4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
After Life-Arjuna


__ADS_3

Usai pembagian warisan dari Vesper, para mafia sepakat untuk melakukan prosesi pembubaran kekaisaran 13 Demon Heads.


Tentu saja, orang-orang dalam jajaran para mafia terkejut karena tak menyangka dengan keputusan para petinggi tersebut.


Namun, setelah dijelaskan alasan kenapa tak lagi bisa melanjutkan, akhirnya mereka paham meski kesedihan menyelimuti hati semua orang.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Aku sangat menantikan pertemuan tiap lima tahun sekali itu, Ayah," ucap Sisca selaku puteri dari Bojan.


"Ya. Acara pertama akan dilangsungkan di Kastil Borka Rusia. Lalu 5 tahun setelahnya berada di Kastil Boleslav. Berikutnya di Black Castle Inggris lalu kemudian di Kastil Hashirama Jepang. Untuk selanjutnya, akan ditentukan nanti usai pertemuan di Jepang. Kami yakin, jika yang akan menghadiri acara berikutnya adalah penerus dari kami semua," jawab Bojan dari sambungan video call ketika anaknya sudah dipulangkan ke Serbia setelah tinggal cukup lama di Lugu Lake China.


Sisca mengangguk mengerti. Para mafia dalam jajaran akan ikut hadir dalam prosesi pembubaran termasuk jajaran The Circle.


Anak-anak terpaksa dipulangkan ke rumah masing-masing oleh salah satu dari orang tua mereka, sedang sisanya mengikuti prosesi.


Camp Militer mulai sepi dan kini diisi oleh semua mafia dari dua kelompok besar. Sierra, Cassie, dan Venelope ikut hadir.


Jonathan terlihat begitu bahagia karena dua wanita yang disayanginya muncul seraya menggendong darah dagingnya.


"Ha? Siapa namanya?" tanya Jonathan melebarkan mata saat bayi dari Cassie ia dudukkan di pangkuan meski sedikit menyender.


"Itu nama pemberian dari ibumu. Meilseoir Benedict," tegas Sierra menatap calon suaminya tajam.


"Susah amat. Keren memang. Mm ... gimana kalau dipersingkat saja? Jadi ...," ucapnya menggantung seraya menatap wajah anak lelakinya lekat yang menggenggam erat telunjuk kanan Jonathan. Pemuda itu tersenyum lebar terlihat gemas dengan bayi lucu itu. "Neil?"


"Neil?" sahut Sierra dan Cassie bersamaan. Jonathan mengangguk cepat.


"Hei. Kau suka dipanggil Neil? Itu sangat mudah. Neil juga memiliki banyak arti bagus seperti nama panjangmu. Bagaimana, Neil?" tanya Jonathan seperti mengajak berdiskusi anak lelakinya.


Terlihat, bayi lucu itu seperti menjawab ucapan sang ayah karena menggerakkan bibirnya. Senyum Jonathan merekah.


"Lihat! Dia suka!" serunya senang.


Cassie dan Sierra pasrah karena apapun yang terjadi, Jonathan pasti tetap akan memanggil nama anaknya 'Neil'.


"Lalu puterimu ini bernama Serenity Flame. Hanya saja, untuk mengamankan identitasnya, ia menjadi Serenity Benedict," sahut Sierra saat mendekatkan bayi cantiknya ke pangkuan Jonathan.


Cassie dengan sigap mengambil bayinya saat Jonathan menggendong puteri dari Sierra.


"Apakah ... mama juga yang memberikannya nama?" tanya Jonathan menatap puteri kecilnya yang masih tertidur pulas terlihat nyaman.


"Ya. Arti namanya juga sangat bagus. Pemberi ketenangan yang diberkati," jawab Sierra tampak haru karena ia kini menjadi seorang Ibu.


Jonathan tersenyum bahagia. Ia lalu berdiri dan mendatangi dua wanita yang dikasihinya. Ia mencium kening Cassie dan Sierra bergantian. Praktis, dua perempuan cantik itu terkejut.


"Nathan bahagia banget memiliki kalian berempat. Meski sampai sekarang, penyesalan Nathan gak berakhir karena pernah jahat dengan mama. Namun, Nathan berjanji dan kalian berdua akan menjadi saksinya. Nathan akan pastiin anak kita gak mengikuti jejak kebodohan ayahnya baik Neil atau Eren," ucapnya yang membuat Cassie dan Sierra tersenyum tipis.


Jonathan lalu meminta kepada dua calon isterinya untuk duduk bersama membahas pernikahan. Kali ini, Zaid dan Yena ikut bergabung.


