
Sore itu, para pelayat telah tiba di kediaman Theo Sanders, Jerman. Ternyata, tak banyak orang-orang yang datang.
Terlihat jelas, orang-orang yang tak memihak Tobias seperti anggota The Kamvret, para Agent Colombia, dan Red Ribbon. Namun, Sierra hadir bersama Jonathan, Venelope, Click and Clack.
Lysa terlihat sedih, tapi sudah tak menangis lagi. Jenazah Tobias sudah disholatkan dengan Javier sebagai imam.
Acara pemakaman hari itu dipimpin oleh Habib. Doa-doa dipanjatkan, tapi sudah tak terlihat lagi kesedihan di wajah orang-orang.
Arjuna dan Tessa ikut hadir karena bagaimanapun, Tessa pernah hidup dalam jajaran The Circle sebelum beralih pihak.
Sandara ikut muncul bersama Afro, Kai dan Doug. Para Pion berdiri mengelilingi makam dengan para bodyguard Vesper yang telah hadir bersama Obama Otong.
One dan Verda berdiri bersama empat Biawak, Zaid, Yena, Torin, dan Yuki. Para anggota Dewan berdiri berjejer bersama Vesper dan Han di samping makam.
Namun, sosok Amanda dan Jordan tak nampak, termasuk orang-orang dalam jajarannya dengan alasan bermacam-macam. Lysa tersenyum sinis mendengar kepalsuan itu.
Hingga akhirnya, tiba giliran King D ingin memberikan sambutan dari acara pemakaman hari itu. Semua orang serius mendengarkan.
Anak lelaki itu membuka sebuah buku tulis dan dihadapkan ke para pelayat. Tampak tulisan huruf Arab dan latin di halaman tengah buku. Semua orang diam mendengarkan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Tobias Al-Saleh," ucap King D menunjuk tulisan dari tinta pulpen warna hitam pada sebuah baris buku. Di sebelahnya, ada tulisan Arab. Semua orang masih diam menyimak.
Telunjuk King D berpindah ke baris di bawahnya. "King D," sambungnya. Telunjuk anak itu kembali bergerak. "Mimi Lysa. Lalu ... Fara," ucapnya dengan wajah sendu.
Lysa memejamkan mata terlihat seperti berusaha menahan air matanya.
"Kemudian ... Vesper."
Ibu angkat Tobias memejamkan mata dengan wajah berpaling terlihat menahan kesedihannya. Kai mengelus punggung isterinya lembut dan Vesper tersenyum tipis.
"Di bawahnya, Pion Darwin, Pion Dakota, Pion Damian, Pion Diego, Pion Darion, Pion Dexter, Pion Darius dan Pion Daido," ucapnya yang membuat keenam Pion yang masih hidup menarik napas dalam dan berusaha sekuat tenaga agar tak meneteskan air mata lagi.
__ADS_1
"Lalu yang terakhir ... Sierra Flame," ucapnya menunjuk tulisan di paling bawah. Sierra terkejut karena namanya ditulis di sana. Lysa melirik Sierra tajam.
"Selama King D menginap di apartemen dan menghabiskan waktu dengan pipi Toby, pipi mempelajari banyak hal, salah satunya menulis dengan bahasa Arab. Saat itu, mimi Lysa meminta agar pipi menuliskan nama-nama mereka yang seharusnya, hari ini akan dia presentasikan. Namun, karena pipi sudah tiada, King D yang menggantikan," ucap anak lelaki itu terlihat tegar. Semua orang terharu mendengarnya.
Sierra terlihat kaget mendengar hal itu. Namun, gadis cantik itu hanya bisa diam menundukkan wajah. King D menutup buku tersebut dan Javier menerimanya.
"King D hanya ingin mengatakan agar kalian semua yang memiliki dendam pada Pipi, tolong, lupakan dendam itu agar pipi tak tersiksa terlalu lama di neraka. Pipi orang baik, meski dia aneh. Namun, D yakin jika pipi jahat karena terpaksa. Oleh karena itu, D mohon agar kalian memaafkan kesalahan pipi selama ini. Kalian bersedia 'kan?" tanya King D penuh harap terlihat sedih.
Semua orang menghembuskan napas panjang. King D melihat ayahnya dan Javier mengangguk dengan senyuman.
Semua orang terkejut. Mereka tahu jika Javier sangat membenci Tobias, tapi dengan mudahnya, sang Sultan memaafkan orang itu.
"Kau bersungguh-sungguh, Sultan?" tanya Torin heran.
"Ya. Untuk apa aku membenci orang yang sudah tiada. Nyawa dibalas dengan nyawa. Bagiku, itu sudah cukup," jawab Javier tenang, tapi membuat mantan isterinya tersenyum sinis.
"Hem, baiklah. Aku kabulkan permintaanmu, King D. Aku memaafkan Tobias atas pembantaian kepada seluruh keluargaku. Ayahku, ibuku dan adik-adikku, belum termasuk anak buah ayahku saat itu di Islandia hingga habis tak bersisa," sahut Torin mendetail. King D terlihat kaget akan ucapan Torin barusan.
