
Di ruang makan, Apartment Theresia, New York, Amerika.
"Setelah insiden itu, kami melihat pria yang kita yakini bernama Mr. White, pergi ke bandara bersama Tessa. Uda dan Ucup berhasil menyusup ke Bandara menyamar sebagai petugas setelah memberikan gas halusinasi ke penjaga, lalu ...."
"Cukup. Kemana tujuan Tessa dan Mr. White?" potong Arjuna cepat.
"Italia. Uda dan Ucup kini berada di Italia. Mereka masih mengikuti Tessa. Hanya saja, kami belum menerima laporannya sampai hari ini. Semoga mereka baik-baik saja," jawab Bintang terlihat cemas.
Arjuna mengangguk. Ia menghubungi Biawak Hijau dan Putih untuk bersiap. Mereka akan terbang ke Italia menyusul Arjuna.
Tanpa sepengetahuan Arjuna, Bintang menghubungi Sandara yang berada di Seoul.
"Kak Juna apa? Dia ingin menikahi Tessa?" pekik Sandara terlihat kaget dengan ponsel dalam genggaman di sebuah kamar Apartemen mewah.
"Ya. Kabar terbaru seperti itu, Nona Dara. Jadi bagaimana? Kami ikut serta dalam misi tuan Arjuna?" tanya Bintang memastikan.
"Ya, ikuti terus. Pastikan kak Juna selamat dan cari tahu, tujuan lain dari kak Juna kepada Tessa," tegas Sandara.
"Yes, Mam."
"Eh, satu lagi. Kau tadi bilang ... Mr. White? Dari ciri-ciri yang kau sebutkan, sepertinya dia lelaki yang pernah muncul di Gangnam. Apakah itu benar?" tebak Sandara.
"Ya. Sejauh ini, kesimpulan kami sama. Sepertinya, kasus ini berkembang, Nona Dara. Mr. White bisa menjadi ancaman baru. Namun, sejauh apa keterlibatan Mr. White dengan No Face, baru akan kami selidiki," jawab Bintang menganalisis.
"Oke, aku mengerti. Terus berikan informasi padaku. Terima kasih dan hati-hati," ucap Sandara sembari menutup panggilan teleponnya.
Sandara terlihat cemas, duduk di kursi tunggunya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh, hai, Dara sayang. Hem, kau makin cantik dari hari ke hari. Baiklah, kau sudah siap untuk tutorial make up dariku?" tanya seorang pria berparas cantik berdiri di belakangnya.
"Yes. Tolong ajari aku agar bisa berdandan dan berpenampilan seperti wanita dewasa. Yah, tuntutan pekerjaan," jawabnya beralasan.
"Tentu saja, Dara sayang. Om Atit akan membuatmu terlihat seperti gadis berusia 20 tahun," jawabnya dengan senyum terkembang.
Sandara tersenyum. Ia terlihat siap dengan semua peralatan make up di depannya berikut pakaian yang akan ia coba hari itu.
Di Filipina, Red Mansion.
Naomi telah tiba pagi itu. Terlihat, senyum gadis itu terkembang saat bertemu dengan Vesper dan Kai di taman bunga.
"Tempat ini indah sekali, Nyonya. Pantas saja kau betah," ucap Naomi sembari memangku cangkir berisi teh di pahanya.
Vesper dan Kai tersenyum. Keduanya lega karena Naomi terlihat baik-baik saja meski mereka yakin jika Naomi menutupi kesedihannya dengan senyum manisnya.
"Naomi. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan," ucap Vesper serius dan Naomi segera meletakkan cangkir tehnya di atas meja taman.
"Ya, Nyonya. Bukankah ... itulah tujuan Anda memintaku kemari?" jawabnya sopan.
Vesper dan Kai tersenyum. Vesper menyerahkan pembicaraan itu pada suami termudanya.
"Aku ingin kau mengelola Perusahaan milik Afro yang diberikan untuk Sandara," tegas Kai.
Naomi terkejut. Ia menatap Vesper dan Kai bergantian.
