
Seperti permintaan Sandara, puteri tunggal Kai didampingi Arthur terbang ke Italia mengunjungi kediaman Afro.
Selama penerbangan, Arthur terlihat cemas. Ia tahu kondisi sebenarnya dari pria yang dicintai Sandara.
Diam-diam, Arthur mengirimkan pesan kepada Doug tentang kedatangan Sandara. Tentu saja, Doug terkejut.
Dengan sigap, ia menghubungi Afro yang masih berada di Lugu Lake di mana semua urusannya kini dikerjakan oleh Venelope.
"Afro. Dara kembali. Ia mencarimu," ucap Venelope seraya mendekat dengan ponsel dalam genggaman.
"Biarkan saja. Aku sudah tak mau lagi berurusan dengannya," jawab Afro ketus terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Ini harus dituntaskan, Afro. Kau tak bisa bersembunyi dan menghindar. Semua wanita, butuh kejelasan dari hubungannya," tegas Venelope.
"Aku sudah menjelaskan semua pada tuan Kai selaku ayah dari Sandara," jawabnya melirik Venelope tajam.
"Kai, hanya sebagai ayah. Sedang kau menikah dengan puterinya, Sandara. Kau menceraikannya secara sepihak. Sandara tak tahu hal itu. Sebagai pria yang pernah mencintainya dan pernah menjadi suaminya, kau harus menunjukkan wibawamu. Aku tahu ini akan sangat menyakitkan terutama bagi Sandara, tapi ia harus tahu alasannya kenapa kau meninggalkannya. Jika aku menjadi Sandara, aku akan menuntut hal itu darimu, Afro. Jangan lupa. Aku juga seorang perempuan," sahut Venelope masih bersikukuh dengan pemikirannya.
Afro mengembuskan napas panjang. Ia masih terlihat ragu untuk melakukan yang Venelope minta padanya.
"Kaukenal watak Sandara. Kau ingin dia tahu tempat ini? Hal itu bisa sangat berbahaya, Afro. Kau harus pergi dari sini agar tempat ini tetap terlindungi."
"Aku mengerti. Informasikan hal ini pada tuan Kai," jawab Afro dengan pandangan tertunduk.
Venelope bergegas menghubungi Kai. Sayangnya, panggilan itu tak bisa ia terima karena Kai dan Han sedang sibuk mengurus pembagian kamar bagi anak-anak yang kini berkumpul di Kastil Hashirama.
Anak-anak itu, tak ingin jauh dari Vesper. Mereka selalu mengikuti ke mana pun Vesper pergi bahkan rela meninggalkan Lugu Lake.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
"Kau cari saja sendiri bunganya! Bunga ini untuk Oma!" teriak salah satu gadis berponi mempertahankan karangan bunga dalam genggamannya.
"Bunganya sudah habis kau ambil semua! Ibu! Azumi pelit!" teriak seorang gadis berambut panjang mencoba merebut bunga-bunga itu dari genggaman gadis kecil bernama Azumi.
SRAKK!
"Waaa!" teriak dua anak malang itu yang berujung dengan menangis karena bunga-bunga cantik tersebut berhamburan di lantai.
Tentu saja, kehebohan itu membuat anak-anak lainnya berkumpul, tapi bukannya ditenangkan malah mereka memprovokatori agar dua gadis itu berkelahi. Benar saja, Azumi dan Reina saling menarik rambut dalam perkelahiannya.
"Hei, hei, hentikan!" seru Vesper saat mendapati dua gadis manis itu berkelahi hebat hingga yukata mereka hampir terlepas.
DUAKK!
"Oh!" pekik anak-anak terkejut saat Reina tak sengaja memukul wajah Vesper ketika akan melerai keduanya.
"Oma, Oma, maaf," ucap Reina langsung pucat karena Vesper seperti orang linglung lalu tergeletak di lantai.
"Oma! Kau tidak apa-apa?" tanya Azumi ikut cemas dan duduk di sampingnya.
Vesper diam sejenak memejamkan matanya. Perlahan, Vesper membuka mata.
"Jangan bertengkar. Kasihan, bunga itu tak bersalah. Kenapa kalian tak mendandani Oma dengan bunga-bunga itu? Oma ingin menjadi Ratu yang cantik," ucapnya lirih yang sudah berbaring di lantai kayu.
Reina dan Azumi saling berpandangan. Keduanya lalu mengambil bunga-bunga itu kemudian menghiasi tubuh Vesper.
Ternyata, anak-anak yang lain ikut serta. Fara bahkan memberikan pisangnya untuk sang nenek sebagai hiasan di kepala.
