
Usai mandi bersama, Afro berniat untuk mengajak Sandara kembali ke rumahnya. Namun, gadis itu sungguh tak ingin pulang malam itu. Ia masih belum bisa menemui sang ayah entah apa alasannya.
"Oke. Namun, besok siang kita harus kembali. Aku tak menerima pemberontakan. Jika kau sungguh ingin menikah denganku, kau harus mulai menurut padaku, Dara. Bagaimanapun, aku nanti adalah suamimu. Aku bertanggung jawab penuh untuk melindungimu. Jangan membuat citraku semakin buruk di hadapan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Susah payah aku membersihkan namaku agar bisa bergabung lagi. Kau mengerti yang kukatakan 'kan, Sayang?" tanya Afro menatap Sandara lekat yang hanya duduk tertunduk di pinggir ranjang usai mandi.
"Aku mengerti. Aku akan selalu ikut kemanapun kau pergi, Kak Afro. Aku berjanji tak akan kabur lagi," jawabnya sendu.
"Baiklah. Ini sudah larut malam. Sebaiknya kita segera beristirahat. Atau ... kau lapar? Ingin makan sebelum tidur?" tanya Afro menawarkan, tapi Sandara menggeleng.
Afro mengangguk paham. Ia merebahkan tubuhnya yang tak terbungkus pakaian begitupula sang kekasih di kasur empuknya.
Tiba-tiba saja, Sandara mendekati dan memeluknya dari samping. Gadis cantik itu memegang daging panjang Afro sebagai pengantar tidur.
Afro tersenyum tipis dan membiarkan miliknya dimanjakan. Afro mengecup kening Sandara lembut penuh kasih sembari mengelus rambut halusnya.
Perlahan, Sandara memejamkan mata, sedang Afro masih terjaga. Hatinya tak tenang karena ia sudah berjanji untuk tak melakukan kecurangan lagi.
Tangan kiri Afro bergerak mendekati atas meja untuk mengambil ponselnya. Ia menekan tombol nomor 1 cukup lama hingga akhirnya tulisan 'Dinonaktifkan' menyala.
Afro menghembuskan napas panjang. Ia meletakkan ponselnya kembali lalu menyelimuti tubuhnya dengan Sandara dalam pelukannya. Tak lama, ia ikut tertidur.
Entah sudah berapa lama pemuda itu tertidur. Afro mencium aroma kopi lezat dan suara dentingan dari sendok besi yang bergesekan dengan dinding cangkir.
Seketika, Afro membuka matanya. Ia masih mendapati Sandara tidur dalam pelukannya dan terlihat lelap.
Namun, mata pemuda itu melebar saat mendapati wajah bengis dari ayah gadis itu sedang duduk di sofa panjang dengan sang isteri yang menikmati segelas kopi di cangkir keramik. Afro menelan ludah.
"Kau mengatakan, jika kau mencintai anakku. Namun yang kulihat tidak demikian, Afro. Kau berani menunjukkan padaku dengan kondisi sadar sepenuhnya, jika kau sudah berpaling dari Sandara," tegas Kai bicara penuh penekanan.
Vesper meletakkan cangkir kopinya perlahan dan hanya menunjukkan senyum tipis. Ia duduk dengan kaki menyilang seraya mengelus punggung suaminya lembut yang terlihat dipenuhi oleh amarah.
"Aku memang mencintai Sandara, Tuan Kai," jawab Afro lembut.
"Berhenti membual! Kau pikir aku buta, ha!" teriaknya lantang yang mengejutkan Vesper dan Afro sampai mata mereka melotot, termasuk gadis cantik dalam pelukan Afro.
Afro menyadari jika Sandara terbangun. Sandara yang tidur dengan posisi memunggungi ayahnya, membuat Kai tak mengetahui jika anak gadisnya telah terjaga.
"Hei, good morning, Babe," sapa Afro lembut dengan senyuman.
BUAKK!
"Agg," erang Afro saat wajahnya dilempar oleh sebuah bantal sofa oleh Kai hingga membuat pemuda itu kembali roboh di kasur.
Seketika, Sandara membalik tubuhnya dan praktis, matanya terbelalak lebar. Kai menatap gadis di depannya tajam yang menutupi tubuhnya dengan selimut karena tak mengenakan pakaian, termasuk Afro. Sandara panik dan semakin menutup tubuhnya rapat.
"Dasar tidak tahu malu. Apa kau tahu, jika Afro sudah bertunangan dengan anak perempuanku, ha?!" bentak Kai di depan anak perempuannya.
Sandara terkejut termasuk Afro karena Kai tak mengenalinya. Vesper memutar bola matanya terlihat malas.
"Selamat pagi, Dara sayang. Oh, Mama tak menyangka kau akan menjadi secantik ini. Bagaimana? Apa kau merasa lebih baik? Maaf, Mama baru bisa menemuimu sekarang. Banyak hal terjadi," ucap Vesper dengan senyum terkembang seraya merentangkan tangan dan mendekati anaknya.
