
Hari sudah menjelang siang dan Afro baru membuka mata saat ia mendengar kegaduhan di luar Kastil.
Afro dengan sigap mengintip dari balik jendela dengan pemandangan halaman belakang yang memiliki danau kecil.
Afro melihat para Black Armys terlihat sibuk dengan aktivitas mereka. Afro penasaran dan segera mengganti pakaian dengan yang lebih sopan, casual dan hangat.
Pemuda itu menanggalkan pakaian lusuhnya karena lemari pakaiannya, menyediakan pakaian yang lebih berkualitas.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Selamat pagi," sapa Afro ramah.
"Oh! Hai, Afro. Masih mengenaliku?" sapa seorang pria dewasa di depannya yang mengajak berjabat tangan.
"Ya. Anda Paman Doug," jawab Afro sembari menjabat tangannya. Doug tersenyum dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjang.
"Sepertinya akan ada acara. Kalian ... sibuk sekali," ucap Afro menebak. Doug menatap Afro keheranan.
"Malam ini pergantian tahun, Afro. Kau lupa?" tanya Doug dan mulut Afro menganga seketika. Ia sampai tak ingat jika tahun akan segera berganti. "Kau baru bangun? Pasti kau lapar. Vesper dan Kai ada di ruang makan. Sambangi mereka," ucap Doug.
Afro mohon pamit. Doug tersenyum melihat pemuda itu bersikap santun.
Namun, saat Afro melewati sebuah ruangan besar dengan pintu terbuka lebar, langkahnya terhenti seketika.
Ia mengamati dari luar pintu ruangan tersebut seperti mengenali bentuk penataan interior.
Dengan langkah ragu, Afro melangkahkan kaki memasuki ruangan. Wajahnya tegang seketika dan terlihat gugup saat memandangi kursi-kursi yang berderet rapi, bertingkat, seperti sebuah ruang persidangan.
Langkah Afro terhenti ketika ia menuruni sebuah tangga dan melihat meja juri dan deretan kursi bertingkat di kanan kiri yang diyakini di duduki oleh anggota pemberi vote. Tiga mimbar--dua diantaranya untuk Sandara dan Jordan.
Lalu sebuah meja panjang dengan kursi di tiap sisinya untuk para anggota dewan dan kursi lainnya untuk dua kubu dari tim penetral serta eksekutor. Jantung Afro berdebar kencang seketika.
Namun, kakinya tetap melangkah mendekati wilayah penghakiman tersebut. Ia melihat sebuah kursi yang dilas pada lantai besi.
Afro memegang kursi eksekusi itu dengan gemetaran. Seketika, ingatannya kembali ke masa saat ia melihat ayahnya duduk di kursi terdakwa hingga pada akhirnya di jatuhi hukuman mati.
"Hah!" kejut Afro saat pundaknya ditepuk oleh seseorang hingga ia jatuh di lantai dan terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Kai menatap pemuda di depannya tajam yang gemetaran dan pucat karena suatu hal.
"Oh, Tuan Kai. Maaf, aku ... em, saya tak menyadari kedatangan Anda," jawabnya gugup dan segera berdiri dengan wajah tertunduk. Kai menatap Afro tajam.
"Apa kau sudah tahu, jika Black Castle kini dijadikan tempat persidangan 13 Demon Heads? Sejak tragedi di Italia, Pengadilan di pindah ke sini atas permintaan Jonathan. Kami semua berharap, agar tempat penuh sejarah ini tak terlupakan. Yah, walaupun dekorasinya kuno dan ...," penjelasan Kai terpotong saat Afro berjalan terhuyung terlihat seperti orang sakit saat melewatinya begitu saja meninggalkan ruangan.
Kening Kai berkerut. Ia mendekati kursi yang tadi di pegang oleh Afro dan menyadari perbuatannya. Kai memejamkan mata sejenak dan menghembuskan nafas pelan.