Vesper tersenyum lebar ketika anak-anak itu berkumpul di sekitarnya dan terlihat asyik dengan prakarya mereka.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" pekik Kai bergegas mendekat dengan Han mengikuti di belakang.
"Oma cantik ya?" ucap Kenta yang duduk bersimpuh di samping kepala Vesper.
Han dan Kai terpaku. Vesper yang menelengkupkan kedua tangannya di atas dada dengan mata terpejam, terlihat begitu damai seperti dimakamkan. Han roboh di atas kepala sang Ratu lalu memegangi wajahnya lembut.
"Apakah aku terlihat cantik seperti yang mereka katakan?" tanya Vesper lirih membuka mata perlahan.
"Ya. Sangat cantik, Sayang. Sangat cantik. Wajahmu berseri," jawab Han dengan mata berlinang lalu mengecup kening Vesper lembut.
"Ayo foto bersama!" ajak Nicolas yang sudah membawa ponsel dalam genggaman.
__ADS_1
Han dan Kai terlihat bingung, tapi melihat antusiasme anak-anak, dua pria itu ikut merebahkan diri di samping isteri mereka.
Semua anak ikut berbaring di sekitar tiga orang dewasa itu. Fara bahkan tidur di atas tubuh Han yang membuat ayah dari Kim Arjuna tersebut tertawa terbahak.
"Sini, aku fotokan. Kalian lucu sekali," ucap Sierra mengambil ponsel dari genggaman Nicolas, dan bocah lelaki berambut pirang itu segera mengambil posisi diantara saudara-saudarinya. "Oke, bersiap," ucap Sierra sampai mengangkat ponsel itu tinggi agar bisa menangkap gambar. "Satu, dua, tiga!"
"Lagi! Lagi!" pinta anak-anak yang tak puas dengan satu gambar saja.
Han dan Kai pasrah dengan permintaan mereka. Sierra pun tak keberatan. Ia malah terlihat menikmati perannya sebagai fotografer dadakan untuk mengabadikan momen tersebut.
"Ikutlah berfoto, Sierra. Tanganmu panjang, seharusnya gambarmu juga bisa masuk dalam layar ponsel itu," pinta Han, dan Sierra mencoba melakukan selfi dengan banyak orang di belakangnya.
"Oh! Bisa, bisa!" serunya terlihat senang dan mengembangkan senyuman. "Satu, dua, tiga!"
"Yey!" seru anak-anak gembira setelah mereka puas berfoto.
Sierra mengembalikan ponsel itu kepada Nicolas. Terlihat, anak-anak begitu penasaran dengan hasil jepretan Sierra.
"Kai," panggil Vesper lirih yang kini sudah tak dikerubungi anak-anak lagi.
"Hem, ada apa, Sayang? Kau ingin sesuatu?" tanya Kai seraya membangunkan Vesper dan menjadikan dadanya sebagai sandaran punggung sang isteri.
"Aku ... ingin mengunjungi paman Takeshi. Apakah kalian tahu kabar terakhir darinya?" tanya Vesper lirih.
Kai menatap Han lekat dan pria itu menggeleng pelan tidak tahu.
"Kau ingin berkunjung? Tapi ... kesehatanmu bisa memburuk jika kau berpergian lagi, Sayang," jawab Kai cemas.
"Aku juga ingin mengunjungi makam Liu. Sudah lama sekali aku tak menjenguknya."
Kai menarik napas dalam terlihat tertekan. Han menepuk pundak Kai dan mengangguk pelan. Kai akhirnya pasrah dan menuruti permintaan sang isteri.
"Baiklah. Kami persiapkan keberangkatan dulu. Istirahatlah, oke?" pinta Kai seraya mengecup kening Vesper lembut dan sang ratu mengangguk pelan.
Han lalu membopong Vesper untuk kembali ke kamar. Sierra menemani Vesper untuk melakukan penyuntikan, di mana stok terakhir dari serum yang berhasil diselamatkan tersisa sampai 1 minggu saja.
Kai dan Han terlihat seperti orang putus harapan. Mereka sungguh tak tahu di mana mendapatkan serum-serum itu karena semua catatan milik Jeremy telah musnah dalam ledakan sehingga produksi serum untuk penyembuhan Vesper tak bisa dilakukan.
Han terlihat pusing memikirkan hal ini. Semua stok yang berada di seluruh markas telah dikumpulkan.
Kondisi Jeremy belum pulih sepenuhnya karena ia mengalami gangguan pernapasan akibat terkurung dalam laboratorium di mana kobaran api dahsyat mengepung sekelilingnya. Beruntung, Jeremy berhasil diselamatkan meski ditemukan dalam keadaan kritis.
"Jangan putus harapan, Kai. Pasti ada jalan. Setidaknya, kita masih bisa mengabulkan permintaan Vesper. Ayo, kita harus berjuang untuknya," tegas Han menatap rivalnya tajam.
