
Keesokan harinya. Javier dan kelompoknya tiba di kediaman Marlena. Kabar duka inipun telah tersebar luas di jajaran 13 Demon Heads.
Kematian Tobias yang mendadak membuat semua orang terkejut karena tak menyangka jika pria psikopat itu bisa ditaklukkan dengan mudah bahkan pertempuran pun tak terdengar.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Salam," sapa Javier ketika memasuki ruang utama kediaman Marlena. Kedatangannya disambut baik oleh para Pion.
King D yang menangis semalaman masih tertidur pulas dan Javier pun membiarkan anaknya berisitirahat. Namun, bayi Fara telah bangun. Ia tidur bersama sang kakak di kamar ibu mereka.
Fara melihat botol dotnya telah kosong dan memberikannya pada Javier. Sultan menerimanya dengan senyuman. Ia mengelus kepala anak perempuan Tobias lembut lalu mengecup keningnya.
"Stok ASI-nya habis. Fara biasanya disusui langsung oleh Lysa tiap pagi. Namun, Lysa ...," jawab Pion Darion terlihat bingung dalam menjelaskan.
"Di mana jenazah Tobias?" tanya Javier heran karena tak mendapati keranda yang menutup mayat pria bertato itu.
"Aku rasa, masih berada di kamar bersama Lysa," jawab Dakota.
Praktis, mata Javier dan semua orang melebar.
"Dasar gila! Apa Lysa sudah tak waras? Tubuh Tobias akan membusuk dan bisa menimbulkan penyakit!" seru Javier tak habis pikir dengan mantan isterinya.
Habib dan lainnya segera mendatangi kamar tempat mayat Tobias berada. Namun, kamar itu dikunci dari dalam. Berulangkali pintu diketuk, tapi tak ada jawaban.
"Dobrak pintunya! Jika sampai Lysa berbuat nekat dengan ikut bunuh diri, aku tak akan pernah memaafkannya! Buka!" seru Javier lantang.
Dengan sigap, Pion Dexter mendobrak pintu tersebut hingga terbuka. Seketika, mata semua orang melebar.
Lysa tidur di samping mayat Tobias dengan selimut yang sama. Kedatangan orang-orang itu membuat Lysa membuka mata.
Nampak wajah sedih di paras ayunya. Terlihat, mata wanita itu sembab karena banyak menangis.
Javier berjalan mendekat. Ia melihat jasad Tobias yang sudah terbujur kaku dan mulai membusuk. Hakim dan lainnya hampir muntah karena melihat Lysa tidur dengan mayat.
"Cepat! Angkat mayatnya dan lakukan prosesi pemakaman. Jangan ditunda lagi!" perintah Javier tegas.
Namun, Lysa langsung berdiri dan menghadang orang-orang Javier.
"Kalian ingin membawa Tobias pergi dariku, ha? Jangan harap!"
Mata Javier melotot. Ia melihat mantan isterinya seperti sudah hilang kewarasan. Javier ngotot dan meminta anak buahnya mengambil jasad Tobias paksa.
Lysa melakukan perlawanan. Ia tak segan memukul dan menendang orang-orang itu. Napas Javier memburu. Ia melangkah dengan gusar ke arah mantan istrinya.
Dengan sigap, "Agh! Lepaskan! Toby!"
Lysa memberontak. Javier memegang dua tangan wanita cantik itu kuat dan menariknya paksa ke kamar mandi yang masih satu ruangan dengan kamar tersebut.
Habib mengambil alih dengan memberikan perintah kepada anak buah Javier untuk memindahkan mayat Tobias. Kali ini, para Pion setuju.
Mereka yang tidak tahu bagaimana mengurus mayat dengan cara Islami memasrahkan kepada Sauqi dan Hakim.
Habib dan Pion Darion berjalan tergesa ke kamar mandi karena mendengar Lysa berteriak. Mereka khawatir jika Sultan melakukan hal buruk pada mantan isterinya itu.
Namun, pikiran buruk mereka lenyap. Dua orang itu melihat Javier memasukkan Lysa ke dalam bath up. Javier menyalakan air dalam bak hingga tubuh bagian bawah Lysa basah kuyup.
