
Vesper menyadari puterinya mendekat. Sandara berlinang air mata terlihat siap untuk mengungkapkan sesuatu karena dua tangannya mengepal.
"Kalian kenapa? Bicaralah? Apa ucapanku salah? Menyinggung perasaan kalian? Jika ya, aku minta maaf," tanya Vesper sedih.
"Kenapa, Mah?" tanya Sandara tiba-tiba menatap Vesper tajam dari tempatnya berdiri.
"Tentang apa?" tanya Vesper yang kini pandangannya tertuju pada puteri terkecilnya tersebut.
"Kenapa kaulakukan hal ini pada kami? Apa kausengaja melakukannya? Kau membiarkan kami berjuang sendiri di luar sana? Sedang kau, apa yang kaulakukan? Kau tak datang membantu atau menyelamatkan kami saat diserang!" tanya Sandara meluapkan amarahnya.
Vesper tersenyum tipis.
"Kalian lupa dengan pengakuan kalian jika ingin menjadi mafia sepertiku?" tanya Vesper yang membuat keempat anaknya terdiam. "Arjuna. Saat ulang tahunmu di Camp Militer, kau bertekad untuk mengikuti jalan mafia. Seperti inilah jalan yang harus kautempuh termasuk segala risikonya. Kaubisa berkaca dari kisahku," ucap Vesper. Arjuna tampak shock dan langsung menundukkan wajah.
"Jonathan. Kaubilang ingin seperti ayahmu Erik Benedict. Kau mengatakan jika ditakdirkan untuk menjadi penerus Flame. Kau menobatkan dirimu saat di Grey House dan disaksikan oleh banyak orang sebagai pemimpin The Circle, kelompok mafia. Hal itulah yang mendasariku memaafkan orang-orang dalam jajaran Flame karena aku tak ingin dua kubu kembali bertikai. Kubuang ego dan dendamku untukmu, Jonathan. Kauharus tahu itu."
Jonathan tertegun usai mendengar pengakuan Vesper. Pandangannya tak menentu, ia terlihat gugup akan sesuatu dan tak berani menatap sang ibu.
"Sedang kau, Lysa. Kauingat ketika kita tinggal bersama di Big Glass? Kau mengatakan ingin menjadi sepertiku. Kauikut pelatihan di Camp Militer dan membuktikan menjadi lulusan terbaik. Kaupernah berhasil mengenaiku meski aku nyaris keguguran saat hamil Jonathan. Kau sudah memutuskan, dan inilah hasilnya. Kau tak boleh menyesalinya," tegas Vesper.
Lysa langsung meremat kuat kepalanya. Pandangan Vesper beralih pada Sandara. Gadis itu menatap Vesper tajam.
"Dan kau, Dara manisku. Hidupmu tak beruntung sepertiku, tapi ... kauputuskan tak kembali menjadi artis saat kau mendapatkan kesempatan. Kau mengingatkan akan diriku yang dulu. Namun entah kenapa, kehidupanmu lebih tragis dariku. Aku hanya manusia, aku punya keterbatasan, dan keterbatasan itulah yang membuatmu menjadi seperti ini. Sebagai Ibumu, aku minta maaf. Maukah kau memaafkanku?" tanya Vesper menatap Sandara sendu.
Gadis itu menundukkan wajah dan malah menangis. Vesper menarik napas dalam dengan mata terpejam sejenak. Buffalo dan lainnya tampak cemas karena Vesper terlihat pucat.
__ADS_1
"Ya, aku sengaja tak ikut campur dalam pertikaian yang terjadi. Aku ingin membuat kalian merasakan bagaimana menjalani kesulitan dalam hidup tanpa seorang Vesper di sisi kalian. Aku sadar jika umurku tak lama lagi," ucapnya lesu yang membuat semua orang terdiam. "Aku bukan makhluk kekal, dan aku bisa mati kapanpun. Seperti sekarang, aku bisa merasakan kematian mendatangiku dari anak-anakku," sambungnya dengan pandangan sayu, terbaring di ranjangnya dalam keadaan lemah tak berdaya. Lysa membungkam mulutnya usai mendengar perkataan sang ibu. "Aku rela, jika kematianku direnggut oleh anak-anakku. Aku biarkan kalian membenciku. Karena ... sebanyak apapun kasih sayang yang kuberikan, kalian sudah tak bisa merasakannya lagi. Cinta kasih kalian telah tertutup oleh dendam untuk membunuhku."
Arjuna, Jonathan, Sandara, dan Lysa meneteskan air mata dalam diam. Pandangan mereka tak menentu dan hanya bisa mematung di tempat masing-masing.
"Kenapa semua anak-anak ada di sini, Mah?" tanya Arjuna dengan suara bergetar menatap ibunya sendu.