"Aku mengerti. Kita pergi menemui paman Takeshi," jawab Kai mantab dan diangguki oleh Han.
Segera, Kastil Hashirama terlihat sibuk hari itu. Buffalo mengamankan rute perjalanan bersama bodyguard Vesper lainnya yang telah selesai dalam tugas.
Anak-anak tak diizinkan ikut. Kastil Hashirama dijaga ketat dengan pengawasan penuh oleh para Black Armys Ninja, Sierra dan tiga isteri Tora dari segala ancaman.
Lucy dan tiga Biawak diminta segera kembali ke Kastil begitu urusan dengan kolektor selesai.
James pergi terlebih dahulu untuk memastikan keberadaan paman Takeshi yang sudah bertahun-tahun lamanya tak terdengar kabar sejak ia memutuskan pulang usai membantu kubu Vesper memenangkan pertempuran.
Oktober Minggu Kedua.
Vesper meninggalkan Kyoto menuju ke Suga Island dengan jalur darat yang selanjutnya menyeberang dengan yacht yang sudah dipersiapkan oleh orang-orang dalam jajarannya.
Namun, setibanya di kediaman paman Takeshi, Vesper diajak oleh seorang pemuda Jepang tampan yang seperti mengenalinya.
"Apa aku mengenalimu?" tanya Vesper menatap pemuda itu lekat.
"Aku cucu kakek Takeshi. Aku sudah besar, Nona Lily," ucap pemuda itu dengan senyum terkembang.
Vesper tersenyum lebar seraya menepuk pundak pria tampan itu lembut.
"Di mana paman Takeshi?" tanya Vesper menatap pemuda itu lekat.
Lelaki itu mengantarkan Vesper keluar dari rumahnya. Vesper terlihat bingung karena pemuda itu mengajaknya ke halaman. Han dan Kai memapah Vesper di kanan serta kirinya.
Hingga akhirnya, langkah Vesper terhenti saat ia melihat sebuah makam di bawah sebuah pohon besar. Tampak foto paman Takeshi di gantung pada batang pohon tersebut.
__ADS_1
"Ia ... sudah berpulang?" tanya Vesper terlihat sedih. Pemuda itu mengangguk pelan.
"Sekitar ... 10 tahun yang lalu. Saat itu, kakek mengatakan ingin sekali bertemu dengan Anda. Sayangnya, tak ada satu pun dari kami yang berani untuk meninggalkan pulau. Aku ... merasa bersalah karena merasa menjadi seorang pengecut. Maksudnya ... Anda ... seorang mafia. Sedang aku, hanya warga sipil biasa termasuk anggota keluarga lainnya. Kakek selalu berkata, 'beranilah, Nona Lily tak seburuk yang kau bayangkan. Temui dia.' Namun, aku tetap tak berani menemuimu. Aku terlalu takut," ucap pemuda itu terlihat sedih dengan pandangan tertuju ke makan paman Takeshi.
"Itu bukan salahmu. Tak ada salahnya untuk takut. Itu ... sifat alami seseorang. Ketakutan itu terjadi, karena kau belum pernah mengalaminya. Pikiranmu yang membuat ketakutan itu meluas sehingga tak memiliki keberanian. Imbas dari itu, kau kini merasakan penyesalan. Apa ucapanku benar?" tanya Vesper seraya mendekat.
Pemuda itu mengangguk dan pada akhirnya berlinang air mata. Vesper memeluk cucu dari Takeshi erat yang balas memeluknya lembut.
"Aku minta maaf, Nona Lily. Aku sudah berjanji untuk tak menjadi pengecut lagi. Sebelum kakek meninggal, ia memberikanku sebuah amplop berisi surat. Ia memintaku untuk menyerahkannya padamu. Hingga akhirnya ketika kakek tiada, aku memberanikan diri meninggalkan pulau untuk mencari keberadaan Anda. Sayangnya, aku ... tak bisa menemukan Anda. Satu bulan lamanya saya menyusuri Kyoto, tapi tak ketemu. Lalu, aku memutuskan kembali dengan sia-sia," jawabnya terlihat sedih.
"Kau masih menyimpan surat itu?" tanya Vesper menatap cucu Takeshi lekat. Pemuda itu mengangguk.
Vesper menunggu di samping makam paman Takeshi. Terlihat, wajah sedih ikut menghampiri semua orang yang mengenalnya.
Trio Beast kini telah gugur. Paman Ketut, BinBin, dan Takeshi, membawa sejuta kenangan akan keberanian mereka dengan karakter masing-masing yang sangat sulit untuk dilupakan.