Lysa menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia memunggungi semua orang karena Javier menyemprotkan shower ke kepalanya. Habib dan Darion terdiam.
"Aaaa! Dasar gila! Toby! Toby!" teriak Lysa mencoba memberontak, tapi Javier terus mendorong Lysa hingga wanita itu tercebur ke dalam bath up berulang kali.
"Kau yang gila! Kau dibutakan oleh cinta! Kau sama saja denganku, tapi aku lebih waras! Tak ada gunanya kaumasih mencintai orang yang sudah mati! Kau orang Islam, kau harusnya tahu hal itu!" seru Javier lantang hingga suaranya terdengar keluar.
Tak lama, Pion Diego datang bersama bayi Fara. Lysa yang direndam dalam bath up hingga air tumpah menggenangi lantai mulai menenangkan diri.
__ADS_1
"Mimi ...," panggil Fara dengan kedua tangan ingin menggapai ibunya, tapi Lysa malah memalingkan wajah. Javier dan semua orang bingung.
Javier mematikan air keran dan shower. Ia mengambil bayi Fara yang digendong oleh Diego dan didekatkan ke arah Lysa.
"Kau mengabaikan anakmu? Apa kau tak ingat? Fara, adalah anakmu dengan Tobias. Kau tidak boleh menelantarkannya. Kau sama saja tak menjaga amanat Tobias padamu," tegas Javier.
"Aku tak bisa," jawab Lysa memeluk kedua lututnya.
"Tentang apa?" tanya Javier heran.
"Hiks. Fara dan King D mengingatkanku pada Tobias. Aku ... aku," jawabnya terbata dan menggantung seraya menyembunyikan wajahnya yang kembali meneteskan air mata.
Napas Javier memburu, ia terlihat marah, tapi berusaha menahan emosinya di mana bayi Fara mulai menangis karena tangan mungilnya tak disambut sang ibu.
Javier terpaksa memberikan bayi Fara pada Habib dan pria tua itu segera pergi dari kamar mandi untuk menenangkan bayi malang yang sedang kehausan.
"Kau pasti bahagia 'kan, karena Tobias telah tiada? Aku tahu kau sangat membencinya hingga kau mendoktrin King D untuk melakukan hal sama," ucap Lysa melirik Javier tajam dengan tangisan mulai mereda.
Javier balas menatap lekat mantan isterinya yang basah kuyup dalam bath up.
"Ya. Itu benar. Aku sangat membenci Tobias. Namun, asal kautahu, tak hanya aku. Banyak orang lain yang menaruh dendam padanya," jawab Javier jujur dan semua orang yang mendengar terdiam.
Lysa tersenyum sinis.
"Aku sudah menduga jika King D akan kembali dekat dengan Tobias karena aku bisa melihat jika lelaki itu sangat menyayanginya. Oleh karena itu, Tobias kuberikan kesempatan untuk bisa dekat lagi dengan King D, meski hal itu juga sangat menyakitiku," sambung Javier menatap Lysa tajam.
Wanita berambut panjang itu menatap mantan suaminya lekat.
"Jangan lupa, Tobias menghancurkan keluarga kita. Tobias mengambilmu dan juga King D dariku. Namun lihat, aku bahkan bisa bertahan dengan semua sikap semena-mena darinya selama ini. Kau bahkan memilihnya ketimbang aku, padahal aku yang menemukanmu lebih dulu. Aku yang memilihmu. Dan aku, melakukan banyak hal gila karenamu. Namun, kau malah memilih pria yang jelas-jelas berkeinginan untuk menghancurkan kita. Pada akhirnya ... aku ... ikhlas. Bagaimana denganmu?" tanya Javier berkesan menyindir. Lysa terdiam dengan pandangan teralih.
"Kau terlalu mencintainya, hingga kau menyalahkan King D dan Fara. Aku kecewa padamu, Lysa. Dan jika kau tak sanggup merawat anak-anak lagi, aku siap. Aku membutuhkan mereka. King D dan Fara, adalah alasan aku tetap bertahan hidup dalam kemunafikan ini," tegasnya.
Javier pergi meninggalkan kamar mandi dan membiarkan mantan isterinya menyadari perbuatannya.
