4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
KLIK!


__ADS_3

KLIK!


Seketika, pandangan Sandara langsung tertuju pada sebuah layar monitor layar cembung hitam putih yang menunjukkan sebuah tayangan saat tikus-tikus yang dikurung dalam sebuah kandang di dalam tanah muncul dari balik pintu besi.


"Arrghhh!"


Suara rintihan kesakitan terdengar bersahut-sahutan. Sandara melihat ratusan tikus menyerang para pria yang berada di sekitar rumah dari dua pintu terbuka dari permukaan tanah.


Riuh tembakan dan erangan untuk melawan para tikus begitu santer terdengar. Wajah Sandara tegang saat matanya bergerak ke sana kemari, menatap 6 buah monitor layar cembung di hadapannya.


"Udah, biarin aja pasukan kecilku beresin mereka. Kita duduk sini aja sampai reda. Tempat ini aman, karena hanya Yudhi dan abang yang tahu. Sayang, abang sudah meninggal karena Biawak Ungu waktu itu. Dari sekian banyak rumah yang di tempati oleh anak-anak ibu, rumah ini paling Yudhi sukai karena banyak kenangan bersama keluarga," ucapnya terlihat sedih dengan pandangan tertunduk.


Sandara menatap Yudhi seksama, lalu membuka tas ransel dan menggelar sebuah kain untuk alas. Ia juga meletakkan dua botol minuman serta mengeluarkan sebuah kotak makan.


Sandara duduk dan melepaskan topengnya. Yudhi tersenyum tipis dan ikut duduk di depan puteri tunggal Kai yang kini memiliki bekas luka di wajah.


"Mereka akan datang. Albino dan Atit sudah dalam perjalanan. Bersiaplah," ucap Yudhi seraya membuka penutup botol dan Sandara mengangguk.


Keduanya menikmati sandwich yang dibawa oleh Sandara dalam kotak makan. Roti berbentuk segitiga itu adalah menu makan siangnya yang sengaja Yudhi persiapkan karena pemuda itu menduga jika salah satu anggota No Face akan datang mengunjunginya. Ternyata, dugaannya benar.


Berulang kali Sandara menoleh karena suara ledakan terdengar. Yudhi menatap layar monitor sembari mengunyah dengan wajah datar.


Pemuda berambut hitam itu lalu melanjutkan makan dengan santai, meski hal tersebut ia lakukan berulang kali.


"Jika mengantuk, tidurlah. Ada kasur lipat di tempat ini. Akan aku bangunkan begitu selesai," ucapnya seraya menutup kotak makan di mana roti lapis tersebut telah habis dimakan oleh keduanya.


Sandara mengangguk pelan. Yudhi beranjak dan mendekati sebuah lemari besi yang dikunci. Terlihat sebuah kasur lipat dari busa yang dimasukkan dalam tas plastik bening agar tidak kotor.


Yudhi menggelar kasur di atas lantai dan membersihkan alasnya dengan sebuah sapu lidi yang juga tersedia di sana. Yudhi melepaskan jas dan melipatnya sebagai alas kepala Sandara.


"Tidurlah. Jangan pikirkan serangan di luar. Aku akan menjagamu. Aksimu keren hari ini," puji Yudhi.


Sandara merebahkan diri dalam posisi miring. Yudhi tersenyum seraya mengelus kepala Sandara lembut, dan gadis itu hanya diam saat Yudhi tersenyum manis padanya.


Pemuda itu lalu beranjak dan kembali ke meja pengendali. Sandara masih bisa melihat tampilan di layar ketika para tikus tersebut berhasil melukai orang-orang No Face.


Mereka berlari menuju ke dermaga untuk menyelamatkan diri. Yudhi tersenyum miring, saat telunjuknya telah siap pada sebuah tombol berwarna merah. Sandara mengunci pandangannya pada pergerakan jari itu.


KLIK!

__ADS_1


BLUARRR!!


Getaran hebat membuat Sandara tersentak, meski ia masih dalam posisi tidur. Yudhi memindahkan telunjuknya ke sebuah tombol seraya melihat layar di paling ujung kanan dengan wajah datar.


KLIK!


BOOM! BOOM! BOOM!


Yudhi menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi yang terbuat dari kayu terlihat kokoh, meskipun berkesan kuno. Semua barang-barang dan perabotan di tempat itu terlihat sederhana.


"Yah, Sierra kabur. Ikhlasin aja ya," ucap Yudhi seraya menunjuk sebuah layar dan terlihat helikopter melayang meninggalkan landasan helipad di kawasan rumah Yudhi.


Sandara mengangguk pelan tanpa berbicara. Sandara baru menyadari, jika ternyata tombol-tombol di papan kendali itu terhubung ke seluruh sisi luar bangunan. Yudhi sengaja tak meledakkan rumahnya, hanya pekarangan saja.


Dia memasang peledak di dermaga. Ia sengaja melepaskan para tikus itu untuk membuat orang-orang No Face panik dan tercerai-berai. Naluri untuk menyelamatkan diri, menggiring orang-orang itu pergi menjauh dari lokasi penyerangan. Beberapa dari mereka memilih pergi ke dermaga untuk kabur dengan kapal. Yudhi sudah memperkirakan hal ini. Dia pintar, ucap Sandara dalam hati seraya melirik Yudhi yang masih terlihat serius dengan pengamatannya dari layar pengawas.


