4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Ramalan Tetua


__ADS_3

Tepuk tangan meriah masih menyelimuti ruangan besar itu. Mereka memuji Kai yang diam-diam memiliki rencana bisnis dan melibatkan orang banyak.


Benar-benar waktu yang tepat di tengah keterpurukan orang-orang yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan.


Para Black Armys yang berada di seluruh negara dan terdiri dari para tunawisma, pekerja yang terkena PHK dan ditinggalkan keluarga, gelandangan, lulusan penjara karena tindak kriminalitas yang dilakukan di masa lalu, para anak putus sekolah dan terpaksa menjadi pengemis, pengamen dan pemulung, kini ditampung oleh Vesper di bawah naungannya.


Akhirnya, giliran Han tiba. Tepuk tangan kembali menyambut suami tertua dari Vesper. Orang-orang dibuat penasaran dengan presentasi salah satu anggota Dewan itu.


"Oke. Jadi, dari 500 Black Armys, aku hanya disisakan 190 orang saja. Terima kasih, Kai," ucap Han menyindir.


Semua orang terkekeh, tapi Kai malah menunjukkan jempolnya.


"Jika Kai melebarkan kekuasaan dibidang bisnis dan mempekerjakan pegawai serta penjaga, aku membutuhkan 190 orang itu sebagai pekerja bangunan. Doug sudah memberikan rancangannya padaku. Aku telah menyetujuinya dan kini siap untuk dibangun," ucapnya yang dibarengi dengan tampilan ribuan hektar tanah kosong di layar. Semua orang tampak kagum dengan hal tersebut.


"Aku akan membuat sebuah resort di Madagascar. Hem, tempat itu ... memiliki kenangan tersendiri bagiku. Jadi, sama seperti halnya dengan Kai. Aku ingin memastikan, tak ada orang-orang dalam jajaran kita yang terdampar di tempat itu dan tak bisa diselamatkan. Aku juga akan membangun markas bawah tanah untuk gudang senjata dan pusat komando," semua orang mengangguk paham dan terlihat serius menyimak.


"Hal itu kulakukan mengingat anakku sepertinya tertarik untuk meneruskan perusahaanku di Hong Kong. Aku ingin menikmati masa tuaku dengan hidup di tempat terbuka, tanpa berkas menumpuk, jadwal meeting yang padat, bermuka dua ketika bertemu dengan para rekanan bisnis demi sebuah proyek ... yah, intinya ... aku ingin meninggalkan semua itu. Jadi, mohon bantuan dan dukungannya. Terima kasih," ucap Han.


"Woho! Hidup, Tuan Han!" seru salah satu Black Armys yang diikuti tepuk tangan meriah dari tentara lainnya.


Vesper memeluk suaminya mesra dan memberikan kecupan manis di pipinya. Kai hanya tersenyum dan tetap bertepuk tangan. Han menikmati pujian yang diberikan padanya cukup satu presentasi saja.


Fara yang dipangku oleh Verda ikut bertepuk tangan entah apa yang membuatnya ikut gembira.


Balita cantik itu terjaga karena lapar. Verda dengan telaten menyuapi pisang untuk Fara yang makan dengan lahap.


Akhirnya, acara dilanjutkan dengan makan malam. 500 Black Armys yang tersisa sudah mendapatkan tugas penempatan di usaha legal milik para anggota Dewan yang tak lagi menggunakan jasa The Circle Jonathan, The Eyes Lysa, dan juga Bala Kurawa Arjuna.


Para anggota Dewan sepakat untuk ikut memberikan pelajaran bagi ketiga anak Vesper. Sang Ratu serta dua suaminya mengizinkan.


Keesokan harinya.


Black Armys yang berjaga di Grey House mengantarkan Vesper dan orang-orangnya ke bandara usai menikmati sarapan bersama. Vesper dan rombongan akan pergi ke tempat Cassie dan bayinya berada.


Vesper dan orang-orang terpilihnya masih merahasiakan keberadaan keduanya kepada semua orang, termasuk para SYLPH dan One.


Mereka meninggalkan Shanghai menuju ke Sichuan saat siang hari. Penerbangan kurang lebih 3 jam ditempuh. Rombongan itu dijemput oleh dua BIAWAK dengan dua mobil hitam type SUV di bandara.


Vesper terlihat tak sabar untuk bertemu cucunya yang kini sedang dijaga oleh saudari-saudarinya.


Sayangnya, perjalanan untuk menuju ke tempat Cassie dan bayinya berada cukup jauh hampir 10 jam.


Dua BIAWAK sengaja menjemput dengan mobil karena permintaan dari tetua setempat. Vesper dan rombongannya mengindahkan anjuran itu. Meskipun perjalanan cukup melelahkan, tapi panorama indah memanjakan mata.


Dikarenakan Fara ikut serta dalam tour pensiun Vesper, mau tidak mau, mereka singgah di beberapa tempat saat Fara mulai bosan.


