat tangannya ditampik kuat oleh Jonathan hingga membentur sandaran dudukkan mobil. Jonathan menatap Sierra penuh kebencian.
"Jangan harap. Kamu itu masa lalu, dan udah jadi bangkai di kehidupan Nathan. Dasar gak tau malu," ucapnya tajam.
Mata Sierra terbelalak lebar. Dengan cepat, Sierra menjentikkan jari dan pintu tempat Jonathan duduk terbuka. Pemuda itu terkejut.
"Agh! Hei! Lepaskan!" teriaknya marah karena diseret keluar.
Sierra masih terlihat kesal dan tetap duduk di dalam mobil milik Smiley. Jonathan ditarik paksa oleh dua orang bertubuh besar yang tak ia kenali seperti preman.
BUKK!!
"Uhuk!" rintih Jonathan saat ia hampir berhasil lolos, tapi perutnya dengan cepat dipukul dari depan oleh Smiley yang kembali muncul.
"Bawa dia," perintah pria tua itu dan dua orang bertato tersebut menyeret Jonathan ke sebuah ruangan lalu mengikatnya kuat di kursi.
"Agh! Lepasin! Kalian mau ngapain?!" teriaknya panik karena kedua tangan, kaki, pinggang dan lehernya dijerat kuat dengan tali.
Smiley mendekat, di mana Jonathan dibaringkan paksa sampai nafasnya tersengal.
"Kau tak menunjukkan ciri-ciri seorang pemimpin, Jonathan Benedict. Kau sungguh memalukan. Tak ada kekejaman sama sekali dalam dirimu. Kau kalah jauh dengan Sandara yang kini bisa membunuh banyak orang dan hewan. Ia bahkan tetap hidup meski terluka parah," ucap Smiley seraya menandai tubuh Jonathan dengan spidol warna hitam.
Jonathan yang awalnya memberontak langsung terdiam ketika mendengar nama Sandara disebut. Matanya bergerak tak beraturan.
"Sandara ... di mana dia sekarang? Apa yang kalian lakukan padanya?!"
__ADS_1
"Kau ingin tahu? Boleh, tapi nanti setelah urusanku denganmu selesai," jawab Smiley santai dan terus melakukan coretan di tubuh pemuda itu. "Oke, selesai. Segera kerjakan," ucap Smiley seraya menutup tutup spidolnya.
"Mau apa? Awas saja kalau— Emph!" pekiknya dengan suara tertahan karena mulutnya tiba-tiba disumpal.
CLEB! CESS ....
"Emph ... em ...."
Jonathan lesu seketika saat sebuah jarum menancap di leher samping dan membuatnya tak memberontak lagi.
Dua pria mendekati Jonathan dengan sebuah alat tato dalam genggaman. Smiley menyingkir dan meninggalkan Jonathan bersama dua pria yang memiliki banyak tato di tubuhnya.
Jonathan lemas dan pandangannya kabur, tapi pemuda itu bisa melihat jika tubuhnya sedang ditato oleh dua orang yang duduk di kanan kirinya.
Ya ampun, semoga gambarnya gak norak. Kalau sampai jelek, siap-siap aja Nathan gorok kalian kaya sapi kurban, batinnya kesal, tapi tak bisa melakukan apapun.
Di sisi lain. Para anak buah Jonathan yang terkena dampak dari gas hitam Rainbow, berhasil selamat dari masa kritis karena petugas lainnya dengan sigap memberikan serum ketika mereka tak berada di lokasi kejadian.
Vesper yang mendapat kabar mengejutkan ini terlihat biasa saja dalam menyikapi insiden tersebut, dan malah membuat orang-orang yang mengenalnya terheran-heran.
"Mama gak lakuin sesuatu?" tanya Lysa dari sambungan video call.
"Jonathan diculik dan aku yakin jika orang-orang itu dari No Face. Bodyguard yang datang bersama pria tua itu juga berhasil melarikan diri. Untuk kali ini, aku serahkan kepada orang-orang dalam jajaran Jonathan untuk mencari Bos mereka. Dan itu, tanggungjawab Click and Clack," jawab Vesper serius.