Bayi Fara terus menangis dan hal itu membuat King D bangun. Javier membawa Fara ke kamar dan meminta agar bayi malang itu diberikan makan serta minum karena Lysa masih enggan menyusui.
Dengan sigap, para Pion menyediakan kebutuhan Fara. Javier dengan telaten meminumkan air kepada anak perempuan Tobias yang diberikan nama sama seperti anaknya kala itu dari rahim wanita lain.
Perlahan, tangis Fara mereda. Javier kini menyuapi Fara dengan pisang dan bayi lucu itu makan dengan lahap.
"Oh, kau lapar ya? Kau sangat lucu. Kau suka pisang? Hem, makanlah yang banyak. Kau harus tetap sehat, Fara," ucap Javier dengan senyum terkembang seraya mengelus kepala bayi gendut yang duduk di pangkuannya.
King D melihat kedekatan Fara dengan ayahnya. Anak lelaki itu duduk mendekat.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Baba ...," panggilnya lirih.
"Ya?" jawab Javier ikut mengelus kepala anak lelakinya lembut.
"Toby ... tak sejahat yang kauceritakan," ucapnya pelan.
Javier terdiam, di mana para Pion juga berada di ruangan itu seraya memakai earphone translator.
"Ya. Aku tahu. Oleh karena itu, Baba sengaja memintamu tinggal selama seminggu di sini, agar kau tahu, seperti apa tingkah laku Tobias. Jadi, menurutmu ... dia tak jahat?" tanya Javier serius.
King D mengangguk. "Toby tak membunuh orang, tapi dia dibunuh. Sikap Toby memang aneh, tapi ... dia baik dengan semua orang. Dia sangat menyayangi Fara. Toby memandikan, menyuapi dan mengajak Fara bermain. Toby juga mau belajar sholat dan mengaji. Toby ... tak seperti di buku dongeng," sambungnya.
"Mana buku dongengmu?" tanya Javier pelan.
Dengan sigap, King D turun dari ranjang dan berlari keluar kamar untuk mengambil buku dongeng yang berada di kamarnya.
Javier ditatap tajam oleh para Pion entah apa yang mereka pikirkan. Tak lama, King D kembali terlihat terkejut akan sesuatu.
__ADS_1
"Baba! Baba! Buku King D berubah! Ada yang menempelnya dengan kertas!" serunya lantang dan langsung membuka buku dongengnya tersebut. Kening Javier berkerut, tapi ia menyadari sesuatu.
"Ingin Baba bacakan?" tanya Javier dan King D mengangguk.
Javier menurunkan bayi Fara agar buku dongeng itu tak rusak oleh tangan usilnya yang penuh dengan pisang.
Fara duduk di karpet dan terlihat asyik dengan makanannya. King D menatap gambar dari pulpen itu lekat terlihat penasaran.
"Tobias," ucap Javier menunjuk sebuah gambar pria, tapi bentuknya aneh.
Dalam gambar itu, tertulis nama Tobias di bagian bawah kaki. Terlihat, wajah dari pria itu bersedih karena garis melengkung ke bawah di bibirnya. King D mengangguk paham.
Para Pion mendekat untuk melihat secara langsung di mana mereka tak pernah mengetahui hal itu. Javier menarik napas dalam.
"Aku dulu tak jahat, King D," ucap Javier membaca tulisan di samping gambar Tobias. "Aku jahat karena orang-orang jahat mengubahku. Meski demikian, aku tak melakukan hal jahat pada orang-orang yang kusayangi. Seperti padamu, Mimi dan Fara, dan masih banyak lainnya."
Semua orang terdiam. Javier membuka lembar kedua dari kertas yang diplester menutupi gambar asli dari buku tersebut.
Javier terlihat tetap tenang, meski terlihat jelas ia seperti tertekan. King D menatap gambar buatan Tobias lekat.
"Vesper," ucapnya menunjuk sebuah gambar seorang wanita dengan tulisan Vesper di atasnya. King D mengangguk.
"Oma," sahutnya dan Javier tersenyum membenarkan.