Malah, Yena mengabarkan jika dia tengah hamil. Sangat beruntung saat pertarungan terakhir ia tak keguguran karena tak mengetahui jika dirinya mengandung.


Tentu saja puji syukur dipanjatkan. Kabarnya, Yena akan melahirkan bulan Oktober awal di tahun yang sama. Semua orang tak sabar menunggu.


Camp Militer ramai dipadati oleh para mafia yang menginap. Esok hari, para anggota dewan akan difoto satu per satu oleh Eiji.


Mereka mengenakan pakaian rapi seraya mengalungkan medali anggota dewan yang diturunkan dari tahun ke tahun oleh para pendahulu.


Hati semua orang kembali berduka ketika peti Vesper dibuka dalam ruangan khusus dengan dinding kaca. Hanya Jeremy, Kai dan Victor yang melakukan prosesi tersebut.


Vesper berada di dalam ruangan kaca yang disterilkan. Vesper dipakaikan kalung medali dewan. Tangannya telengkup di atas perut seraya memegang tongkat ular yang sebenarnya adalah pedang dari Silent Blue.


Mahkota ketua dewan 13 Demon Heads juga dipasangkan di kepalanya sebagai pertanda jika hanya Vesper-lah orang terakhir yang akan menduduki jabatan terakhir itu sebagai ketua para mafia di seluruh dunia.


Setelahnya, para anggota dewan berfoto di sekitar jenazah Vesper yang dimasukkan kembali dalam tabung kaca sebagai kenangan terakhir selama menjabat di bawah kepemimpinan di masa terakhirnya.

__ADS_1


Para mafia lainnya bergantian berfoto dengan sang ratu di aula besar Camp Militer sebagai kenangan terakhir termasuk empat anak Vesper meski tanpa cucu-cucunya. Vesper juga berfoto dengan Kai dan Han.


Tampak wajah orang-orang terdekatnya begitu sedih termasuk Satria, Shinta dan Tika. Berikut tiga saudari Liana dan nyonya Wen.


Hampir seharian, Eiji dan orang-orang yang dipercaya hanya melakukan sesi foto bersama termasuk keturunan Flame di sekitar jenazah.


Kelompok The Circle dan No Face ikut berfoto meski tanpa Vesper sebagai bukti jika keberadaan mereka masih ada, tapi kini sudah bukan lagi ancaman melainkan satu keluarga besar.


Siapa sangka, para Black Armys ikut hadir ke Camp Militer meninggalkan markas mereka karena ingin memberikan penghormatan terakhir pada pemimpin agung.


Eko dan lainnya terharu karena orang-orang itu menggunakan uang tabungan mereka sendiri untuk pergi menggunakan pesawat agar tak terlambat mengikuti prosesi.


"Bagaimanapun, Nyonya Vesper sudah sangat baik pada kami, Eko," ucap P-807 meski ia kini berada dalam jajaran Boleslav.


Eko menangis. Ia tak menyangka jika para Black Armys yang tersisa 1500 orang itu datang dengan suka rela atas kemauan mereka sendiri.


Eiji memotret mereka yang dibagi menjadi 15 kelompok per 100 orang agar wajah semuanya bisa terlihat dalam gambar.


Han, Kai, Arjuna, Lysa, Jonathan dan Sandara, memanfaatkan kedatangan para pasukan Vesper untuk membahas kelanjutan dari hidup mereka.


"Tentu saja kami akan terus mengabdi pada jajaran nyonya Vesper. Maaf sebelumnya jika ini menyinggung. Meski sampai mati, kami hanya setia pada nyonya Vesper. Namun, kalian adalah orang-orang yang paling dekat dan dipercaya olehnya. Kami akan meneruskan perjuangan hidupnya meski tak lagi menjadi penjahat. Kami akan membantu kalian jika memang dibutuhkan," ucap R-506 mantap.


Kai dan lainnya terlihat bangga pada anak didik Eko tersebut.


"Baiklah. Kami membutuhkan kalian untuk menjadi pekerja di beberapa sektor bisnis. Keempat anak Vesper sudah kehilangan anggota pasukan mereka. Jadi, kami berharap kalian bisa mengisi kekosongan itu. Kalian juga membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup seperti permintaan Vesper," ucap Kai menegaskan.


Para Black Armys tersebut baik wanita atau pria mengangguk paham. Namun tiba-tiba, salah satu dari mereka mengangkat tangan. Han menunjuk Black Armys wanita tersebut.


"Bolehkah kami menikah?" tanyanya yang ternyata membuat beberapa orang terkejut.


