4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Blue Mask*


__ADS_3

Sandara yang telah kehilangan momen indah bersama keluarga dan jajarannya karena disekap oleh No Face, membuatnya mulai pasrah dengan takdir hidupnya.


Sandara mulai menutup lembaran ingatan akan kehidupannya dulu sebagai seorang artis.


Selain itu, selama menjadi sandera, gadis Asia itu juga tak bisa mengetahui perkembangan kehidupan luar. Hanya Yudhi satu-satunya kawan yang ia miliki.


Awal bulan Oktober.


"Hem, kemampuanmu dalam merancang busana dan menjahit sudah tak diragukan lagi, Sandara. Hasil karyamu sungguh indah. Gaun ini, seperti dongeng puteri Cinderella. Apakah ... kau akan memakainya? Aku ingin melihatnya," tanya Yudhi yang berdiri mengelilingi gaun tersebut di sebuah mannequin seraya menyentuhnya lembut terlihat kagum.



"Gaun itu hanya cocok jika dikenakan oleh seorang gadis cantik. Dan aku, bukan gadis itu. Semoga kau masih ingat dengan wajah ini, Yudhi," ucap Sandara sembari melepas topengnya dan menunjukkan wajah sendunya yang memiliki bekas luka.


Yudhi terdiam, lalu tersenyum tipis. "Aku memaksa. Aku ingin kau memakainya. Bukankah, kau memiliki topeng indah buatanku berwarna biru yang senada dengan gaun buatanmu ini? Aku tunggu di halaman belakang, datanglah. Jika tidak, kau tak boleh menjahit lagi," ucapnya mengancam, tapi tak terlihat wajah iblis di paras tampan pemuda tersebut.


Sandara hanya diam tak berekspresi saat Yudhi keluar dari ruangan dan meninggalkannya seorang diri. Sandara melihat jam dinding dan waktu telah menunjukkan pukul 4 sore.


Ia melihat topeng warna biru dengan ornamen indah berbentuk sayap kupu-kupu pada salah satu sisinya di papan hitam yang menggantung benda tersebut. Kemudian, bola matanya bergerak ke gaun ciptaannya.



"Dia sungguh sangat payah menjadi seorang mafia. Ancamannya tak menakutkan sama sekali," ledek Sandara yang tanpa ia sadari, senyumnya terbit.


"Oh, lihat senyuman itu. Apakah dia menyukaiku?" tanya Yudhi menoleh ke arah topeng buatannya dengan rancangan lain.



Yudhi diam-diam ikut membuat rancangan di ruang kerjanya, menyesuaikan dengan design gaun yang Sandara buat, meski belum terealisasi.


Akhirnya, malam itu. Sandara memutuskan untuk menerima ajakan Yudhi. Suasana rumah kuno yang cukup luas itu membuat Sandara sedikit takut karena sepi tak seperti biasanya. Tak ada penjaga di koridor seperti sebelumnya.


Ketika gadis berambut panjang itu terlihat kebingungan, tiba-tiba cahaya lampu seperti kerlipan bintang di atap koridor menyala dengan sinar putih terang.


Sandara terkejut dan kagum dalam waktu bersamaan. Ia melihat lampu-lampu itu menuju ke suatu tempat seperti menunjukkan sebuah jalan.


Sandara berjalan dengan anggun menyusuri lorong mengikuti cahaya lampu dengan jantung berdebar.


Hingga langkahnya terhenti ke sebuah taman dekat pinggir kolam di mana Yudhi telah berdiri di sana dengan pakaian berwarna senada dengan gaun buatannya.


Sandara mematung untuk beberapa saat karena Yudhi juga mengenakan topeng seperti dirinya, meski berbeda bentuk.

__ADS_1


Yudhi melangkah dan bergaya layaknya seorang pangeran seperti di negeri dongeng. Ia membungkuk seraya meraih tangan kanan Sandara dan mengecup punggung tangannya lembut yang tak terbungkus sarung.


"Anggap saja seperti pesta dansa, walau hanya ada kita berdua. Aku tak berniat mengundang Venelope dan lainnya. Kau setuju?" tanya Yudhi yang masih memegang tangan Sandara lembut.


Puteri tunggal Kai tersenyum tipis, dan Yudhi membalasnya dengan memberikan lengan agar Sandara meraihnya.


Keduanya berjalan berdampingan dengan anggun. Sandara terlihat canggung karena para penjaga juga mengenakan topeng, tapi tak seindah milik mereka berdua.


Yudhi menarik kursi layaknya gaya bangsawan untuk sang Puteri. Sandara duduk dengan anggun.


Jantungnya berdebar. Sudah lama ia tak diperlakukan manis bak puteri raja sejak ia meninggalkan kehidupan keartisannya.


Sajian demi sajian hadir untuk melengkapi makan malam berkesan romantis itu. Keduanya saling bersulang wine, menikmati steak yang tersaji hangat berikut sajian penutup berupa ice cream lezat.


Cahaya bulan yang bersinar terang di langit malam, dan kemerlip bintang di langit gelap, serta suara deru ombak yang saling menerjang, membuat suasana sepi di tempat itu begitu meneduhkan.


"Dalam kesepian ini, aku tak merasa sendiri karena ada kau di sisiku, Sandara. Dan aku harap, kau akan terus bersamaku," ucap Yudhi tiba-tiba yang mengejutkan gadis bermata cokelat itu. Sandara diam terpaku, tak menjawab ungkapan hati Yudhi. "Oia, soal Albino dan Atit. Sepertinya, mereka dijaga ketat oleh James dan Black Armys Vesper. Mereka tak bisa kubawa kemari begitu saja karena akan menimbulkan kekacauan di Korea Selatan. Jadi ... apa kau punya ide? Aku tak bisa berpikir," jawabnya dengan hembusan nafas panjang diakhir kalimatnya.