"Yes, Mam," jawab dua pria bertubuh besar itu siap.
Namun, beberapa orang hanya saling memandang.
"Kau lihat Lysa? Mereka menunggu ditunjuk olehku. Tak ada inisiatif dari orang-orang tersebut untuk menyelamatkan Jonathan dari kemauan diri mereka sendiri. Kenapa? Kau tahu alasannya?" tanya Vesper menatap Lysa lekat.
Lysa menggeleng. Semua orang terlihat serius menyimak.
"Karena tak ada keterikatan layaknya keluarga dalam diri mereka. Bukan bermaksud sombong, tapi lihat yang terjadi pada Mama. Berapa kali Mama menghilang? Mama meminta mereka tak mencari, tapi tetap dicari. Itu karena hati kami sudah saling terikat dan menyatu. Tanpa diminta, jika kau dianggap keluarga, bahkan nyawa pun akan rela dipertaruhkan. Dan Mama lihat, kau, Arjuna, Jonathan, bahkan Sandara, tak memiliki kekuatan batin sekuat Mama dan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," ucapnya tegas dan terasa menohok bagi dua anak sang Ratu.
Beberapa orang mengangguk pelan tanda setuju.
"Yang dikatakan oleh Ibu kalian benar, Lysa, Arjuna. Walaupun kami tak sedarah dengan nona Lily, tapi kami berjuang bersama. Berbeda dengan kalian yang telah terfasilitasi. Kalian hanya melanjutkan. Ikatan persaudaraan kalian tak sekuat kami," tegas Drake.
Arjuna dan Lysa diam seketika.
"Kami memiliki kisah yang melekat kuat dalam pikiran dan hati. Kami semua berdarah, terluka, dan bahagia bersama. Bahkan duka pun ikut dirasakan oleh kami semua. Itu karena kami saling mengerti meski jarak memisahkan," sambung James mengungkapkan perasaannya.
"Yang dikatakan James dan Drake benar. Kalian tak membuat ikatan persaudaraan dan kekeluargaan dengan orang-orang yang berada di sekitar kalian. Kalian berempat satu Ibu, tapi terlihat jelas saling bersaing," imbuh Buffalo makin menyudut.
"Asal kalian tahu, sampai sekarang, aku masih merasa memiliki balas budi kepada Vesper. Kalian tahu sejarah kami. Bagaimana SYLPH bisa bergabung dengan Vesper di mana awalnya kami memburunya, tapi kemudian berpihak padanya lalu menjadi bagian dari keluarga dalam jajaran. Kenapa kalian tak mengikuti jejak Vesper?" tanya Verda berwajah serius.
__ADS_1
"Bagaimana jika suatu saat nanti kami semua sudah tiada. Siapa yang akan menolong kalian? Tuhan? Ya, itu pasti, tapi itu pun jika kalian ingat pada-Nya. Orang-orang seperti kita hanya ingat pada Tuhan ketika sudah sekarat," sahut One memasang wajah dingin.
Arjuna dan Lysa makin terpojok. Wajah keduanya tegang seketika.
"Soal Jonathan, kami tak mau terlibat. Bukan tidak peduli, tapi ... ini adalah masa kalian untuk bertarung. Tunjukkan kemampuan kalian, buktikan pada kami bahwa kalian memang generasi 13 Demon Heads yang layak," sambung Jamal.
"Jabatan Dewan yang kalian dapatkan itu karena Vesper, Han, dan One yang mengizinkan. Kalian beruntung memiliki orang tua yang peduli. Bagaimana jika mereka masa bodoh seperti yang terjadi pada jajaran The Circle? Kalian akan menjadi preman jalanan di luar sana," sahut Martin tegas.
"Aku rasa, pembicaraan kita sudah cukup. Aku menunggu siapapun yang bersedia untuk melakukan misi penyelamatan Jonathan dan pencarian Sandara. Itu saja dariku, selamat malam," ucap Vesper tenang lalu mematikan sambungan.
