4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pengakuan Cassie


__ADS_3

Dua insan itu terbuai dalam romansa gairah cinta anak muda. Jonathan meluapkan semua hasrat terpendamnya kepada gadis yang baru ditemuinya.


Sedang Cassie, terlihat tak menolak dan ikut menikmati tiap sentuhan yang Jonathan berikan di tubuhnya.


"Aku suka saat kau menciumku, dan caramu saat memijat dadaku, bersamaan dengan dorongan kuat pen*smu yang bengkok. Kau bisa melakukannya bersamaan, kau hebat," puji Cassie menatap Jonathan lekat yang kini duduk di pangkuannya.


"Kalau gitu, kita lakuin tiap hari," jawabnya seraya memandangi wajah kaku gadis di hadapannya dan memegangi pinggulnya kuat.


"Bagaimana, sss ...," ucapnya terhenti dengan mata terpejam saat merasakan kenikmatan yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Jonathan tersenyum melihat Cassie sampai tak bisa melanjutkan ucapannya karena pinggul keduanya terus bergoyang. "Bagaimana dengan misiku? Hidupku hanya untuk menjalankan misi," sambungnya seraya membuka mata.


"Misimu nemenin Nathan sampai tua," jawab Jonathan seraya meraih wajah Cassie dan kembali menciumnya.


"Sss ... tidak bisa. Aku tak diprogram untuk melakukan hal semacam itu. Berikan aku misi yang sulit, yang belum bisa dipecahkan oleh 13 Demon Heads," ucapnya memegang kepala Jonathan erat dengan mata terpejam.


Jonathan berhenti mendorong miliknya dan menatap Cassie tajam. "Kau ingin meninggalkanku, seperti yang Sierra lakukan? Apa semua gadis No Face begitu?" tanyanya marah.


Cassie membuka mata dan ikut berhenti menggoyangkan miliknya. "Dari tadi aku ingin pergi, tapi kau menahanku, bahkan memintaku menjadi kekasihmu. Yang egois kau atau aku?!" tanyanya membentak dengan mata melebar, meski wajahnya tak berubah banyak.


Jonathan tertegun, saat Cassie turun dari pangkuannya dan merangkak ke pinggir ranjang. Namun, Jonathan kembali menangkap pinggul Cassie dan memasukkan miliknya dengan segera.


"A ... sss, aku harus pergi ... Aku harus mencari Sierra," ucapnya yang tak bisa lepas dari cengkeraman Jonathan.


BRUKK!!


"Agh!"


"Sierra lagi, Sierra lagi! Jangan sebut namanya di hadapanku!" jawabnya marah dan kini menyodokkan miliknya dari samping tanpa ampun.


"Sss ... ah, a-aku tak akan mencarinya lagi. Aku akan mencari Sandara untukmu. Lepaskan aku, please," pintanya memelas dalam rintihan karena tak kuasa menahan ledakan hebat ditubuhnya.


"Yeah, oke, misimu mencari Sandara sampai dapat, hah, hah," engah Jonathan yang wajahnya sudah tegang hingga keningnya berkerut mulai tak bisa menahan semburannya.


"Tiga tahun, sss ...," tawarnya dengan dada membusung dan memegangi punggung tangan Jonathan yang tak melepaskan cengkraman di buah dadanya.


"Tiga tahun? Tidak!" tolaknya marah. "Argh, setahun. Batas waktumu maksimal setahun. Gagal, aku akan mengurungmu," ancamnya dengan keringat mulai menetes membasahi punggung Cassie.


"Hah, o-oke. Le-lepaskan aku," pinta Cassie mencengkeram kuat sprei merah muda di ranjang itu hingga terlepas dari pengaitnya.

__ADS_1


"Oke, aku lepaskan. Argh!"


Tubuh Cassie sampai terdorong dan kini tertindih karena Jonathan melepaskan pelumasnya di dalam terowongan yang memberikan kenikmatan dan kepuasan pada dirinya.


Tubuh Cassie ikut menegang saat pintu gerbangnya menutup rapat dan mencengkeram kuat milik Jonathan yang terperangkap di dalam sana. Keduanya menggeliat dan enggan saling melepaskan.


"Masih mau pergi?" tanya Jonathan saat tubuhnya mulai lunglai dengan Cassie ia tindih.


"Besok saja. Aku lelah. Sebagai kekasih, kita belum tidur dan mandi bersama. Kita lakukan besok sebelum aku pergi," jawab Cassie lesu, tapi membuat Jonathan membuka matanya lebar.


Jonathan tak bicara. Ia memberikan lengannya, dan Cassie merebahkan kepalanya seraya memeluk Jonathan.


"Ini ...," tanyanya meraba dada Jonathan yang memiliki bekas luka.


"Ledakan di Perusahaan Elios, Italia. Kau di mana saat hal buruk terjadi padaku?" tanya Jonathan melirik Cassie tajam.