Lalu ... ledakan kedua bersahut-sahutan. Itu dari sebuah ranjau yang diaktifkan. Aku cukup yakin jika ranjau tersebut sebelumnya sudah di tanam. Namun, Yudhi sendiri sepertinya khawatir jika ia terkena dampak karena keteledorannya yang mungkin bisa terjadi. Ia mengaktifkannya saat dirasa perlu. Bukan aktif karena tak sengaja diinjak atau semacamnya. Aku rasa, Yudhi sudah melakukan persiapan jauh sebelum aku dibawa kemari. Jika ya, pasti anak buah No Face menyadarinya, sambungnya seraya menatap Yudhi yang kini melihat jam tangan di pergelangan tangan seperti memperkirakan waktu.


"Kita keluar nanti malam. Biarkan mereka berpikir jika kita telah kabur. Aku kenyang dan mengantuk," ucapnya seraya beranjak dari kursi dan ikut merebahkan diri di samping Sandara.


Gadis berambut mata lentik itu terkejut, saat Yudhi memeluknya dari belakang. Sandara bisa melihat tangan Yudhi di perutnya. Wajah Sandara kaku seketika.


"Selamat tidur, Sayang," ucap Yudhi yang membuat Sandara menelan ludah.


Sandara perlahan ikut memejamkan mata dan pada akhirnya tertidur saat ia mulai merasa nyaman dengan pelukan hangat Yudhi di punggungnya.


Malam menjelang.


"Dara, hei. Ayo bangun, kita harus melakukan penyambutan," ucap Yudhi yang terdengar jelas saat Sandara membuka mata dan mendapati pemuda berkulit sawo matang itu tersenyum di depannya.


Sandara mengangguk, meski terlihat masih mengantuk saat ia perlahan duduk. Sandara melihat tempat itu sudah rapi dengan kotak makan dan botol sudah berada di tasnya lengkap dengan kain sebagai alas waktu makan siang tadi.


Sandara segera bangun dan memakai kembali topengnya. Ia melihat Yudhi dengan sigap melipat kembali kasur busa dan memasukkannya dalam lemari.


Yudhi membuka pintu palka dan naik terlebih dahulu. Sandara menyusul dan mengikutinya di belakang.


Yudhi menggandeng tangan Sandara saat keduanya berjalan melewati mayat-mayat dari sisa peperangan. Sandara melihat Yudhi membawa sebuah alat penyemprot yang ia gendong di punggung.


"Itu apa?" tanya Sandara seraya menoleh ke tabung yang berisi cairan tak dikenal.

__ADS_1


"Oh, hanya untuk antisipasi jika para tikus gila itu masih hidup," jawabnya santai.


Sandara melihat sekitar dan mendapati sisa peperangan yang tak ia ikuti karena telah dituntaskan oleh para tikus. Yudhi mengajak Sandara memasuki tempat saat mereka kabur dari jendela ruang jahit.


"Oke, aman. Ayo masuk," ajak Yudhi melongok ke dalam.


Sandara melihat sekeliling di mana kawasan itu telah ditinggalkan, bahkan tak ada polisi yang datang ke tempat tersebut.


"Dara, ayo," panggil Yudhi yang sudah masuk ke dalam tanpa Sandara sadari.


Sandara segera memanjat dan masuk ke dalam. Namun tiba-tiba, "Aaaaaa!" teriaknya lantang ketika mendapati mayat laki-laki yang tewas karena mereka berdua sedang disantap oleh para tikus.


Yudhi dengan sigap mendatangi para tikus itu dan menyemprotkan cairan tersebut ke arah mereka. Para tikus itu yang awalnya agresif, tiba-tiba seperti lemah dan tergolek di lantai meski tak mati.


"Kau duduk di atas meja dulu. Biar aku bereskan," ucap Yudhi di kejauhan dan Sandara mengangguk.


Sandara melihat Yudhi sepertinya sudah mempersiapkan karung di dalam salah satu almari jahit.


Yudhi menggunakan penjepit besi untuk memasukkan para tikus-tikus itu ke dalam karung satu persatu dengan telaten.


Yudhi lalu menarik karung yang telah ia ikat dengan tali rafia keluar dari ruangan. Sandara mengikuti Yudhi karena tak mau bersama bangkai manusia-manusia itu.


Yudhi melemparkan isi karung ke dalam sebuah lubang seperti telah ia persiapkan dan membakarnya.


Ia lalu mengambil sebuah dorongan dan meletakkan mayat-mayat ke atasnya lalu melemparkannya ke dalam tempat pembakaran.


"Akan kubantu," ucap Sandara saat melihat Yudhi kerepotan karena melakukannya sendirian.


Keduanya kembali tersenyum padahal lelah melanda tubuh mereka. Semalaman, keduanya sibuk membersihkan rumah dan baru selesai saat menjelang subuh.


"Ah ... minum jus di pinggir pantai, sambil menikmati datangnya sunrise emang amazing banget. Bener gak, Sayang?" tanya Yudhi seraya melirik Sandara yang duduk pada sebuah kursi santai di sampingnya.


"Yudhi. Kenapa kau selalu memanggilku 'sayang'?" tanya Sandara dengan segelas jus alpukat dingin dalam genggaman.


"Aku sayang kamu. Emang gak boleh? Di sini gak ada Afro, jadi ... Yudhi berhak dong sayang samu kamu. Emang cuma si bule itu doang yang bisa? Yudhi juga gak kalah keren sama dia. Liat aja," sahutnya langsung sewot dan kembali menghabiskan jus alpukat dengan wajah masam.


Sandara tersenyum tipis.


***

__ADS_1


makasih tipsnya💋 lele padamu😍 semoga gak ada tipo. kalo ada kasih catetan aja tar lele revisi. kwkwk tengkiyuw❤️



__ADS_2