"Kalian sibuk dengan dendam dan ambisi untuk menjadi penguasa. Kalian mengabaikan anak-anak," jawab Han yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan kini matanya terkunci pada empat anak Vesper. Pandangan Han kini terkunci pada anak semata wayangnya. "Kau bahkan tak menjawab panggilan teleponku hingga puluhan kali, Kim Arjuna. Sampai kuputuskan untuk menghilang darimu selamanya. Sepertinya, kausudah melupakanku. Mungkin bagimu, aku telah tiada."
Mata Arjuna melebar saat melihat sang ayah muncul dengan pistol dalam genggaman tangan kiri, begitupula dengan Kai yang berjalan di belakangnya dengan pistol yang sama dalam genggaman tangan kanan.
"Papa?" panggil Sandara lirih, tapi Kai diam saja mengabaikan sang anak dengan pandangan tertunduk.
"Kaubisa mengirimkan pesan padaku! Jangan membuat alasan!" jawab Arjuna marah.
"Aku ingin mendengar suara anakku! Aku ingin tahu kabar puteraku! Apa yang dilakukan olehku sebagai seorang Ayah salah, hah?!" jawab Han lantang dengan mata berlinang menatap Arjuna tajam.
"Kalian tak peduli pada anak-anak bahkan tega melukai dan membunuh orang-orang yang selama ini diperjuangkan oleh ibumu, Vesper. Anak-anak itu, mereka datang pada kami. Sebagai kakek dan nenek, sudah sewajarnya menerima kehadiran cucu-cucu yang mengharapkan kasih sayang dari keluarga karena tak mendapatkannya dari kedua orang tua mereka," sambung Kai dengan pandangan kosong yang kini berdiri di samping kiri Vesper.
Sandara, Lysa, Arjuna dan Jonathan memalingkan wajah seraya menghapus air mata dari tempat mereka berdiri.
"Kalian berubah menjadi orang tua yang egois. Bahkan sampai mengira jika kami menculik anak-anak serta orang-orang yang kalian sayangi," jawab Kai tersenyum miris dengan pandangan tertunduk.
"Sungguh, aku sebagai Ayah, sangat kecewa padamu, Kim Arjuna. Bahkan yang membawa anakmu kemari adalah tiga isteri Tora. Naomi mempercayakan Sig dan Loria pada mereka," ucap Han dengan mata berlinang.
"Na-Naomi?" tanya Arjuna dengan nafas terengah.
__ADS_1
Han tak menjawab di mana kini tangannya perlahan meraih tangan Vesper yang terkulai lemah di samping tubuhnya.
"Vesper mati, begitupula dengan kami. Janji sehidup semati itu bukan hanya sebuah lisan saja. Kami ... saling mencintai. Walaupun aku sangat menyesal karena banyak janji yang kubuat dengannya tak bisa kupenuhi," ucap Han menatap sang isteri sedih.
"Nona-ku meminta kami untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan melindungi cucu-cucunya agar bisa hidup normal, tak seperti kalian," sahut Kai dengan mata berlinang seraya mendekati sang isteri dan mengecup keningnya lembut.
Seketika, mata Arjuna, Lysa, Jonathan dan Sandara melebar. Kai dan Han berdiri tegap saling berhadapan dengan pistol diarahkan ke dahi pria di seberangnya.
Keduanya tersenyum seraya menggenggam tangan Vesper erat yang memejamkan mata dengan nafas lirih.
"Vesper tiada, kami pun akan segera menyusulnya. Itulah janji kami. Sepertinya, kami berdua gagal menjadi sosok ayah panutan untuk anak-anaknya seperti harapan Lily," ucap Han tersenyum miris dengan mata berkaca di hadapan Kai, begitupula rival seumur hidupnya yang menjawab dengan anggukan dan wajah kecewa.
"Setelah ini, jalanilah hidup tanpa kami, tanpa orang-orang dalam jajaran seperti permintaan kalian. Hidup sendiri tanpa kerabat, keluarga, dan orang-orang yang menyayangi kalian. Akhirnya, penderitaan kita berakhir, Pak Tua," ucap Kai yang memegang pistol di tangannya dengan mantap ia arahkan ke dahi Han.
"Papa Kai ... ayah Han ... jangan ... jangan ...," pinta Jonathan yang merangkak mendatangi Kai lalu memegangi kakinya. Jonathan terlihat ketakutan saat membayangkan dirinya sendirian.
"Ayah," panggil Arjuna meneteskan air mata dan berjalan tergopoh mendekati sang ayah yang tetap berdiri tegak dengan posisi bertahan sama seperti Kai.
"Hiks ... Papa," panggil Sandara ikut menangis dan mendatangi Kai lalu memeluknya erat, tapi Kai diam saja.
Lysa roboh di samping ranjang sang ibu. Entah apa yang menggerakkan hati mereka, rasa penyesalan yang teramat dalam menghujam relung hati terdalam.
***
__ADS_1
kwkwkw baca komen kalian ampe bingung lele jawabnya😆 semoga tulisan lele gak bikin puasa batal ya kalo yes gaswat nanggung dosa banyak ini. semoga gak ya Allah. baiklah lele mau rehat lagi. tengkiyuw tipsnya besok lagi ya😘