"Aku juga masih ada urusan. Anak gadisku sampai ikut terkena imbas. Sampai jumpa," sahut Bojan yang lalu ikut memutus panggilan, dan diikuti oleh anggota dewan lainnya.
Hanya tersisa Lysa, Arjuna, Javier, Rohan, Yusuke, dan Ivan. Orang-orang itu gugup dan malah saling melirik. Terlihat Tessa berbisik di telinga suaminya dan Arjuna mengangguk.
"Aku sudah mengerahkan semua Bala Kurawa yang kumiliki untuk melakukan pencarian Sandara dan menjaga tiap markas No Face yang ditemukan. Bagaimana dengan kalian?" tanya Arjuna berwajah datar.
Lysa menarik nafas dalam dengan pandangan tertunduk. Yusuke terlihat bingung, termasuk Rohan. Javier diam menyimak.
"Aku akan ikut melakukan pencarian Jonathan. Dia anak baptisku dan akan kubawa Jonathan pulang," sahut Ivan yang mengejutkan semua orang.
"Aku ... entahlah. Tapi, ucapan para senior ada benarnya. Kita hidup terlalu nyaman tak seperti zaman mereka dulu yang gencar berperang hingga nama-nama pendahulu menjadi momok bagi Militer Pemerintah. Para senior membawa kebanggaan bagi jajaran yang ditinggalkan. Seperti ayahku," ucap Yusuke tertunduk teringat akan mendiang sang ayah—Tatsuya Tendo.
"Ayahku tewas karena menyelamatkanku. Aku tak ingin kematiannya sia-sia. Aku ... akan ikut mencari Jonathan bersamamu, Tuan Ivan. Tolong libatkan aku," sahut Rohan menatap Ivan tajam, dan keturunan Benedict itu mengangguk dengan senyuman.
"Baiklah. Aku ikut dalam pencarian Sandara. Bagaimana denganmu, Sultan?" tanya Yusuke melirik Javier.
"Hem, aku sudah melakukannya sebelum pertemuan ini dilakukan. Aku mengirimkan anak buahku untuk menyusuri Timur Tengah dan Afrika," jawabnya santai seraya menikmati kurma bersama King D yang duduk di sebelahnya terlihat sedikit kurus tak gemuk seperti sebelumnya.
"Hai, D. Apa kabarmu, Sayang?" tanya Lysa seperti akan menangis.
"I'm happy with Baba, Mimi. Kapan Mimi ke sini?" tanya King D yang kini cara bicaranya sudah seperti Pangeran karena santun dalam bersikap. D pun berpakaian layaknya orang Timur Tengah. Lysa tersenyum.
"Nanti ya, setelah Fara berumur 1 tahun. Fara masih terlalu kecil untuk diajak pergi," jawabnya seperti akan menangis meski tetap tersenyum.
"Hei, ini pembahasan insiden. Jika ingin berbicara tentang masalah keluarga kalian, keluarlah dari rapat ini," sahut Rohan kesal. Lysa mengangguk pelan, dan Javier tersenyum tipis.
"Baiklah. Aku rasa sudah cukup. Sepertinya Lysa tak ingin terlibat. Ia sibuk dengan keluarganya, dan sepertinya ... ia juga tak peduli dengan keselamatan Jonathan. Kita teruskan secara kelompok yang sudah terbentuk. Sampai jumpa," ucap Ivan lalu memutus panggilan.
Lysa tertegun, ia merasa tersudut. Arjuna bahkan tak melakukan pembelaan untuk kakaknya. Panggilan itu pun putus satu persatu.
Lysa ikut mengakhiri panggilan dan terlihat sedih dengan bayi Fara tidur dalam box di kamarnya.
"Mereka benar. Aku ... tak memiliki hubungan kuat dengan para mafia di sekitarku. Bahkan para Pion, mereka setia karena Tobias. Jika Tobias tak ada, aku ... sendirian," ucap Lysa sedih dengan mata berkaca.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya😘 lele padamu😍 dan ... udah ketemu nih pemenang bagi medali GOLD. Congratz jeng Alra Shid💋 Segera DM lele di IG ya❤