"Tentu saja, kenapa tidak? Kami saja memiliki keluarga. Kalian juga pantas untuk bahagia bersama orang terkasih," jawab Han dengan senyuman.


Sepertinya, pertanyaan itu membuat lega hati para pasukan hitam Vesper.


"Hanya saja. Tetap sembunyikan jati diri kita. Tak semua orang bisa menerima masa lalu kita sebagai seorang mafia. Kalian paham?" tegas Arjuna, dan orang-orang itu mengangguk.


Orang-orang itu diminta mengisi formulir dan kali ini dibiarkan untuk memilih jenis pekerjaan yang diminati.


Eko juga membagikan formulir termasuk para mafia lainnya yang masih membutuhkan jasa Black Armys untuk menjaga markas, tempat usaha yang dulunya sebagai markas darurat, dan kediaman yang diwariskan Vesper untuk mereka.


Para petinggi dalam jajaran baik 13 Demon Heads ataupun The Circle, membawa orang-orang yang sudah memilih untuk bekerja pada mereka ke sebuah ruangan untuk membahas lebih lanjut mengenai pekerjaan baru yang akan ditekuni.


Tampak para Black Armys Vesper serius mendengarkan arahan dari para mafia senior tersebut.


Di ruang kaca tempat Vesper dibaringkan dalam tidur abadinya. Camp Militer, China.


"Bagaimana?" tanya Victor seraya mendekat.


"Aku sudah membuat design-nya. Kai ingin pergi ke tempat Sandara terlebih dahulu untuk memastikan hidupnya selama seminggu lalu membantuku menyelesaikan pembuatan tabung ini. Jika sungguh berhasil, ini akan sangat membantu," tegasnya.


Victor mengangguk termasuk para SYLPH yang ikut menjenguk.


"Jadi teknisnya, meskipun tak ada tenaga ahli yang merawat jenazah Vesper, tabung itu bisa melakukan pengawetan sendiri. Begitu?" tanya Zulfa memastikan.


"Ya. Hanya saja, serum yang akan kumasukkan dalam tabung itu tetap harus diisi ulang tiap 5 tahun sekali. Jadi, laboratorium akan terus memproduksi serum-serum itu. Untuk mengantisipasi, serum akan dibuat di laboratorium milik Victor di Australia dan juga laboratorium Elios di Italia. Kita akan memproduksi dalam jumlah banyak karena para anggota dewan sepakat ingin diawetkan setelah mereka tiada nanti seperti Vesper agar selalu dikenang dan bisa dijenguk sewaktu-waktu oleh pihak keluarga," jawab Jeremy serius.


"Entah kenapa aku tak merasa seperti kehilangan nyonya Vesper. Ia terlihat seperti ... sedang tidur," ucap Safa dan diangguki oleh anggota SLYPH lainnya dengan senyuman.


"Aku tak sabar ingin segera pulang ke Filipina. Katanya, laboratoriumku sudah siap untuk dioperasikan lagi. Mungkin, aku akan hilang tak ada kabar karena ingin fokus dalam pembuatan tabung bersama Kai. Jika merindukanku, hubungi saja Rayya dan Roxxane," ucap Jeremy yang membuat orang-orang itu terkekeh.


"Jangan sampai kumenemukanmu dalam tabung juga, Jeremy," sahut Victor, tapi profesor tersebut hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.


Banyak orang masih berlalu lalang di luar dinding kaca tempat Vesper dibaringkan. Beberapa diantaranya meninggalkan bunga yang bisa diselipkan dalam jendela khusus dengan sidik jari.


Ruangan yang tadinya kosong dan hanya berisi peti itu, lambat laun dipenuhi oleh bunga-bunga.

__ADS_1


Para anggota SLYPH bergantian memasuki ruangan untuk membersihkan dan menata ruangan tersebut agar tetap terlihat indah.


Hari berganti dengan cepat usai kepergian Vesper. Para mafia pulang ke rumah masing-masing untuk melanjutkan hidup seperti permintaan terakhir sang ratu sebagai warga sipil.


Meski beberapa dari mereka masih meminta senjata buatan Vesper Industries untuk mengamankan hunian dari serangan mafia lain yang ingin merebut kekuasaan.


Meski 13 Demon Heads telah dibubarkan termasuk The Circle, para mafia itu tetap terhubung dari jaringan komunikasi yang telah terbentuk sebelumnya seperti alarm Terminator, dan juga teleconference jika ingin mengadakan pertemuan meski kali ini, rapat bukan hanya diikuti anggota dewan saja, tapi siapapun mafia yang ingin ikut terlibat.