__ADS_1
Mata Kai melebar seketika. Ia berdiri mematung saat sang isteri memeluk gadis cantik yang tidur bersama Afro dan tersenyum manis padanya.
"Ka-kau bilang apa?" tanya Kai bingung.
Vesper menatap suami termudanya dengan wajah sinis. Kai terlihat gugup saat melihat gadis cantik yang di bentaknya memalingkan wajah seperti enggan menatapnya.
"Dara? Kau ... kau Sandara Liu gadis kecilku?" tanya Kai seolah tak percaya karena anaknya telah berubah.
"Hem. Dia Sandara Liu, Tuan Kai. Puteri tunggalmu. The one and only," jawab Afro seraya memeluk Sandara mesra dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak kiri kekasihnya.
Mata Kai melotot lebar. Sandara masih tertunduk dan diam saja. Vesper tersenyum tipis melihat suaminya seperti terkena serangan jantung karena hal mengejutkan yang tak disangkanya.
"Biarkan mereka bersiap dulu, Sayang. Sudah kubilang, kita tunggu saja di luar, kau ngotot sekali," pinta Vesper seraya beranjak dari kasur dan mendatangi suaminya yang masih menatap Sandara tajam dari tempatnya berdiri.
"Ka-kau apakan anakku?!" pekik Kai menunjuk Afro yang bersikap mesra dengan perempuan cantik di hadapannya.
"Yang jelas ... aku mengeluarkan cukup banyak di rahimnya semalam, Tuan Kai. Mungkin sebentar lagi ... kau akan mendapatkan cucu yang lucu," jawabnya tersenyum lebar, tapi membuat Sandara, Kai dan Vesper melotot seketika.
"You, what?!" pekik Kai dengan teriakan menggelegar bagaikan singa mengaum. "Cari mati! Kemari kau!" teriak Kai langsung mendatangi dua insan yang masih duduk berselimut tebal di atas kasur.
Afro dengan sigap menarik tubuh Sandara dan membuatnya berguling ke samping. Afro menyelimuti kekasihnya yang tak berpakaian itu dengan selimutnya.
Seketika, "Oh! Ya, Tuhan. Bayang-bayang ini akan sangat sulit hilang dari ingatanku," ucap Vesper langsung memalingkan wajah saat mendapati roket Afro tertangkap mata indahnya.
"Kurang ajar! Kau tidak sopan! Kupotong burungmu!" teriak Kai semakin murka karena Afro malah berdiri di atas kasur dan menunjukkan keperkasaannya dari tubuhnya yang telanjang.
"Ini akibat dari sikap Anda yang tak menghormati arti privasi. Relakan Sandara, Tuan Kai. Dia bukan gadis kecil lagi. Dia sudah dewasa dan dia, calon isteriku. Suatu saat nanti, suka tidak suka, mau tidak mau, Sandara akan hidup denganku. Kami akan membentuk keluarga sendiri seperti yang Anda lakukan dengan Nyonya Vesper. Hormati keputusan kami untuk menikah dan hidup bersama," tegas Afro berdiri gagah menatap Kai tajam yang berdiri di samping ranjang.
"Dengan sikapmu yang seperti ini, kau pikir aku akan merestui hubungan kalian, ha? Lupakan saja!" tegasnya menolak.
Afro terkejut termasuk Sandara dan Vesper. Namun sang Ratu, tetap memilih untuk tak membalik tubuhnya.
Afro terlihat gemas dengan calon ayah mertuanya yang kolot itu. Ia mendatangi Kai dan membuat ayah dari Sandara terkejut karena matanya ikut terfokus pada kejantanan Afro yang mendatanginya. Kai memalingkan wajah.
"Anda lebih memilih Dara menikah dengan Yudhi?" bisiknya yang kini berlutut di atas kasur sehingga jarak pandang mereka kini sejajar. Kai langsung menoleh dan mendapati wajah Afro persis di depannya.
"Apa maksudmu?" tanya Kai menyipitkan mata.
"Jika aku tak melakukannya lebih dulu, Yudhi yang akan mengambilnya. Kau lebih senang, jika bocah tengik itu yang menikahi puterimu? Hem?" tegas Afro. Kai makin menatap Afro tajam.
"Lihatlah aku. Dibandingkan dengan Yudhi, aku seribu kali lebih baik darinya," ucapnya sombong, tapi Kai langsung tersenyum sinis. "Aku lulus level 10 Camp Militer. Aku keturunan mafia sejati. Aku hidup dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle. Aku kaya dan memiliki kekuasaan. Selain itu, jangan lupa, aku bahkan rela memberikan perusahaan farmasi ayahku kepada Sandara. Itu, mahar yang sangat mahal, Tuan Kai. Sebuah perusahaan farmasi. Bisa kau hitung sendiri berapa nilainya," tegas Afro.
Vesper mengangguk membenarkan. Kai masih diam mendengarkan tiap kata dari pemuda di depannya.
