
Dewi panik. Otong, King D, dan Jubaedah di dekap Dewi erat. Otong yang melihat ada sebuah pistol di laci yang terbuka segera mengambilnya, meski ia tak tahu bagaimana menggunakannya.
"Tong! Itu bahaya! Taruh lagi!" pekik Dewi melotot karena anaknya mengarahkan moncong pistol ke pintu masuk Pusat Komando dengan kedua tangan.
"Gak! Otong harus jagain kalian. Bapak bilang kalau Otong gak boleh jadi penakut!" jawabnya mantap.
Dewi berusaha menahan air matanya. Ia menghubungi Eko, tapi panggilannya tak diangkat. Dewi mengirimkan pesan kilat kepada suaminya dengan tergesa sampai tangannya gemetaran.
"Baba?" ucap King D yang mengejutkan semua orang.
"Ha?" sahut Dewi dan Otong seraya mendekati layar di mana wajah Javier muncul di sana dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Baba!" teriak King D riang dan segera menuju pintu lalu membukanya.
"King D!" panggil Otong dan Dewi panik karena King D berlari begitu saja meninggalkan orang-orang yang mencemaskan keadaannya.
Javier berdiri di ruang tamu dengan rentangan tangan menyambut anak lelakinya yang tumbuh semakin besar dan tampan.
"Baba!"
"Hahaha! Halo King D, Sayang. Emph, kau semakin berat. Kenapa kau pakai pelampung di perutmu? Ini besar sekali," ledek Javier seraya menekan-nekan perut buncit King D dengan telunjuk saat ia menggendongnya.
King D tertawa cekikikan. Dewi, Otong dan Jubaedah akhirnya keluar dari tempat persembunyian, meski mereka terlihat waspada karena anak buah Javier mengarahkan pistol ke tubuh mereka semua.
"Sambungkan aku dengan Tobias," pintanya menatap Dewi tajam dari tempatnya berdiri.
Dewi terlihat gugup, tapi mengangguk. Ia melakukan video call dan panggilan itu terhubung.
Sauqi mengambil ponsel tersebut dan mengarahkan ke wajah Javier. Praktis, mata Tobias melebar seketika.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Salam, Tobias. Kau ... pasti sedang sibuk di Rumah Sakit untuk menemani isteriku. Yah, aku tahu. Jagalah dia, dan ... aku akan menjaga King D sebagai gantinya," ucap Javier seraya berjalan menuju ke sofa dan memangku King D di salah satu pahanya. King D diam menyimak.
"Oh, ternyata semua ini ulahmu, Unta. Jika sampai Lysa terluka karena sikap pengecutmu, aku tak segan merobekmu!" jawabnya gusar dengan mata melotot.
Javier menunjukkan wajah miris lalu menatap King D seksama. "Ucapan Tobias sangat kasar, D. Dia bukan contoh ayah yang baik untukmu. Sikapnya juga bukan seperti manusia yang bermartabat," ucap Javier menatap anak lelakinya lekat.
"Tidak ber-ma-ta-bat?" tanyanya balas menatap sang Baba lekat.
Javier mengangguk seraya menekan tombol 'Bisu' sehingga apapun yang dikatakan oleh Tobias tak didengar oleh King D.
"Apa kau tahu, jika Tobias itu bukan ayahmu?"
"Pipi bukan ayah D?" Javier menggeleng.
"Akulah ayahmu sebenarnya, King D. Darahku mengalir dalam tubuhmu. Kita terikat, dan Tobias alias orang yang mengaku sebagai ayahmu, yang kau panggil Pipi, merenggutmu dariku sejak masih dalam kandungan Mimi. Dia ... pria yang sangat kejam. Dia ... pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kasih sayangnya padamu hanya tipuan, D. Dia terobsesi pada Mimi dan ingin anak darinya."
__ADS_1
"Ter-ob-sesi?" Javier kembali mengangguk.
"Seharusnya, kau sudah memiliki adik sejak lama. Adikmu ... bernama Fara. Dia anak yang cantik, lucu, dan periang, sepertimu. Lalu ... apa kau tahu? Pipimu membunuhnya. Dia membunuh Fara adikmu. Fara tewas dalam pelukan Baba, D. Tobias sangat keji, dan ayah tak bisa memaafkannya," ucap Javier dengan mata berkaca. King D menatap mata Javier dalam.