"Kau bersama Si ...," ucapnya terputus. "Jika ada dia, aku pergi. Jika tak ada, aku di sana."


Jonathan terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Kau mencarinya, ada perlu apa?" tanya Jonathan tegas.


"Mengambil bukuku."


Cassie diam sejenak. Jonathan meraih dagu Cassie dan memaksa wajahnya untuk beradu dengan dirinya.


"Bukuku. Album fotoku. Mm, foto-fotomu."


"Apa maksudmu?"


"Apa Si ... mm, dia pernah menunjukkan sebuah buku dengan banyak fotomu di dalamnya?" Jonathan mengangguk. "Aku yang mengambil gambar-gambar itu. Aku memotretmu. Lalu ... saat dia lumpuh dan jatuh sakit, ayahku, Miles, menggunakan hal itu sebagai alasan agar Sie ... dia memiliki tujuan hidup lain. Ya, dia akhirnya memiliki tujuan, tapi merampas kebahagiaanku," ucapnya dengan mata berkaca, meski dengan wajah datar.


Jonathan terkejut. Ia langsung menarik tangannya dan memposisikan tubuhnya miring, menatap Cassie lekat.


"Kau ...?"


"Kau seharusnya milikku, Jonathan, tapi Sierra merebutnya," jawabnya dengan mata terpejam dan air mata itu menetes begitu saja.


Mata Jonathan melebar. Ia menatap Cassie tajam dan menghapus air matanya dengan kedua ibu jarinya. Namun, Cassie tak mau membuka matanya. Ia membenamkan wajah di samping bantal agar Jonathan tak melihat kesedihannya.

__ADS_1


"Seharusnya ... kau yang kucari selama ini, Cassie, bukan Sierra. Kau ke mana saja?" tanya Jonathan sedih.


"Aku bukan siapa-siapa, Jonathan, termasuk ayahku. Dia keturunan Flame, tapi dijadikan pembantu oleh Darwin. Ayahku tak memiliki kekuasaan seperti D lainnya. Kami ... hanya catatan kaki dalam sebuah kisah," ucapnya masih memejamkan mata dengan selimut ia cengkeram kuat menutup tubuh indahnya.


Jonathan terdiam dan menatap Cassie lekat. Ia mengecup pundak Cassie lembut dan kembali merebahkan tubuhnya.


Jonathan menghadapkan tubuhnya agar bisa melihat wajah gadis yang ternyata selama ini mencintainya.


Jonathan memeluk Cassie dengan perasaan berbeda. Hatinya menghangat, dan senyum tipis muncul di wajahnya.


...***...


Sinar matahari mulai menyusup ke celah jendela kamar yang dulu di tempati Sierra. Keduanya tertidur lelap, usai penyatuan tubuh dan pengakuan mengejutkan yang mungkin tak diketahui oleh semua orang.


Jonathan mencium aroma kopi nikmat yang menggelitik hidungnya. Aroma lezat lainnya mengikuti seperti gurihnya roti panggang dengan mentega melapisi bagian luarnya.


"Hah! Mama?" pekiknya kaget dan langsung duduk saat menyadari dua aroma sarapan pagi itu adalah ciri khas dari Ibunya.


"Good morning," sapa Vesper seraya menyeruput kopi hitam dari cangkir keramik dalam genggamannya.


Jonathan panik dan melihat Cassie masih tertidur pulas di sampingnya berselimut tebal. Verda tersenyum tipis dengan kedua tangan terlipat di depan dada, berikut Click and Clack yang memasang wajah datar. Jonathan menelan ludah.


"Mandi dan bersiaplah. Jangan lupa, kau sudah berjanji untuk memberikan penjelasan kepada para tamu yang hadir," ucap Vesper mengingatkan dengan anggun saat meletakkan cangkir kopi ke tatakannya kembali.


"Ca-Cassie jangan diapa-apain ya. Janji ya," pintanya memelas terlihat takut.


"Ya ... tergantung pengakuannya nanti. Cepatlah, semua orang sudah mulai bersiap," ucap Vesper menekankan.


Namun, Jonathan tak bisa memakai selimut karena tubuh indah Cassie akan terlihat. Jonathan nekat menutupi kejantanannya yang masih menciut dengan kedua tangannya saat turun dari ranjang.


"Oh my!" kejut Vesper saat Jonathan meringis dan berlari begitu saja dengan telanjang keluar kamar.


Vesper memijat dahinya dengan mata terpejam. Ia meminta Click and Clack untuk mendampingi Jonathan. Dua pria gundul itu segera keluar dan menyusul Jonathan.


Verda dan Vesper, kini menunggu puteri tidur yang masih terlelap dalam mimpinya.


***

__ADS_1


Jangan lupa boom like audio book utk bonus eps bulan depan. boom like SIMULATION juga ya. makasih~


#eps Revisi permintaan MT😁


__ADS_2