"Sandara masih terlalu muda. Ia juga sibuk dengan dunia keartisannya. Ia saja kewalahan mengurus butik dan salonnya di Paris. Tak ada waktu untuknya mengurus Perusahaan peninggalan Elios. Ada perusahaan yang bergerak di bidang farmasi dan aset itu, dulunya dipegang oleh The Circle. Mereka mengelolanya, tapi ... Afro berhasil merebutnya dan ia memberikan kuasanya kepada Sandara," sambung Vesper.
"Perusahaan yang tak masuk dalam jajaran 13 Demon Heads? Dewan Sekretariat tak menerima berkas itu?" tanya Naomi memperjelas legalitas Perusahaan Farmasi tersebut.
"Ya. Menurut catatan surat dari Afro, Perusahaan itu berada di Italia. Meskipun legalitas perusahaan itu sudah ada di tangan kita dan diurus olehku, hanya saja, orang-orang The Circle yang tak mengakui Jonathan masih menguasainya. Kami belum tahu seluk-beluk Perusahaan itu," imbuh Kai menambahkan.
"Aku paham. Anda ingin aku mengusutnya dan merebut Perusahaan itu sepenuhnya. Benar begitu 'kan?" tegas Naomi.
"Kau memang cerdas, Naomi. Jadi ... kau menerima misi ini?" tanya Vesper menatap mantan bodyguard anaknya seksama.
"Tentu saja. Dengan senang hati aku akan melakukannya, Nyonya Vesper, Tuan Kai," jawabnya semangat.
Kai dan Vesper saling memandang. Mereka terlihat senang karena Naomi berpihak.
"Kau akan dibantu oleh Biawak Cokelat dan Kuning. Mereka pernah ke sana sebelumnya. Para BIAWAK itu, diam-diam menyimpan banyak rahasia besar. Meskipun mereka sudah bersumpah setia padaku, tapi tetap saja, berhati-hatilah, Naomi. Jangan percaya pada mereka sepenuhnya," tegas Vesper.
__ADS_1
"Saya mengerti, Nyonya," jawab Naomi serius.
Kai berterimakasih karena Naomi menyanggupi misi darinya. Kai segera menghubungi dua BIAWAK tersebut. Mereka akan terbang ke Filipina untuk membantu Naomi menyelesaikan tugas.
Malam itu, Kai, Vesper dan Naomi mengunjungi Laboratorium Jeremy. Terlihat, Naomi begitu kagum akan pusat penelitian jajaran Vesper di ruang bawah tanah tersebut.
"Eh?" pekik Naomi saat melihat Jonathan bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik yang duduk di kursi roda elektrik.
"Kak Naomi? Kok, ada di sini? Kak Juna mana?" tanyanya riang.
"Oh, dia ...," jawabnya bingung.
"Juna sedang sibuk dengan misinya. Jadi ... bagaimana, Sierra? Kulihat kau semakin sehat," tanya Vesper sembari mendekati calon menantunya.
"Terima kasih, Nyonya Vesper eh maksudku ... Mah," jawabnya gugup dengan earphone translator di salah satu telinganya.
Vesper dan Kai tersenyum. Naomi ikut mendekat.
"Wah, aku tak sabar menghadiri pernikahan kalian. Pasti Nathan ganteng banget, Sierra juga pasti cantik banget," sahut Naomi dengan senyum terkembang.
Jonathan dan Sierra tersipu malu. Kai mendekati Sierra dan berjongkok menatap kedua kakinya. Sierra gugup seketika.
"Kaki robotmu sudah siap, Sierra. Aku sudah mengujinya. Tinggal giliranmu. Kau siap?" tanya Kai menatapnya dengan senyuman.
Mulut Sierra mengaga lebar seketika. Namun, terlihat jelas kegembiraan di wajahnya, begitupula Jonathan.
"Beneran, Papa Kai? Cepet banget! Udah bisa dicoba? Kapan? Sekarang?" tanya Jonathan semangat.
"Aku konsultasikan pada Jeremy dulu. Oleh karena itu, aku ingin mendengar laporannya," jawab Kai sembari berdiri.
"Ayo, cepet, cepet, kita temuin om Jeremy!" sahut Jonathan langsung menggandeng tangan Kai erat dan membawanya berlari di lorong.