Vesper pun menuruti kemauan cucunya saat ia mengajak untuk berkeliling di sekitar tempat seraya menikmati camilan.

__ADS_1


Namun, saat kegelapan datang, Fara akhirnya menurut ketika Vesper memintanya agar tak singgah lagi mengingat hari sudah malam. Fara pun berhasil ditidurkan setelah lelah bermain. Namun, hal itu juga membuat para baby sitter-nya ikut mendengkur.


"Untung saja Lily tak memiliki anak lagi, Kai. Lihatlah, dia begitu kelelahan. Fara hanya mau dipangku olehnya, meskipun saat makan, ganti pakaian, dan kegiatan lainnya ia tak masalah ketika bersama yang lain," ucap Han melihat sang isteri tertidur pulas dengan Fara dalam dekapan karena tak mau duduk sendiri.


"Hem. Kau benar, Han. Semoga saat besar nanti, Fara tak seperti empat anak nona Lily. Kasihan dia, aku cukup yakin jika batinnya tertekan. Semoga dengan kehadiran cucu-cucunya, bisa membuatnya melupakan kesedihan itu," sahut Kai dan diangguki oleh Han.


Dini hari, Vesper dan rombongan akhirnya tiba di tempat yang dituju. Sang Ratu terpaksa dibangunkan.


Han menggantikan Vesper untuk mengasuh Fara di mana balita gendut itu masih tertidur pulas. Han menggendongnya saat mereka menuruni mobil dan harus berjalan untuk memasuki wilayah tujuan.


Pertama kalinya, Vesper mengunjungi tempat kelahiran sang ibu. Vesper terlihat seperti akan menangis.


Matanya berkaca ketika memasuki wilayah dengan banyak pepohonan dan ada sebuah danau besar terlihat memantulkan cahaya dari bulan. Ia berdiri di tepian danau melihat keindahan tempat itu dalam keheningan.


Mereka bicara dalam bahasa Mandarin. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Selamat datang, Liana," sapa seorang perempuan yang tak ia kenal mendatanginya.


Vesper terkejut karena langkah kaki orang itu hampir tak didengarnya. Wanita yang kira-kira seumuran dengannya memeluk Vesper erat, dan sang Ratu pun membalas pelukan itu.


"Sangat disayangkan kau harus berganti rupa. Namun, itu bukanlah perkara serius, yang terpenting adalah hati. Aku bisa melihat jika kau telah banyak berubah. Waktumu tepat saat datang kemari dengan jiwa yang malang," ucap wanita itu seraya menyentuh dada Vesper.


"Apakah ... aku sangat menyedihkan?" tanya Vesper menatap wanita itu lekat yang sekilas terlihat mirip seperti dirinya ketika masih berwajah Asia dulu.


"Ya. Kau sangat menyedihkan. Kau terluka cukup dalam. Namun, kau bersabar dengan semua penghinaan. Namun, itulah hidup, Liana. Kau tetap tangguh dalam keterpurukan. Aku yakin, jika bibi Jiao Yu pasti bangga memiliki anak perempuan sepertimu," ucapnya seraya mengelus pipi Vesper lembut dengan salah satu tangannya.


Akhirnya, air mata itu menetes. Vesper terlihat bahagia dengan ucapan dari wanita yang tak dikenalnya. Wanita itu menggandeng Vesper menuju ke sebuah rumah pondok yang berada di bukit.


"Mom," panggil Cassie dengan senyum terkembang seraya mengangkat roknya mendatangi Vesper.


"Oh, Cassie. Kau sungguh cantik. Kau ... berbeda. Kau senang tinggal di sini?" tanya Vesper seraya memegang kedua pipinya dengan senyum merekah. Cassie mengangguk dengan senyuman.


"Oh! Dia tersenyum!" kejut James sampai menunjuk.


"Ya. Tak sesulit yang dikatakan oleh dua lelaki dengan nama kadal itu. Siapa yang memberikan nama dengan sebutan hewan? Mereka berdua ini siluman atau reinkarnasi binatang dulunya?" tanya salah seorang wanita berwajah dingin menunjuk dua BIAWAK yang kini menjadi bahan sindiran.


"Dia ini keknya sentimen banget sama kita. Dari kemarin dikatain kadal terus. Sabar, sabar," ucap Biawak Cokelat seraya mengelus dada.


Tak ada satu pun dari kelompok Vesper yang ingin mengklarifikasi hal tersebut. Vesper digandeng kanan dan kiri seraya melangkah perlahan menuju ke rumah tempat Cassie tinggal.


CEKLEK!


"Oh, cucuku," ucap Vesper saat mendapati seorang bayi berada dalam sebuah keranjang dari anyaman tertidur pulas berselimut tebal.