Terlihat, Tobias seperti berteriak mengatakan sesuatu, tapi semua percuma. Suaranya takkan sampai di telinga King D yang terlihat memikirkan dengan serius ucapan Javier.
Dewi dan Otong tak bisa berbuat apapun karena moncong pistol terarah ke tubuh mereka.
"Apa ... kau tak sedih? Adikmu meninggal karena dibunuh oleh Pipi-mu yang keji itu. Kau gagal menjadi seorang kakak. Dan kini, kau akan mendapatkan seorang adik perempuan, tapi ... dia bukan adik kandungmu. Dia anak dari pria yang membunuh adikmu. Apa ... kau bisa menerima adik barumu, dari pria yang telah merenggut adik perempuanmu?" King D menggeleng cepat.
"Pipi jahat! Pipi bunuh adik King D!" teriaknya marah menunjuk layar di mana wajah Tobias terlihat jelas di sana.
Tobias shock mendengar penuturan anak tirinya yang selalu menghabiskan waktu dengannya. Javier tersenyum miring.
"Namun, Baba berbesar hati. Jika nanti bayi yang lahir dari perut Mimi adalah perempuan, dan Pipi-mu memberikan nama Fara padanya, Baba akan memaafkannya," ucapnya seraya memegang dagu King D agar pandangannya kembali padanya.
"Adik baru D diberi nama Fara?" Javier mengangguk dengan senyuman.
"Itupun ... jika Pipimu bersedia. Lalu ... Mimi harus tinggal bersama kita, bersama adik Fara. D tak mau 'kan kalau Pipi tinggal bersama kita?" King D diam mendengarkan dengan serius. "Baba takut, King D. Kau bukan anak kandung Tobias. Darahnya tak mengalir dalam tubuhmu. Kau orang lain dihidupnya, bukan siapa-siapanya. Bagaimana jika nasibmu sama dengan Fara adikmu yang telah meninggal? Tobias bisa membunuhmu kapanpun. Tobias tak membunuhmu karena ada Mimi di sampingnya. Namun, bagaimana jika Mimi meninggal? Kau ... pasti akan dibunuhnya, sama seperti Fara adikmu," ucapnya menatap D tajam.
Spontan, King D langsung memeluk Javier erat terlihat ketakutan. Javier tersenyum lebar dan balas memeluk King D erat.
Tobias berteriak seperti mengamuk. Javier melirik dengan senyum penuh kemenangan ke arah kamera.
"Pergilah ke tempat kau berasal, Tobias. Tinggalkan Lysa. Menolak, jangan salahkan aku jika hal buruk terjadi padamu," ucap Javier mengancam.
Sauqi memutus panggilan begitu saja. Javier terlihat puas akan aksinya malam itu.
"Oke!" jawabnya riang.
"Otong ikut!" sahut Obama memberanikan diri bicara.
Javier dan semua orang menatap Otong tajam. Dewi menarik lengan anaknya, tapi Otong menampiknya.
"Otong itu bodyguard D, Mak. Otong harus ikut kemana pun King D pergi. Mamak jangan takut, Otong akan baik-baik saja. Kita pasti akan ketemu lagi," ucap Otong mantap, tapi malah membuat Dewi menangis.
"Hem, anak pemberani. Baiklah, kau boleh ikut," jawab Javier dengan senyum menawan. King D terlihat senang.
"Kuberikan waktu 15 menit untuk berkemas. Cepat," tegasnya, dan Dewi mengangguk cepat.
King D digendong oleh Javier menuju keluar mansion, dan diikuti oleh Obama Otong. Dewi bergegas merapikan semua perlengkapan untuk King D dan Otong selama mereka pergi entah menuju ke mana.
BROOM!
Mobil yang ditumpangi Javier, King D, dan Otong pergi meninggalkan mansion Tobias dengan tergesa.
Dewi menangis karena anaknya pergi meninggalkannya, meski dengan kemauannya sendiri.