Sierra tertawa karena Jonathan terlihat lebih bahagia ketimbang dirinya. Sierra malah ditinggal. Vesper mendatangi gadis cantik itu dan mendorong kursi roda untuknya.
"Eh, tak perlu, Mah. Aku bisa sendiri," tolak Sierra sungkan.
"Tak apa. Hal ini mengingatkanku pada mendiang ayah Jonathan dulu. Biarkan aku mengenangnya sejenak dengan mendorong kursi rodamu. Kau tak keberatan 'kan?" tanya Vesper dan Sierra mengangguk.
Namun, saat di lab, pernyataan Jeremy membuat semua orang yang mendengar terkejut seketika.
"Apa katamu? Sierra tak cacat sejak lahir?" pekik Kai sampai matanya melebar.
Jeremy mengangguk. Sierra terlihat shock mendengar penuturan Jeremy. Salah seorang petugas medis menyalakan lampu yang memperlihatkan struktur tulang dan jaringan kaki Sierra. Semua orang menatapnya seksama.
"Aku cukup yakin. Saat lahir, Sierra terlahir normal. Ia bisa berjalan sampai mungkin berumur 3 atau 4 tahun. Lihat, kepadatan tulangnya sangat bagus dan fakta menariknya adalah, kami menemukan zat unik dalam darahnya. Dan, zat itu tergumpal di jaringan tubuh dari lutut ke bawah. Seperti sebuah senyawa yang membuat kedua kakinya tak berfungsi seperti lumpuh layu," tegas Jeremy.
Semua orang tertegun seketika.
"Jika lumpuh layu, seharusnya, Sierra mengalami penurunan fungsi tubuh. Seperti kehilangan kemampuan motorik dan sensorik selain di kakinya. Namun, kalian lihat. Tubuh Sierra bisa menerima pengobatan dan therapiku," imbuh Jeremy menguatkan analisisnya.
"Ya, itu benar. Waktu dateng ke sini, Sierra lemes, pucat, rambutnya juga rontok. Selama tinggal di lab, Sierra gemukan, rambutnya gak rontok lagi dan lebih cerah kulitnya," sahut Jonathan membenarkan.
"Kau mengatakan aku gemuk?" tanya Sierra tiba-tiba sewot. Semua orang diam seketika.
"Maksudnya ... padet, berisi gitu loh, Yank. Kok marah sih?" tanya Jonathan heran.
Semua orang menahan senyum. Sierra masih terlihat sebal.
"Wait ... maksudmu ... ada orang yang sengaja mencelakai Sierra, begitu?" tanya Vesper menduga.
"Entahlah. Mungkin, bisa jadi," jawab Jeremy menaikkan kedua pundaknya.
Sierra menutup mulutnya. Ia tak menyangka jika ada orang yang berusaha mencelakainya.
"Sierra, sebenarnya sudah sejak lama aku mencurigai sesuatu. Mungkin, kau tahu jawabannya?" tanya Vesper berjalan mendekatinya.
"Tentang apa, Mah?" tanya Sierra terlihat gugup.
"Kenapa nama depanmu, sama dengan Madam? Sierra? Apakah ada hubungannya?" selidik Vesper.
"Nah, iya ya. Baru sadar Nathan," sahut Jonathan bertolak pinggang.
__ADS_1
Sierra terdiam.
"Mm, entahlah. Aku tak yakin. Dulu ... almarhum kakek Darwin pernah mengatakan jika ... aku ini akan menjadi satu-satunya pemimpin No Face, menggantikan Madam nantinya. Namaku pemberian Madam. Begitupula Tessa. Hanya Venelope, Cleopatra dan Rianna saja yang diberikan nama oleh ibu mereka," jawab Sierra mulai mengungkapkan rahasia kelompoknya.
"Siapa ibu mereka?" tanya Kai menyahut.
"Aku ... tak mengenal mereka. Meskipun aku dan Tessa memiliki nama yang sama, tapi ... kami beda ibu. Ayah Tessa juga bukan Tobias," jawabnya yang mengejutkan semua orang.
"Oh, benarkah?" tanya Lucy ikut kaget.