"Aku pasti menyinggungnya. Dasar tidak peka," ucap Kai lirih menyalahkan dirinya. Kai segera pergi untuk mencari Afro yang terlihat panik.
Afro berjalan dengan nafas tersengal terlihat seperti orang ketakutan. Ia berjalan tanpa arah hingga akhirnya ambruk di tepi danau. Afro mencuci wajahnya dengan air itu.
"Oh! Apakah ... aku sengaja di bawa kemari untuk diadili? Persiapan di Black Castle, jangan-jangan ... nyonya Vesper mengundang para dewan dan seluruh orang dalam jajaran untuk melihat eksekusi matiku?" tanyanya dengan nafas tersengal dan pandangan tak menentu.
"Apa yang kau katakan, Afro? Kau menuduhku berbuat keji seperti itu? Di saat kau membutuhkan bantuan? Aku tak sekejam itu. Kau sudah kuanggap sebagai anakku," sahut Vesper mengejutkan Afro hingga matanya melebar.
Vesper tersenyum sembari menyilangkan kedua kaki dengan pakaian tebal yang ia kenakan. Ia duduk di sebuah batang kayu besar entah sejak kapan berada di sana.
"Ayo masuk. Kau percaya padaku 'kan, jika aku tak akan mendudukkanmu di kursi itu dengan orang-orang yang akan mengisi ruang persidangan?" tanya Vesper sembari mengulurkan tangan kirinya dengan senyum terkembang.
Afro terlihat ragu, tapi perlahan ia bangun. Ia berjalan mendekati Vesper dan meraih tangannya meski ketakutan masih terlihat jelas di matanya.
"Aku ingin mengatakan selamat datang kembali. Kebetulan, saat GIGA menangkap sosokmu, aku sedang berada di Inggris karena ada hal penting yang Sherly ingin katakan padaku," ucap Vesper memulai percakapan. Afro masih diam. "Oia, apa kau tahu? Lysa dan Tobias menikah. Musim semi nanti, Zaid dan Yena. Lalu disusul Jonathan dan Sierra di musim panas. Selanjutnya, ya ... kawan lamamu. Juna dan Tessa di musim gugur. Hanya saja, aku tak akan menghadiri pernikahan sahabat baikmu itu. Juna dan Tessa mengecewakanku, Afro. Aku sangat sedih karena keputusan Juna dan juga Tessa yang sebenarnya saling memanfaatkan," ucap Vesper terlihat lesu setelah mengutarakan perasaan akan anak keduanya.
Afro melirik Vesper dalam diam. Ia mulai paham kondisi yang sedang terjadi dalam jajaran dan keluarga Vesper.
Tanpa sadar, langkah kaki mereka telah membawa keduanya sampai ke ruang perapian. Vesper mengajak Afro duduk.
"Good afternoon," sapa Sherly mengejutkan Afro karena ia tak tahu jika Ivan Benedict juga ada di tempat itu termasuk Tuan Robert yang kini duduk di kursi roda elektrik di dampingi Doug. Afro pucat seketika.
"Jangan coba-coba kabur. Kau membuat kami lelah karena sibuk mencarimu. Duduk diam jika kau menghormati kami. Kau ini lelaki, jadilah pria sejati. Jangan lari dari masalah meski itu mengancam nyawamu," ucap Ivan yang suaranya terdengar dari sebuah alat seperti kalung pemenggal tapi memiliki warna hampir serupa dengan kulitnya, sehingga hampir tak terlihat. Alat itu terpasang di lehernya saat ia melakukan gerakan isyarat.
"A-Anda bisa bicara?" tanya Afro kaget.
"Ya. Berkat Kai dan tim-nya. Ayah mertuamu itu sungguh jenius. Ide ini dari Sandara. Konsep yang hampir sama dengan penerapan kaki robot Sierra. Sarung tangan yang kugunakan, membaca pergerakan bahasa isyaratku. Yah, kurang lebih begitu penjelasan sederhananya," jawab Ivan santai.