Kastil Hashirama. Jepang.


"Dia kenapa?" tanya Arjuna cemas karena Loria terus menangis semenjak tak lagi diasuh oleh Naomi.


"Entahlah. Dia panas. Padahal, ia sudah diberikan ASI oleh para pendonor," sahut Lian yang kini menjadi perawat bayi Loria atas permintaan Kim Arjuna bersama dua saudarinya.


Ayah muda itu tampak cemas karena anaknya terus menangis. Ia terlihat sedih dan berharap anaknya tak sakit. Han melihat Arjuna seperti ayah tunggal bagi puterinya.


Han teringat akan perjuangan Vesper saat melahirkan puteranya dan berjuang sendirian tanpa dirinya.


Ia juga teringat akan Arjuna yang pernah sakit dan terpaksa mengambilnya dari asuhan Vesper kala itu padahal sedang diobati.


"Oh? Mungkinkah?" ungkap Han seperti memikirkan sesuatu.


Han mendatangi Arjuna yang tampak lelah setelah berhasil menidurkan Loria meski berada dalam gendongannya.


Arjuna mengelus lembut punggung puterinya seraya menyenderkan punggung di kursi goyang dengan meletakkan Loria di dadanya.


"Juna," panggil Han lirih.


"Ya?" jawab Arjuna lirih.


"Temui Naomi. Ia sepertinya ... merindukan ibu susunya," ucap Han yang mengejutkan Arjuna.


"Naomi? Entahlah, Ayah. Dia sepertinya membenciku," jawab Arjuna ragu.


"Ia sepertimu saat kupisahkan dengan Vesper dulu. Kausakit karena rindu dengan ibumu. Aku baru menyadarinya saat tak sengaja kulihat ibu dan anak bertemu di taman diantar oleh ayahnya. Pria itu mengatakan jika puterinya sangat merindukan ibunya," ucap Han yang membuat mata Arjuna kembali pada sang ayah. "Demi Loria, Arjuna. Dia membutuhkan Naomi," tegas Han.


Arjuna tampak tertekan, tapi pada akhirnya mengangguk. Arjuna ditemani Han menemui Sun yang berada di Markas Hashirama. Han tahu jika kedatangan Arjuna pasti akan ditolak oleh putera M. Oleh sebab itu, Han ikut serta.


Markas Hashirama, Jepang.


"Aku tak tahu di mana Naomi berada sekarang. Sungguh, aku tak bohong. Gunakan detektor kebohongan jika tak percaya," jawab Sun masih bersikap dingin enggan melihat Arjuna.


"Lalu ... di mana aku bisa mencari tahu keberadaan Naomi?" tanya Arjuna penuh harap.


Sun diam saja. Loria yang tadinya tidur tiba-tiba menangis. Arjuna terkejut dan langsung menenangkan bayinya lagi. Sun akhirnya menaikkan pandangan.


Ia merasa iba pada kondisi tuan mudanya yang kini menjadi orang tua tunggal. Ia teringat akan sang ayah yang mengasuhnya seorang diri setelah sang ibu meninggal.


Tekanan berat yang diliputi kasih sayang agar sang buah hati tumbuh menjadi anak yang kuat, membuat hatinya tergerak.


"Temui Jordan. Ia harusnya tahu di mana Naomi berada. Dia tetap memberikan tunjangan pada anak isterinya meski telah bercerai," ucap Sun yang mengejutkan Han dan Arjuna.


"Kau benar. Jordan. Ayo, kita temui dia, Juna. Jordan bisa menolong kita. Kasihan cucuku," ucap Han sedih karena Loria menjadi demam karena sering menangis.


"Demi Loria. Ayo," jawab Arjuna mantap. "Terima kasih, Sun. Dan aku ... minta maaf meski harus kukatakan ribuan kali. Namun, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku minta maaf," ucap Arjuna mantap Sun lekat dengan wajah sendu.


Sun diam saja saat Arjuna dan Han pamit meninggalkan ruang tamunya.


"Tunggu! Aku ikut," panggilnya yang membuat Arjuna dan Han terkejut. Namun perlahan, senyum ayah dan anak itu terkembang.


"Terima kasih, Sun. Terima kasih," ucap Arjuna penuh haru dan Sun tersenyum tipis dengan anggukan.


***


__ADS_1


ikut ngetips buat pesangon lebaran. kwkwkw😆 doakan tamat tepat waktu sampai lebaran ya di bulan Mei ya. amin❤️


__ADS_2