"Sedang Yudhi, dia siapa? Tak akan cukup mencintai seseorang tanpa modal berupa kekayaan. Maaf, bukan maksud menyinggung. Anda tahu rasanya seperti apa ketika menikahi seseorang yang levelnya lebih tinggi dari Anda," sambung Afro melirik Vesper sekilas.
"Ehem," dehem Vesper yang membuat Kai menoleh ke arah isterinya.
"Yudhi itu masih bocah ingusan. Dia bukan dari golongan mafia dan terpandang seperti kita. Dia hanya anak malang yang terseret oleh banyak kasus yang membuatnya menjadi seorang mafia, tapi ... dia tak seperti kita. Cintanya pada Sandara hanya cinta monyet. Dia hanya pernah bertemu Sandara dan tak pernah bertemu gadis lain. Sedang aku, meskipun aku bertemu gadis lain, tapi aku tetap setia pada Sandara. Aku mengenalnya sejak kecil, aku belajar untuk menerimanya, dan pada akhirnya, aku bisa mencintainya," tegas Afro menjelaskan.
Sandara diam mendengarkan Afro yang mengungkapkan perasaannya di bawah ranjang karena ia tak berpakaian dan hanya berselimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
"Kau ... menyindirku, dengan menyamakan kisahku dengan Yudhi? Asal kau tahu, aku dulu sepertinya. Bocah ingusan yang mencintai Nonanya. Aku miskin dan hanya cinta serta pengorbanan yang bisa kuberikan. Mendengar ucapanmu, aku jadi berpikir, jika kau itu sungguh picik. Sudut pandangmu menilai seseorang sungguh sempit. Aku malah berpikir, untuk menyetujui Sandara dengan Yudhi."
Praktis, ucapan Kai membuat mata Afro melebar termasuk Vesper. Sang Ratu bahkan sampai membalik tubuhnya, tapi dengan cepat ia melemparkan bantal sofa kepada Afro agar pemuda itu menutupi keperkasaannya.
Afro menutupi bagian intiimnya di mana ia juga terlihat malu akan sikapnya. Afro terdiam usai mendengar penuturan Kai.
"Sayang, dengar. Aku tahu kau pasti tersinggung dengan ucapan Afro, tapi—"
"Sangat tersinggung," jawabnya ketus dan masih menatap Afro tajam yang kini menundukkan wajah.
Vesper menghela napas panjang. "Dara sayang. Bisa kau kemari sebentar? Semua ini akan cepat selesai jika kau jujur untuk mengakui sesuatu, Sayang," pinta Vesper seraya melihat di kejauhan di mana kepala anak gadisnya terlihat di balik pinggiran ranjang.
Sandara berdiri dengan gugup seraya menyelimuti tubuhnya. Ia berjalan mendekat dan kini berdiri di ujung kasur masih menjaga jarak. Kai menatap anak gadisnya dengan sendu.
"Jujurlah. Tatap mata orangtuamu ini agar kami tahu kebenarannya," pinta Vesper.
Sandara menarik napas dalam dan mengangkat pandangannya hingga bola matanya bertemu dengan netra ayah serta ibunya. Kai terdiam dan memasrahkan semua kepada sang isteri.
"Kau mencintai Afro atau Yudhi?" tanya Vesper yang membuat jantung Afro berdebar kencang.
Afro menatap Sandara lekat yang juga meliriknya, tapi pandangannya kembali kepada dua orangtuanya.
"Jika seperti ini keadaannya, aku tak mau menikah. Yudhi dan Kak Afro mencintaiku. Aku tak ingin memilih. Selamanya, aku akan sendiri saja."
Praktis, ucapan Sandara membuat tiga orang yang menunggu jawabannya melebarkan mata.
"Dara! Apa yang kaukatakan?" tanya Kai tertegun.
"Aku tahu. Papa pasti memilih Yudhi, sedang Mama pasti memilih Kak Afro. Benar 'kan tebakanku?" tanya Sandara. Kai dan Vesper saling melirik, tapi pada akhirnya mengangguk mengakuinya.
"Aku tak mau menikahi keduanya, tapi, aku mau melahirkan anak dari mereka berdua nantinya."
Kembali, tiga orang itu dibuat shock mendengar ucapan dari mulut gadis cantik di depan mereka.
"Aku merasa pembagian jatah seperti yang dilakukan Mama itu tidak adil, entah kepada Papa atau ayah Han. Aku tak mau mengikuti jejak itu. Jadi, ini keputusanku. Aku tak mau menikahi siapapun, tapi aku bersedia mengandung anak mereka," jawabnya serius dan pergi begitu saja menuju ke kamar mandi lalu menutup pintu.
"What?" ucap Afro langsung lemas seketika dan roboh di kasur seperti kehilangan jiwanya.
Kai ikut roboh dan duduk lesu di samping Afro. Sedang Vesper, berdiri mematung karena ucapan ajaib dari anaknya yang tak pernah ia sangka.
"Wow," ucap Vesper mengutarakan perasaannya saat ini dengan wajah datar.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya nak Carmen❤️Okeh, brankas mulai menipis gaes. Kwkwkw #kode
__ADS_1