"Suaranya di dapat dari rekaman yang kami miliki. Kai menggunakan suara asli Ivan. Orang-orang sudah mengenali suara khasnya," jawab Sherly tersenyum manis pada suaminya dan Ivan mengangguk membenarkan.
"Wah, sepertinya ... aku tertinggal banyak berita," jawabnya lesu.
__ADS_1
"Oleh karena itu, dengarkan kami baik-baik, Afro. Kami sengaja berkumpul di sini karena sepakat untuk membuat keputusan setelah mendengar jawaban dari semua pertanyaan yang akan kami ajukan. Semua, tergantung padamu," ucap Ivan terlihat serius.
Afro terlihat gugup, tapi pada akhirnya mengangguk. Ia tak mungkin bisa kabur. Ia membenarkan ucapan Ivan jika ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini. Afro terlihat siap akan pertanyaan yang ditujukan Kai padanya.
Afro melihat Sherly meletakkan sebuah alat seperti remote di atas meja. Pada layar alat sebesar ponsel itu, muncul bentuk gelombang seperti penangkap suara.
"Jika kau berbohong, alat ini akan berbunyi nyaring. Jadi, jangan coba-coba menipu kami meski Vesper bisa melihat kebohongan di matamu," tegas Sherly dan Afro makin tertekan.
Afro mengangguk dan duduk dengan tegap sembari memegangi kedua lututnya seperti menahan rasa takut di hatinya. Mata semua orang tertuju pada pemuda di hadapan mereka.
"Baik, aku mulai. Kenapa kau berkomplot dengan Tessa No Face?" tanya Kai yang duduk di sebelah Afro, memposisikan tubuhnya miring agar bisa melihat dengan jelas ekspresi dari anak Elios tersebut.
"Ancaman, apa lagi? Oke. Akan aku ceritakan. Kalian tak perlu bertanya. Ini kesaksianku," jawabnya mantab.
Semua orang mengangguk dengan wajah serius.
"Setelah aku dibawa pergi dengan helikopter ketika misi emas bertuan di Irian Jaya, aku dibius. Saat sadar, aku berada di sebuah kapal kargo dengan banyak orang berpakaian putih di sekitarku. Ms. White, dia memintaku untuk menandatangani sebuah kesepakatan. Isinya, aku menikah dengan Sierra agar Sandara selamat. Just it. Aku setuju karena tak mau Sandara terluka dan aku berpikir, Sandara pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Saat itu, hanya hal tersebut yang aku pikirkan."
Mesin pendeteksi kebohongan tetap berwarna biru bahkan alarm kebohongan tak menyala. Semua orang mengangguk pelan.
"Lanjutkan," tegas Kai.
"Namun, siapa sangka? Sandara malah dibawa ke kapal dan melihat pernikahanku dengan Sierra hari itu. Aku terkejut dan saat itu juga aku merasa telah dipermainkan. Apalagi setelah tahu jika mereka tetap menyakiti Sandara dengan melemparkannya ke laut. Aku marah, tak bisa berbuat apa-apa," sambungnya menggebu.
Para pendengar makin serius menyimak. Vesper menggerakkan dua jarinya dan Afro paham kode itu.
"Aku dikurung di sebuah kamar dalam kapal. Aku tak tahu sudah berapa lama berada di sana hingga aku dikeluarkan, tapi dijadikan kepompong. Aku makin tak bisa berkutik. Aku akhirnya pasrah dan mencoba menerima takdir, tapi aku tak bodoh. Aku mengamati cara kerja mereka selama aku disekap. Hingga aku menyadari titik lemah dari orang-orang itu," ucap Afro yang mengejutkan semua orang.
"Apa itu?" tanya Kai penasaran begitupula semua orang yang mendengar.
"Tobias."
****
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Makasih tipsnya😍 ngantuk bgt sumpah kalo nemu typo maklum ya😆
__ADS_1