__ADS_1
Keledai dan Pony King D ikut diangkut oleh sebuah mobil double cabin, tapi keduanya dibius. Badan mereka ditutup agar tak menarik perhatian publik saat melaju melewati jalanan padat.
"Terima kasih atas kerjasamamu. Salam," ucap Sauqi membungkuk hormat.
Dengan cepat, SHOOT! SHOOT! CLEB! CLEB! BRUKK!
Dewi dan Jubaedah ikut dibius dan tergeletak di ruang tamu tak sadarkan diri bersama dua Pion Tobias.
Saat Lucy tiba bersama rombongannya, mereka terkejut ketika mendapati pintu utama mansion terbuka lebar dan menemukan empat orang memejamkan mata di lantai ruang tamu.
"Sial! Kita terlambat!" pekik Lucy kesal.
Timnya menyusuri ruangan dan tak mendapati King D atau Obama Otong di sana. Lucy segera menghubungi pusat dan ia terkejut, ketika mendapat kabar dari Eiji jika Javier datang dan mengambil King D atas laporan dari Tobias.
"Mereka pasti belum jauh! Kejar!" perintah Lucy lantang, dan para Black Armys segera mencari keberadaan King D menggunakan mobil.
Di Pusat Komando, Kastil Borka, Rusia.
"Kenapa jejak King D tak bisa ditemukan?" tanya Eiji panik terlihat kesal.
"Penanda GPS pada kalungnya tak terdeteksi, Bos. Selain itu, satelit Marlena kehilangan jejak ketika mobil itu memasuki jalanan padat. Ini aneh, apakah ... mobil itu dilengkapi Pemancar Fatamorgana portabel?" tanya operator berasumsi.
"Agh! Javier sialan! Kenapa ia nekat seperti itu? Aku tahu jika ia dendam pada Tobias, tapi kenapa King D dan Otong yang menjadi korban? Hah, jika Nona Lily tau ...," gerutunya terlihat frustasi.
"Bos, nyonya Vesper menelepon," sahut operator meringis.
Eiji serasa ingin menangis. Ia akhirnya menerima panggilan itu, meski terlihat tertekan.
"Ya, Nona Lily," jawabnya lesu.
"Biarkan saja."
"He?!" pekik semua orang melotot seketika.
"Biarkan saja. Setidaknya, tak ada yang terluka, dan bukan No Face pelakunya. Bagaimanapun King D anak dari Javier. Sudah sewajarnya jika dia bersama ayahnya."
"Tapi, Nona Lily ...," keluh Eiji.
Vesper tersenyum. "Biarkan mereka menuntaskan perselisihan ini. Jangan ikut campur. Sudah cukup kita terlibat, ini urusan keluarga. Tobias sudah tahu siapa pelakunya, dan tersangka juga tak menutupi diri. Hem, aku tak menyangka jika Javier akan senekat ini, tapi ... usahanya cukup bagus untuk mencoba mengembalikan keluarganya. Dia anak baik, hanya saja ... sering tersesat. Tak jauh beda dengan Tobias. Dua pria itu memang harus bertikai, dan kita lihat saja, apakah Lysa bisa mengatasinya?" jawab Vesper santai seraya menyeruput teh hijau sembari duduk bersimpuh.
"Baiklah. Jadi ... tak perlu mencari jejak King D?" tanya Eiji menyimpulkan, dan Vesper mengangguk.
"Fokus pencarian Sandara. Firasatku buruk dengan kondisi anak gadisku itu. Musuh kita sebenarnya adalah No Face, dan mereka memanfaatkan Sandaraku. Temukan, dan kita lenyapkan mereka sampai tak bersisa," tegas Vesper yang wajahnya berubah bengis seketika.
"Yes, Mam!" seru Eiji lantang, dan diikuti oleh semua petugas di Pusat Komando Kastil Borka dengan hormat.
***
__ADS_1
badan lele remek, gak sempat stok naskah jadi eps masih fresh ya. mudahan gak ada typo karena masih ngantuk-ngantuk gimana gitu. siapa yg tebakannya bener😁 happy weekend dan tengkiyuw tipsnya💋