Sandara menatap Yudhi keheranan. Tiba-tiba, Sandara mengambil serbet putih yang diletakkan di pangkuan.


Ia mengambil garpu dan menggunakan ujungnya untuk membuat tulisan dari sisa saos steak.


Kening Yudhi berkerut ketika Sandara menuliskan sesuatu dalam sebuah sandi, tapi Yudhi tahu jika itu sandi rumput.


Yudhi menerimanya dengan gerakan dagu seperti ragu dengan ucapan Sandara. Namun, gadis di depan Yudhi menunjukkan keseriusannya.


"Baiklah. Semoga, apa yang kaukatakan itu benar," ucap Yudhi seraya memberikan serbet itu ke salah satu anak buahnya, dan pria bertopeng hitam mengangguk lalu pergi dari tempat tersebut.


"Mari berdansa," ajak Yudhi seraya memberikan tangannya, dan Sandara menerimanya dengan kaku.


Keduanya beranjak dari dudukkan dan melangkah bersamaan, saling memandang menuju ke teras.


Yudhi merangkul pinggul Sandara dengan tangan kiri, dan tangan kanan menggenggam tangan gadis berkulit putih tersebut.


"Tak ada musik, jadi ... bersenandunglah. Aku tahu jika suaramu merdu, Sandara. Aku salah satu penggemarmu," ucap Yudhi dengan senyuman.


Sandara terdiam beberapa saat. Namun pada akhrinya, ia mulai bersenandung lirih. Senyum Yudhi semakin merekah.


Keduanya bergoyang secara perlahan menikmati alunan musik sendu di malam dengan udara hangat.


Keduanya tak saling bicara. Sandara meletakkan kedua tangannya di kedua pundak Yudhi dengan terus bersenandung.

__ADS_1


Kedua tangan Yudhi merapat di pinggul Sandara seraya memandangi wajah yang terutup sebagian topeng dan terlihat bekas cakaran Lion, walau hanya sedikit.


"Kau ... memang sempurna. Kau membuatku jatuh cinta, Sandara, dan aku tak malu mengakuinya."


DEG!


Sandara terdiam. Senandungnya terhenti seketika. Ia mematung dan sorot matanya tertuju pada Yudhi seorang yang menatapnya lekat.


"Kita kembali ke kamar. Ini sudah larut. Tak baik terlalu lama di luar, ayo," ajaknya seraya menggandeng Sandara masuk ke dalam rumah lagi.


Pandangan Sandara tertuju pada genggaman tangan Yudhi yang erat. Pemuda itu bahkan membukakan pintu untuk pujaan hatinya dan malah ikut masuk ke dalam. Sandara mematung.


"Aku hanya ingin menemanimu tidur malam ini. Aku tak akan melakukan perbuatan senonoh, aku berjanji. Kita ... masih terlalu muda untuk berbuat nakal," ucapnya berbisik dengan wajah begitu dekat dengan topeng yang Sandara kenakan.


Sandara tak berucap. Ia diam saja ketika Yudhi melepaskan topeng, jas, sepatu, dan ikat pinggangnya. Ia tetap mengenakan kemeja putih dan celana kain panjang warna biru tua.


Sandara terlihat gugup ketika lelaki berkulit cokelat tersebut melepaskan topengnya dan menunjukkan senyum manis.


Ia kemudian berjongkok dan melepaskan sepatu warna putih dengan kerlip bagaikan kilau bintang milik Sandara perlahan.


Yudhi lalu menggandeng tangan Sandara dan membawanya ke kasur. Yudhi merebahkan dirinya terlebih dahulu lalu merentangkan lengan kirinya.


"Kemarilah, berbaringlah di sampingku. Jujur, ini pertama kalinya buatku. Aku penasaran bagaimana rasanya jika ditemani oleh gadis yang disukai. Kau ... tak keberatan 'kan?" tanyanya ramah.


Sandara melangkahkan kakinya perlahan untuk mendekat. Ia menuruti permintaan Yudhi dan meletakkan kepalanya ke lengan pemuda itu, lalu merapatkan tubuhnya.


Yudhi terlihat gugup saat ia memiringkan sedikit tubuhnya mencari posisi nyaman. Sandara menggenggam kedua tangannya di depan dada dengan pandangan tak menentu.


"Nyaman?" tanya Yudhi grogi. Sandara mengangguk dalam diam. "Oke. Ayo tidur. Selamat malam, Dara," ucapnya gugup lalu meninggalkan kecupan kilat di dahi Sandara.


Sandara mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa. Sedang Yudhi sudah menutup matanya rapat. Sandara melirik dan menatap Yudhi seksama.


'Padahal aku bisa saja mencelakainya. Aku memiliki banyak benda untuk membunuh di ruang jahit, tapi ... kenapa aku tak bisa melakukannya? Aku tak mungkin mencintainya karena cintaku hanya untuk kak Afro seorang,' ucapnya dalam hati. 'Kak Afro, bagaimana kabarnya?' tanya Sandara sedih.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE & PINTEREST


Tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ kalo ada tipo maklumin aja dulu, tinggalkan koreksi. tar kalo lele udah baikan akan direvisi. puyeng uyy abis cek darah ampe 4x ambil😵 Jebule darah lele kental kaya kental manis, kwkwkw pantes migren terus. adeh, doain sehat ya. amin🙏

__ADS_1



__ADS_2