Sierra mengangguk.
"Semua anak-anak dari daddy telah meninggal. Ada yang sakit dan tewas dibunuh. Hanya aku satu-satunya yang tersisa. Itu yang aku ketahui dari cerita Miles, asistenku yang telah tiada," jawab Sierra lesu.
"Kau mengingat semuanya?" tanya Jeremy curiga. Sierra mengangguk.
Hingga tiba-tiba, mata Sierra melebar. Ia terdiam seketika dengan pandangan terfokus pada lantai seperti memikirkan sesuatu dengan serius.
"Yang? Kenapa?" tanya Jonathan khawatir dan perlahan mendekatinya.
Sierra menaikkan pandangan. Jonathan mengambil kursi dan duduk di depannya, menatap Sierra seksama.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit? Di mana? Bilang aja, nanti Om Jeremy sembuhin," tanya Jonathan cemas.
Namun, Sierra malah seperti akan menangis. Semua orang bingung, termasuk Jonathan yang tiba-tiba wajahnya dipegang oleh Sierra dengan tangan gemetaran.
"Jonathan? Jonathan Benedict? Apakah ini sungguh kau?" tanyanya gugup.
Jonathan mengangguk. Ia bingung karena Sierra seperti tak percaya jika di depannya sungguh dirinya.
"Ini sungguh kau? Benarkah? Ini bukan mimpi? Kau di sini? Di depanku?" tanyanya yang perlahan memegangi kedua tangan Jonathan dan menggenggamnya erat.
"Kamu kenapa?" tanya Jonathan heran.
Tiba-tiba, Sierra menangis begitu saja. Ia memeluk Jonathan erat terlihat begitu sedih. Jonathan bingung, tapi membalas pelukan kekasihnya.
Jeremy menyipitkan mata. Ia segera meminta hasil CT-Scan terbaru kepala Sierra. Petugas itupun menunjukkannya. Mata Jeremy melebar, senyumnya merekah.
Ia lalu berlari keluar dari lab entah menuju kemana. Orang-orang bingung karena kini sikap Jeremy ikut aneh.
Tak lama, Jeremy kembali membawa dua buku. Sebuah buku album milik Sierra dan buku peninggalan Sandara. Jeremy mendekati Sierra dan menunjukkan dua buku itu.
Sierra terkejut dan melepaskan pelukannya. Ia mengambil buku miliknya dengan tangan bergetar. Ia membuka buku itu dan kembali menangis meski tersenyum. Ia seperti bahagia.
"Kau mengingatnya?" tanya Jeremy dan Sierra mengangguk cepat.
"Jonathan ...," panggilnya lirih dan Jonathan tersenyum lebar.
"Kau menemukanku," sambungnya dengan mata berlinang.
"Ehem. Sampai ujung duniapun, cuma Sierra yang Nathan cari. Jangan ilang lagi ya," jawabnya dengan senyuman.
Sierra kembali menangis. Jonathan memeluk calon isterinya erat begitupula Sierra.
Vesper menangis haru begitupula Naomi dan orang-orang yang berada di sana. Jeremy disalami oleh Kai karena metode pengobatannya berhasil mengembalikan ingatan Sierra yang melemah.
"Thank you, Profesor. Aku berhutang banyak padamu. Terima kasih," ucap Sierra mengajak jabat tangan adik Joel Ramos tersebut.
"Suatu anugerah dan kebanggan bagiku bisa menyembuhkanmu, Nona Sierra," jawab Jeremy dengan senyum merekah dan menyambut jabat tangan gadis cantik itu.
Kebahagiaan begitu terasa di laboratorium Jeremy di malam yang sudah semakin larut. Sierra dan Jonathan terlihat makin lengket seperti tak bisa dipisahkan.
Kini, Sierra yang tak ingin jauh-jauh dari kekasihnya. Kemanapun Jonathan pergi, Sierra mengikutinya.
Vesper terlihat bahagia karena awalnya ia khawatir jika Sierra bersedia menikah dengan Jonathan karena merasa bersalah, tapi kini ia yakin jika mereka berdua memang ditakdirkan bersama.
***
tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋💋💋
__ADS_1