"Ini, Nona. Aku menyimpannya sebaik mungkin agar tak rusak," ucap pemuda itu seraya menyerahkan sebuah amplop dengan lukisan ular.
Vesper membuka kertas itu hati-hati. Semua orang diam menyimak. Vesper membacakannya dengan lirih.
"Apa kabar, Lily? Aku yakin kau baik-baik saja. Kau wanita yang tangguh, cerdik dan pintar. Ingin sekali kubertemu denganmu untuk terakhir kali. Aku juga ingin bertemu dengan BinBin dan Ketut. Apakah mereka masih hidup, atau sudah mati?"
Semua orang tertunduk sedih karena dua pria yang disebut itu telah tiada.
"Jika mereka sudah mati, aku akan menyusulnya. Aku merindukan masa-masa bertempur dulu. Sungguh, pengalaman yang tak terlupakan meski cukup menegangkan. Aku senang mengenalmu, Lily. Aku tak menyesal pernah menjadi keluarga mafia. Surat ini kubuat karena aku memiliki satu permintaan padamu. Anggap saja, sebagai balas budimu padaku karena sudah kuantarkan menyeberang ke Korea Selatan kala itu. Hehe, ya aku orang yang pamrih."
Vesper terkekeh pelan. Ia terlihat tak masalah dengan permintaan sang paman.
"Aku memang tak pernah bercerita tentang cucuku. Dia bernama Souta. Dia kini telah tumbuh besar. Sayangnya di tempat ini, ia tak bisa memaksimalkan kemampuannya. Aku mengajarinya ilmu pedang. Namun, mentalnya belum terasah. Ia penakut, Lily. Jadi ... tolong bimbing dia dan jadikan Souta pria kuat sepertiku. Aku tahu kau bisa melakukannya. Itu saja permintaanku. Terima kasih. Sampai jumpa di kehidupan lain."
Vesper menutup suratnya. Ia melihat Souta yang tampak terkejut usai mendengar isi dari surat itu.
Kai dan Han saling berpandangan terlihat serius memikirkan permintaan terakhir dari paman Takeshi. Permasalahannya adalah, Vesper sudah tak setangguh dulu. Ia sedang sakit dan fisiknya melemah.
"Kau ingin ikut denganku?" tanya Vesper pelan yang duduk di sebuah kursi kayu tersedia di sana. Souta mengangguk ragu.
"Apa kau ingin ikut denganku, Souta?" tanya Vesper lagi yang tiba-tiba saja menunjukkan wajah seriusnya.
"Ya-Ya."
"Apa aku ingin ikut denganku?!" tanya Vesper dengan suara lantang yang mengejutkan semua orang.
"Ya!" jawab Souta mantap.
Vesper tersenyum tipis. Ia lalu memanggil James dengan ayunan tangan kanannya. James segera mendekat ke arah sang Ratu dengan tergesa.
"Dia James. Salah satu bodyguard kepercayaanku. Ilmu pedangnya sangat mengesankan. Aku pernah belajar darinya. Jadi, tunjukkan padaku kemampuanmu. Aku ingin melihatnya," pinta Vesper yang membuat Souta terkejut.
"A-aku ...."
"James," ucap Lily meliriknya tajam.
James mengangguk dan dengan sigap, SRING! SRET!
"Agh!" erang Souta karena tiba-tiba saja James menarik pedang Silent Gold dari sarungnya dan ia sabetkan hingga mengenai lengan kiri Souta.
Pemuda itu terkejut dan langsung melangkah mundur. Vesper duduk dengan tenang menatap Souta tajam. Suasana tegang seketika.
"Lawan dia, atau kau akan terpotong menjadi beberapa bagian. Aku tak segan ikut menguburkan potongan tubuhmu di samping kuburan paman Takeshi, Souta," ucap Vesper dengan wajah datar, tapi membuat napas Souta memburu. "James, cincang dia."
James mengangguk mantap. Praktis, mata Souta terbelalak lebar. Pemuda itu langsung berlari menghindar dan memasuki rumah pondok dari kayu tersebut.
James serius dengan aksinya. Ia mengejar Souta yang berusaha untuk melarikan diri. Kai dan Han saling melirik terlihat tegang, sedang Vesper, tersenyum tipis bahkan meminta dipotongkan apel kepada Buffalo.
Wanita perkasa itu dengan sigap mengupas apel untuk Vesper dan menyuapinya sembari melihat James dan Souta saling bertarung.
***
puanjang nih epsnya😆 makasih tipsnya mak ben❤️lagi pengen up aja padahal masih meriang ini😵walaupun Love Is Henry belom kelar tapi doain aja tetap bisa sesuai jadwal pengerjaannya. lele padamu❤️
__ADS_1