"Vesper adalah orang pertama yang mau menerima segala keburukanku. Aku menyiksanya, mengurungnya, dan menjauhkannya dari keluarga. Aku yakin jika Vesper sebenarnya bisa kabur dariku, tapi tak ia lakukan. Lama aku memikirkan alasannya hingga akhirnya aku baru menyadari malam ini, alasan kenapa ia tak pergi. Vesper ... menyayangiku. Ia melihat sosok Joel Ramos dalam diriku. Meski aku tak pernah mengenal ayahku karena ia telah tiada, tapi Vesper menceritakannya padaku. Aku tahu jika Joel bukan pria yang baik, tapi Vesper menceritakan hal baik tentangnya. Kenapa dia bisa memaafkan ayahku? Padahal ... Joel juga sering menyiksanya. Apakah ... karena cinta?"
Javier termenung untuk sesaat. Hal itu mengingatkannya saat di Afganistan di mana ia juga tak mengizinkan Vesper pergi darinya karena ia merasakan kasih sayang ibu dari wanita yang dibelinya.
"Joel Ramos, ayah dari Tobias? Apakah ... Oma pernah menikah dengan pria lain sebelum Kai dan Han?" tanya King D menatap ayahnya lekat dan Javier mengangguk pelan.
Javier memilih tak menjawab. Ia membuka lembaran ketiga dan kini ada beberapa gambar di sana.
"Mimi, Toby, King D, dan Fara," ucapnya menunjuk empat gambar tersebut.
King D meraba gambar itu dengan wajah sendu. Javier memejamkan mata sejenak lalu kembali membaca.
"Aku tak pernah sebahagia ini. Kalian adalah alasanku tetap bertahan hidup. Namun kali ini, alasanku berbeda. Bukan lagi kekuasaan, bukan lagi menjadi pemimpin, tapi ingin hidup dengan tenang bersama kalian. Aku sangat mendukung keputusan Mimi untuk keluar dari dunia mafia. Awalnya memang sangat menjengkelkan karena impianku seperti dikubur hidup-hidup, tapi melihat Fara tumbuh dengan senyuman dan kau menjadi seperti Sultan sok tahu dengan ilmu agama, aku merasa ... inilah akhir dari hidupku."
Javier tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika Tobias masih sempat menyebut namanya. Kembali, perasaan sedih menghampiri hati semua orang.
Javier membuka lembar terakhir di mana terlihat gambar wajah dengan senyum lebar di sana dan tertulis nama Tobias di atas kepala.
"Jika benar aku akan dimusnahkan suatu saat nanti oleh siapapun, aku rela. Mungkin, itulah hukumanku atas semua kekejamanku pada orang-orang itu. Jadi ... King D, kenanglah aku sebagai Tobias yang baik hati, bukan Tobias psikopat, penjahat, dan pembunuh. Akan kulakukan apapun asal kau mau menggandeng tanganku lagi dan memanggilku ... Pipi. Pipi menyayangimu."
King D kembali menangis. Javier langsung memeluk anaknya erat yang sudah bisa menerima Tobias meski pria itu tak berumur panjang. Mata para Pion berkaca. Mereka berusaha agar air mata sialan itu tak menetes.
"Jagalah buku ini dengan baik, King D. Ini ... adalah kenang-kenangan dari Tobias untukmu," ucap Javier seraya memberikan buku itu pada anaknya.
King melepaskan pelukan dari tubuh sang ayah dengan anggukan. Ia menerima buku itu dengan wajah sudah tergenang air mata. Ia melihat fotonya tertempel di sana, dan ia ingat momen itu.
Sebuah kenangan saat ia berfoto dengan pria bertato tersebut di kediaman Darwin bersama Pony. Obama Otong yang mengambil gambarnya kala itu.
King D menutup buku dongeng tersebut dan memeluknya erat. Javier memeluk anaknya dari belakang seraya mengecup kepalanya lembut.
Rasa haru menyelimuti hati semua orang. Siapa sangka, Tobias yang begitu kejam, bisa berubah hanya karena kasih sayang seorang wanita yang pernah disakiti oleh mendiang suaminya, dan keinginannya agar anak tirinya bisa kembali dekat dengannya.
***
makasih tipsnya. 1 eps aja. lele masih gak enak badan. panjang nih epsnya 2000 kata lebih. silakan kalau mau lanjut nangis lagi.
__ADS_1