Vesper mendatangi bayi itu yang terlihat mirip seperti Jonathan karena berjenis kelamin laki-laki. Vesper menatap Cassie lekat dan gadis cantik itu tersenyum tipis.


"Kau selalu tersenyum. Kau pasti bahagia tinggal di sini. Apa tebakanku benar?"

__ADS_1


"Yes, Mom. Aku tak pernah merasakan kedamaian sebelumnya. Selama di sini, aku merasa jiwaku tenang. Tak ada misi, tak ada beban, hanya menjalani hidup dan fokus dengan kelahiranku," ucapnya mulai berbicara santun tak seperti saat ia ditemukan dulu.


"Terima kasih karena telah menjaga dan mendidik Cassie," ucap Vesper kepada para wanita yang berdiri berjejer di belakang sang Ratu. Orang-orang itu tersenyum seraya membungkuk menerima pujian.


"Maaf, Liana. Aku tahu kau lelah, tapi ... tetua ingin bertemu denganmu. Jujur, ini seperti kehendak Tuhan. Seharusnya, diumur yang sekarang, beliau sudah tak mungkin bertahan hidup. Ia ... seperti menunggumu," ucap wanita yang tadi menyambutnya.


Vesper terkejut dan segera mengikuti para wanita yang menggiringnya untuk menemui tetua mereka.


Para bodyguard Vesper dan dua BIAWAK diminta untuk tetap di pondok. Mereka pun mematuhi permintaan itu. Sedang Han dan Kai, mengikuti sang isteri ke sebuah rumah yang berukuran paling besar berada di bukit.


CEKLEK!


"Pendengaran tetua mulai berkurang. Kau harus dekat dengan telinganya saat bicara. Jangan terburu-buru, pelan-pelan saja," ucap wanita itu serius dan Vesper mengangguk.


Vesper melepaskan sepatunya dan bertelanjang kaki saat mendatangi seorang wanita tua yang mungkin telah berusia 100 tahun lebih.


Wanita itu terlihat begitu letih, dan terbaring di ranjang ditemani oleh para wanita seperti tabib di tempat itu.


Salah seorang wanita berbisik di telinga wanita tua. Seketika, nenek itu membuka mata. Ia melihat sosok Vesper yang berlutut di samping ranjangnya. Ia menggerakkan tangan kanannya, dan dengan sigap, Vesper segera meraihnya.


"Liana ...," panggilnya lirih.


"Ya, aku Liana," jawab Vesper menggenggam tangan keriput itu dengan anggukan kepala.


"Petaka akan datang padamu. Bersiaplah," ucapnya yang membuat mata semua pendengar melebar seketika. Vesper tampak terkejut karena tangannya bergetar, tapi nenek itu tersenyum tipis dengan mata terpejam. "Jangan takut, jangan takut, semua orang pasti akan mati, sepertiku. Aku ... juga akan mati. Aku akan bertemu dengan saudari-saudariku yang pergi lebih dulu. Akan kusampaikan pada ibumu, jika kau ... baik-baik saja. Aku dan lainnya akan menunggumu di alam sana. Berjuanglah hingga napas terakhir, Liana. Kau, harus tetap hidup hingga semua berakhir ...."


Suasana hening seketika di mana jantung semua orang berdebar kencang usai mendengar penuturan tetua itu. Namun, hal aneh terjadi.


"Nenek? Nenek?" panggil wanita yang berdiri di samping Vesper, saat tetua itu tak menggerakkan bibirnya lagi.


Vesper merasakan jika tangan wanita itu tak lagi menggenggamnya. Vesper terlihat shock saat ia menyimpulkan jika wanita tua itu telah tiada usai memberikan sebuah ramalan untuknya tentang bahaya yang harus dihadapinya sebentar lagi.


Benar saja, "Nona Lily!" panggil Seif yang membuat suasana duka itu makin tegang.


"Ada apa?" tanya Kai langsung mendekat ke arah pintu.


"Laboratorium Jeremy tempat produksi dan menyimpan semua serum diledakkan. Pasti ulah Miles! Dia sengaja melakukannya! Bahkan, ia meninggalkan pesan dengan membuat sebuah tulisan di halaman depan Red Mansion," ucapnya yang membuat mata semua orang melebar.


Vesper segera mendatangi Seif dan melihat foto dari tulisan Miles.


"Bukan dengan bom atau peluru untuk membunuhmu, Vesper. Dengan hilangnya seluruh serum penunjang hidupmu, kau ... akan segera mati. Nikmatilah masa akhir hidupmu. MF."


Vesper terhuyung dan langsung roboh di samping tetua yang telah tiada. Semua orang terkejut karena hal itu sungguh tak mereka duga. Namun, Vesper malah tersenyum seperti tak mempermasalahkan hal itu.


"Sudah terjadi. Ini telah dimulai," ucapnya pasrah.


***

__ADS_1



tengkiyuw tipsnya💋 lele padamu❤️


__ADS_2