King D terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Ya, kami juga," sahut para anggota dewan lainnya, tapi terlihat malas saat mengutarakan. Lysa melirik semua orang.
"Bagaimana denganmu, Sierra? Aku tak melihat kaubersedih atas kematian ayahmu," tanya Lysa membidik anak perempuan Tobias dari keturunan Flame.
"Maaf. Hanya saja, dia tak meninggalkan kesan mendalam bagiku. Namun, aku ikut memaafkannya," jawabnya santai.
Namun, ucapan Sierra membuat Lysa marah. Wanita cantik itu langsung berjalan dengan langkah gusar mendatangi gadis cantik itu.
Semua orang terkejut, tapi dengan cepat, Jonathan menghadang aksi kakaknya entah apa yang akan ia lakukan.
"Jangan menuntut terlalu banyak, Kak Lysa. King D saja hanya minta agar pipinya dimaafkan. Sierra sudah memberikannya, bahkan semua orang. Apalagi yang kauharapkan?" tanya Jonathan menatap kakak perempuannya tajam.
"Dasar, tidak tahu berterima kasih," jawabnya ketus.
__ADS_1
"Oh! Haruskah ... kugunakan gas halusinasi, agar kauingat, apa saja kekejaman yang suamimu lakukan di masa lalu, hem?" tanya Jonathan dengan wajah tengilnya seperti menantang. Suasana menjadi tegang seketika.
"Lysa, hentikan," pinta Vesper dari tempatnya berdiri, tapi anak perempuannya itu malah melotot tajam ke arah sang ibu.
"Semua petaka ini terjadi karena kau tak mau ikut campur tangan, Mah! Tobias mati karena kau membiarkan musuh membunuhnya!" teriak Lysa dengan air mata berlinang, siap tumpah dari pelupuknya.
"Kau menyalahkanku?" tanya Vesper terkejut dengan ucapan sang anak. "Aku tak ikut campur setelah kau memutuskan menikah. Aku menghormati semua keputusanmu karena kausudah dewasa. Kau menjalani kehidupan layaknya sebuah keluarga dengan suami dan anak-anakmu. Aku bahkan tak tinggal bersamamu. Aku Ibumu, dan aku sudah melakukan yang seharusnya kulakukan dengan tak terlibat lebih jauh. Tak semua hal harus ada aku di dalamnya. Aku sengaja melakukannya karena aku ingin tahu bagaimana kau menyikapinya, dan ternyata seperti ini reaksimu," jawab Vesper menatap anaknya sendu.
"Karena kau Ibuku, maka kau kuizinkan mencampuri urusanku!" jawabnya tetap berintonasi tinggi.
"Kaubisa bicara seperti ini karena aku masih hidup. Bagaimana jika aku sudah tidak ada? Siapa yang akan kausalahkan? Kau mengatakan hal ini karena kau kehilangan sosok penting di hidupmu. Sebelum Tobias meninggal, apa kaupernah menghubungiku hanya sekedar menanyakan kabar?" tanya Vesper tetap tenang meski terlihat ia bersedih.
Semua orang menatap Lysa tajam. Napas Lysa menderu dengan kedua tangan mengepal terlihat marah.
"Fine. Mulai saat ini, kuanggap kausudah mati. Jangan campuri kehidupanku lagi. Sampai jumpa."
"Lysa!" panggil Kai dan Han bersamaan ketika anak pertama Vesper pergi begitu saja meninggalkan area pemakaman dengan air mata menetes disertai luapan amarah.
Kai mengejar Lysa begitupula Han. Vesper terdiam dan tertunduk dengan senyum sinis di wajahnya terlihat miris dengan nasibnya.
Arjuna, Jonathan dan Sandara saling melirik dalam diam entah apa yang mereka pikirkan.
"Lysa ... menganggap aku sudah mati. Ucapannya persis seperti Arjuna dan Jonathan yang mengatakan jika mereka membenciku. Hem, mereka memang anakku. Tiga orang anak yang menyumpahi Ibunya mati," ucap Vesper terkekeh geli dengan mata berkaca. "Bagaimana denganmu Sandara? Apa kaujuga akan menyumpahiku?" tanya Vesper menatap anak perempuannya lekat di kejauhan.
Sandara terkejut dengan penuturan ibunya. Jonathan dan Arjuna saling melirik. Keduanya tiba-tiba saja pergi dari area pemakaman dan hal itu mengejutkan semua orang.
Sandara tersenyum dan menggeleng pelan dari tempatnya berdiri. Vesper tersenyum tipis, tapi terlihat jelas kesedihan di wajahnya yang tak bisa ia tutupi.
***
wokeh bonus eps dari tips audio book ya. terima kasih. yang belom segera ya biar bulan depan bisa menikmati dobel eps meski tips koin gak ada. lele padamu
__ADS_1